Senin, 07 Januari 2013

Tentang Hati (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 22.12
“Namanya Zai.” Bisikan itu terdengar tepat di kuping sebelah kiri Safya. Ia menoleh dengan cepat ke arah suara itu berasal. Hanif, mantan kekasihnya, sudah duduk di sampingnya. “Permainannya keren, ya. Seperti Liem Swie King” puji Hanif sembari mengamati laki-laki yang baru saja dipanggil dengan nama Zai. Laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian Safya.

“Siapa, Nif?” tanya Safya agar Hanif kembali mengulang nama itu. Bukan ia tidak mendengar, tapi ia ingin mendengar sekali lagi nama itu. Rasanya sangat lembut menyapa telinganya.

 “Zai,” ulang Hanif dan ia memandang safya yang memilih untuk terus memandang Zai. Laki-laki tampan itu sedang melakukan backhand overhand  saat titik fokus mata Safya sempurna terarah kepadanya. Keren sekali! Dalam hati Safya berdecak kagum melihat kelincahannya di lapangan bulu tangkis siang ini.

“Kamu menyukainya?” tanya Hanif.

Safya hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Hanif. Sekiranya Hanif tahu kalau semenjak ia memutuskannya dengan alasan yang tidak jelas, ia tidak pernah cukup berani lagi untuk mencintai. Luka yang pernah Hanif guratkan belum kering dan masih menganga lebar.

“Kalau kamu menyukainya, dia gak punya cewek kok, Ya,” kata Hanif memberitahu walau sebenarnya ia tidak cukup rela mengatakan itu. Sungguh ia juga tidak pernah ingin berpisah dengan Safya. Ia terlampau menyayangi Safya dan rasa sayangnya itu memaksa ia untuk memutuskan gadis itu walau rasanya seperti dihujam lemparan panah-panah tajam yang dengan tepat menancap di hatinya.

“Aku tidak benar-benar menyukainya. Hatiku sudah cukup untuk mencintaimu dan sudah cukup untuk mendapat luka darimu saja. Tidak perlu ada luka yang diguratkan lagi selain olehmu.”

“Safya...”

“Sudahlah, aku mau pulang nih!” Dalam satu gerakan langsung saja Safya berdiri dari duduknya.

“Aku antar, Ya,” tawar Hanif ikut berdiri. Gemuruh tepuk tangan di lapangan bulu tangkis terdengar, petanda permainan sudah selesai.

“Gak  perlu.” Gadis itu berlalu meninggalkan Hanif yang hanya bisa menatapi punggungnya dengan nanar. Rasanya ia telah menjadi orang paling berdosa terhadap gadis itu. Ia mendesah pendek dan mengalihkan tatapannya ke arah para pemain bulu tangkis yang baru saja keluar area lapangan. Zai keluar paling belakangan.

“Zai!” Repleks Hanif memanggil nama itu. Ia berlari mendekati Zai.

“Eh, Nif. Belum pulang nih?” tanya Zai sibuk mengayun-ngayunkan raketnya. Mereka berjalan beriringan meninggalkan area sekolah.

Hanif mengangguk kecil sembari mengamati pemuda tampan di sampingnya. Zai, murid baru di sekolah dan ia baru mengenalnya kemarin. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Zai di rumah sakit kemarin siang. Pertemuannya di lokasi itu membuat ribuan pertanyaan mengerubuni benaknya tiada henti. Ia mulai curiga Zai punya masalah dengan kesehatan.

“Sadar gak ada cewek yang merhatiin kamu terus akhir-akhir ini?” Segera saja Hanif mengalihkan perhatiannya ke depan. Tidak enak terus-terusan mengamati Zai seperti itu.

Zai berhenti mengayunkan raketnya dan menarik nafas dalam-dalam. “Gadis itu siapanya kamu?” Bukan menjawab pertanyaan Hanif, Zai justru memberikan pertanyaan baru. Dan pertanyaan itu tentu sudah menjawab pertanyaan Hanif. Zai sudah menyadari kalau dia diperhatikan diam-diam akhir-akhir ini.

“Teman,” jawab Hanif.

“Teman kok deketnya kayak pacar ya?” Zai tertawa pelan. Ia mengusap-ngusap stringed area raketnya. Jari-jemarinya yang lancip menyusuri senar raket itu dengan perlahan. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Lebih tepatnya, dia mantan pacarku,” kata Hanif. “Dan sepertinya dia menyukaimu.”

“Kamu juga masih menyukainya kan?” tebak Zai spontan membuat Hanif gelagapan. Sikap Zai sungguh tenang. Apa yang dikatakannya selalu tepat mengenai sasaran. Hanif curiga kalau laki-laki pecinta bulu tangkis ini bisa membedah isi hatinya, menerawang isi kepalanya, dan membaca setiap bahasa tubuhnya.

“Aku yang memutuskannya, mana mungkin aku masih menyukainya,” elak Hanif. Ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Angin berhembus dengan cukup kuat dan ia merasa begitu dingin.

Zai tersenyum tipis mendengar apa yang baru saja Hanif katakan. “Apa kamu memutuskannya karena kamu sakit?” tebak Zai lagi. Nada pertanyaan tenang, mengalun. Sorot mata teduhnya menatap Hanif serius.

“Aku tidak sakit.” Dan Hanif sama sekali tidak ingin balas menatap mata Zai. Bola mata cokelat itu membuat suhu tubuhnya  seperti drop minus beberapa derajat. Ia merasa terpojok. Niatnya untuk meminta pertolongan agar Zai bisa membuat Safya berpaling darinya, justru membuatnya seperti dilanda badai salju. Dingin. Membeku.

“Tidak sakit ringan maksudmu?”

“Ah, sudahlah! Mau bantu aku gak, Zai?” tanya Hanif sebelum Zai kembali memojokannya.

“Bantu apa?” Sikap tenang Zai berubah seketika. Nada suaranya terdengar begitu antusias, mau tidak mau membuat Hanif mengernyit bingung melihat perubahan sikap teman barunya itu. “Aku suka membantu orang,” jelasnya saat melihat perubahan di wajah Hanif. Hanif hanya bisa ber-oh ria dalam hati.

“Bantu aku mengobati luka yang sudah kugoreskan dalam hati gadis itu. Mau kan? Aku yakin dia menyukaimu.”

“Kamu ini aneh sekali,” cibir Zai. Bosan memainkan raketnya, ia beralih menatapi ujung-ujung sepatunya. Posisi mereka sudah berada di parkiran sekolah saat ini. Karena pembicaraan mereka belum menemui epilog, mereka memilih duduk sejenak di teras pos satpam.

“Ayolah, katanya suka membantu orang,” melas Hanif.

“Kamu yakin sekali dia menyukaiku. Entar malah aku dibilang pede stadium kacau lagi,” kata Zai terkekeh pelan. Iseng saja ia mengguratkan huruf-huruf di atas tanah basah yang ia injak. Hanif memperhatikannya aneh.

“Karena aku mengenalnya, Zai. Aku tahu gimana dia kalau lagi marah, lagi sedih, lagi jatuh cinta. Aku tahu itu.”

Zai mendesah keras-keras tapi ia masih tetap pada posisinya. Angin berhembus semakin kencang. Sepertinya malaikat yang bertugas menurunkan hujan sedang bersiap-siap. Kumulonimbus sudah melukiskan diri di atas horizon sana. Hanif menengadah dan Zai menunduk semakin dalam. Mereka terdiam cukup lama.

“Aku mau membantumu asal kamu janji mau melakukan apa yang aku pinta,” Zai berdiri dari duduknya. “Hujan,” desahnya saat ia merasa perlahan-lahan titik-titik air itu membasahi tubuhnya. “Lama tidak kurasakan sentuhan air dari langit ini.” Ia menghadapkan tangannya. Merentangkannya, mencoba menangkap percikan-percikan tipis itu. Ia tersenyum. Senyumnya lebar terlihat. Hanif hanya menatapi adegan itu dengan dahi berkerut.  Tidak mengerti.

*

“Jadi kamu tahu nomor ponselku dari siapa, Zai?” tanya Safya menggenggam erat gelas berisi capucino panas miliknya. Alunan melodi yang diciptakan pianis manis di cafe yang sedang ia, Zai dan tentunya Hanif tempati, menjadi musik pengiring yang cocok di malam penuh dengan gerimis itu. Hanya dengan menggenggam gelas itu kuat-kuat ia bisa menghilangkan rasa gugupnya. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan Zai setelah tiga hari yang lalu laki-laki itu tidak berhenti mengiriminya SMS.

Zai menatap lebih rinci gadis di hadapannya itu. Dari hematnya, Safya memang gadis cantik. Kulitnya putih bersih, matanya bulat dihiasi bulu mata lentik, alisnya tebal, hitam kelam nyaris bertemu, wajahnya lonjong dan bibir mungilnya tampak paling menarik meski sepertinya jarang mengguratkan senyuman. Hanif terlalu bodoh meninggalkan gadis secantik ini. Fikirnya  memandang Hanif yang tampak tidak bersemangat duduk di sampingnya.

Dari awal Hanif memang tidak mengerti kenapa Zai mengajaknya bertemu dengan Safya. Ia sempat menolak, tapi janjinya akan melakukan apa saja yang Zai minta, membuat ia benar-benar menyerah dan pasrah. Ia dikelabui oleh temannya itu.

“Dari siapa, Zai?” Sadar Zai tidak memberi jawaban atas pertanyaannya, Safya kembali bertanya.

Sebentar Zai menyeruput cokelat panasnya sebelum menjawab pertanyaan Safya. Ia mengulum senyum terbaikknya. “Dari Hanif,” katanya entah polos atau sengaja.

Safya melirik ke arah Hanif yang hanya bisa menelan ludahnya sendiri menyikapi sikap Zai. Ia tidak tahu berurusan dengan Zai itu perkara yang salah atau tidak. Yang pasti dari awal bertemu Zai, sikapnya itu benar-benar sulit ditebak. Zai terlalu polos, terlalu tenang, terlalu licik juga. “Jadi maksud kamu apa, Nif?” Nada suara Safya setingkat lebih tinggi.

Cepat saja Zai menarik perhatian Safya dengan menyentuh tangan gadis itu dan mendekatkan mulutnya ke telinga Safya. Membisikan sesuatu. Hanif memperhatikannya bingung. Entah apa yang Zai bisikan. Lama sekali. Safya hanya mengangguk-nganggukan kepala pertanda mengerti sambil sesekali tersenyum. Melihat begitu asyik mereka seperti itu, secara perlahan Hanif merasa ada api yang menyulut sumbu hatinya. Hawa panas itu terasa hingga wajahnya. Ia cemburu.

“Aku mengerti,” tukas Safya setelah mulut Zai menjauh dari telinganya.

Zai tersenyum dan segera berdiri dari duduknya. “Aku pulang duluan, ya?” pamitnya berlalu setelah sebelumnya mengacak-ngacak rambut Safya. Kobaran api dalam hati Hanif semakin besar. “O ya, Nif. Antar Safya pulang ya.” Dan setelah itu Zai menghilang di balik pintu cafe. Gerak-geriknya selalu terlihat aneh. Beberapa hari yang lalu ia terlihat seperti anak kecil, main hujan-hujanan. Sekarang ia bersikap seperti orang dewasa.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Hanif penasaran juga akhirnya.

Safya menggeleng pelan. “Dia hanya bisikin mantra gak jelas gitu. Seperti mantra nyalain api yang gede, bakar ini, bakar itu, dan wuuuussshh meledak seperti ada bom Hirosima dan Nagasaki,” racau Safya. Pipinya merah menahan geli dan tawa melihat ekspresi cengo Hanif.

“Ah, sudahlah. Ayo kita pulang!” ajak Hanif setelah sepersekian detik tertegun melihat sikap Safya. Sepertinya gadis itu ketularan virus aneh yang diderita Zai.

Safya menaikan salah satu alisnya. “Aku gak suka diantar-antar. Jadi gak usah dengerin Zai juga, kali! Aku bisa pulang sendiri.”

“Tapi ini udah malam,” komentar Hanif.

“Siapa bilang ini subuh, Hanif...” greget Safya. Ia menghabiskan sisa capucino-nya yang sudah agak mendingin. Diliriknya cokelat panas milik Zai yang masih terlihat penuh. Sisa-sisa asap dari gelas itu membuatnya seperti menghirup obat bius. Ia tiba-tiba saja membayangkan sosok Zai. Jujur saja ada getaran aneh dalam dadanya saat Zai mendekatkan mulutnya ke telinganya. Semacam drum yang dipukul tanpa nada dan irama yang jelas. Sama saat pertama kali ia berdekatan dengan Hanif. Tapi bahkan sampai saat ini Hanif tetap menempati pangkat paling tinggi dalam hatinya. kegalauan tiba-tiba menghantamnya dengan cukup keras.

*

Entah untuk ke berapa kalinya Hanif mendesah di beberapa menit terakhir ini. Kepalanya penat sekali. Tapi dadanya jauh lebih penat lagi. Beberapa minggu ini ia seperti menghirup jutaan gas emisi tiada henti hingga rasanya paru-parunya penuh dan sulit bernafas. Kedekatan Safya dengan Zai justru membuat hatinya nyeri. Ia tidak menduga sebelumnya kalau semuanya akan seperih ini. Ia tidak menyangka kalau membuat Safya berpaling darinya justru melepuhkan segenap jiwanya. Ia tidak tahu apa ia sungguh rela Safya dimiliki oleh orang lain, atau ia hanya pura-pura merelakan saja.

Zai menggenggam erat tangan Safya itu sudah menjadi pemandangan tiap harinya di sekolah. Zai merangkul Safya sudah bukan adegan asing lagi yang jadi tontonannya. Zai mengajak Safya dinner, jalan-jalan, nonton bioskop, dan hal romantis lainnya, bukan lagi hal baru yang dilihatnya tiap hari. Tapi tetap saja ia merasakan ngilu itu. Ia merasakan hawa panas itu. Ia merasakan sesuatu yang mereka sebut cemburu.

Getaran di meja belajarnya, seketika menghentikan lamunannya. Segera ia mengubah posisinya yang semula berbaring untuk mengambil benda mungil yang jadi pusat getaran itu. Sekilas ia menatap layar ponselnya. “Zai Calling”. Ia menghela nafas dan segela menekan tombol hijau.

“Nif, ikut jalan-jalan bareng aku sama Safya yuk!”

Sudah ia duga. Zai pasti mengajaknya. Ia sendiri bingung kenapa Zai selalu melibatkannya setiap kali mereka berkencan. Zai tidak pernah tahu seberapa nyerinya ia melihat mereka pamer kemesraan di hadapannya.

“Ngga ah, kalau butuh obat nyamuk, beli aja di warung,” ketus Hanif.

“Kamu sudah janji akan menuruti permintaanku.”

“Tapi nada suaramu bukan seperti meminta. Kamu itu mengajak.”

“Kalau begitu, ikutlah jalan-jalan dengan kami!”

“Urusan kita sudah selesai, Zai. Sepertinya Safya sudah mulai merelakanku dan aku sudah merelakannya. Aku juga sudah memenuhi semua permintaanmu. Apa lagi?”

“Belum. Semuanya belum selesai. Kamu belum memenuhi permintaan terakhirku. Datanglah dan penuhi permintaanku! Nanti aku SMS-kan alamatnya.”

“Tidak bisa, Zai. Aku....”

Tut... tut... tut...

“Dasar licik!” maki Hanif kesal. Ia melempar ponselnya ke atas tempat tidurnya, dan kemudian melemparkan dirinya juga. Ia telungkup, membenamkan wajahnya di balik bantal. Bergeming selama beberapa saat sampai ponselnya kembali bergetar. Pasti SMS dari Zai. Tapi, getaran itu terasa panjang. Segera ia menatap layar ponselnya. Ia melebarkan garis matanya, membaca siapa nama yang tertera di layar ponselnya.  Gadis itu, gadis yang selama beberapa minggu ini menghantuinya. Mesa.

*

Dengan gelisah, Safya mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di atas sebuah kotak berbungkus merah marun yang saat ini berada di pangkuannya. Ia menarik nafas-menghembuskannya, menariknya lagi dan menghembuskannya lagi. Ia merasa begitu gugup. Suasana taman kota yang jadi lokasinya saat ini terasa begitu dingin. Sesekali ia melirik ke arah Zai yang tampak kebingungan melihat tingkahnya.

“Setelah ini, jaga Hanif baik-baik ya?” kata Zai menatap Safya dalam-dalam. Ia meraih tangan Safya dan menggenggamnya erat. “Jangan gugup, Ya. Aku jadi ikutan gugup, nih.”

Safya tersenyum. Tangan Zai terasa seperti balok es yang dingin di telapak tangannya. Entah karena suasana hatinya yang memang memberikan sensasi dingin itu, atau karena ada keringat dingin yang membasahi telapak tangan laki-laki itu.

“Makasih ya, Zai.”

“Belum, Ya. Jangan terimakasih dulu.” Zai melempar pandangannya ke arah kiri. Ia tersenyum saat matanya menangkap sosok Hanif tengah berjalan menghampirinya. Safya mengikuti arah pandangan Zai. Dan guruh di dadanya semakin hebat terasa. Segera ia melepaskan genggaman tangan Zai. Beralih menatap Hanif yang sudah berdiri di hadapannya.

“Kita mau jalan-jalan ke mana, nih?” tanya Hanif memandang kedua orang di hadapannya silih berganti.

“Kita? Kalian deh, sepertinya.” Zai berdiri dari duduknya.  “Ya, aku pulang ya. Take care and good luck.” Zai menepuk-nepuk pundak Safya pelan dan kemudian berjalan menjauhi tempatnya. Hanif hanya memperhatikannya dengan bingung.

“Hanif,” panggil Safya. Hanif menoleh dengan cepat lantas ia duduk di tempat Zai tadi.

“Ini ada apa sih, Ya? Kok Zai malah pergi?” tanya Hanif tak mengerti. Sungguh-sungguh tidak mengerti.

“Sebenarnya, aku dan Zai tidak benar-benar pacaran, Nif. Dia sengaja nyusun rencana ini buat buktiin kalau sebenarnya kamu masih sayang sama aku. Dia sengaja ajak kamu jalan setiap kali kita kencan, buat manas-manasin kamu. Dia ingin nunjukin ke aku kalau kamu itu cemburu lihat aku deket-deket sama Zai. Aku udah lihat itu, Nif. Sekarang kamu tinggal jujur sama aku kalau kamu benar-benar masih sayang kan sama aku?” jelas Safya tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hanif.

Hanif diam membatu. Apa yang Safya jelaskan justru membuat hatinya semakin sakit terasa. Ia menatap lurus-lurus ke depan.

“Kamu ingin Zai mengobati sakit hatiku, dan ia berhasil mengobatinya dengan nunjukin ke aku kalau kamu tidak benar-benar rela kehilanganku. Aku bahagia, Nif.” Rasanya perasaannya jauh lebih lega setelah ia membeberkan segala unek-unek dalam hatinya. Perlahan-lahan rasa gugup itu mengendur. Entah dorongan dari mana, secara perlahan ada yang menuntun kepalanya untuk bersandar di bahu Hanif. Tenang sekali dan Hanif masih diam membisu.

“Nif,” panggil Safya sekali lagi. Ia tidak tahu kenapa Hanif diam layaknya orang tak bernyawa saat ini. Ia mulai takut apa yang jadi praduganya selama ini salah. Gemuruh di dadanya yang semula sudah tenang, kini kembali lagi.

“Safya, jujur aku memang masih menyayangimu. Tapi maaf, aku sudah ...” Hanif menggantungkan kalimatnya. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Baru saja aku menerima cintanya Mesa. Baru saja aku resmi pacaran dengannya.” Entah kenapa rasanya ia bisa merasakan sakit yang Safya rasakan. Baru saja luka yang dulu ia goreskan, terhapus, kini ia guratkan lagi. Lebih dalam malah.

Giliran Safya yang terdiam. Kepalanya masih tersandar di bahu Hanif. Matanya berkaca-kaca. Dan Hanif tiba-tiba merasa ada yang hangat menetes di punggung tangannya. Beberapa tetes lagi membasahi kaus cokelat gelap yang dikenakannya. Manik air mata itu terproduksi di mata indah Safya. Untuk kesekian kalinya ia membuat air mata itu menetes. Ia menyesal, menyesal sekali. Andai ia tidak mudah berburuk sangka, andai ia tidak mudah mengambil keputusan untuk menerima Mesa hanya karena ia sudah merasa rela kehilangan Safya. Andai....

“Hanif, untuk pertama dan terakhir kalinya, antar aku pulang sekarang!”

*

Zai menghempaskan tubuhnya di balik jok belakang mobilnya. Ia meraba bagian dadanya. Ada sakit di sana. Lama ia memejamkan mata. Merasakan setiap tetes darah yang tiba-tiba terhisap kembali oleh jantungnya dan membeku di sana. Ia merasa dunianya runtuh. Andai Safya tahu kalau aku juga mencintainya. Batinnya perih. Pak Umam—sopir pribadinya—hanya memperhatikan tingkah Zai cemas. Laki-laki paruh baya itu ingin bertanya, tapi ia tahu majikannya itu tidak suka ada yang bertanya saat sedang memejamkan mata seperti itu.

Ia manusia normal. Kedekatannya dengan Safya selama beberapa minggu ini jelas telah menuntun sebuah rasa yang sulit tuk diungkap itu singgah di hatinya. Sebenarnya bukan ia tidak berani untuk mengatakan apa yang ia rasa. Tapi ia tidak pernah ingin kegalauan menghantui gadis itu karena ungkapan hatinya. Lagi pula ia sudah tahu kalau hanya Hanif yang Safya cintai.

Perlahan ia membuka matanya. Mengalihkan tatapan matanya keluar kaca mobil yang sudah dipenuhi titik-titik air hujan. Gerimis lagi. Sekilas ia melihat pemandangan di luar mobil. Tampak Safya duduk di belakang motor Hanif. Wajah gadis itu terbenam di balik punggung tegak Hanif. Sepertinya melindungi diri dari serangan air hujan. Ia membuka kaca mobil itu. Mengulurkan tangannya keluar. Air dari langit itu terasa di telapak tangannya. Dingin hingga menyelusup sanubarinya. Segera ia menarik kembali tangannya.

“Jalan, Pak!” perintahnya yang langsung merasakan guruhan mesin mobil menyala.

Dalam benaknya, Safya sudah bahagia dengan Hanif. Sekarang ia yang harus mencari ramuan untuk mengobati luka perih dalam hatinya.

END

*


Jangan aneh kalau aku masih pakai nama yang sama di setiap judul cerpenku...
Aku juga tidak tahu kenapa betah banget pake nama itu. hehee

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea