Selasa, 01 Januari 2013

Senyuman Terakhir (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 22.21

 Senyuman Terakhir (Cerpen).

7 Maret 2013
Percayalah! Semua orang menyukai senyuman. Jadi tersenyumlah selalu!


*


Percikan-percikan tipis air terjun itu membasahi telapak tangannya. Ia tersenyum lebar merasakan sentuhan lembut itu. Tak mempedulikan dingin yang kian meresap ke dalam persendian tubuhnya. Ia tetap berdiri di atas batu besar, di dekat air terjun itu. Tersenyum, tersenyum, dan tersenyum. Manis sekali!


Dan jauh dari tempatnya berdiri, tentu ada yang lebih bahagia. Seorang gadis berjilbab orange gelap yang memilik wajah khas negara jajahan Israel; Palestina, tengah menikmati senyuman manisnya. Sungguh gadis itu selalu bahagia melihat senyumannya.


“Zamzam! Sini foto bareng!”


Sontak anak laki-laki yang sedari tadi asyik dengan air terjunnya, menoleh begitu namanya dipanggil. Ia tersenyum ke arah teman-temannya dan beberapa pengajar yang sudah siap-siap berpose di sebelah timur air terjun.  Anak laki-laki yang rupanya bernama Zamzam itu, segera mengangguk.


“Cepatlah!” perintah salah satu pengajarnya.


“Bentar!” Zamzam bersusah payah berjalan melewati batu-batu besar yang cukup licin hanya untuk menghindari sepatu dan pakaiannya basah, mengingat perjalanan pulang mereka cukup jauh dan ia tak membawa baju ganti, pun pakaian hangat.


“Cepet, Zam! Pegel nih udah berpose.” Teriak temannya tak sabaran, bersamaan saat Zamzam terpeleset dan jatuh tercebur ke dalam air.


Repleks, tak hanya Zamzam yang berteriak. Tapi semua orang yang melihatnya menjerit panik. Terlebih gadis cantik yang sedari tadi memperhatikannya. Ia berdiri untuk memastikan apa tidak terjadi sesuatu yang fatal pada Zamzam. Ia menggigit bibir bawahnya khawatir.


“Astaghfirullah!” pekik salah satu pengajar sambil buru-buru mendekati Zamzam. Membantunya untuk kembali duduk di atas batu licin yang sungguh tak bisa diajak kompromi hingga membuatnya terjatuh.


Zamzam meringis. Sempat terlihat bagian punggungnya terbentur batu besar itu. Lengan kanannya lecet. Dan ia tetap tersenyum menatapi anak-anak lain yang sudah mengerubuninya. “Hehe, aku gak apa-apa. Hanya saja bajuku basah semua,” keluhnya menenangkan wajah-wajah panik yang memenuhi bola matanya. Terutama para pengajar yang bertanggungjawab dalam kegiatan funday yang diselenggarakan sekolah sebagai perpisahan kelas sembilan itu.


“Gak ada yang luka, Zam?” tanya guru lainnya sambil mengamati gerak-gerik Zamzam.


Zamzam kembali tersenyum. “Hanya lecet dikit, Pak.” Ia menunjuk lengan kanannya.


“Ye, makanya hati-hati!” cibir temannya sambil membantunya menepi. Menjauh dari air terjun.


Zamzam hanya nyengir mendengar cibiran temannya itu; lagian aku udah hati-hati tahu!  Semuanya menarik nafas lega melihat cengiran Zamzam, pertanda memang tidak ada yang fatal terjadi.


Dan gadis itu ikut menghela nafas lega sembari mengusap dada. Sungguh jika ada yang tahu, rasa khawatirnya lebih besar dari siapapun.


*


Tersenyumlah, dan terus tersenyum! Karena ada dia, si penikmat senyummu.


*


Berkali-kali Zamzam meraba pinggang atasnya. Sepertinya sakit. Bagaimana tidak? Sudah jelas bagian itu dengan keras membentur batu besar itu. Dusta kalau ia bilang, ia baik-baik saja. huft, terkadang senyuman bisa menyembunyikan satu hal yang amat sangat menyakitkan. Dan senyumannya paling bisa untuk itu.


“Argh!” ia mengerang kecil sembari mengamati keadaan sekitar bus. Hampir semua anak-anak sudah terlelap di jok masing-masing. Guru-guru pun sudah tak ada yang terjaga. Sepertinya mereka kelelahan. Hanya ia, supir bus, dan seorang gadis—gadis yang sedari tadi memperhatikannya—yang masih membuka mata.


Perlahan ia berjalan menuju jok belakang—tempat gadis itu duduk. Terlihat menghampiri gadis itu. Gadis itu menutup seluruh mukanya dengan novel yang sedari tadi digenggamnya. Hatinya mencelos. Ia seperti baru saja itu ikut meluncur bersama air terjun. Suasana dingin. Jantungnya berdetak tak karuan. Dan ia semakin tak berkutik saat Zamzam duduk di sampingnya.


“Aku duduk di sini ya?” Izin Zamzam, ia merasa duduk di jok belakang akan lebih baik. Gadis itu mengangguk saja.


Keadaan diam. Keduanya sama-sama menutup mata untuk tertidur. Namun, entah kenapa rasa sangat sulit. Seperti ada sesuatu yang membuat mata itu enggan tertutup. Sebelum akhirnya, merasa tidak enak larut dalam diam, Zamzam memulai pembicaraan.


“Anak PMR ya?” tanya Zamzam memandang si gadis.


Gadis itu menurunkan novelnya, membalas pandangan Zamzam. Ia berusaha bersikap biasa dan tak memperlihatkan rasa gugupnya. “Aku anak sastra,” ujarnya membenarkan.


“Oh, Afifa?” Zamzam kembali menebak.


Gadis itu menaikan salah satu alisnya, bingung. “Kok tahu?”


“Itu di novelnya ada namamu.” Zamzam menunjuk novel ber-cover  putih bercorak merah muda yang saat ini gadis, yang rupanya bernama Afifa itu, genggam.


Afifa tersenyum, dan Zamzam juga tersenyum. Senyuman hangat yang siapapun bernafsu untuk menikmatinya. Aktifitas di sekitar mereka terhenti begitu saja. tak ada diantara mereka yang mau melewatkan senyuman yang sama-sama indah itu.


“Ergh!”


Buyar! Semuanya kembali berjalan. Merah  tak selamanya berhenti. Dan semua itu terjadi karena secara tiba-tiba rasa mual menyerang daerah perut Zamzam. Ia menutup mulutnya menahan muntah.


Afifa memperhatikannya cemas. “Zamzam, kamu sepertinya masuk angin.” Katanya sembari ngubek-ngebek ranselnya. Mecari sesuatu.


Zamzam menyipitkan matanya. Rasa mual itu teralihkan begitu mendengar Afifa menyebut namanya. Dari mana gadis itu tahu namanya, sementara ia belum memperkenalkan dirinya?


“Ini bisa menghilangkan sedikit mualmu.” Afifa menghadapkan minyak angin yang berhasil ditemukannya, pada Zamzam.


Zamzam menatap Afifa dengan bingung.


“Ahmad Zamzam, anak basket yang tadi jatuh, kan?” Afifa memastikan saat melihat kebingungan tergurat di wajah manis anak laki-laki yang sungguh telah dikaguminya semenjak ia masuk ke sekolahnya itu. Dan setelah tiga tahun ia memendam rasa sukanya, baru kali ini ia bisa duduk berdua dengan anak laki-laki itu.


Zamzam tersenyum kembali. “Tadi memalukan sekali, aku tidak hati-hati.” Kekehnya pelan di balik rasa mual yang terus meronta, memaksa ia mengeluarkan isi perutnya. Dan ia berusaha menahannya. Akan lebih memalukan jika ia muntah di hadapan gadis secantik Afifa.


“Pasti lebih segar!” Afifa mendekatkan minyak angin yang sedari tadi diacuhkan Zamzam tepat di bawah hidung Zamzam. Zamzam mengambil alih minyak angin itu. Menghirupnya dalam-dalam. Mual itu sedikit hilang saat bau segar memenuhi paru-parunya.


“Bajumu masih basah?” tanya Afifa sedikit menyentuh pakaian Zamzam.


“Sudah lumayan kering.” Jawab Zamzam simple.


“Harusnya tadi kamu ganti baju, jadi tidak akan masuk angin seperti itu,” komentar Afifa kembali menekuni novelnya. Ia tidak bisa terus-terusan bertatapan dengan Zamzam. Bisa-bisa, jantungnya berhenti bekerja jika ia terus membiarkan bola matanya sejajar dengan bola mata indah itu. “Pinggangmu sakit ya? Pasti memar tuh,” sambungnya berlanjut, saat melihat Zamzam meringis-ringis memegang pinggang.


Dengan hati-hati Zamzam mengangkat kemeja kotak-kotaknya. Diliriknya pinggangnya. Sulit. Afifa yang melihat Zamzam kesulitan, segera mengeluarkan cermin dalam tasnya. Kemudian mengarahkannya pada pinggang Zamzam guna memudahkan Zamzam melihat luka keungu-unguan di pinggangnya.


Zamzam kembali membenarkan pakaiannya. “Luka kecil,” tenangnya tersenyum. Dan seperti biasa, Afifa selalu bahagia melihat senyuman itu. Meski senyuman pahit sekalipun.


Hening. Lama sekali.


Zamzam menggosok-gosok telapak tangannya. Entah kenapa tiba-tiba saja rasa dingin memeluk erat tubuhnya. Matanya panas dan kepalanya berdenyut sakit. Nafasnya memberat.


Afifa yang hendak tidur, segera membuka matanya kembali saat mendengar desahan nafas Zamzam yang lumayan cepat mengusik indera pendengarannya. “Zam, kamu demam ya?” Afifa memperhatikan wajah Zamzam yang sudah dibanjiri keringat dingin. Zamzam tak merespon. Matanya lengket sekali. Perlahan tangan Afifa memegang kening Zamzam. Panas. Dan gadis cantik itu panik sendiri. Lebih panik dari tadi saat Zamzam terjatuh.


“Ya Tuhan, aku harus ngapain?” Afifa bingung.


*


Tersenyumlah lebih lama. Agar tak ada yang menderita karena merindukan senyumanmu.


*


“Faaaaaa!”


Gadis itu menghentikan langkahnya saat suara seseorang yang memanggil namanya, memekakan indera pendengarannya. Ia membalikan badannya guna melihat siapa yang memanggilnya. “Za-Zamzam?”


Tiga hari seteleh kegiatan funday usai, Afifa tak melihat Zamzam berkeliaran di sekolah. Mungkin karena memang setelah kegiatan funday, sekolah dibebaskan sembari menunggu ijazah dibagikan, atau memang karena sakit Zamzam baru sembuh hari ini. Entahlah...


“Ini punyamu, kan?” Zamzam menunjukan jaket hijau bercorak kuning yang entah sejak kapan berada di tubuhnya ketika ia membuka mata saat itu . Yang ia tahu, ketika itu Afifa tidak ada di sampingnya. Afifa sudah turun lebih dulu ketimbang Zamzam.


Afifa mengangguk. “Maaf ya, waktu itu aku gak tahu harus ngapain. Tapi aku gak berharap jaketku dibalikin kok.” Jelasnya menatap Zamzam lekat-lekat. Zamzam belum memamerkan senyumannya. Dan ia rindu senyuman itu.


“Harusnya aku yang minta maaf. Maaf sudah merepotkanmu. Aku sungguh tidak sadar saat itu, rasanya badanku sakit semua, dan aku tidak ingat apa-apa.” Zamzam duduk di bangku terdekat di koridor sekolah yang jadi latar mereka saat itu. Afifa melakukan hal yang sama.


“Tidak apa-apa. Aku senang direpotkan olehmu.” Afifa tertawa pelan. Zamzam memperhatikannya. Dan tanpa Afifa ketahui, Zamzam tersenyum melihat tawa lembutnya.


“Oya, kamu mau lanjutin SMA di mana?” tanya Zamzam tiba-tiba. Afifa menoleh dengan cepat ke arah Zamzam. Raut wajahnya berubah sedih. Rasanya ia belum siap vakum melihat senyuman Zamzam saat ia keluar SMP nanti. Kenapa baru sekarang, saat ia harus melepas seragam putih birunya, ia bisa dekat dengan Zamzam?


“Aku mau ke Jawa. Masuk pesantren.’ Jawab Afifa nyaris tidak terdengar. Zamzam menarik nafas lesu karena suara pelan Afifa sempat sampai ke telinganya. “Kalau kamu, Zam?” tanya Afifa berlanjut.


“Aku di sini aja nunggu kamu. Hehe...” cengir Zamzam menggombal.


Rona merah menyebar di pipi Afifa. Membuat wajah putihnya terlihat lebih lucu dan menggemaskan. Ia menunduk menyembunyikan rona merah itu. Merinding juga di goda oleh sosok yang selama ini disukainya.


“Fa!” panggil Zamzam.


“Ya?” Afifa menoleh. Tak mempedulikan warna merah itu. Ia hanya ingin menatap Zamzam lebih lama sebelum tak ada lagi esok hari tuk menatapnya.


“Ini!’ Zamzam menyerahkan jaket yang sedari tadi dipegangnya kepada Afifa. Afifa menggeleng cepat. Membuat Zamzam mau tidak mau mengerutkan keningnya, bingung melihatnya.


“Aku punya banyak jaket. Dan itu buatmu, Zam. Siapa tahu kalau jaketnya dari aku bisa kamu bawa kalau ada kegiatan-kegiatan kayak kemarin. Kalau ada kegiatan seperti itu, pastikan kamu bawa baju hangat!. Itu penting.”


Zamzam mengangguk-anggukan kepala saja. Ia mengamati gadis itu dengan serius. Sungguh gadis itu sudah menarik hatinya semenjak mereka duduk berdampingan di bus tempo hari. Seperti ada magnet dengan daya tarik yang tinggi yang menariknya untuk lebih dekat lagi. Dan sayangnya, ia telat. Benar-benar telat! Mereka harus segera berpisah.


“Zam!” giliran Afifa yang memanggil nama Zamzam.


Tanpa suara Zamzam mengalihkan tatapannya.


“Maukah kamu tersenyum untukku? Sekali lagi saja!” pinta Afifa, memelas.


Zamzam tertawa pelan; baru kali ini ada yang memintanya tersenyum. Padahal tanpa diminta pun ia selalu memamerkan senyumannya pada siapapun. “Mau senyuman seperti apa?” tanya Zamzam.


“Senyuman yang bisa mengobati rinduku padamu hingga saatnya kita bertemu kembali!” jawab Afifa enteng. Dan mau tidak mau itu membuat senyuman lebar tergores sempurna di bibir tipis Zamzam. Ia  memberikan waktu yang panjang untuk Afifa menikmati senyumannya. Biarlah, biar senyuman itu menjadi penawar yang ampuh tuk mengobati rindu yang beberapa tahun ke depan akan menjamah hati gadis itu.




SELESAI 

Follow me
@nhyea1225
 

1 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea