Rabu, 26 Desember 2012

Berdiri Dengan Cinta (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.37
“Haniiiiiiiiifffff! Dasar orang gila  kelas kakap ya, lo?! Awas aja, gue pastiin lo gak bakalan tenang dunia akhirat! ”

Cerocosan panjang itu menggema di lorong sekolah yang tampak begitu ramai karena memang ini jam istirahat. Nira gadis berwajah cantik itu terlihat sibuk mengejar seorang cowok yang baru saja ia panggil dengan sebutan Hanif. Beberapa orang meliriknya aneh. Jelas saja, seluruh seragam gadis itu dipenuhi dengan tinta lukis berwarna-warni. Ia sudah seperti pelangi berjalan.

“Argh! Hanif sialan!”

Hanif—cowok itu—langsung saja menerobos masuk ke dalam kerumunan siswa-siswa lain yang sedang berkumpul di depan mading. Pasti jurnalistik sekolah kembali membuat sesuatu yang menggemparkan. Setiap minggu mereka memang punya cara untuk membuat papan berkaca itu dikerubuni siswa-siswa.

Nira sudah lewat di hadapannya. Gadis itu tidak melihatnya sama sekali. Dan ia tertawa penuh dengan kemenangan. Berhasil mengerjai gadis itu adalah sesuatu yang luar biasa. Ia berhasil membuat gadis itu mandi tinta warna-warni di kelas seni tadi pagi.

Tampaknya perseteruan mereka yang sudah berlangsung sejak kelas satu itu semakin sengit saja, seiring bermunculannya ide-ide jahil dari otak mereka yang jauh dari kata waras. Permusuhan yang terjadi hanya karena persaingan nilai-nilai pelajaran itu menjadi peperangan tiada akhir. Siswa-siswa lain hanya bisa menjadi penonton setia aksi mereka. Setiap hari akan ada sesuatu yang mengejutkan.

Hanif keluar dari kerumunan itu. Sekilas ia memandang isi berita yang sedang jadi topik fenomenal itu. Tidak begitu tertarik, buru-buru ia meloloskan diri dari pengapnya kumpulan orang-orang itu, mencari udara.

“Tanggung jawab gak, lo?”

Baru saja Hanif berhasil keluar dari kerumunan itu dan menghirup udara dengan bebas, seseorang dengan seragam warna-warni berdiri di hadapannya—Nira. Hanif tertawa dan Nira cemberut, kesal dan marah.

“Ngapain tanggung jawab coba, gue? Gue gak hamilin lo, kan?” celetuk Hanif. Gaya sok cool-nya membuat Nira geram setengah mati. Seluruh mata kini terfokus pada mereka begitu kalimat Hanif yang cukup keras sampai ke telinga mereka. Ini akan menjadi gosip paling berbahaya jika tidak segera diluruskan.

“Maksud gue, lo tanggung jawab karena udah buat baju gue kayak gini!” jengkel Nira. Seluruh mata yang sudah tidak heran dengan aksi keduanya, hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Emangnya lo tanggung jawab karena udah buat seragam olahraga gue penuh dengan spidol? Ngga, kan? Jadi, ini seimbang. You understand the rainbow girl?” Hanif berlalu sembari tertawa. Nira menyeringai kesal.

“Gue gak akan biarin lo hidup dengan tenang!” gerutu Nira.

*

“Lo mau buat si Nira itu jadi gadis apa lagi setelah tempo hari buat dia jadi gadis pelangi?” tanya Agis—teman karib Hanif—saat mereka berjalan menuju kelas masing-masing seusai istirahat di kantin.

Hanif tersenyum. “Dia belum balas dendam. Gue gak akan menyerang lawan yang udah menyerah,” katanya berdiri di ambang pintu kelas. “Gue duluan, ya?”

“Sip. Jangan sampai lupa ya, Nif! Gue gak mau ada warna kuning lagi. Haha.” Agis berbisik. Nira yang saat itu berada di dalam kelas dan melihat adegan itu menyeringai penuh dengan kecurigaan.

Hanif masuk kelas dan duduk di mejanya saat Agis berlalu meninggalkanya. Sepintas ia menatap Nira yang sudah—pura-pura—tenggelam ke dalam bacaannya. Gadis itu sepertinya belum punya ide untuk melancarkan balas dendam untuknya. Atau mungkin ia sudah menyerah dan mengaku kalah? Entahlah. Pak Rusdi masuk ke dalam kelas. Tampang sangarnya tidak mengguratkan ekspresi apa pun.

“Keluarkan kertas satu lembar, kita ulangan!”

Sungguh perintah yang secara spontan membuat ruangan penuh dengan gemuruh keluhan. Guru sejarah ini sungguh hobi mengadakan ulangan dadakan. Hanif mau pun Nira yang pada dasarnya termasuk siswa pintar terlihat tenang saja. Tapi tidak dengan Hanif. Setelah membuka tasnya, wajah tenangnya berubah seketika. Ia gelisah dan tidak mengerti apa yang sudah terjadi di dalam tasnya.

“Hanif! Keluarkan kertas satu lembar!” titah Pak Rusdi sekali lagi. Hanif menatap keadaan sekitarnya. Semua orang sudah bersiap-siap dengan kertas mereka masing-masing. Kemudian kembali menatap isi tasnya.

“Buku saya tidak ada semua, Pak.” Hanif kalut saat Pak Rusdi berjalan menghampirinya dan hendak memeriksa tasnya. Hanif mempertahankan tasnya agar tidak dilihat Pak Rusdi ada apa di dalamnya.

“Kenapa? Ada apa di dalam tas kamu? Cepat keluarkan isinya!”

Hanif kukuh tidak ingin mengeluarkan isi tasnya. Ia melirik Nira yang sudah cengar-cengir di mejanya. Ini pasti kerjaan gadis itu!

“Cepat, atau Bapak hukum kamu push-up di depan sampai pelajaran berakhir?!”

Mendengar ancaman itu, Hanif menyerah. Ia tidak ingin mendapat hukuman fisik seperti itu. Segera ia mengeluarkan isi tasnya satu persatu. Dan semua orang tergelak. Tawa mereka membahana begitu melihat apa yang baru saja Hanif keluarkan dari dalam tasnya. Wajah Pak Rusdi memerah menahan tawa dan marah. Berbagai alat kecantikan berserakan di meja Hanif, mulai dari lipstik, shadow, bedak, blush-on, hand body, eyeliner, mascara, parfum dan kecantikan lengkap lainnya. Nira tertawa paling keras.

Ada satu yang tidak Hanif keluarkan dan Pak Rusdi mengetahui itu. Ia segera berseru, “keluarkan semuanya, Hanif!”

Perlahan Hanif mengeluarkan benda yang belum dikeluarkannya. Ia menggerutu dalam hati. Tindakan Nira kali ini adalah hal yang paling hebat. Sungguh brilian! Ia malu tak alang kepalang.

“Obat apa ini?” tanya Pak Rusdi serius menatapi botol dengan pil berwarna-warni yang baru saja Hanif keluarkan. Sesaat tawa itu terhenti. Nira juga menghentikan tawanya. Hanif menjawab pertanyaan Pak Rusdi dengan gelengan pelan.

Keadaan menegang.

“Ikut Bapak ke kantor!” Hanif ditarik tanpa perasaan. Ia terseok-seok mengikuti langkah Pak Rusdi.

“Lo masukin obat apa, Nir? Kenapa bertindak sejauh itu? Bagaimana kalau Hanif di-out gara-gara tindakan lo ini?” Rifa—teman sebangku Nira—yang tahu rencana ini, berbisik tak percaya. Nira tidak merespon. Ia berlari keluar kelas. Bermaksud menemui Pak Rusdi dan juga Hanif untuk menjelaskannya.

“Hanif! Gue sama sekali gak masukin obat itu ke dalam tas lo!” Nira mencegat langkah Hanif saat Hanif keluar dari ruangan kepala sekolah. Hampir setengah jam ia menunggu di balik pintu. Tak berani masuk dan hanya mendengarkan saja apa yang dilakukan Pak Rusdi dan kepala sekolah kepada Hanif. Hasilnya nihil, ia tidak mendengar apa pun selain kasak-kusuk tidak jelas.

“Lihat saja! Sebentar lagi lo pasti dapat yang jauh lebih memalukan dari ini,” kecam Hanif terus berjalan. Nira mengikutinya dari belakang. Ia merasa begitu bersalah, tapi ia juga tidak tahu siapa yang memasukan obat itu ke dalam tas Hanif. Atau, jangan-jangan... ini bagian rencana Hanif? Nira cemas. Tapi sudahlah, sepertinya Hanif tidak mendapatkan hukuman yang fatal gara-gara obat itu.

*

Riuh teduh suara paduan suara terdengar syahdu saat pengibaran bendera berlangsung. Upacara bendera pagi ini berjalan dengan begitu lancar. Kecuali saat ini, saat pengibaran bendera Merah Putih. Semua siswa tidak fokus pada bendera yang perlahan naik ke puncak tertinggi. Mereka justru sibuk menahan tawa begitu petugas pengibar bendera maju dan berdiri di depan. Ada kertas yang menempel di punggung si petugas yang berdiri di tengah—Nira.

“SUMPAH GUE SAYANG HANIF LAHIR BATIN!”

Tulisan itu yang tertera di balik punggung Nira. Dan itu membuat suasana upacara kacau. Terlebih karena Agis, yang saat itu bertugas sebagai pembaca UUD 1945 tertawa dengan begitu keras. Sepertinya dia sengaja. Hanif yang saat ini berdiri di barisannya ikut tertawa. Semua orang tertawa, Guru-guru bingung, Nira juga bingung sebelum petugas pengibar bendera yang satunya lagi menunjukan kertas itu. Pipi Nira merah bukan buatan. Ia mengedarkan pandangannya mencari Hanif. Tidak ada. Siswa sekolah ini terlalu banyak. Jika matanya menemukan sosok Hanif, saat itu juga ia akan menerkamnya tiada ampun.

“Jadi apa maksud ini semua?!”

Ruangan kepala sekolah bergetar. Hanif yang sudah ditemukan sebagai tersangka keonaran itu berdiri di sebrang meja Pak Indar, Kepala Sekolah. Ia menunduk dalam-dalam, tapi hatinya pongah merasa puas karena berhasil membalas Nira. Nira sendiri berdiri di samping Hanif. Ia sama-sama menunduk. Pipinya merah seperti dioleskan blush-on yang kemarin ditaruhnya di tas Hanif dengan sangat berlebihan.

“Kemarin Nira masukin alat kecantikan ke dalam tas saya, Pak,” dalih Hanif membela diri.

“Tapi Hanif numpahin tinta ke seragam aku, Pak.”

“Habisan dia corat-coret baju olahraga saya dengan spidol.”

“Dia taruh baju olahragaku di toilet laki-laki.”

Hanif memandang Nira kesal. Siap berdalih lagi. “Itu karena lo taruh tas gue di atas tiang bendera.”

“Kalo lo gak lemparin sepatu gue ke atas genteng, gue gak akan lakuin itu!”

“Sebelumnya lo masukin bumbu cabe ke jus gue.”

“Lo juga masukin batu bata ke tas gue.”

“Tapi lo ....”

“HENTIKAN! SEKARANG KALIAN BERDIRI DI BAWAH TIANG BENDERA SAMPAI SORE!”

*

Hanif mengelap peluh yang berceceran di sekitar wajahnya. Begitu pun dengan Nira. Sengatan matahari nyaris membakar kulit mereka. Ini baru jam satu, belum lagi jam-jam berikutnya. Entah berapa jam lagi cairan dalam tubuh mereka terkikis habis. Hanif mendesah, nafasnya berat terdengar.

“Semua ini gara-gara lo tahu, gak?” keluh Nira. Ia ingin menangis mengakui keberadaannya di bawah tiang bendera ini. “Lo gak bisa apa, ngerjain guenya gak di depan kepala sekolah? Lagian, kenapa sih cuma gara-gara nilai pelajaran kita bersaing, kita mesti kayak gini? Kita kan bisa bersaing dengan sehat.”

Hanif diam saja.

“Gue mau ini berakhir, Nif. Gini aja, nanti kalau Pak Rusdi ngasih ulangan dadakan lagi, kita buktikan siapa yang dapat nilai paling tinggi. Nah, kalau nilainya tinggi, berarti dia memang paling unggul. Setelah itu, urusan kita selesai kan? Yang nilainya rendah mesti minta maaf,” usul Nira tanpa mengalihkan perhatiannya dari si Merah Putih.

Hanif menyeringai, tampaknya ia tidak setuju. “Kampungan! Gue tantang lo berdiri di bawah Big Ben,” katanya penuh dengan nada menantang, menyepelekan.

“Big Ben?” Nira tidak mengerti apa maksud Hanif.

Hanif mengerjapkan matanya berkali-kali. Ada kunang-kunang yang mengerubuni penglihatannya. “Ikut gue!” Hanif menarik tangan Nira tanpa permisi. Nira menatap tangan Hanif yang dengan begitu erat menempel di tangannya. Dadanya tiba-tiba bergemuruh tak karuan. Entah karena penglihatannya yang mulai bermasalah lantaran berjam-jam terkena silaunya matahari, ia merasa kulit Hanif menguning.

“Kompetisi Siswa Berprestasi. Hanya ada satu pemenang yang bisa mewakili sekolah untuk mendapatkan hadiah jalan-jalan ke London. Siapa yang bisa menangin hadiah ini dan berfoto di bawah Big Ben, baru dia yang bisa disebut paling unggul.”

Hanif menunjuk papan mading tepat di lembar pengumuman yang tempo hari dikerubuni siswa-siswa. Lomba itu  diselenggarakan oleh Menteri Pendidikan yang bekerjasama dengan Expert Education, lembaga pendidikan terbesar di Indonesia.

“Bagaimana? Deal?!” Hanif mengulurkan tangannya. Nira hendak menjabat uluran tangan itu pertanda setuju. Tapi ia baru ingat kalau tangan kanannya masih digenggam erat oleh Hanif. Buru-buru Hanif melepaskan tangannya saat ia menyadari hal itu.

“OK! Gue pasti bisa berdiri di bawah Big Ben itu.”

Hanif tersenyum begitu Nira menjabat tangannya dengan penuh percaya diri. Setelah itu ia berlalu meninggalkan Nira.

“Sebelum berdiri di bawah Big Ben, kita mesti berdiri dulu di bawah bendera Merah Putih itu. Hanif, kita belum menyelesaikan hukuman kita!” ujar Nira barengan saat Hanif berbelok dan masuk ke dalam toilet.

“Duluan! Nanti gue nyusul,” teriak Hanif di balik pintu toilet. Dan ia langsung mendudukan diri di lantai toilet itu. Mengerang kecil sembari memegang perutnya kuat-kuat. Nafasnya terengah.

“Ya Tuhan,” lirih Hanif. Kulitnya sesaat berubah warna menjadi lebih kuning. Ia meremas perutnya. Hatinya terasa dicabik-cabik tangan raksasa tanpa ampun. Ia kesulitan bernafas. Penyakit yang menyerang bagian livernya itu sedang berprotes kali ini. Tak ada obat yang bisa menghentikan demo penyakitnya itu. Hanif berusaha bangkit, hendak mencari obatnya. Tidak bisa! Sakit itu sudah melumpuhkan persendian tubuhnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, kembali mengumpulkan tenaganya. Sampai akhirnya....

BRUAK!

“Hanif!”

Seseorang mendobrak pintu dengan begitu keras. Agis dengan raut wajah cemas, segera memburu tubuh Hanif. Menjejalkan beberapa obat ke dalam mulut sahabatnya itu. “Gue bilang, jangan lupa yang satu ini! Gue gak suka ada warna kuning tahu, gak?”

Hanif tidak merespon sama sekali. Sakit itu masih tertinggal dalam tubuhnya. Cerocosan Agis hanya membuat hatinya semakin ngilu terasa. “Bantu gue berdiri, Gis!” pinta Hanif mengulurkan tangannya. Agis meraih tangan itu. “Hukuman gue belum selesai. Nira masih nunggu di bawah bendera Merah Putih.”

Sempurna tubuh Hanif berdiri, kepalanya terasa begitu berat. Ia oleng dan terpaksa kembali duduk. Merangkak lebih menepi agar bisa bersandar di balik dinding. Agis tidak tinggal diam. Buru-buru ia merangkul Hanif, memapahnya keluar toilet.“Kita harus pulang. Biarlah si Nira menjalankan hukumannya sendiri.”

Sepertinya ia memang harus pulang. Kecuali jika ia mau mati di tempat.

*

Hanif meraih satu lembar kertas di meja di samping tempat tidurnya. Kertas yang Agis berikan sebelum dia berangkat sekolah. Dengan bersusah payah, ia mengangkat tubuhnya yang selama beberapa hari ini hanya bisa berbaring tidak berdaya. Perlahan ia membaca apa yang tertulis di kertas itu. Persyaratan Kompetisi Siswa Berprestasi. Baru satu poin ia baca, kepalanya terasa begitu sakit. Terpaksa ia kembali merebahkan tubuhnya, melupakan kertas itu dan kembali memejamkan mata. Hanya itu yang bisa dilakukannya selama ia sakit seperti ini.

Dengan lesu Nira membereskan buku-bukunya. Nilai ulangan dadakan sejarah kali ini pasti menjadi nilai paling buruk semasa ritual Pak Rusdi berlangsung. Sekilas ia menatap bangku kosong nomor tiga dekat jendela. Sudah beberapa hari ini meja itu kosong, dan ia tidak tahu ke mana si pemilik meja itu. Setelah kejadian itu, ia tidak melihat Hanif lagi. Ia sempat berfikir kalau waktu itu Hanif sengaja meninggalkannya sendiri di bawah tiang bendera Merah Putih. Ia dikerjai dua kali hari itu. Dan ia ingin membalasnya. Tapi sampai saat ini ide jahilnya masih tersimpan rapat, atau mungkin sudah menguap begitu saja karena terbakar sesuatu yang membara dalam hatinya. Sesuatu yang mereka namakan dengan rindu.

Suara aneh itu membangunkan Hanif yang rasanya baru saja memejamkan mata. Matanya yang masih terciprati warna kuning—seperti kulitnya saat ini—memicing. Ibu sedang asyik membereskan buku-bukunya yang berserakan di bawah tempat tidur. Semalaman ia mencoba membaca buku-buku itu meski pada akhirnya ia menyerah dan melemparnya sembarang. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa memenangkan kompetisi itu dan mengalahkan Nira jika keadaannya seperti ini.

“Maaf, Ibu membangunkanmu, ya? Kalau keadaan kamar kamu berantakan seperti ini, kamu tidak akan sembuh dengan cepat.” Ibu menyimpan buku-buku itu di meja belajar Hanif. Lalu duduk di tepi tempat tidur putera itu.

“Tidak apa-apa, Bu,” maklum Hanif mencoba untuk mendudukan dirinya. Tapi, seperti biasa, kepalanya terlalu berat untuk tidak menempel dengan bantal. Bagian perutnya juga masih terasa begitu ngilu. Ia yakin, hatinya sudah membengkak lebih besar dari sebelumnya sehingga untuk duduk saja rasanya begitu sakit. Dan ia terpaksa menidurkan dirinya kembali meski punggungnya terasa sangat panas dan pegal.

Kompetisi tinggal beberapa minggu lagi. Nama Hanif memang sudah tercantum di dalam agenda panitia penyelenggara. Sepertinya Agis yang membantunya mendaftarkan diri. Tapi namanya saja tidak cukup, Nira membutuhkan sosok nyata laki-laki itu. Ia rindu laki-laki menyebalkan yang selalu sukses membuatnya malu itu. Ia rindu kejutan-kejutan yang Hanif siapkan untuk dirinya. Tiba-tiba saja dunianya terasa begitu sepi. Ia melempar kertas persyaratan kompetisi itu sembarang. Ia merasa tidak menginginkan lagi mengikuti kompetisi itu. Ia tidak ingin memenangkan hadiah itu. Ia tidak ingin berdiri di bawah Big Ben. Lebih baik ia berdiri di bawah sang saka Merah Putih berjam-jam, asal bersama dia. Hanif.

“Pantas saja Indonesia rawan banjir, orang pintar macam lo aja masih hobi buang sampah sembarangan.” Agis dengan cueknya nyeletuk sembari menghadapkan kertas yang tadi Nira lempar.

Nira menoleh dengan cepat dan memandang Agis sinis. Melihat Agis ia jadi memikirkan banyak hal. Jangan-jangan ini rencana Hanif buat ngerjain Gue? Dan Gue tidak bisa menebak apa rencana gilanya itu, seperti biasa? Apa yang sebenarnya Hanif rencanakan? Argh! Dia memang gila segila rencana-rencananya itu.

“Kalo gue  gak buang sampah sembarangan, pemulung sampah macam lo bisa jadi pengangguran.” Nira berdiri dari duduknya, meninggalkan Agis. Ia sedang tidak ingin diganggu saat ini.

Agis menghela nafas. Sebenarnya ia tidak begitu ingin berurusan dengan gadis yang dari sudut pandang Hanif begitu arrogant itu. Tapi untuk saat ini ia perlu bantuan Nira. Untuk kebaikan sahabatnya. Setelah memastikan gengsinya terpasung sempurna kuat-kuat, ia segera berlari mengejar Nira. Menyamakan langkahnya dengan langkah Nira yang begitu cepat.

“Nir! Sebenarnya gue butuh bantuan lo.”

*

Meski tidak nyaman, Hanif memaksakan diri untuk membaca buku-buku pelajaran yang sudah Ibu simpan kembali di sampingnya meski dengan posisi tidur. Jangan karena keadaannya seperti ini lantas ia melupakan kompetisi itu. Ia sudah terlanjur menantang Nira berdiri di bawah Big Ben. Tak mungkin juga ia mengundurkan diri untuk itu. Gengsi jika ia bilang ia menyerah. Dengan tekad yang kuat, ia mempelajari semua pelajaran yang jadi syarat bisa lolos kompetisi. Ia merasa matanya nyaris seperti juling karena membaca dengan posisi tidak benar. Lagipula tidak ada satu pun yang masuk dan tersimpan dalam memory otaknya.  Tapi setidaknya ia berusaha sekuat ia mampu.

Hanif menghentikan bacaannya saat ia merasa tulisan-tulisan itu tidak lagi tersusun dan seperti bergerak-gerak. Langit-langit kamarnya bergoyang. Dunia berputar. Kepalanya nyeri sekali. Ia mual. Sengatan udara dingin menggigit tubuhnya. Tapi keringat bermunculan di seluruh pori tubuhnya. Ia ingin bangun, tapi seluruh tubuhnya terutama perutnya terasa sangat sakit. Ia menelungkupkan bukunya di balik wajahnya saat seseorang membuka pintu. Pura-pura tidak terjadi sesuatu dengan dirinya.

“Nif...”

Si pemilik suara yang sudah Hanif hafal betul itu menyibakan buku yang menempel di wajahnya. Hanif tersenyum di balik rasa sakitnya. Agis menatapnya heran. Merasa tidak hanya ada Agis di kamarnya, ia segera mengalihkan penglihatannya yang terasa panas itu ke arah lain. ke arah di mana seorang gadis cantik berdiri di ambang pintu. Dan ia menjadi sangat gugup saat itu juga.

 “Lo sakit apa?” Gadis itu—Nira—berjalan mendekatinya. Ia menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan tenaganya. Ia harus bangun paling tidak selama ada Nira. Ia tidak boleh terlihat setidakberdaya itu. Agis dengan sigap membantunya.

“Sakit hati,” singkat Hanif. Tubuhnya linu di sana-sini. Tapi ia masih berusaha untuk tersenyum. Lama tidak berjumpa, Nira terlihat lebih cantik.

Tak perlu ditanya pun sebenarnya Nira sudah menduga apa penyakit yang bersarang di tubuh Hanif. Warna kulit Hanif yang berubah menjadi kuning sudah menjawab tanpa mesti bertanya. Lagipula selama perjalanan menuju rumah Hanif, Agis sudah bercerita banyak soal itu. Pertanyaan itu hanya basa-basi saja.

“Sakit hati diputusin pacar?” canda Nira tertawa. Hanif ikut tertawa meski pelan.

“Hanif gak punya pacar, Nir. Katanya masih nunggu seseorang yang ia panggil dengan sebutan the rainbow girl.” Langsung saja Hanif menyikut pinggang Agis yang dengan repleks meringis. Tapi ia juga ikut meringis . Tubuhnya seperti dipaku di sana-sini sehingga melakukan gerakan sedikit pun ngilunya tidak main-main.

Nira terkekeh pelan mendengar hal itu. Entah siapa yang menanam, yang pasti tiba-tiba saja hatinya menjadi taman bunga paling indah mendengar apa yang baru saja Agis katakan. Hanya ia yang Hanif sebut the rainbow girl. Pipinya memerah dan warna kuning di wajah Hanif juga bercampur dengan warna yang sama. Komplikasi warna di wajah Hanif, antara warna sawo matang, kuning, merah dan putih pucat itu membuat Nira berbisik dalam hati: you are the rainbow man. Hati Nira tertawa geli.

“Kenapa gak dirawat di rumah sakit aja sih, Nif? Kayaknya sakitnya parah deh,” tanya Nira ikut prihatin melihat kondisi Hanif. Ia sama sekali tidak menduga kalau Hanif si orang menyebalkan, biang keladi masalah dalam hidupnya, pesaing nomor satu yang mengancam nilai-nilai pelajarannya, ternyata mempunyai penyakit separah ini. Ia baru sadar kalau obat itu memang benar-benar obat Hanif.

“Lo fikir gue orang kaya, apa? Kalau gue kaya juga udah dari dulu gue dapat donor hati dan sembuh. Dulu juga gue pernah dirawat di rumah sakit berbulan-bulan lamanya. Tapi hasilnya sakit gue gak sembuh dan malah dapat penyakit baru, gara-gara cairan kimia yang terlalu banyak masuk dalam tubuh gue. Gue capek...,” lirih Hanif memejamkan matanya. Rasanya ingin sekali ia kembali membaringkan tubuhnya. Tapi tidak bisa selama ada Nira. Terpaksa ia meraih bukunya kembali dan pura-pura membaca walau melihat tulisannya saja dunia serasa dihantam gempa beratus-ratus skala richter.

“Udah deh, gak perlu membaca lagi! Gak perlu belajar lagi! Kita batalkan kompetisi itu. Gak akan ada yang berdiri di bawah Big Ben.” Dengan kasar, Nira merebut buku yang sedang Hanif genggam dan melemparnya sembarang. Agis mengangguk setuju. Itu tujuannya mengajak Nira ke sini.

Langsung saja ekspresi Hanif berubah. Ia tidak ingin tantangan yang sudah ia berikan dibatalkan begitu saja, meski sebenarnya ia juga ingin menyetujui hal itu. Ia gengsi untuk mengakui kalau keadaannya sudah tidak mampu lagi melakukan itu semua. “Gak bisa. Gue gak mau kompetisi itu dibatalkan. Pokoknya mesti ada di antara kita yang berdiri di bawah Big Ben buat buktiin siapa yang paling unggul. Lagian, sekalian jalan-jalan juga kan? Kapan lagi coba kita dapat kesempatan ke luar negeri?” suara Hanif serak terdengar.

“Tapi lo sakit, Hanif. Gue gak mau ambil resiko sakit lo makin parah kalo kita terus lanjutin ini. Biarlah gue ngaku kalah.”

“Gak bisa.”

“Lo tahu? Persyaratan kompetisi ini tuh berat banget. Pelajaran yang mesti lo kuasai itu gak hanya matematika atau seni budaya saja. Gak cuma IPS, tapi IPA juga. Emangnya lo bisa, apa belajar dalam kondisi seperti ini? Duduk aja lo gak bisa, kan?”

“Kalau begitu bantu gue belajar. Bantu gue buat ngalahin lo.”

*

Aneh! Entah kenapa ia mau melakukan hal ini. Membantu lawannya untuk mengalahkannya. Seharusnya ia tidak perlu repot-repot datang ke rumah Hanif. Menemani Hanif belajar. Membaca banyak pelajaran untuk Hanif dengarkan dan fahami karena memang kondisi Hanif yang semakin hari semakin lemah saja. Bahkan ia yakin Hanif tidak akan bisa mengikuti tes pertama kompetisi itu. Bukan tidak bisa menyelesaikan soal-soal ujian pertama karena memang Hanif jauh lebih hebat mencerna pelajaran-pelajaran itu. Tapi karena tubuh Hanif yang untuk bergerak saja terlihat begitu lemah.

“Pemanasan global adalah naiknya suhu permukaan bumi karena meningkatnya efek rumah kaca...,” suara Nira terdengar lesu saat ini. Ia menguap menahan kantuk. Jam dinding berwarna merah selaras dengan cat dinding kamar Hanif yang bernuansa orange itu menujukan pukul 20:55. Nira masih enggan beranjak dan tetap bersikukuh membacakan pelajaran itu. Kompetisi itu tinggal beberapa hari lagi dan masih banyak buku yang mesti ia pelajari dan ia ajarkan kepada Hanif. Hanif yang setiap hari selalu berada dalam posisi yang sama, masih setia menyimak bacaan Nira.

Ini memang hanya tindakan konyol. Tapi sungguh tidak pernah ada  yang tahu kalau dari tindakan aneh mereka itu, tumbuh benih-benih kasih dan sayang yang tulus. Karena terlalu sering mengunjungi Hanif, Nira merasa begitu nyaman berada di dekat laki-laki yang dulu pernah dibencinya setengah mati itu. Tulisan yang pernah hanif tempel iseng dipunggungnya itu, “sumpah gue sayang Hanif lahir batin!”, menjadi nyata. Ia menyayangi Hanif. Sungguh menyayanginya. Ia bahkan terlalu takut jika harus kehilangan Hanif. Ia sedih menyadari kenapa harus dengan cara ini dulu ia bisa menyayangi pemuda itu. Kenapa tidak sejak dulu ketika Hanif tidak sedang sakit seperti ini.

“Aku bisa menyanyi untuk menghilangkan kantukmu,” kata Hanif. Nira yang duduk di bawah tempat tidurnya menyipitkan mata heran karena baru saja kata aku-kamu meluncur dari bibir pucat Hanif. Tapi ia tidak peduli dengan itu. Ekspresi wajahnya berubah meyampaikan kalimat, Oya? Kalau begitu, cepatlah menyanyi! . Begitulah raut wajahnya berbicara.

Hanif tersenyum tipis. Menarik nafas dalam-dalam. Meski sudah lama ia tidak menyanyi, tapi mungkin suara indah warisan ayahnya itu masih melekat dalam dirinya. Ia harus menghibur Nira meski sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Perlahan ia mengangkat tubuhnya. Sakit sekali! Tapi ia harus bisa menahan sakit itu. Sebisa mungkin ia mengganti sugesti rasa sakit dalam tubuhnya itu seperti luka kecil yang tidak nyeri. Sedikit ampuh. Terlebih ketika ia melihat senyuman tulus meski tercampur dengan rasa cemas tergurat rapi di bibir Nira.

Ini hanya luka kecil, Hanif. Tidak sesakit yang lo fikirkan. Lihatlah wajah gadis mungil itu! ketulusannya harus lo bayar dengan ketulusan juga. Buatlah dia tersenyum dengan membuktikan kalau lo baik-baik saja, kalau lo itu kuat dan mampu, kalau lo itu tidak selemah yang ia fikirkan. Percayalah dia akan sangat bahagia lihat lo bangkit dan berdiri lebih tegak.

Setelah menanamkan sugesti posif dalam dirinya, Hanif berusaha berdiri dari duduknya. Lutunya bergetar. Ia yakin ia akan ambruk saat itu juga jika sugesti positif itu tidak ia tancapkan kuat-kuat. “Sebentar,” katanya kepada Nira yang hanya bisa memasang wajah khawatir sekaligus heran. Baru kali ini ia selama ia bolak-balik ke rumah Hanif, ia melihat Hanif bisa berdiri dengan begitu tegak dan berjalan, meski terseok-seok.

Hanif menghilang di balik pintu.

Nira termenung. Termenung panjang sembari membuka halaman-halaman buku IPA yang sengaja ia pinjam dari Agis tadi pagi. Seseorang membuka pintu kamar. Ibunda Hanif berjalan menghampiri Nira, membawa sepiring nasi.

“Hanif mana?” tanyanya.

“Keluar, Bu,” jawab Nira tersenyum. Ia sudah menganggap wanita paruh baya itu seperti ibunya sendiri. “Nanti biar saya yang suapi dia, Bu.”

Masih dengan memasang wajah terkaget-kaget karena mendengar Hanif keluar kamar, yang berarti kondisi puteranya sudah membaik, ia menatap Nira dan tersenyum. “Nasi itu buat Nira, bukan buat Hanif. Kamu makan dulu, ya? Seharian ini kamu pasti lelah temenin Hanif belajar. Tante makasih banget loh sama kamu,” katanya.

Nira hanya bisa mengangguk sembari melukiskan senyum terbaiknya.

Hanif langsung saja menjatuhkan dirinya di atas pualam ruangan kerja ayahnya dulu. Jarak ruangan itu dengan kamarnya sungguh tidak jauh, tapi ia merasa beratus-ratus kilo jauhnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak menghampiri sebuah gitar cokelat yang entah berapa lama tak disentuhnya. Gitar peninggalan ayahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam sembari melafakan kalimat : ini hanya luka kecil, berulang kali.

Nira masih menunggu sembari menikmati makanan yang baru saja ibu Hanif berikan. Lama sekali.

Hanif meremas perutnya. Ah, kenapa ia harus menganggap ini luka kecil padahal sakitnya saja seperti ditusuk-tusuk pedang malaikat kematian. Dengan rasa sakit yang mengiris hingga jantungnya, ia terus berjalan untuk kembali ke kamarnya. Tentunya sambil menenteng gitar cokelat yang jadi tujuannya.

Nira cemas. Ia menyimpan piringnya dan berniat untuk menyusul Hanif sebelum akhirnya pintu terbuka. Hanif berjalan mendekatinya. Tentu dengan ekspresi seolah tidak ada sakit di tubuhnya.

“Kamu membuatku cemas,” kata Nira membantu Hanif berjalan dan duduk di tepi tempat tidur. “Kamu mau nyanyi apa? Tapi aku sudah tidak ngantuk lagi.”

“Kalau begitu, kamu saja yang menyanyi dan usir rasa kantukku ini,” desah Hanif sambil menyerahkan gitar itu kepada Nira. Setelah itu ia kembali berbaring seraya melirih, “rasanya seperti ditikam jutaan jarum suntik dengan cairan kimia paling mematikan. Aku dingin sekali. Berapa banyak kadar gas-gas efek rumah kaca di kamar ini sehingga aku kesulitan bernafas seperti ini. Berapa kibik lagi jatah oksigen yang bisa aku hirup. Kenapa rasanya hanya tinggal sedikit saja? Berapa lama lagi hati ini berfungsi dan bisa merasakan adanya nama kamu di sini, Nir?”

Nira diam. Tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Hanif.

“Kamu harus tetap ikut kompetisi itu. Kamu sudah bersusah payah belajar. Kamu harus bisa berdiri di bawah Big Ben seperti yang kamu janjikan padaku.”

Pelan-pelan Nira menggenggam tangan Hanif yang terasa begitu dingin. Ia menatap wajah itu lekat-lekat. Warna kuning di tubuh Hanif menebal, menjadi lebih kuning. Hanif membalas tatapan Nira. Ia tersenyum sembari berkata, “maaf dengan segala hal menyebalkan yang selalu aku lakukan sama kamu selama ini. Terimakasih juga sudah mau menemaniku belajar selama beberapa minggu ini. Aku sayang kamu, the rainbow girl.” Dan saat itu juga ia merasa gigitan hawa dingin menyerang seluruh tubuhnya hingga organ dalam. Dingin sekali. Ia mengerang sembari memeluk tubuhnya. Menggigil tak karuan.

Nira panik. Diacuhkannya gitar yang sedari tadi dipegangnya. Ia menyelimuti Hanif meski tu tidak berpengaruh sama sekali. Ia menjadikan pelukannya sebagai selimut. Dengan sangat erat ia merapatkan tubuhnya dengan tubuh Hanif yang terus menggigil. “Ibuuuuuuuu! Hanif, Bu! Hanif kenapa?” Ia melolong dengan sekuat tenaga. Tidak peduli jika suaranya harus habis sekalipun.

Ibu membuka pintu. Hanif mendingin dan membatu tanpa gerakan, tanpa desahan nafas dan tanpa denyutan nadi. Ibu masuk dan malaikat itu keluar. Tugasnya sudah selesai. Dengan wajah panik Ibu berlari menghampiri Nira yang masih dengan sangat kuat memeluk Hanif. Ada tangis di balik mata cokelat besarnya.

*

Di sini aku berdiri. Di bawah menara jam besar yang mereka namakan Big Ben. Aku menengadah. Aku terlalu kecil untuk berdiri di bawah menara setinggi 316 kaki ini. Tak mampu kumenggapainya seperti tidak mampunya aku menggapaimu. Kamu yang saat ini berada di tempat paling tinggi. Lebih tinggi dari Big Ben ini.

Kuangkat kamera digitalku. Memotret menara yang sudah berdiri lebih dari satu setengah abad ini. Ia pongah tak mau menatapku. Mungkinkah kau menatapku yang sudah seperti orang gila ini di sana? Cahaya kuning keemasan, pantulan dari lampu-lampu Istana Westminster membuat hasil potretanku terlihat begitu sempurna. Kau tahu, Hanif? Aku berdiri di sini bukan sebagai pemenang. Bukan sebagai dia-yang-paling-unggul. Aku berdiri di sini bukan karena aku pemenang kompetisi itu. Dari awal aku sudah sadar kalau aku tidak akan bisa memenangkannya tanpa ada kamu di sisiku. Kau tidak tahu kalau semua nilai sempurna yang aku raih itu semata-mata karena adanya kamu.

“Hei! Can you help me to take my picture, please!”

Gadis berambut pirang itu tersenyum. Pupil matanya yang sepenuhnya berwarna biru terang menatapku hangat. Ia mengambil kamera digitalku dan memotret aku dengan berbagai pose di bawah Big Ben ini. Setelah mengucapkan terimakasih kepada gadis bule cantik itu aku berlalu meninggalkan menara jam itu. Menatap gambar-gambar yang sudah tertangkap di balik image display kameraku sembari terus melangkah. Melangkah ke mana pun aku mau. Rasanya baru kemarin aku duduk di sampingmu, membacakan buku-buku pelajaran sampai rasanya mulutku pegal.

Kau tahu, Hanif? Menara ini memang indah. Sangat  indah! Tapi jujur kuakui tak ada yang lebih indah selain tiang bendera berwarna putih tempat sang saka Merah Putih kita berkibar. Tempat di mana aku dan kamu berdiri bersama. Tak kusadari kalau ternyata di sana, di bawah tiang bendera adalah hari terakhir kita menyudahi peperangan kita. Menyudahi untuk selamanya.

Aku terus melangkah. Menginjak daun-daun maple hingga menimbulkan bunyi berisik. Kumenghela nafas, kupasangkan headseat di telingaku. Bahkan saat itu kau belum menyanyi untukku. Kau pergi dengan begitu cepat tanpa pamit, tanpa memberikanku lagu terakhir. For The Rest Of My Life mengalun lembut sampai ke dalam jiwaku. Rasanya hati ini sakit, sanubari ini kosong dan hampa saat kumenyadari tak akan ada lagi kamu yang menumpahkan tinta ke pakaianku, melempar sepatuku ke atas genteng, memasukan batu bata ke dalam tasku, menaruh seragam olahragaku di toilet laki-laki. Ah, tak akan ada lagi yang memberikan kejutan untukku. Hatiku menangis pilu. Pilu sekali!

Semestinya kau tahu, Hanif. Aku rela kau mengerjaiku habis-habisan, asal kau tetap di sampingku. Karena ternyata kehilangan kamu jauh lebih menyakitkan. Ketidakhadiran kamu di sisiku membuatku seperti makhluk asing yang terdampar di pulau kecil bernama kesendirian. Tidak ada yang meramaikan hidupku lagi.

“Sumpah gue sayang Hanif lahir batin!”

Aku duduk di balik kumpulan daun-daun maple. Kutulis kata itu besar-besar di balik kertas. Kulipat kertasnya, kubuat seperti pesawat terbang, ku lempar ke atas. Aku tertawa. Bodohnya diriku. Tak mungkin kubisa menerbangkan pesawat kertas itu kepadamu. Ke atas menara Big Ben pun sangat mustahil. Hanya nyangkut di balik pohon maple. Tapi aku tahu pesan itu sampai ke padamu. Kukirimkan lewat pesawat hatiku yang paling cepat.

“Tuhan, sampaikan padanya kalau aku mencintainya.”

Nira menghela nafas membaca tulisan yang pernah ia tulis di balik memo note book-nya. Cerita sunyi yang hanya akan jadi kenangan semasa hidupnya. Tiba-tiba saja ia merasa begitu rindu. Rindu dengan segala hal yang pernah terangkai di masa silam. Ternyata benar, hal yang paling menyebalkanlah yang suatu saat nanti akan merasa paling dirindukan.

Ia memasukkan buku berjilid ungu anggur itu ke dalam tasnya. Kemudian berdiri, menarik nafas dalam-dalam dan segera berlari kecil. Suara sepatu fantofelnya menjadi nada indah di lorong-lorong sekolah sore itu. Ia tersenyum begitu langkahnya sampai di lapangan upacara. Ditatapnya ujung tiang bendera itu. Pernah ada cinta di sekolah ini. Cinta yang tidak pernah ia sadari sama sekali. Dengan dia, Hanif. 



END
*

Gimana? Udah nyiksa, kan? 
maaf bila benar-benar tidak memuaskan...

4 komentar:

  1. maaf nih yang buat cerpen,
    kok ceritanya gk ada bedanya dgn kisah hidupku sendiri ya?

    BalasHapus
  2. izin copas ya? nama tokoh dan situasi mau dirubah jadi ala anime~

    *tuntutan tugas :D

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea