Sabtu, 05 Januari 2013

Usah Cemas (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.13

Seperti kebanyakan anak-anak sekolah lainnya. Akhir liburan sekolah adalah hal yang paling membosankan. Rasanya tidak rela melepas hari libur yang terasa singkat itu. Tapi sekiranya anak-anak lain yang menggunakan seragam merah putih, putih biru dan putih abu-abu itu masih beruntung dari pada aku. Mereka masih bisa menggunakan sisa waktu mereka dengan bermain dan berkumpul bersama keluarga. Sementara aku, setelah ini, harus kembali terperangkap di balik gerbang penjara suci, pesantren  dan menunggu tahun depan untuk kembali ke tengah-tengah keluargaku.

Kadang aku selalu berfikir kenapa aku dimasukan ke pesantren di usiaku yang katakan saja masih anak-anak, dua belas tahun. Teman-temanku melanjutkan SMP mereka ke sekolah umum biasanya.  Memang di pesantrenku pun ada SMPI dan aku belajar di sana. Hanya saja rasanya berbeda. Aku tidak bisa seperti yang lainnya. Bermain dan berkumpul bersama keluarga setelah pulang dari sekolah. Di sana, boro-boro untuk bermain, yang ada hanya bejibun hafalan yang menuggu tuk di salin ke dalam memori otak dan disetorkan kepada Ustadz. Aku lelah sekali rasanya.

“Belajar di waktu kecil itu bagaikan mengukir di atas batu.”

Begitulah kata Ibu saat aku terang-terangan berprotes soal kenapa aku tidak masuk pesantren setelah lulus  SMP atau SMA saja, seperti kebanyakan orang.
               
Aku faham dengan maksud Ibu. Ia ingin aku lebih memahami ilmu agama. Katanya, jika aku belajar ilmu akhirat dengan sungguh-sungguh, maka ilmu dunia akan tergenggam dan terkuasai, tapi tidak sebaliknya. Karena ilmu agama telah mencangkup segala kehidupan baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Dan Ibu ingin ilmu agamaku itu seperti ukiran di atas batu. Takkan hilang hingga aku beranjak dewasa kelak.

“Boleh ya, Bu? Besok aja lagi aku ke ponpesnya. Aku masih betah di rumah.” Aku memelas pada Ibu sore itu. Entah kenapa rasanya hari ini aku belum mau kembali ke pesantren. Aku masih ingin tinggal minimalnya sampai esok.
Ibu masih sibuk mempersiapkan bekal untuk aku bawa ke pesantren. Aku kembali menatap Ibu yang sedang hamil delapan bulan itu. Ia selalu semangat setiap kali aku akan kembali ke pesantren pasca libur panjang,  seolah kehadiranku tidak pernah diharapkan di sisinya. Kadang aku selalu sedih mengingat hal itu.

La tuakhkhir ‘amlaka ilal ghodi ma taqdiru an ta’malahul yaum.” Ibu sibuk memasukan barang-barang yang sudah dipersiapkan ke dalam mobil dengan dibantu oleh kedua adik perempuanku.
               
Aku menghela nafas kesal. Salah satu keunikan ibuku adalah menegur dan menasihati anak-anaknya dengan pepatah-pepatah arab. Dan itu selalu membuatku tidak berkutik. Seperti yang dikatakannya barusan: La tuakhkhir ‘amlaka ilal ghodi ma taqdiru an ta’malahul yaum. Janganlah mengakhirkan pekerjaanmu hingga esok hari, jika kamu dapat mengerjakannya hari ini.

“Sudah siap?” Ayah dengan semangat masuk ke dalam mobil. Begitu pun dengan Ibu dan kedua adikku. Tidak biasanya Ibu ikut mengantarku kembali ke pesantren.

Sebenarnya letak pesantrenku tidak begitu jauh dari rumahku. Masih di sekitar Bandung dan hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam saja untuk sampai ke pesantren. Dan selama di perjalanan, aku membisu, tak ingin berbicara. Candaan Ayah pun aku respon dengan diam.

“Kenapa kamu, Nan? Mual?” tanya Ibu sedikit meledek. Kedua adikku hanya tertawa mendengarnya. Aku yang tidak biasa berpergian memang tak jarang mabuk kendaraan meski jarak yang ditempuh tidak begitu jauh. Dan Ibu selalu meledekku seperti itu.

Dawuul ghodobi bishshumti kan, Bu?” sindirku meniru kata-kata yang selalu Ibu lontarkan setiap aku marah pada kedua adikku. Artinya, obatilah kemarahan itu dengan diam.

“Oh, jadi anak Ibu yang paling tampan ini sedang marah, ya?” Ibu membalikan badan dan menatapku.
Aku menatap keluar jendela. Nada suara Ibu yang mirip dengan godaan membuatku benar-benar kesal. Dan semakin aku kesal, semakin rapat juga aku mengunci mulutku. Begitulah Ayah dan Ibu mengajarkanku. Lebih baik diam daripada mengumbar kemarahan. Karena seperti yang Ibu bilang juga: awwalul ghodobi junuunun wa akhiruhu nadamun.  Permulaan marah itu adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan. Dan aku tak ingin gara-gara aku menunjukan bentuk protesku terhadap Ibu dengan marah-marah, terjadi cekcok antara aku dan Ibu serta Ayah yang pasti akan terlibat juga.
Ibu menghela nafas panjang dan membalikan badan. Keadaan hening untuk sesaat sampai akhirnya Ibu kembali bersuara.

“Afnan, satu hal  yang selalu dicemaskan oleh orangtua adalah anaknya. Begitu pun dengan Ibu dan Ayah. Setiap saat, Ibu dan Ayah hanya mencemaskan kalian, terutama kamu, Nan. Ibu sama Ayah masukin kamu ke pesantren, bukan berarti kami tidak mengharapkan kehadiran kamu di sisi kami. Justru kami selalu merindukanmu. Kami selalu cemas, takut kalau Afnan sakit di pesantren. Tapi kami lebih cemas jika kelak Afnan menjadi orang awam yang jauh dari Allah dan RasulNya.”

Ibu jeda sejenak. Ayah mengangguk-nganggukan kepala mengamini penjelasan Ibu sambil tetap fokus pada kemudinya. Nisa dan Shofi—Adik perempuanku—menyimak dengan serius. Dan aku tetap pada pengamatanku di luar mobil. Banyak anak-anak seumuranku nongkrong di trotoar jalan, bergaya ala anak punk dan mengamen atau memalak supir-supir angkot. Hari sudah larut dan mereka masih berdiam diri di sana. Apa orangtua mereka tidak mencemaskan anak-anak itu? Hatiku miris tiba-tiba.

“Ibu hanya ingin Afnan jadi seorang ulama.Ulama besar, Nan. Bukan ulama yang bisa mengubah dunia menjadi lebih baik. Tapi ulama untuk diri Afnan sendiri, itu pun sesuatu yang amat sangat cukup untuk Ayah dan Ibu. Kami tidak mengharapkan apa-apa dari Afnan, selain kelak bisa menjadi permata paling indah yang menerangi sudut-sudut pusara Ayah dan Ibu.”

Hatiku mencelos. Kutub es seperti baru saja berpindah posisi ke dalam jiwaku. Mendengar kata-kata Ibu membuatku seperti terkena kutukan malin kundang, membatu. Dan air mataku menggenang sempurna di pelupuk mataku. Selama ini aku terlalu egois untuk keinginan mulia seorang Ayah dan Ibu.

*

“Yang betah, ya?” Ayah mengelus atau lebih tepat mengacak-ngacak rambutku.

Aku mencium tangannya dan beralih mencium tangan Ibu. Ingin rasanya aku meminta maaf pada mereka. Tapi lidahku kelu rasanya dan hanya dalam hati aku melontarkan kata maaf itu. Maafkan aku Ayah, Ibu. Insya Allah dengan do’a Ayah dan Ibu, Afnan betah di sini dan menjadi seperti apa yang kalian mau. Hatiku berbisik pilu. Sebentar kutatap wajah Ayah dan Ibu yang mulai dihiasi garis-garis keriput, lalu beralih menatap Adik-adikku yang masih kecil-kecil itu.

“Ya udah, kami pamit. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Itu kalimat terakhir Ibu sebelum kembali masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum di balik jendela mobil yang terbuka. Senyuman itu, senyuman paling indah yang pernah kutemui. Air mataku menetes saat mobil melaju meninggalkan pesantren. Tanpa aku tahu, ada tetesan air mata untuk aku yang terbawa innova silver itu. Ibu menangis meninggalkanku di sini. Ibu selalu menangis merindukanku. Ibu selalu menangis mencemaskanku. Ibu selalu menangis mengingatku. Ibu selalu menangis untukku. Dan saatnya nanti, air mata itu akan kuubah dengan air mata bahagia.

Buru-buru aku menghapus air mataku. Berjalan terseok-seok menuju asrama dengan ransel-ransel besar di kedua tanganku. Sempurna aku masuk ke dalam kamar, teman-temannku sudah mengerubuniku, merebut ranselku dan mengobrak-ngabrik isinya. Tak ada yang mereka cari selain makanan atau oleh-oleh liburan.

“Biasanya ibumu paling rajin nyiapin jatah makanan buat kami, Nan.” Najib, temanku yang paling gendut, terlihat paling semangat mengambil berbagai snack yang memang sudah Ibu siapkan untuk aku bagikan kepada teman-teman sekamarku.

“Ye ... bagi-bagi dong, Jib! Ini buat bareng-bareng, tahu!” protes Sahir merebut makanan yang sudah digenggam Najib.

Aku hanya tersenyum melihat ketujuh teman sekamarku. Ini hal yang biasa terjadi setelah liburan panjang. Mereka akan mengeluarkan semua makanan mereka untuk dimakan bersama-sama. Suasana seperti ini yang paling kusukai. Harusnya aku bersyukur Ibu memasukanku ke pesantren. Karena di sini, selain aku bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya, aku juga mempunyai banyak teman yang bahkan lebih dekat dari sosok keluarga.

“Hei, kalian! Ini waktunya tidur, bukan malah rebutan makanan!”

Sontak bola mataku berputar. Mencari sosok si pemilik suara yang baru saja menegur kami. Kak Munir—mudabbir  (Rois) asramaku—tengah berdiri di balik pintu kamar kami. Buru-buru aku menghempaskan tubuhku di atas kasur lipatku dan pura-pura tidur. Teman-temanku yang lain sibuk membereskan makanan mereka.

“Cepat tidur!” titah Kak Munir sebelum pergi meninggalkan tempatnya.

Aku kembali membuka mata dan menatap teman-temanku yang sudah berbaring, berjajar seperti ikan pindang. Dan kami tertawa pelan. Mengusik malam yang sudah benar-benar sunyi. Ditegur Kak Munir bukan hal yang aneh. Apalagi soal makanan.

“Makanannya buat besok aja,” ujarku pelan. Melirik sebentar snack-snack yang bertumpuk dipojok kamar. Setelah itu aku tertidur. Rasanya tubuh, fikiran dan hatiku lelah sekali. Aku butuh istirahat lebih lama.

*


“Nan, Afnan! Bangun, Nan!”

Aku terpaksa membuka mataku saat suara memanggil namaku itu sampai ke telingaku. Samar-samar aku melihat Kak Munir jongkok di sampingku. Dengan mata setengah terpejam, aku mengangkat tubuhku dan melirik jam weker yang berdiam diri di atas eksel milik sahir. Pukul 01:56. Entah apa salahku sehingga aku dibangunkan selarut ini.

“Pak Kyai manggil kamu, Nan!”

Mendengar nama Pak Kyai disebut-sebut, langsung saja mataku sempurna terbuka. Melotot ke arah Kak Munir. Ngapain  Pak Kyai manggil aku malam-malam seperti ini? Rasa kantukku hilang seketika.

“Buruan!” Kak Munir membantuku menegakkan tubuhku. Aku berjalan menuju rumah Pak Kyai. Dadaku berdebar tak karuan. Belum pernah sebelumnya aku berurusan dengan Pak Kyai. Selama ini aku termasuk jajaran santri yang pendiam dan tidak banyak melanggar peraturan.

Aku mendudukan diri di kursi saat Pak Kyai memerintahkan untuk itu. Pak Kyai terlihat baru bangun tidur. Beliau hanya menggunakan kaus oblong polos dan sarung yang tidak begitu rapi serta peci hajinya. Ia menatapku serius dan aku menunduk dalam-dalam.

“Sekarang jam dua malam. Sholatlah!” perintahnya dan aku mengernyit bingung. Tapi aku segera beranjak dan melaksanakan perintahnya.

Setelah berwudhu, aku segera masuk ke dalam masjid. Sholat dua raka’at dan berdo’a dengan khusuk. Mendo’akan apa saja. Mendo’akan Ayah, Ibu, Adik-adikku dan aku sendiri. Aku tidak faham dengan maksud Pak Kyai menyuruhku sholat tahajud seperti ini. Tidak lama setelah itu aku kembali ke rumah Pak Kyai seperti yang diperintahkan beliau.

“Afnan, tadi sebelum Ibu pulang, Ibu amanat apa sama kamu?” tanya Pak Kyai saat aku kembali duduk di tempat tadi.

Aku diam, berfikir dan kemudian menggeleng. Perasaanku tidak enak sekali.

“Hm, yakin tidak amanat apa-apa?” tanya Pak Kyai sekali lagi, memastikan.
Aku berfikir lagi. Seingatku tadi Ibu hanya mengucapkan salam saja. Aku kembali menggelengkan kepala.

“Gini...” Pak Kyai mengubah sedikit posisi duduknya. Ia menatapku. “Kamu harus tabah, ya? Barusan ayahmu telepon, katanya Ibu kamu meninggal.”

Kepalaku yang semula tertunduk, terangkat seketika. Menatap Pak Kyai, meminta kepastian kalau itu tidaklah benar. Tapi tidak mungkin Pak Kyai bercanda seperti ini. Ini pasti serius. Tulang dalam tubuhku seperti hilang seketika. Aku lemas sekali. Dadaku nyeri menahan tangis. Dalam hati aku melafalkan kalimat innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

“Kak Munir akan mengantarmu pulang,” kata Pak Kyai tiba-tiba memeluk tubuhku erat. Erat sekali! Aku meneteskan air mata saat itu juga.

 Baru saja Ibu mengantarku kembali ke pesantren. Baru saja Ibu bilang ia ingin aku menjadi ulama besar. Baru saja Ibu bilang kalau ia hanya ingin aku menjadi permata paling terang yang menyinari sudut-sudut pusaranya. Tadi Ibu masih terlihat baik-baik saja, tidak tampak seperti sedang sakit. Tapi kenapa kabar menyakitkan ini datang begitu saja tanpa permisi, tanpa memberikan pertanda sekecil apa pun? Pantas saja aku enggan kembali ke pesantren hari ini.

*

“Ayah, tadi Ibu masih baik-baik saja, Yah. Kenapa bisa begini?” Aku menangis dalam dekapan Ayah saat aku sampai di rumah.

Ibu sudah dikafani saat aku tiba. Akan disholatkan setelah sholat subuh nanti dan akan dimakamkan bersama dengan si jabang bayi yang sedang dikandungnya. Menurut cerita Nisa, Ibu meninggal karena sesak nafas saat tidur.

“Karena kematian itu Allah yang menentukan, Nan. Makhluk tidak tahu kapan jadwal kematiannya. Semua itu rahasia Ilahi. Kamu yang sabar ya.” Ayah memelukku semakin erat. Ia menguatkanku padahal ia sendiri dalam keadaan lemah. Begitulah Ayah. Dalam kondisi lemah sekalipun ia harus selalu tampak lebih kuat dari anak-anaknya.

Dalam ramai isak tangisku, aku membayangkan wajah Ibu. Wanita paling cantik yang pernah kumiliki di dunia ini. Wanita yang telah Tuhan kirim untuk melindungi dan menyayangiku selama ini. Wanita yang kehadirannya patut kusyukuri. Kusyukuri lebih dari apa pun. Karena dia udara, dia air, dia sinar, dia cahaya, dia segalanya dalam hidupku. Dia Ibu si pemilik senyum paling indah yang pernah Tuhan ciptakan untukku. Dan senyuman itu, untuk terakhir kalinya ia lontarkan di depan asramaku kemarin malam. Itu senyuman terakhir yang kulihat darinya. Aku menangis pilu, melirih panjang. Ayah memelukku semankin erat, air matanya mengalir lebih deras.

*

Mulai saat itu, aku hanya punya satu impian dalam hidupku. Menjadi lentera paling terang yang menyinari sudut-sudut tempat peristirahatan Ibu. Dan hanya ada satu jalan untuk membuat mimpiku itu terwujud. Menjadi anak yang sholeh.

Aku akan terus belajar dan belajar seperti yang Ibu perintahkan. Aku tidak akan mengeluh lagi di mana tempat aku menuntut ilmu. Yang terpenting, aku bisa belajar memahami kehidupan ini. Belajar memahami untuk apa aku diciptakan Allah di dunia ini.

“Nan!”

Aku melihat teman-temanku berdiri di hadapanku saat ini, saat aku kembali ke pesantren setelah seminggu di rumah. Di ambang pintu kamar tsalist (kamar tiga), kamarku. Mereka menatapku lekat-lekat. Sahir, sahabatku yang paling dekat, memelukku tiba-tiba. Disusul dengan yang lainnya. Aku diam terpaku. Sikap mereka sungguh aneh. Biasanya mereka menyerbuku untuk mengambil ransel yang kubawa. Tapi kali ini mereka malah menyerbuku untuk mereka peluk seerat ini hingga rasanya aku tak bisa bernafas.

“Kamu bisa menganggap ibuku seperti ibumu sendiri, Nan! Aku juga gitu kan sama ibumu?” Sahir menangis. Begitu pun dengan yang lain.

“Kamu gak perlu khawatir, kita bisa jadi sandaran, kok kalau kamu kangen ibumu.”

“Kita siap menjagamu untuk membalas kebaikan ibumu kepada kita selama ini.”

Hawa panas langsung saja menjalar di sekitar mataku. Sesak menghantam rongga dadaku dengan keras. Aku menangis mendengar kata-kata teman-temanku. Benar kata ibuku, mawaddatush shadiiqi tadzharu waqtadh dhiiq. Kecintaan atau ketulusan seorang teman itu, akan tampak pada waktu kesempitan. Aku langsung saja melepaskan pelukan mereka, mencari udara untuk bernafas.

“Sejak kapan kalian jadi lebay seperti  ini?” cibirku sibuk menghapus air mataku. “Sudahlah! Gak niat ngobrak-ngabrik barang bawaanku?” aku menunjukan satu dus besar berisi makanan.

Najib langsung saja menyambar dus itu dan membukanya. Teman-teman yang tadi mengerubuniku beralih mengerubuni Najib. Dan aku lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat hal itu. Haru dan bahagia menyelimuti sanubari.

Usah cemaskan aku, Bu! Karena aku punya banyak orang yang menyayangiku di sini, di dunia ini. Mereka yang akan menjadi permata untuk Ayah dan Ibu mereka. Seperti aku.



               

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea