Selasa, 18 September 2012

For Organization-sekuel PrOfOg_4 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 22.06
Maaf part ini pendek!

***

“Shil!” panggilan itu sedikit mengalihkan perhatian Shilla yang begitu asyik dengan bukunya bersama Agni dan Iyel di taman depan sekolah.

“Eh Vi, duduk sini lo!” tawar Shilla yang langsung disusul oleh anggukan Agni dan Iyel.

Sivia duduk di samping Shilla. Ia merasa hatinya dipenuhi rasa bersalah melihat respon Shilla padanya. “Lo gak marah sama gue Shil? Lo kecewa sama gue kan? Gue minta maaf!”

“Haha, ngomong apaan sih lo Vi? Untuk apa coba gue marah? Yang terpenting sekarang, lo sayangi Rio setulus hati lo. Gak usah terlalu mikirin gue lah! Mencintai itu punya resiko tersendiri loh...” hati Shilla terasa lega bicara seperti itu. Ia tahu kemarin hatinya tidak memberi sensasi keikhlasan. Tapi rupanya pembicaraan dengan Alvin tempo hari membuatnya lebih berlapang dada. Meskipun tak dapat dipungkiri rasa sesak itu masi tersisa di dinding hatinya.

“Yang bener Shil?” tanya Sivia memastikan.

Shilla mengalihkan perhatiannya begitu sadar matanya berkaca-kaca. “Sudahlah Vi! Lo gak perlu nanya-nanya itu lagi! Gue tuh maunya sekarang kita belajar yang bener!” Shilla membuka bukunya. Seluruh mata memperhatikannya dan tersenyum aneh.

“Gue ikutan ya?” Cakka duduk di samping Iyel yang diikuti oleh Alvin dan Ify.

“Udah sembuh lo Kka?” tanya Iyel.

“Iyalah, gue sehat kok. Kan mau ikut ujian.” Jawab Cakka nyengir. Semuanya tersenyum melihat cengiran Cakka; lucu sekali.

***

Semuanya sunyi. Hanya bunyi gesekan pena dan kertas yang berasu, yang saat ini memenuhi tiap sudut ruang ujian. semuanya begitu sibuk dengan tiap rentetan soal-soal ujian yang beberapa hari ini menjadi teman mereka dalamkebisuan.

“Cakka! Hei, bangun!” bisik Iyel begitu melihat Cakka yang  duduk di depannya tertidur pulas. “Lo udah selesai belum?”

Cakka tak merespon. Iyel kembali fokus pada soal-soalnya. Sivia dan Shilla yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala melihat hal itu.

‘lagi UN juga masih aja nyempetin tidur!’ batin Shilla yang memang tidak aneh dengan sikap Cakka yang hobi tidur di dalam kelas. Ia kembali mengerjakan soalnya.

30 menit  berlalu.

Semua siswa satu persatu mengumpulkan kertas soal mereka. Hanya tinggal beberapa siswa yang masih berkutat dengan soal itu termasuk Shilla, Iyel dan Cakka, juga Sivia.

Sivia menghampiri meja Cakka setelah ia sendiri menyelesaikan soalnya dan mengumpulkannya. Iyel sudah lebih dulu mengumpulkan pekerjaannya. dan Shilla masih memeriksa ulang. “Ya Tuhan Cakka!” Pekik Sivia keras saat ia sengaja memegang kening Cakka yang memang terasa begitu panas.

Shilla menoleh. Iyel yang masih membereskan alat tulisnya juga menoleh. Sama halnya dengan pengawas ujian. “Ada apa?” tanya pengawas menghampiri Siva diikuti oleh Shilla dan Iyel.

“Ini Pak, Cakka sakit. Dia pingsan mungkin! Badannya panas.” Lapor Sivia masih meraba-raba kening Cakka.

“Pingsan?”

“Iya Pak. dari kemarin Cakka memang....” belum sempat Shilla menyelesaikan kalimatnya, tahu-tahu Bapak Pengawas sudah memotong kata-katanya.

“Ya udah! Cepet bantu Bapak bawa dia ke UKS!” perintahnya sambil memapah Cakka yang langsung dibantu oleh Iyel dan pengawas yang satunya lagi.

Sivia mengambil kertas ujian Cakka. Mengamatinya, kemudian memandang Shilla dan tersenyum nakal. ”Lima belas soal lagi! Ayo kita kerjakan bersama!” Ajaknya saat menyadari ruangan itu hanya ada mereka berdua.
[*gak perlu dicontoh ini hanya cerita! gak mungkin ada pengawas seceroboh itu! hhihihi]

***
Perlahan Cakka mengangkat tubuhnya yang masih diselimuti hawa panas dan dingin. Ia memandang teman-temannya bergantian. Agni yang berdiri paling dekat dengannya, terlihat paling panik dan cemas.

“Bagaimana ujiannya?” tanya Cakka pelan. “Gue belum nyelesaiin soal matematika gue.”

“Sudah kok!” bangga Sivia sambil tersenyum licik. “Iya kan Shil?” ia menoleh ke arah Shilla yang berdiri di sampingnya.

Shilla mengangguk semangat.

Agni memegang kening Cakka yang masih terasa begitu panas. “Sebenarnya lo sakit apa sih Kka? Gue khawatir!”

“Pusing doang Ag!” Jelas Cakka sambil memegang wajah Agni untuk menenangkannya.

Agni menatap Cakka lekat-lekat. Wajah itu terlihat pucat. Matanya tampak cekung dan bibirnya begitu kering. “Besok lo ke rumah sakit lagi ya, buat ronsen?!.” Perintahnya lebih ke nada meminta.

Cakka tersenyum, lalu mengangguk. Ia tidak sedang ingin berdebat.

Keadaan sunyi untuk beberapa saat.

“Hah, rasanya lega deh perjuangan kita udah selesai.” Tarikan nafas panjang Sivia penuh dengan kebahagiaan dan kebebasan. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding sambil membuka novelnya, menyadari tadi adalah soal terakhir yang mereka kerjakan.

“Ish, enak aja lo Vi! Ada satu hal yang belum kita kerjakan tahu!” protes Alvin tidak setuju. “Perjuangan kita ada satu lagi.”

Shilla tersenyum dan mengeluarkan laptopnya yang memang sengaja diambilnya. “our problem of organitation!”

Semuanya tersenyum semangat.

“Kalau gitu, ayo kita mulai beraksi!” Cakka turun dari ranjangnya dan berdiri menghadap teman-temannya.

Melihat aksi Cakka yang penuh dengan semangat 45, semuanya tertawa bingung; lagi sakit juga!. Tapi setelah itu, mereka mengangguk menyetujui, seolah baru saja Cakka memberikan sugesti yang kuat untuk yang lainnya.

***

Mereka begitu asyik menikmati kelegaan yang baru saja tercipta, meskipun tampak tidak ada perayaan besar-besaran karena memang hasil ujian belum didapat,mereka tetap merasa lebih baik dari sebelumnya.

Malam ini mereka tampak termenung di kamar masing-masing. Tak ada aktifitas spesial yang mereka lakukan untuk mengisi kelegaan itu. Karena dibalik kelegaan itu tiba-tiba saja ada kehampaan dan kerinduan yang akan mereka rasa di esok hari.

Masih terlalu awal untuk menutup mata. Hingga pada akhirnya mereka memilih untuk membuka laptop dan online. Entah apa yang mereka kerjakan. Curhat di blog masing-masing mungkin. Buka twitter, facebook, chatting, entahlah, itu urusan mereka.

1 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea