Senin, 08 Oktober 2012

ANA UHIBBUKI, AFIFA! (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.36

(Akhir dari harkat-harkat kecil)

*

Uhibbuki, Afifa! Uhibbuki...”

Sesaat mata gadis itu terbuka saat suara seseorang berbisik di telinganya. Ia mengerjap beberapa kali. Menghilangkan sedikit buram yang menghalangi penglihatannya. “Zamzam?” desahnya, saat dengan sempurna ia melihat sosok di hadapannya. “Ngapain kamu di sini?” tanyanya sembari mengangkat tubuhnya.

“Untuk bilang, aku mencintaimu”  Zamzam membantu menegakkan tubuh Afifa.

Afifa mengamati Zamzam dengan rinci. Ada yang berbeda dengan kekasihnya itu. “Kacamatamu mana, Zam?” tanyanya lagi.

Zamzam tersenyum. Senyuman khas yang selama ini Afifa kangenin. “Kenapa? Aku lebih tampan tanpa kacamata, ya?”

“Ternyata, matamu sungguh indah.” Desis Afifa. Jarak wajahnya dengan wajah Zamzam hanya beberapa senti saja. sebelumnya belum pernah mereka bertatapan dengan jarak yang begitu dekat seperti ini. Dan baru kali ini ia menyadari mata itu sungguh indah.

Mata cokelat Zamzam menyapu seluruh ruangan. Entah ruangan apa namanya, Zamzam tidak tahu. Yang pasti, ruangan itu sangat dingin. “Bermain denganku?” tawar Zamzam sembari berdiri dari duduknya. Afifa mengangguk dan langsung dibantu untuk ikut berdiri oleh Zamzam.

“Bermain ke mana?”

“ke tempat yang indah!”

*

“Subhanallah...”

Kata itu yang keluar dari lisan tipisnya saat bangunan mewah menjamah indera penglihatannya. Sungguh ini bukan main indahnya. Arsitek mana pun tidak akan mampu merancang rumah seperti ini. Tidak akan pernah ada yang bisa!

“Rumahmu?”

“Rumah siapa saja yang menginginkannya.”

Dengan hati-hati, Afifa menginjakan kakinya di atas lantai rumah itu. Perasaan takut, berkecamuk dalam dadanya. Takut kalau apa yang jadi pijakan kakinya pecah. Maklum saja, lantai rumah itu terbuat dari kaca. Bening, bersih, mengkilat hingga linangan air jernih di bawah rumah itu terlihat. Ada beberapa ikan warna warni di baliknya.

“Tidak akan apa-apa. Loncat-loncat pun lantai itu tidak akan pecah.” Zamzam memberitahu. Ia menarik Afifa masuk ke dalam rumah itu.

Belum kekagumannya akan desain luar rumah itu habis, kini ia ditunjukan sesuatu yang lebih mengagumkan lagi. Entah bagaimana harus dijelaskan, hingga ada yang mengerti akan indahnya tempat itu. Yang pasti, tempat ini lebih indah dari negeri-negeri dongeng. Lebih spektakuler dari tempat indah mana pun di dunia.

Zamzam menghempaskan tubuhnya di atas keramik-keramik kaca itu. Afifa melakukan hal yang sama. Ikan-ikan di bawah mereka berputar mengelilingi mereka.

Uhibbuki, Afifa.” Bisik Zamzam mengulang kata-katanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Afifa. Rasanya begitu menenangkan.

Ana uhibbuka aidhan, Zamzam.” Ujar Afifa, mengelus-ngelus pipi Zamzam.

Hening sejenak.

“Zamzam!” panggil Afifa.

“Ya?”

“Kau sudah tahu, sidratul muntaha itu seperti apa? Apa kau menemukan kerinduan yang kugantungkan di sana?” tanya Afifa.

Zamzam tersenyum. “Tempatnya, jauuuuhhh sekali. Aku butuh do’a darimu untuk menjangkaunya.” Jawab Zamzam.

“Ajak aku ke sana! Kita melakukan perjalanan menuju tempat itu bersama-sama.” Pinta Afifa. Tangannya berhenti mengelus-ngelus pipi Zamzam dan beralih memainkan beberapa tumbuhan kecil, yang tertanam di balik pot kaca pula. Tanah-tanah di balik pot itu, bercahaya bak permata. Sungguh aneh.

“Kau di sini aja dulu!” Zamzam memainkan jari-jemari Afifa. Afifa hanya tersenyum melihatnya.

Hening lagi. kali ini cukup lama. Dan keheningan itu memaksa mata mereka tertutup. Entah tertidur atau apa, yang pasti saat mata itu sempurna tertutup rapat, ketenangan menyapa hati mereka. Mereka tidak ingat apa pun.

*

“Afifa, aku harus pulang.” Zamzam berbisik di telinga Afifa.

Afifa membuka mata. Latarnya masih sama seperti tadi. Entah berapa lama ia seperti itu. Ia tidak ingat apa-apa. “Pulang?” tanyanya bingung. Ia melirik ke arah luar. “Hujan.” Desahnya.

“Aku harus pulang.” Kata Zamzam lagi. Ia berjalan menuju pintu yang sama saat ia masuk tadi. Afifa mengikuti dari belakang.

“Tunggu!” Afifa mencekal tangan Zamzam erat. “Kau harus bawa ini.” Afifa mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Uang.

Zamzam tersenyum dan menggeleng. “Tidak perlu, Afifa. Baru saja Abi, Ummi dan Alifa memberikan bekal yang banyak untukku.” Jelasnya. Ia kembali berjalan setelah tangan Afifa terlepas.

“Zamzam, tunggu!” Afifa kembali mencekal tangan Zamzam. “Kau harus memakai payung. Hujan, zam.”

“Tapi Abi sama Ummi, juga Alifa udah memayungiku, Afifa.”

Afifa mendesah. Tapi ia tersenyum dan kemudian mencium punggung tangan Zamzam. “Asal kau tahu, aku ingin jadi isteri paling cantik untukmu di syurga nanti.” katanya yang langsung membuat Zamzam tersenyum dan mencium puncak kepala Afifa.

“Ana uhibbuki, Afifa!”

*

“Kak Afifa?”

Entah untuk ke berapa kalinya Afifa membuka mata. Yang pasti, untuk bukaan kali ini, latarnya berbeda. Lebih nyata. Wajah seseorang tergambar di pelupuk matanya. Tidak jelas. Tapi, mirip...

“Zamzam?” Afifa mengangkat tubuhnya. Matanya masih kabur.

“Aku memang mirip Kak Zamzam, tapi jangan sebut aku Zamzam terus dong!”

Dengusan seseorang itu sampai ke telinganya. Dan ia langsung terkekeh meski separuh nyawanya masih berkeliaran di dunia mimpi sana. “Maaf, Alifa.” Katanya saat wajah itu sudah terlihat jelas.
Alifa melepas kacamatanya yang tampak basah. Lalu mengelapnya dengan sapu tangan berwarna orange, yang sengaja ia simpan di saku bajunya. “Ya, dimaklum aja deh...” Alifa menghempaskan tubuhnya di samping Afifa.

Afifa menengok ke arah jam yang menggantung di balik  dinding kamar. Kamar yang selama enam tahun ini tidak pernah berubah. Hanya saja, penghuninya kali ini berbeda. Tidak ada Alfia dan kedua temannya yang lain. Hanya ada ia dan Alifa. “jam delapan. Kamu dari mana, Al?” tanya Afifa menoleh ke arah Alifa.

“Habis ziarah ke makam Kak Zamzam bareng Ummi sama Abi. Eh, kejebak hujan di jalan” Jawab Alifa.

Afifa ber-oh ria. Ia ingat mimpinya tadi. Zamzam beruntung punya keluarga yang tak henti mendo’akannya. Dan do’a itu dengan mudah, sampai kepadanya.

“Kak!”

Afifa terhenyak. “Ya?”

“Tadi aku ketemu Kak Alfia. Setelah jadi novelis terkenal, dia makin cantik aja. Aku jamin, Kak Rifki nyesel pernah menolaknya, kalau mereka dipertemukan.” Cerita Alifa tanpa mengubah posisinya.

Afifa hanya tersenyum mendengarnya“Tadi, Kakak ketemu Kak Zamzam. Dia tampannya tak main-main. Dan aku nyesel gak maksa ikut sama dia.” Afifa menerawang jauh ke alam mimpinya yang tidak mungkin ia jamah kembali. Andai ia bisa tidur lebih lama.

Alifa hanya bisa menghela nafas mendengar penuturan mudabbirah-nya itu. setelah satu tahun bersama-sama dengan Afifa, ia benar-benar tahu kalau selama tiga tahun setelah kepergian Zamzam, gadis cantik itu belum bisa berpaling hati.

“Tapi, Kak Rifki juga udah jadi vokalis paling ganteng.  Kak Afifa jamin, Kak Alfia tidak akan mudah membuang rasanya. Ia pasti makin cinta pas lihat KakRifki.” Afifa kembali ke topik awal pembicaraan. Rasanya tidak enak membicarakan Zamzam lagi di depan Alifa; pasti gadis berkacamata itu menganggapnya sudah gila.

“Kak Zamzam, bilang apa, Kak?” justru Alifa penasaran dengan mimpi Afifa.

Afifa tersenyum. Ia menidurkan tubuhnya kembali. “Ana uhibbuki....” desahnya kembali memejamkan matanya. Berharap ia menemukan mimpi yang sama.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea