Minggu, 07 Juli 2013

Where Are You Now (Cerpen Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.07

Aku menengadah. Menatap langit yang hanya dipenuhi asap gelap. Rintikan hujan turun membasahi tiap sudut kota. Udara dingin serentak memeluk erat tubuhku. Aku menghela nafas. Helaan nafas berat yang selalu aku hembuskan setiap kali air dari langit itu turun. Helaan nafas sesak yang selalu terasa dua tahun ini.

Kurogoh ponsel hitam polosku di saku seragam sekolahku. Kutekan salah satu tombolnya. Menyala, dan aku tersenyum hambar. Wallpaper ponselku bahkan masih belum mau berubah. Tetap wajah kamu yang tiba-tiba menghilang entah ke mana. Tetap kamu yang pernah menempati bilik hatiku. Tetap kamu yang dua tahun silam bilang : “Aku hanya pergi sebentar. Terap di tempatmu, jangan pergi ke mana pun”.

Where are you now?” desahku bertanya pada gambar dirimu. Dan kamu hanya diam setiap kali aku bertanya itu. Setiap kali aku menanyakan di mana dirimu sekarang.

Aku menyimpan rindu yang teramat dalam. Rindu yang serasa seperti cambuk paling kasar yang melukai tiap persendian hatiku. Aku nyaris mati menahan sakitnya rindu ini. Dua tahun itu sebentar untukmu, tapi rasanya lebih dari sangat lama untukku. Kamu menyuruhku untuk tetap di tempatku dan aku bertahan untuk itu. Aku tetap di sini. Menunggumu. Tak kupalingkan hatiku. Hanya untukmu hatiku ini tercipta. Untuk kamu yang saat ini entah berada di mana.

“Shilla!”

Aku mengalihkan titik fokus mataku. Segera kumasukan ponselku ke tempat semula. Ify sudah berdiri di depan gerbang rumahku. Aku tersenyum ke arah sahabat baikku itu. cepat-cepat kukenakan sepatuku, mengambil payung transparanku yang selama beberapa minggu ini lebih sering kubawa. Aku  berjalan mendekat ke arah Ify.

“Kemarin Iyel minta nomor ponsel lo, Shil,” lapor Ify saat aku sampai di hadapannya. Kami berjalan beriringan menuju sekolah bersama.

“Iya. Semalam dia sms gue,” kataku tanpa ekspresi. Malas sekali aku membahas hal ini. Sudah dari beribu kali aku bilang pada Ify kalau  aku sama sekali tidak tertarik kepada Iyel, si ketua osis sekolah yang multitalen itu. Tapi Ify tetep keukeuh agar aku membuka sedikit hatiku untuk laki-laki yang bisa dibilang cukup tampan itu.

“Terus, lo bales?” tanya Ify antusias. Ia berhenti melakukan kebiasaannya memutar-mutar payung lantas menatapku penuh harap.

Aku menggeleng pelan dan Ify mendesah kecewa.

“Cakka udah hilang, Shil. Lupain dia, napa?” gerutu Ify kesal tapi iba juga melihatku. Bunyi hujan masih terdengar gaduh mengahantam payungku dan juga payung warna-warni milik Ify. Tapi aku masih bisa mendengar dia menyebut nama itu. Rasanya sekeping hatiku dibawa berlari jauh saat aku mendengar nama itu. Nama kamu yang selama ini memenuhi tiap ruang hati dan fikiranku.

“Jika hatiku mau, saatnya nanti aku akan melupakannya,” kataku pasti. Kali ini desahan Ify tidak cukup terdengar olehku. Ia tidak bersuara lagi. Kata-kata terakhirku cukup ampuh membuatnya tutup mulut. Dan aku tidak tahu, apa aku mampu melupakanmu, membuang jauh namamu, atau menghapus deretan tentangmu yang berjajar tiada henti dalam benakku. Yang aku tahu, kamu sudah menjadi bayanganku yang selalu menemaniku ke mana pun aku melangkah.

“Di mana kamu sekarang?” desisku. Ify tidak mungkin mendengar pertanyaan yang sering kulafalkan itu, karena hatikulah yang saat ini bersuara. Gerbang sekolah sudah terlihat. Aku menarik nafas dalam-dalam. Segala hal tentang sekolah ini terlalu banyak menyimpan banyak kisah lampau antara aku dan dirimu.

“Yang aku tahu, segala sesuatu yang hilang, jika itu benar-benar milik kita, dia akan punya cara sendiri untuk kembali kepada kita. Caranya tidak akan bisa diduga-duga, Fy!”  ujarku tersenyum ke arah Ify. Ify membalas senyumanku dengan kecut.

“Kalau itu memang membuat lo nyaman, gue gak bisa bilang apa-apa lagi. Tapi, kalau suatu hari lo ngerasa kalau tentang Cakka itu nyiksa lo, gue siap siaga buat bantu lo!”

Sudut bibirku tertarik ke samping lebih lebar. Ify memang sahabat terbaik yang pernah kumiliki di dunia ini. Ia selalu mengerti semua yang kuingini. Gerbang sekolah telah kulewati begitu saja. Rasanya, dingin sekali,  seperti ada hantu gerbang kiriman dari kutub yang memelukku setiap kali aku melewatinya. Mungkin karena di sana, di balik gerbang itu pernah ada kamu yang sekarang tidak kuketahui di mana, berdiri dan mengulurkan tanganmu, menyentuhku dan mengecup lembut keningku. Aku sungguh merindukanmu.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea