Sabtu, 26 Januari 2013

Tentang Hati- Jilid 2 (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 04.59

Zai berjalan lebih menepi. Meninggalkan lapangan yang sedari tadi menjadi tempatnya berpijak. Diliriknya telapak tangannya yang membekaskan warna merah. Entah sudah berapa jam ia membiarkan tangannya itu menempel dengan handel raketnya. Beberapa orang yang sudah menjadi lawannya, hanya bisa menatapnya heran. Dia sudah menantang lebih dari lima orang, dan semuanya berhasil dikalahkannya. Ia mendudukan dirinya di bangku penonton. Mengatur nafasnya yang sudah hilang dan pergi seenaknya.

“Zai!”

Butuh beberapa detik untuk Zai menoleh ke arah kiri dan memastikan siapa yang baru saja menyebut namanya. Dan tanpa suara ia kembali mengalihkan tatapannya ke arah lain begitu tahu siapa orang yang saat ini berdiri di sampingnya. Ia berhenti menatapi telapak tangannya yang terasa begitu panas dan perih. Tapi percayalah, hatinya menyimpan perih yang lebih maha dari tangannya itu.

“Harusnya kamu tidak membiarkan pacarmu itu dekat-dekat dengan pacarku!” pekik Mesa—orang itu—dengan nada suara yang agak keras. Beberapa orang sampai menoleh ke arahnya.

Zai membiarkan tenggorokannya basah dengan meneguk setengah botol air mineralnya sebelum kembali melirik ke arah Mesa. “Apa maksudmu?” tanyanya tenang. Ia tidak begitu suka dengan gadis berambut lurus sepunggung, bermata sipit, berkulit putih, dan berbehel itu.

“Itu si Safya. Harusnya kamu larang dia biar gak dekat-dekat dengan Hanif!” tegas Mesa gregetan.

“Apa hakmu melarangnya?” Bosan mendengar apa yang tidak ia mengerti, ia segera membereskan perlengkapan bulu tangkisnya.

“Hanif itu pacarku. Dan si murahan itu pacarmu, kan?”

Sebentar Zai menatap bola mata Mesa sebelum kembali menekuni pekerjaannya. “Aku gak punya pacar cewek murahan atau cewek mana pun,” tegasnya masih dengan nada suara yang tenang.  Ia berjalan agak tergesa. Ia tidak begitu suka berada di posisi  panas seperti ini. Emosinya bisa tersulut begitu saja jika ia tetap menghadapi Mesa dengan pembicaraan yang sama sekali tidak dimengertinya. Apalagi suasana hatinya sedang tidak memberikan sensasi yang baik saat ini.

Mesa menghentakan kakinya kesal melihat kepergian Zai.

*

Keadaan di cafe itu terasa begitu hening meski alunan musik mendayu-dayu tiada henti saat itu. Obrolan beberapa pengunjung juga terdengar cukup ramai. Tapi tetap saja semuanya terasa sunyi, sepi. Gelas berisi cappucino panas yang sedari tadi digenggamnya juga terasa dingin, meski uap panas mengepul-ngepul hingga menyengat indera penciumannya. Gadis bermata bulat itu bahkan tidak berani mengalihkan tatapannya . Ia tetap kokoh menatapi tiap lekukan meja yang penuh dengan corak berseni, meski sebenarnya ia ingin sekali menatap pemuda di hadapannya.

Sudah setengah jam ini mereka habiskan dalam diam. Tanpa kalimat dan suara. Banyak yang ingin mereka bicarakan. Tapi sepertinya, mereka butuh racikan kata-kata yang pas untuk memulai semuanya, atau jika tidak akan ada pertengkaran di sini. Meski cukup tidak mungkin itu terjadi.

“Mungkin ini hukuman karena aku pernah bohongi Hanif. Dan ternyata dibohongi itu bukan suatu yang menyenangkan.” Masih dengan nada suara yang tenang, akhirnya Zai memulai pembicaraan juga setelah sebelumnya menghabiskan setengah gelas air putih hangat di hadapannya. Beberapa hari terakhir ini ia memang lebih sering mengkonsumsi air putih.

Safya—gadis bermata bulat itu—dengan ragu mengangkat kepalanya untuk menatap Zai. Sengatan di mata Zai yang tampak sayu itu merambat hingga hatinya, dan itu sangat ngilu terasa. “Maafkan aku, Zai,” lirih Safya. Ia mencengkram gelasnya semakin erat. Hawa panas itu baru terasa ditelapak tangannya. “Aku tidak ingin kamu kecewa. Bagaimanapun juga kamu sudah membantuku untuk kembali kepada Hanif.”

“Tapi aku lebih kecewa dengan kepura-puraan ini, Ya. Bukan masalah bohongnya kamu sama aku, karena untuk hal berbohong aku sering melakukannya juga. Tapi masalahnya, kebohongan kamu itu membuat coretan negatif buat kamu, dan aku tidak suka,” jelas Zai mengingat apa yang kemarin Mesa katakan tentang Safya padanya.

Sayfa memang bilang kalau ia kembali berhubungan dengan Hanif. Ia bilang kepada Zai kalau Hanif juga mencintainya, kalau ia bahagia bisa jalan lagi dengan laki-laki yang selalu dicintainya. Zai percaya itu karena selama di sekolah, ia melihat kemesraan Hanif dengan Safya. Tanpa ia tahu kalau ternyata semua itu hanya pura-pura saja. Safya sengaja mohon-mohon kepada Hanif agar mereka melakukan adegan layaknya orang pacaran di hadapannya. Meski setelah itu Safya mendapat kecaman kasar dari Mesa.

“Jangan lakukan itu lagi, Ya. Aku gak suka si Mesa itu bilang yang nggak-nggak tentang kamu. Lagian, aku juga udah tahu kan?”

“Tapi Hanif  tidak pernah mencintai Mesa, Zai! Dia hanya mencintaiku. Aku ingin selalu dekat dengannya. Okey, semua kemesraan yang aku lakukan di hadapan kamu itu memang pura-pura. Tapi hati kami gak pernah pura-pura, Zai,” kata Safya nada suaranya tegas tapi pilu. Ia melepaskan genggamannya dari gelas yang perlahan kehilangan kehangatannya itu. Lantas meraih tangan Zai yang selalu terasa dingin. “Bantu aku, Zai! Bantu Hanif juga!”

Sekilas Zai memandang tangan Mesa yang begitu hangat menempel di punggung tangannya. Kehangatan itu sampai hingga hatinya yang selama beberapa ini terasa seperti membeku di hantam badai salju. Kerak-kerak es yang memeluk kuat jantungnya pecah seketika begitu pemompa darahnya itu menggedor keras. Jantungnya berdetak tak karuan mendapat sentuhan lembut itu.

“Zai, aku mohon! Sepertinya Hanif gak nyaman dicintai Mesa.”

“Hanif gak akan menerima Mesa kalau dia gak mencintainya. Jangan bersikap bodoh, Safya! Cinta tidak bisa dipaksakan. Kamu jangan bersikap egois dengan bilang kalau hanya kamu yang Hanif cintai. Itu hanya buat kamu sakit, Ya. Aku gak suka kamu sakit, aku gak punya obat lagi buat sembuhin sakit itu.” Karena sungguh Zai juga memerlukan obat untuk mengobati sakitnya yang semakin parah lantaran melihat gadis yang dicintainya seperti ini.

“Tapi ini sungguhan, Zai. Aku gak egois. Faktanya memang Hanif mencintaiku, dia menyayangiku.” Safya mengeratkan genggamannya. “Bantu aku, Zai.”

Zai memang tidak pernah kuasa mendengar kata mohon bantuan itu. Ia tertegun cukup lama dan Safya menatapnya penuh harap. Perlahan ia menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman. “Mungkin itu bisa mengobati semuanya,” ujarnya berdiri dari duduknya. Kali ini ia yang menggenggam tangan Safya. Rasanya, mengucapkan itu membuat hatinya limbung, nyeri luar biasa. Tapi ia tidak pernah ingin  menolak untuk membantu orang lain. Terlebih membantu orang yang begitu dicintainya. “Untuk malam ini saja, aku antar kamu pulang.”

Safya mengangguk dan ikut beranjak dari duduknya. “Makasih, Zai. Kamu memang baik.” Ia melukiskan senyuman terbaiknya.

Zai hanya tersenyum. Paling tidak melihat senyuman Safya sedikit membuat perasaannya lebih baik.

*

“Kamu sakit, Zai?”

Hanif bertanya siang itu. Ia mengamati wajah Zai yang tampak sangat pucat. Beberapa siswa yang hendak pulang, melewati mereka yang saat ini duduk di undakan tangga sekolah dengan acuh. Tak ada yang peduli pembicaraan tentang apa yang sedang mereka tekuni.

“Beberapa minggu terakhir ini ada organ tubuhku yang terasa nyeri,” jawab Zai sambil memutar-mutar shuttlecock bekas yang tadi dibawanya dari gor.

“Udah periksa ke dokter?” tanya Hanif lagi.

“Tiap minggu. Tapi dokter tidak tahu luka yang ini. Lukanya kasat mata.”

Zai selalu penuh misteri. Tidak bisa diduga-duga. Ia tidak tahu apa yang sedang Zai bicarakan. Yang ia yakini, dugaannya kalau Zai punya masalah dengan kesehatannya itu benar. Hening untuk beberapa saat.

“Kalau kamu tidak mencintai Mesa, putuskan dia, Nif!” Hanif menoleh dengan cepat. “Itu hanya akan menyakiti banyak pihak. Kamu sendiri, Mesa, dan Safya.” Sementara namanya sendiri tidak disebutkan sama sekali. Padahal ialah yang paling terluka untuk ini.

“Mesa terlalu nekat, Zai. Aku tidak bisa menjamin kalau Safya akan baik-baik saja setelah aku memutuskannya,” kata Hanif. Safya sudah bilang padanya kalau ia sudah memberitahu Zai perihal kebohongan mereka.

“Tapi kamu hubungan atau tidak pun Safya tetap tidak baik-baik saja, Nif.”

Hanif diam tak merespon. Ia memaksa kepalanya yang terasa penuh itu untuk berfikir lebih keras. Bagaimana pun juga Mesa bisa melakukan apa pun yang mau dilakukannya. Termasuk mencelakai Safya. Kali ini penyesalannya karena sudah menerima cinta Mesa tumbuh lebih banyak lagi. Dalam hati ia memaki dirinya sendiri.

“Kita selesaikan ini bersama-sama. Aku akan membantumu.” Zai menepuk pundak Hanif pelan. Setelah itu ia beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Hanif. “Aku pulang duluan, ya? Pastikan setelah kamu memutuskan Mesa, kamu lebih sering mengantar Safya pulang,” pesannya sebelum benar-benar menghilang di belokan tangga paling bawah.

Hanif diam untuk beberapa saat. Diliriknya shuttlecock yang Zai tinggalkan. Sejurus kemudian ia berdiri dan melongokan kepala ke bawah. “Zai!” panggilnya. Zai belum benar-benar keluar dari gerbang koridor. Ia masih berdiri sembari bersandar di dinding kelas. Begitu mendengar namanya dipanggil, langsung saja ia menegakan tubuhya dan menoleh ke arah Hanif yang masih berdiri di tempatnya. “Atas alasan apa kamu melakukan ini, Zai?”

“Aku pernah bilang, kalau aku suka membantu orang,” jawabnya sembari tersenyum simpul. Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya.

Hanif belum mau melepaskan tatapannya sebelum Zai benar-benar menghilang dari titik fokus matanya. Ada yang aneh dari gerak-gerik Zai. Tapi memang laki-laki itu selalu bersikap aneh.


*

Dengan tangan gemetar, Zai membuka pintu mobilnya. Berjalan menghampiri Hanif yang masih berdiri mematung di halte bis. Hujan cukup lebat dan entah sudah berapa jam Hanif terjebak di tempat itu. Zai yang kebetulan lewat dan menangkap sosok itu, bergegas turun meski sebenarnya ia ingin segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah.

“Nunggu siapa, Nif?” tanya Zai begitu sempurna tubuhnya berdiri di hadapan Hanif.

“Nunggu hujan berhenti,” jawab Hanif sembari mendudukan diri di bangku besi halte itu. Memandang hamparan langit yang sudah kehilangan cahaya terangnya. Malam memulai tugasnya. Dan dalam gelap itu ada ketakutan dan kecemasan yang tiba-tiba saja menohok perasaannya.

Zai melakukan hal yang sama. Ia menghempaskan tubuhnya di samping Hanif. Ikut menengadahkan wajahnya, menatap langit. Rasa sakit dan dingin di tubuhnya ia hiraukan.

“Aku udah putusin Mesa, Zai. Dia gak terima keputusanku, apalagi yang jadi alasan itu semua Safya.”

“Itu karena Mesa sangat mencintaimu. Harusnya kamu lebih bersyukur karena disayangi banyak gadis. Seperti Mesa, dan juga Safya,” respon Zai tanpa mengubah posisinya. Hanif diam dan tidak merespon lagi. “Hujannya gak akan reda kayaknya. Pulang bareng aku aja, Nif,” ajaknya berlanjut kali ini sambil memutar bola matanya ke arah mobilnya yang terparkir tidak begitu jauh dari tempatnya. Hanif ikut melirik swift biru itu.

*

Baru saja lagu Where Are You Now berakhir saat Safya mendengar suara ketukan pintu. Posisinya yang saat itu tengah berada di ruang depan, memudahkannya mendengar suara ketukan itu.  Jika Ayah dan ibunya pulang larut, Safya memang memilih untuk  berdiam diri di ruang depan menunggu mereka pulang. Ketukan pintu itu terdengar lebih keras, cepat-cepat ia mematikan Music Player ponselnya dan bergegas berjalan menuju pintu.

Perlahan ia membuka pintu itu dengan perasaan was-was. Nada ketukan itu tidak mirip orang bertamu. Tapi lebih mirip dengan gedoran keras. Ia menahan nafas selama beberapa saat ketika pintu bercat cokelat gelap itu sempurna terbuka. Mata bulatnya menyipit, menatap aneh sosok yang saat ini berdiri di ambang pintu rumahnya.

“Dasar cewek murahan!”

Bau alkohol langsung saja menyengat hidungnya saat gadis yang saat ini berdiri di ambang pintu rumahnya itu memekik dengan keras. Ia didorong dengan kasar hingga terhuyung. Pinggangnya membentur meja telepon dengan cukup keras. Ia meringis. Menahan sakit.

“Apa yang kamu lakukan, Sa? Ada apa ini?” tanya Safya tidak mengerti.

Mesa maju mendekati Safya. Dicengkramnya kuat-kuat bahu gadis itu. Matanya menusuk mata Safya yang sudah tampak berair. “Hanif putusin gue, dan itu semua gara-gara lo! Lo gak tahu, Ya, seberapa besar cinta gue sama dia. Lo gak tahu seberapa berat perjuangan gue buat dapetin dia. Dan lo, dengan mudah hancurin semuanya. Tega lo, Ya!” racau Mesa sembari mengguncang-guncangkan tubuh Safya.

“Bukan aku, Sa, tapi Hanif sendiri. Dia mutusin kamu karena dia gak cinta sama kamu,” jelas Safya mencoba melepaskan diri dari cengkraman Mesa.

“Semuanya gara-gara lo, Ya! Hanif gak cinta sama gue karena lo yang murahan itu sok keganjenan deketin dia!” Mesa yang setengah kesadarannya dikuasai minuman keras, dengan tanpa perasaan, melayangkan kemarahannya itu pada tubuh mungil Safya. Ia mendorong Safya, mencakar, menjambak, menampar, memukul. Beberapa figura, hiasan kaca dan beling pecah karena jatuh dihantam tubuh Safya yang dengan seenaknya dibanting ke sana-sini oleh Mesa.

Safya mencoba menghindar sekuat ia mampu saat Mesa meraih pecahan beling dan menodongkan benda tajam itu ke arahnya. Ia berlari menuju lantai atas, Mesa mengejar dengan agak limbung. Safya masuk ke dalam kamarnya. Mengunci diri di dalamnya. Dadanya bergemuruh memanjatkan banyak do’a. Ia menggigit bibir ketakutan sembari memeluk lututnya erat. Tak ada yang bisa dimintai pertolongan. Ia menangis menahan takut dan sakit yang baru saja tercipta di beberapa titik tubuhnya.

“Heh, bodoh! Jangan sembunyi, lo!”

Gedoran keras itu terdengar di balik pintu kamarnya. Ia menangis semakin deras sederas air hujan yang masih enggan menghentikan aksinya. Ia takut kalau Mesa berhasil masuk ke dalam kamarnya. Ia meraba saku bajunya, mencari sesuatu. Ponselnya ia tinggalkan di ruang depan dan ia tidak tahu harus dengan cara apa ia meminta pertolongan. Lagi-lagi ia hanya bisa menangis.

“Safya! Keluar lo! Serahin nyawa lo sama gue!”

Safya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya. Ia harus mencari pertolongan.  Ada laptop di meja belajarnya. Segera ia meraih laptop itu, menyalakannya, memasang modem, headphone dan mulai menghubungi seseorang. Dalam kekalutan ia mencoba mengingat nomor Ayah atau ibunya. Nihil, ia tidak tahu nomor mereka. Hanya nomor ponsel Hanif yang dihafalnya luar kepala.

“Ada apa, Ya?” suara di balik headphone-nya.

“Hanif... Hanif, tolong aku, Nif! Tolong aku, Hanif!” Safya terisak.

“Kamu kenapa?” Suara Hanif terdengar begitu panik di telinganya.

“Me-Mesa. Mesa di... di...” ia tidak bisa meneruskan kalimatnya. Isak tangis menyumbat tenggorokannya.

“Kamu di mana sekarang?”

“Di kamarku...”

Well, tetap di kamarmu! Aku akan segera datang.”

*

Zai menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Safya. Hanif langsung saja membuka pintu mobil itu. Berlari ke dalam rumah yang pintunya masih terbuka. Zai mengikutinya dari belakang. Ia masih bersikap tenang meski perasaannya juga cemas. Tak kalah cemas dari Hanif. Dengan satu gerakan, langsung saja Hanif memegang pergelangan tangan Mesa yang yang masih enggan melepaskan pecahan beling itu. Mesa masih berdiri di depan pintu sembari menggedor-gedor pintu itu saat Hanif dan juga Zai menemukannya.

“Mesa hentikan! Ini bahaya, Sa!” pinta Hanif. Mesa tetap kokoh memegang benda tajam itu.  Saking kuatnya ia memegang beling itu, tangannya terluka dan berdarah. “Lepaskan itu, Sa! Itu nyakitin kamu.” Perintah Hanif lagi. Ia ikut meringis melihat telapak tangan Mesa berdarah.

“Gue gak peduli!  Lo jahat, Nif! Lo jahat sama gue ...” seru Mesa lirih.

Dengan ragu, Zai memukul punggung Mesa dengan cukup kuat hingga Mesa kehilangan kesadarannya. Beling di tangannya terlepas, bercak merah mengotori lantai putih itu. Zai menahan tubuhnya. Dan Hanif langsung menggedor pintu kamar Safya.

“Hanif...”

Langsung saja Hanif merasa tubuhnya hangat saat pintu itu terbuka lebar. Safya memeluknya dengan begitu kuat.  Air mata gadis itu membasahi kemeja lengan pendeknya. Hanif membalas pelukan itu lebih erat. Memberi ketenangan untuk jiwa yang tengah dilanda guncangan berat itu. “Jangan takut lagi, Ya! Aku di sini sekarang.”

Zai tersenyum melihat adegan di hadapannya. Perlahan ia beringsut menjauhi kedua orang itu. Memangku tubuh Mesa yang cukup berat. Tapi semuanya terasa ringan. Ringan sekali. Seringan hatinya yang baru saja terbebas dari tahanan penuh kecemasan. Meski tak ada yang bisa memungkiri lagi kalau ada sesuatu yang hancur berkeping-keping dalam tubuhnya. Ia pergi dari rumah Safya, memacu mobilnya segera setelah memastikan Mesa aman di sampingnya. Sebelumnya ia membalut luka di tangan Mesa dengan kain apa saja yang bisa digunakanya. Meski ia tidak menyukai Mesa, tidak berarti ia tega melihat seorang gadis terluka.

*

Pelan-pelan hanif mengompres beberapa luka memar di sekitar wajah dan tubuh Safya. Safya hanya meringis pelan setiap kali Hanif menekan beberapa titik luka itu. Ia mengamati Hanif baik-baik, lantas mengamati keadaan rumahnya yang masih berantakan. Perasaannya begitu tenang berada di sisi Hanif. Seperti yang dirasakannya selama ini.

“Tadi aku melihat Zai. Sekarang dia mana?” tanya Safya baru sadar kalau orang yang juga ikut serta menolongnya tidak ada di sampingnya saat ini. Hanif ikut mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

“Iya. Zai mana ya?”

Zai mengehentikan mobilnya saat dirasakannya denyutan keras di kepalanya. Sejak tadi sakit itu memang menyiksanya, tapi ia masih bisa menahannya. Dan tidak untuk saat ini. Ia menarik nafas dalam-dalam. Memejamkan matanya untuk beberapa saat, berharap saat ia membuka mata kembali sakit itu hilang. Tapi tidak sama sekali. Justru semakin menjadi, menusuk beberapa syaraf tubuhnya. Semula hanya telinganya yang terasa berdenging-denging. Dan perlahan sakit itu merayap menyusuri tulang-tulangnya. Dadanya sesak.

“Zai...”

Zai belum mau membuka matanya. Ia tahu itu suara Mesa.

“Zai, kamu kenapa?”

Hanif membereskan kotak P3K yang baru saja digunakannya. Setelah itu ia membantu Safya kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Entah kenapa perasaannya tidak enak pasca kejadian ini.  Ada perang besar-besaran dalam hatinya. Dan perang itu nyaris meluluhlantahkan semua yang telah diyakininya.

“Hubungi Zai, Nif,” ujar Safya seraya membaringkan tubuhnya di tempat tidur.  Hanif yang duduk di tepi tempat tidur Safya, hanya mengangguk pertanda mengiyakan perintah Safya.  Ia merogoh saku bajunya lantas meraih ponselnya. Sebelum ia benar-benar menghubungi Zai, ia sudah mendapatkan pesan lebih dulu dari laki-laki itu.

Aku pulang duluan. Jaga Safya sampai Ayah dan ibunya pulang.

Segera Hanif menunjukan pesan itu pada Safya. Safya hanya tersenyum. Sesungguhnya ia perlu mengucapkan banyak terima kasih pada pemuda itu. Perlahan ia meraih tangan Hanif, menggenggamnya kuat seolah tidak akan pernah mengizinkan Hanif beranjak dari sisinya. Hanif menorehkan senyumannya saat ia merasakan sentuhan lembut itu. Perasaannya tenang mendapat sentuhan itu.

“Tetap di sini dan usah pergi...” Safya membiarkan kelopak matanya menutup. Tapi genggaman tangannya masih terasa erat oleh Hanif.

Hanif membalikan badannya dan membelakangi Safya. Ia mengubah posisinya. Duduk di bawah tempat tidur Safya. Tangannya yang terbebas dari cengkraman Safya dibiarkannya meraba bagian dadanya yang terasa begitu sumpek. Ada beban paling berat yang ia tanggung saat ini. Di sana, dalam dadanya.

“Zai ....” Dengan ragu, gadis itu mengangkat tangannya yang terasa begitu ngilu untuk menyentuh pemuda yang saat ini duduk di sampingnya. Kepalanya masih terasa begitu pusing, bagian pundak dan punggungnya terasa begitu sakit.

“Aku gak apa-apa.”

Hanya tinggal beberapa centi lagi tangan yang dibalut kain putih itu menepi di pundaknya saat ia membuka matanya. “Aku baik-baik saja, Mesa. Bagus kalau kamu sudah sadar. Kamu harus segera pulang untuk mengobati luka di tanganmu itu.”

Mesa langsung menarik tangannya kembali. Ada rintihan kecil saat ia melakukannya. Dengan lekat ia mengamati wajah pucat Zai yang tampak memproduksi keringat lebih banyak. Mata pemuda itu tampak berkaca-kaca, menahan tangis dan menahan sakit. “Kamu tidak baik-baik saja, Zai,” ujarnya menepis tangan Zai yang hendak menyalakan kembali mesin mobilnya. Bahaya jika Zai mengendarai mobil dalam keadaan seperti ini.

“Aku akan lebih tidak baik-baik saja kalau tetap di sini dan tidak segera pulang.” Tapi siapa yang harus menyetir. Kondisi keduanya tidak mungkin melakukan itu.

“Argh!” Hanif mengerang kecil. Tangannya yang semula hanya menempel biasa di dadanya, berubah menjadi remasan kuat. Ada nyeri yang tiba-tiba menohok jantungnya dari dalam. Ia terengah. Tanpa disadari, tangan kirinya yang masih dipegang oleh Safya, meremas tangan Safya hingga gadis itu membuka matanya kembali.

“Hanif...” Buru-buru Safya mengangkat tubuhnya yang masih terasa nyeri untuk duduk. Hanif menarik nafas dalam-dalam meski melakukan itu membuatnya lebih sakit. Ia berbalik menatap Safya dan sejurus kemudian memeluk Safya dengan erat. Menyembunyikan sakitnya. Safya hanya mengernyit bingung mendapat pelukan seerat itu dari Hanif.

“Maafkan aku, Safya! Maafkan aku karena aku tidak bisa bersama-sama denganmu. Aku tidak bisa memulai kembali apa yang sudah kuakhiri. Maafkan aku ....”

Zai memaksa kakinya yang sudah kehilangan tenaganya untuk mengijak pedal gas. Tapi tak lama setelah itu ia kembali mengijak rem dan menghentikan mobilnya. Sakit di beberapa titik tubuhnya sedang tidak bisa diajak kompromi. Ia menyerah dan tetap membiarkan mobilnya diam saja. Mesa hanya bisa menatap pemuda itu dengan begitu cemas, meski keadaannya juga mencemaskan. Darah di tangannya sudah menembus kain putih itu.

“Luka di tangan ini tidak seperih luka dalam hatiku,” lirih Mesa saat Zai dengan sisa tenaga yang ada, meraih tangan itu dan mengamatinya baik-baik. Entah untuk alasan apa, Zai langsung menuntun Mesa untuk bersandar dalam rengkuhannya. Mesa yang pada dasarnya memerlukan sandaran, menurut saja. Ia merasa begitu tenang.

“Maafkan aku! Aku yang menyuruh Hanif memutuskanmu. Tapi percayalah, apa pun yang menjadi alasan Hanif memutuskanmu, itu karena Hanif tidak pernah ingin kamu terluka lebih dalam. Aku mohon jangan pernah lakuin hal seperti ini lagi. Kalau kamu marah, marahlah padaku yang jelas-jelas sudah merusak hubunganmu dengan Hanif.” Suara Zai melemah terdengar di telinga Mesa. Bau alkohol yang masih terasa menyengat, tidak membuat Zai melepaskan rengkuhannya. Justru ia semakin menguatkannya. Sakit di tubuhnya memaksa ia melakukan itu.

“Maafkan aku, Safya. Aku hanya bisa mencintaimu saja, dan tidak bisa melakukan yang lebih dari itu. Aku tidak ingin memilikimu, dan kamu tidak bisa memilikiku.”

Safya kembali menangis. Hanif menambah luka dalam dirinya. Hanif kembali merobek hatinya yang baru saja hendak pulih. Ia tidak pernah tahu kenapa Hanif setega itu mempermainkan perasaannya. Luka memar di sekujur tubuhnya, berpindah ke dalam hatinya kali ini. Ia terisak, menangis lirih, dan entah karena kondisi fisik dan jiwanya mulai melemah, ia merasa tubuh Hanif berat. Sangat berat!

“Hanif...” panggil Safya parau.

Hanif tidak merespon. Yang Safya tahu, genggaman tangan Hanif melonggar, kepalanya  lunglai di bahunya. Dan ia mengeratkan pelukannya dua kali lipat lebih erat lagi. Tangisnya pecah lebih hebat hingga air matanya merembes ke sana-sini.

“Kamu mau bales kesalahan aku dengan cara apa aja, aku ikhlas. Tapi, bisakah kamu buat aku mati saat ini juga?” Yang Mesa tahu, Zai sedang meracau. Ia menengadah untuk menatap Zai. Dengan jelas ia melihat kelopak mata Zai berkedip satu-satu. Semakin lama, semakin sayu dan akhirnya menutup rapat. Rengkuhan Zai tidak sekuat tadi. Justru ia yang beralih mendekap tubuh itu dengan kuat. Dan ia tidak tahu, atas dasar apa air matanya mengalir. Entah untuk hatinya yang terluka, untuk telapak tangannya yang terasa semaikin ngilu, atau untuk Hanif yang tiba-tiba berkelebatan dalam ingatannya, atau juga untuk laki-laki yang saat ini begitu erat dipeluknya. Dan hanya ia yang tahu untuk apa air mata itu keluar.

Hujan mereda, tapi tangis kedua gadis yang sama-sama menyimpan luka itu tidak mau mereda, apalagi berhenti.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea