Sabtu, 22 September 2012

For Organization_Last (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.31


Lintar pandangi suasana Cafe Atlanta dengan seksama. Rasa penat menjadi temannya kali ini. Permintaannya untuk tetap di Indonesia dan selalu bersama Alvin rupanya tidak dikabulkan sama sekali oleh ayahnya. Ia dipaksa untuk kembali ke Den Haag dan menyelesaikan Ujian Sekolahnya.

Dan Ify... gadis yang membuatnya untuk pertama kalinya merasakan apa itu jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat ia semakin berat meninggalkan Indonesia ini.

Masa ia harus nyerah gitu aja dari adiknya itu dan merelakan Ify. Ah, itu bukan Lintar banget!

Ia menyeruput sedikit cokelat panasnya. Rasa hangat memenuhi tenggorokannya. Rasanya, dunianya lebih tenang dengan cokelat panas itu.

"Ehm... boleh duduk di sini gak? Meja yang lain penuh nih..."

Lintar mengangkat kepalanya. Dan ia tersenyum melihat seorang gadis berdiri di hadapannya. Ia kenal dengan gadis itu.

"Eh?"

"Lintar, ya?"

"Angel, kan?"

"Kakaknya Alvin, dong?"

"Kakaknya Cakka. Iya, gak?―

Eh? duduk, Ngel!"

Tanpa menunggu apa-apa lagi, langsung saja Angel menghempaskan tubuhnya di hadapan Lintar. Bibirnya masih memamerkan senyum terbaiknya. "Lagi apa nih sendirian di sini?" tanya Angel.

Lintar menatap Angel lebih rinci. "Nenangin hati, Ngel. Lo sendiri?"

"Gue mau makan. Lapar banget sih. Seharian ngurusin pendaftaran mahasiswa baru."

Lintar masih anteng mandangin Gadis di hadapannya itu. Ada sesuatu yang berbeda dari Angel. Apa mungkin gadis ini membuatnya merasakan lagi apa yang pernah ia rasakan terhadap Ify?

Keadaan sepi. Mereka mulai larut dalam diam. Angel merasa salting dan gugup diperhatikan terus-terusan oleh Lintar seperti itu.

"Ngel..."

Angel mendongak. Memandang Lintar. "Ya?"

"Lo cantik!" puji Lintar.

Angel terkekeh. Warna merah langsung melukiskan diri di pipinya.

Dan Lintar kembali menekuni cokelat panasnya. Entah kenapa tiba-tiba saja pujian itu terlontar tanpa izin. Keduanya sama-sama dalam posisi tak terelakan. Malu, gugup dan salting.
Mereka sama-sama tersenyum penuh arti.

*

Agni mengusap-ngusap punggung Cakka pelan. Saat ini mereka sedang berada di lapangan basket, tempat favorit mereka. Cakka sendiri hanya diam menunduk. Ada gurat-gurat kekecewaan di balik wajahnya.
"Udah dong, Kka. UMPTN bukan segalanya. Masih banyak cara lain," ujar Agni turut sedih mendengar cerita gagalnya Cakka menghadapi UMPTN-nya.

"Argh, emang pada dasarnya anak IPS kayak gue payah! Lain sama lo." Nada suara Cakka benar-benar terdengar kecewa. Sangat kecewa!

"Ayolah... lo jangan kayak gini, dong. Lo pikir, naruto bisa jadi hokage itu mudah ya? Perjuangan dia keras banget. Dia yang asalnya gak bisa apa-apa, selalu gagal tiap belajar jurus-jurus, dengan kegigihan dan tekad yang kuat, akhirnya dia jadi ninja hebat kan? lebih hebat dari Uchiha Sasuke malah."

Cakka tertegun. Agni benar. Harusnya ia belajar banyak hal dari komik-komik yang selalu dibacanya.

"Terus, inget hanamichi? Dia bisa ngalahin Kaede Rukawa karena apa coba? Karena dia Tidak pernah menyerah dan selalu berjuang."

Cakka masih diam.

"Gagal UMPTN bukan berarti nama lo udah ditulis sama Kira di Death Note-nya."

Dan Cakka hanya bisa merespon support Agni dengan memberikan pelukan hangat pada gadis itu. Ia memeluk Agni kuat-kuat. Membenarkan segala ucapan Agni. Ia tidak boleh menyerah dan putus asa.
Karena selalu ada jalan untuk mereka yang ada kemauan. Dan selama ada Agni, berapa kali pun ia gagal, ia akan bangkit. Karena Agnilah kekuatannya selama ini.

"Terimakasih, Ag. Gue sayang lo!!" Cakka melepaskan pelukannya. Beralih memegang bahu gadis itu dan menatap Agni dengan lembut. Membiarkan keningnya beradu dengan kening gadis itu.

"I love you..."

Agni tersenyum. Dan―

Matanya membulat. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Singkat. Tapi sukses membuatnya speechless.

Oh, Tuhan... Cakka telah mencuri ciuman pertamanya.

*

"Ambil jurusan sastra ya, Shil?" tanya Iyel begitu mereka duduk di salah satu bangku di taman kampus pilihan mereka.

Shilla tersenyum. "Semoga," harapnya. Ia asyik memainkan ponselnya.

Hening beberapa saat.

"Shil...,"panggil Iyel.

"Ya?" Kali ini Shilla membiarkan matanya terfokus pada Iyel. Pandangan mereka beradu.

"Waktu buat film, lo kok jadi antagonis sih? Padahal lo kan yang buat skenario. Kenapa gak protagonis aja?"

"Lo tahu sendiri kan, gue suka banget nyiksa tokoh utama cerita gue. Jadi, ogah deh gue nyiksa gue sendiri. Lagian, wajah lo, Rio, Cakka sama Alvin cocok banget deh buat gue siksa!" Shilla tertawa renyah.

Iyel sungguh menikmati cara Shilla tertawa. Selalu tampak manis dan cantik.

"Shil...," panggil Iyel lagi.

"Apa, Iyeeeell?" Shilla mulai jengkel. Ia menatap Iyel serius tapi ada sorotan manja di baliknya.

"Lo gak beneran suka sama Alvin kan?" tanya Iyel terkesan mengintimidasi.

Shilla merenggut. Sedikit cemberut. "Setidaknya lo tahu mana fict dan fact!" ketus Shilla memalingkan muka.
"Ish, sewot amat lo. Gue kan cuma nanya doang. Jangan-jangan, lo emang―"

"Cukup! Gue gak cinta sama Alvin! Itu cuma bohongan. Kenapa sih?" Shilla ngambek. Ia menatap Iyel kesal.

Iyel terkekeh melihat ekspresi Shilla yang di matanya selalu terlihat cantik itu. "Ye... maksud gue kan, jangan-jangan lo cintanya sama gue lagi," ujarnya yang diakhiri dengan tawa kecil.

Shilla diam. Ada warna merah yang menyebar di sekitar wajahnya. Tak ada yang bisa dipungkiri lagi, kalo ia sudah menyimpan rasa itu untuk Iyel.

"Lo jujur aja! Lo udah belajar mencintai gue, kan? Lo udah mulai buka hati lo buat gue kan, Shil? Tiga tahun lebih gue nunggu lo..."

Shilla menunduk.

Dengan ragu, Iyel memegang wajah Shilla dan mengarahkannya tepat sejajar dengan wajahnya. "Shil, untuk kedua kalinya, gue minta jawaban dari lo. Lo mau kan jadi cewek gue? Lo mau kan balas cinta gue?"

Shilla menatap mata Iyel dalam-dalam. Mata yangh selama ini tidak pernah berubah. Mata yang selalu menyimpan dalam-dalam cinta tulus itu. Mata yang membuatnya yakin untuk menjawab pertanyaan itu dengan senyuman dan anggukan.

"Yes! Thanks, Shil!! Makasih banget!" Iyel berteriak girang. Perjuangannya selama ini akhirnya terjawab juga dengan kebahagiaan ini. Betapa ia merasa menjadi makhluk paling bahagia kali ini.

Shilla hanya tersenyum melihat Iyel. Betapa kuatnya hati laki-laki di sampingnya ini. Tetap tegar dan kuat untuk selalu menajaga cintanya.

"I love you, Shil..." Dan Shilla merasa ada sesuatu yang melingkar di tubuhnya. Hangat. Hangat sekali. Iyel mendekapnya dengan begitu erat.

Sungguh tak ada yang paling membahagiakan selain hari ini.

*

Sivia masih sibuk aja mengobrak-ngabrik arsip-arsip yang tersusun rapi di rak ruang kesekretariatan mading sore itu. Setelah mengikuti ujian masuk universitas, ia terpaksa mengunjungi SMAN 3 untuk membantu Rio mencari arsip-arsip mading yang pada masa jabatannya, yang Rio bilang tidak ditemukan.

"Maaf ya, Kak, ganggu waktunya," kata Rio sambil membuka-buka satu persatu tumpukan arsip itu, sambil sesekali curi-curi pandang ke arah Sivia.

"No problem lah, Yo. Gue kan emang suka bantu orang," ujar Sivia melakukan hal yang sama seperti Rio. Hanya saja dia tidak plus curi-curi pandang.

"Maaf ya, Kak." Rio berkata lagi.

"Hmm..." Sivia hanya menggumam kecil. Dia tetap fokus pada pekerjaannya.

"Masalahnya, sebenarnya arsip-arsip itu ada, Kak."

"Eh?" Sivia baru mau mengangkat kepalanya. Ia menatap Rio minta penjelasan lagi.

"Gue cuma kangen aja sama lo." Melihat tatapan Sivia yang agak aneh, akhirnya Rio berterus terang yang justru membuat Sivia terkekeh-kekeh.

"Ya ampun, Yo, kalo kangen bilang aja kali! Gak perlu kayak gini juga." Dengan gemas Sivia mengacak-ngacak rambut Rio, lupa kalo laki-laki di hadapannya itu berstatus kekasihnya. 

"Kak!" panggil Rio.

Sivia menghentikan tawanya dan beralih menatap Rio serius. "Ya?"

"Di kampus pasti banyak cowok cakep. Janji ya, gak boleh nakal!" mata Rio mengerling manja.

Ya ampun, Rio si cowok kalem bisa-sangat-manja saat dekat dengan Sivia.

"Ya nggak, dong. Gue gak bakalan nakal. Udah punya bronis ini. Brondong manis gue yang paling gue sayang."

Rio tertawa pelan. Perlahan ia meraih tangang Sivia, menggenggamnya dengan begitu erat.

"Satu hal yang paling gue syukuri adalah, memiliki lo, Kak."

Sivia tersenyum saja mendengar penuturan Rio.

"Kak?"

"Hmm..."

"Ini dong!" Rio menunjuk pipi kanannya. Tersenyum nakal.

"Apa?" Sivia pura-pura tidak mengerti.

Rio cemberut.

Sivia tertawa lagi, tapi sejurus kemudian ia memberikan kecupan yang sangat singkat di bibir Rio yang masih cemberut.

Rio terdiam. Cukup kaget.

"I love you..." senyum Sivia. Ia kembali mengacak-ngacak rambut brondong manisnya itu.

*

"Ify!"

"Hmm..."

"Ify!"

"Iya, Vin."

"Ify-nya Alvin!"

"Apa, Alvin-nya Ify?"

"Ifyyyyyyy!"

"Apa, Alviiiiiinn!"

"Liat gue dong!"

"Gak mau!"

"Yah, Ify..."

"Asal Alvin gak pergi ke Jepang, Ify baru mau nengok!"

"Siapa juga yang mau pergi ke Jepang tanpa lo?"

Langsung saja, tanpa diperintah lagi, gadis itu memalingkan wajah ke arah Alvin yang masih duduk di sampingnya. Tatapan tak percaya itu tergurat di wajahnya. "Maksud lo?"

Alvin tersenyum. Mata sipitnya ia biarkan menyapu keadaan rumahnya yang tampak lebih sepi.

Jadi, setelah kelulusan kemarin, Alvin memaksa ayahnya untuk mengizinkannya pergi ke Jepang dan bertemu dengan orang yang paling dirindukannya. Sang Mama. Sudah lama Alvin meminta izin ayahnya untuk itu, dan baru diizinkan di kelulusan kemarin.

Dan Ify?
 
Tentu saja ia tidak akan pernah bisa meninggalkan gadis-yang-sebentar-lagi akan menjadi kekasihnya itu. Ia tidak akan pernah bisa meninggalkan Ify dan memutuskan untuk mengajak Ify pergi ke Jepang.

"Gue gak akan pergi ke Jepang tanpa lo."

Ify mengernyit. Bukan tak mengerti juga maksud Alvin. Tapi raut wajahnya lebih banyak menggambarkan ketidakpercayaan. Kenapa Alvin harus mengajaknya?

"Tapi, kalo mau pergi ke Jepang bareng gue itu ada syaratnya." Alvin mengerling nakal. Tersenyum licik.

"Apa?"

"Jadi pacar gue dulu!" nada suara Alvin terdengar lebih memaksa.

"Ish, gak mau!" sengit Ify memukul lengan Alvin pelan. Maksud nih cowok nembak apa ngancem sih? Gak ada romantis-romantisnya sama sekali!

"Jadi, udah siap nih, gue tinggal di sini sendiri? Terus biarin orang yang paling lo cintai ini berpaling sama cewek-cewek sipit di sana? Jujur aja nih ya, gue gak siap kalo harus pergi sendiri tanpa lo," aku Alvin.

"Terus kenapa harus pake syarat-syarat kayak gitu?" Ify manyun.

"Karena gue cinta sama lo. Dan lo cinta sama gue! Iya, kan?"

Exactly!

Tapi Alvin nembaknya gak banget!!

"Fy..." Alvin menggeser posisinya lebih dekat. "Gue beneran cinta loh sama lo. Gue mau lo jadi cewek gue! Maaf deh kalo nembaknya gak seromantis Cakka nembak Agni, atau se-so sweet puisi Rio sama Sivia.Tapi gue bener-bener sama lo, Fy!"

Yang Ify tahu, kata-kata Alvin penuh dengan ketulusan. Tapi ia masih bergeming saja. Bukan apa-apa, hanya saja ia tidak pernah menyangka kalau Alvin ternyata mencintainya juga. Ternyata cintanya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.

"Ah, lo gak mau ya? Pasti lo cintanya sama Lintar kan? gue tahu kalo Lintar itu lebih segalanya dari gue! Dia keren, pinter, romantis, sama-sama suka harpot, dia ju―"

"Ik hou van je, Vin! Ik hou van je!" Ify tiba-tiba berdesis cepat, memotong kata-kata Alvin. Ia melingkarkan tangannya dipinggang Alvin. Memeluk pemuda itu dengan erat.

Alvin mengangkat salah satu alisnya. Heran.

"Gue cintanya sama lo, Vin! Waktu itu gue bilang iya sama Lintar kan, karena gue gak tahu artinya Ik hou van je itu apa."

Alvin mengelus lembut rambut panjang Ify. Tersenyum bahagia. "Ik hou van je, Ify!!"

*
DPR
 
Agni : Ceilah... gaya dramatisir lo bikin orang terkapar deh, Shil!

Shilla : Ahaha... padahal itu ancur banget skenarionya.

Cakka : Lo juga bisa aja bikin gue penasaran. Gue aneh tahu pas lo bilang sama gue kalo gue harus siap kanker beneran. Ternyata di skenario lo gue dibuat kanker. Padahal udah jelas gue cuma anemia ringan.

Ify : Eh, adegan pas Shilla bunuh Cakka pelan-pelan itu asyik ya? Gue ikut merinding loh, liat Shilla kejam kayak gitu!

Alvin : Paling susah pas adegan nyelamatin Shilla itu. 

Sivia : Gue malah jadi gak bisa tidur pas liat acting Rio kena tembak itu. Kayak beneran.

Rio : Acting kalian yang bikin filmnya keren badai.

Iyel : Oia, dong! Sekeren grafity bikinan gue.

Cakka : Ke mana-mana juga kerenan gue kali!

All : *nimpukCakka*

Penulis : *bawaCakkaKabur* Hahaha...

*
---END---

 Yang terakhir abaikan saja!

ucapin Alhamdulillah deh ya.. karena akhirnya setelah berabad-abad (?) aku bisa nyelesain cerbung ini. Tanpa support teman-teman, aku gak mungkin mau nyelesain cerbung gaje, tidak berbobot, dan jelek ini. Arrigato semuanya...

Maaf untuk para pecinta sad ending, aku malah buat akhir ini happy ending. Yeah, silahkan kalian boleh kecewa karena aku pun kecewa. Kecewa kenapa aku harus kasih ini happy ending. Hm, alasannya, karena aku udah mentok abis gimana harus bunuh Alvin dan kawan-kawan! Hehe… Aku pengeeeenn sekali-kali buat Alvin, Cakka, Iyel sama Rio bahagia. *pelukCRAG*...

sekedar info, ada sebagian konsep di cerbung ini yang pernah aku jadiin cerpen loh.

And then.. special thanks buat Miss Kepo, Isti, Virdha dan banyak lagi yang sering atau pernah inbox aku, maksa aku biar cerbung ini dilanjut. Makasih, kalian semua udah buat aku always spirit to write and write and write.

Yang udah maksa aku lanjut ini cerbung, aku juga mau paksa kalian buat komen! harus! wajib! kalo ngga... aku timpuk pake sendal jepit! Hahaha… peace!

Maaf kalo dari awal sampai akhir banyak kata-kata yang salah. Banyak typo juga. Dan maaf bila akhirnya tidak memuaskan.

Once again… THANK YOU…

2 komentar:

  1. Sempet deg degan eh ternyata gak beneran.hehe tetep suka kok :-)
    yang lain juga harus tamat. haha

    BalasHapus
  2. kaaaaaak aku komen disiniiii ya, maaf telat banget komennya hehehe..... ng.... gimana ya, baca last partnya ini bener2 bikin hati campur aduk, ada kecewanya, karena ini ga sad ending :( padahal berharap banget kakak masih sudi nyiksa alvin sampai mati *eeeh(?) ng.... sebelumnya maaf kak, endingnya juga rada-rada flat -mungkin karena endingnya pernah dipake di cerpen kakak kali ya (y). terus ada bingungnya, bingung dibagian adegan-adegan yang ga dijelasin -atau mungkin engga dibuat tanpa penjelasan sama kakak (maybe). terus lega juga, ternyata akgirnya ending juga cerbung ini, cerbung yang ngareeeeetnya kebangetan wkwkwk aku kira cerbung ini ga akan dilanjutin hehehe.... kalau soal pemilihan kata-katanya, disini pemilihan katanya rada beda ya, kaya ada yang kurang..... tapi overall cerbung ini kerennya tetep ngga berkurang, hehehe... Semangat kak buat tetap berkarya!!!!

    eh satu lagi kak, itu bagian bawah rada ngakak kak yang tulisan "aku udah mentok abis gimana harus bunuh Alvin dan kawan-kawan", sama kak, sama metoknya, semua cara udah dilakuin buat ngebunuh alvin, kecuali dengan cara mutilasi, terus dicincang, masukin karung, terus dibuang ke laut wkwkwkw #eaaangeriii

    satu lagi, mau ngucapin makasi karena kakak udah nyelesein cerbung yang jujur aja setiap partnya bikin penasaran..... maaf ya kak kalau komennya kurang berkenan^^

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea