Sabtu, 17 November 2012

Yang Aku Tahu (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 21.37

Hanif menghempaskan tubuhnya. Ada senyuman paling manis yang terpatri di bibirnya pertanda ia bahagia. Hatinya di selimuti kabut-kabut paling dingin, tapi menenangkan. Langit-langit kamarnya seperti menggantungkan miliaran bintang paling terang yang membuat matanya buta dan tak melihat perasaan apa pun selain bahagia.

“Aku Rima ...,” gadis itu tersenyum, mengulurkan tangannya. Hanif membalas uluran tangan itu. Dan ia tak bisa bernafas. Tak mampu mengucapkan namanya. Ia lupa siapa dirinya, ia lupa sagala hal. Paras gadis bernama Rima yang mempunyai sentuhan paling lembut itu mengutuknya menjadi bisu. Ia tak berkutik.

Pertemuan pertama itu, membuatnya benar-benar seperti orang gila. Entah kalimat apa yang bisa menjelaskan pertanyaan kenapa bisa terjadi. Yang pasti hanya kata jatuh cinta yang bisa menggambarkan seberapa gilanya ia saat ini. Nama Rima seperti mantra ajaib yang lembut terdengar di telinganya. Ia melanglangbuana. Beginilah jatuh cinta.

Tak ada yang ia pedulikan saat itu selain biusan pesona gadis itu. Sosok tampan yang saat itu berada di samping, Rima pun tidak membuatnya lantas berusaha melupakan bayang tentang Rima. Meski pemuda tampan itu berstatus sebagai kakak kandungnya. Ia mencintai calon tunangan kakaknya sendiri. Dan minggu depan ia akan pergi bersama Rima. Makan malam, nonton bioskop, jalan-jalan di pasar malam dan melakukan banyak hal berdua. Ia memang sudah gila! Yang ia tahu, Rima pun tertarik padanya. Gadis itu berpaling hati padanya.

*

Malam melukiskan diri lebih indah dari biasanya. Taburan bintang bukan lagi bintang biasa. Mereka menjadi venus paling terang yang menyinari bumi paling kelam. Segala sesuatu di sekitar menjadi lebih berwarna dan indah. Dan semua itu hanya tampak di pelupuk matanya.

“Harusnya tadi si tokoh ceweknya yang mati!” kata Rima sibuk menghabiskan popcorn sisa nonton beberapa jam yang lalu. “Tapi baguslah, aku lebih suka kalau tokoh cowoknya yang mati. Lebih dramatis gitu!”

Hanif hanya tersenyum mendengar komentar Rima tentang film yang baru saja ditontonya. Mereka berjalan menjauhi gedung bioskop. Beriringan melangkah menuju taman kota. Duduk berdua di sana, di samping jalan raya yang masih terlihat ramai. Menikmati apa saja yang ada. Yang mereka tahu apa pun itu, semuanya sudah menjelma menjadi pernak-pernik paling indah yang menghiasi malam itu.

“Yang aku tahu, inilah cinta. Tenang meski berpijak di puncak kekahawatiran. Damai meski terperangkap di medan perang. Indah meski terperosok di lembah paling mejijikan. Dan aku baru merasakan hal seperti ini seumur hidupku,” Rima memeluk lengan Hanif erat. Perasaan Hanif melayang tak tentu arah. Untuk kedua kalinya ia merasakan sentuhan paling lembut, lebih lembut dari kain seutera. Gadis cantik yang dijodohkan dengan kakaknya itu menatap Hanif lekat-lekat. Dan Hanif menahan nafas untuk membiarkan matanya bertemu dengan mata Rima.

Rima gadis cantik yang lugu, penurut dan pendiam. Ia tidak pernah menolak apa pun yang orangtuanya perintahkan. Termasuk dijodohkan dengan Rian—kakak kandung Hanif—meski ia tidak pernah mencintai pemuda itu. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, saat ia dikenalkan dengan Hanif, ia merasa ada getaran aneh dalam dadanya. Membuatnya ingin memberontak. Menumbuhkan ribuan do’a dan asa dalam hatinya, agar Hanif lah yang dijodohkan dengannya.

“Yang aku tahu, inilah cinta. Menjadikanku orang paling nekat. Berani menerima resiko apa pun setelah ini,” setelah sepersekian detik terdiam, Hanif akhirnya bersuara.

Rima membiarkan kepalanya bersandar di bahu Hanif. “Ternyata cinta ajaib, ya?” ujar Rima pelan. “Aku hanya berharap, ia benar-benar memberikan keajaibanya untuk aku, untuk kamu.”

Hanif tersenyum. Rasanya ia tidak ingin malam ini berakhir. Ia ingin menikmati waktu yang singkat ini untuk duduk berdua bersama Rima sebelum esok ada sebuah benda paling berkilau di jari manis gadis itu. Namun, ia memang tidak berhak mendapatkan waktu itu lebih panjang lagi. Ia harus mengakhiri keindahan yang baru saja terjamah lahir batinya, saat tubuhnya ditarik paksa menjauh dari Rima. Rima terlonjak kaget saat ia juga merasa sesorang mencekal tangannya dengan begitu kuat.

“F@##ing, lo, Nif!”

“Ini sungguh memalukan!”

“Hanif!”

Hanif menunduk dalam-dalam. Tak berani menatap wajah orang-orang di sekitarnya. Yang ia tahu, memang caranya salah. Tapi ia tahu rasa dalam hatinya tidak pernah salah. Ia mencintai Rima, begitu pun sebaliknya.

“Rian!”

Hanif tahu, itu jeritan Ibu. Ibu menjerit panik saat dengan sempurna Rian memukul wajahnya. Ia diam saja. Tak ada niat untuk melawan. Ayah mencoba menghentikan aksi Rian. Dan Rima dalam rangkulan orangtuanya menangis tak bisa melakukan banyak hal.

“Rima tidak mencintai Rian, Yah. Rima mencintaiku! Harusnya kalian menjodohkan dia denganku!” Hanif berujar serak saat Ayah berhasil menghentikan Rian. Semua mata kini tertuju pada Rima. Meminta penjelasan dari primadona paling cantik itu. Dalam tangisnya Rima mengangguk pelan. Pelan sekali!

“Aaarrgghh! HANIF!”

Hanif tidak ingat apa-apa lagi saat itu. Ia hanya merasa sebelumnya ada sesuatu yang membentur tubuhnya, saat Rian mendorongnya kuat-kuat hingga tubuhnya tersungkur ke jalan raya dan terlempar jauh. Kesadarannya sudah tidak ada. Tapi ia masih merasakan sakit itu. Ia masih bisa merasakan nyeri di bagian kepalanya yang sudah pecah karena terbentur trotoar jalan raya. Ia juga masih bisa merasakan betapa perihnya kulit tubuhnya yang terkelupas karena bergesekan dengan aspal. Dan ia juga merasakan seberapa sakitnya denyutan pemompa darahnya yang mulai lupa bagaimana caranya bekerja. Tapi ia tidak pernah lupa senyuman paling indah dan sentuhan paling lembut yang pernah ia rasakan di hari pertama ia merasakan apa itu cinta.

“Aku Rima ...,”

Senyuman itu tidak akan pernah terlupa. Pun dengan nama itu. Hingga saatnya ia harus menemukan kegelapan yang nyata pun, ia tidak akan pernah melupakannya.

“Hanif! Bangun, Hanif! Bertahanlah!”

Entah suara siapa, tapi Hanif sudah menjadi bisu, tuli, dan buta saat ini. Ia tidak bisa merespon apa pun. Hanya ada keheningan dalam dirinya.

“Yang aku tahu, aku tidak pernah tahu kalau cinta semenyakitkan ini!”

TAMAT

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea