Senin, 04 Maret 2013

That Should be Me (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 04.23

Special thanks for Nawaf yang udah kasih izin pake namanya.... thanks...!

*

That Should be Me
*
That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me feeling your kiss
That should be me buying you gifts
-That Should be Me, JB-
*

Harusnya aku yang memegang tanganmu
Harusnya aku yang membuatmu tertawa...

Baru saja Nawaf berdiri di muka pintu kelasnya, ketika pemandangan memuakan itu kembali memenuhi bola matanya. Entah apa yang terjadi, ia merasa tiba-tiba saja dadanya sesak melihat adegan itu. Adegan manis yang tengah tercipta jauh di hadapannya kali ini. Segala macam polusi sepertinya tengah mencemari seluruh hatinya. Ia mendelik kesal dan kembali ke dalam kelas. Melupakan berbagai menu makanan di kantin yang sudah ia bayangkan sejak pelajaran geografi tadi. Ia sedang tidak ingin menonton adegan ala sinetron saat ini.

“Kantin yuk, Waf!” Arsal, teman sekelas Nawaf yang baru saja melewati mejanya mengajaknya.

“Lagi semangat belajar nih, Sal. Duluan aja.” Nawaf melirik Arsal sebentar sebelum kembali membuka buku geografinya.

“Etdah, semangat amat, lo sama yang namanya belajar. Jangan banyak-banyak, Waf bacanya. Makin sipit lo entar,” cibir Arsal yang langsung mendapat seringaian tajam dari Nawaf. Ia terkekeh dan berlari meninggalkan Nawaf.

Nawaf tertegun. Menatap tulisan Times New Roman yang tertera di  buku paketnya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya, dengan hatinya. Yang ia tahu, hanya kata sakit hati dan penyesalan yang bisa ia baca kali ini. Kesal, ia segera menutup bukunya dan mejauhkan buku dengan cover bagian lempeng-lempeng bumi itu darinya. Lantas membenamkan wajahnya di balik tangannya yang terlipat di atas meja.

Bayangan gadis itu, gadis berwajah cantik yang pernah menyinggahi kamar hatinya, sesaat menari-nari di pelupuk matanya. Tereplay terus-terusan dalam benaknya. Tak ada yang menduga, hubungan yang terbangun sempurna itu harus ambruk begitu saja. Ia menyesal memutuskan gadis itu hingga gadis itu dimiliki oleh orang lain.

[Flashback]

“Tapi apa salah aku, Waf?” Gadis ber-name tag Reifa itu bertanya lirih. Mata cokelatnya menatap Nawaf serius. Hampir saja air mata itu merembes keluar jika ia tidak membuat pertahanan yang kokoh untuk mencegahnya.

Setelah hampir dua tahun mereka menjalin hubungan, Nawaf dengan tanpa alasan yang jelas memutuskan Reifa. Membuat gadis berambut lurus sepunggung itu mengernyit bingung, mendengar kata pisah yang baru saja terlontar dari bibir tipis kekasihnya itu.

Selama ini hubungan mereka, terbilang cukup atau malah baik-baik saja. Sikap dewasa dan pengertian keduanya membuat tali-tali kasih yang mengikat hati keduanya semakin kuat membelit. Sehingga tidak ada yang menduga kalau hubunga mereka akan berakhir seperti ini. Padahal, tak sedikit teman-teman mereka iri dengan hubungan mereka yang selalu terlihat adem, seolah tidak ada masalah sekecil butir pasir sekali pun.

“Aku mau fokus belajar.” Nawaf sedikit pun tidak mampu menatap Reifa. Ia tampak begitu asyik dengan buku sejarahnya. Kisah tentang peristiwa G30S PKI tampaknya lebih menarik perhatiannya ketimbang gadis yang sedang ketar-ketir mencoba mengumpulkan kepingan jiwa yang baru saja Nawaf pecahkan.

“Tapi nilai-nilai kamu tidak drop sedikit pun saat kita pacaran. Aku tidak tahu bagian mana salahku, Waf. Katakan padaku!”

“Tidak ada yang salah, Fa. Aku hanya ingin fokus pada cita-citaku.”

“Aku masih bisa mengerti setiap kali kamu memintaku untuk tidak mengganggumu belajar.” Dari awal Reifa tahu resiko berpacaran dengan orang pintar semacam Nawaf. Dan juga dengan posisi Nawaf sebagai ketua osis di sekolah.

“Dan aku ingin sekarang kamu mengerti keputusanku ini.” Akhirnya Nawaf mau juga membiarkan mata sipitnya menatap manik mata Reifa yang sudah membendung banyak air mata.

“Apa kamu punya gebetan baru? Dia lebih baik dari aku, ya?”

“Aku kan sudah bilang ingin fokus belajar.”

Reifa terdiam. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengusap matanya sebelum kristal bening itu meluncur bebas. Sejurus kemudian ia menyematkan senyuman terbaiknya, hingga lesung pipinya terlihat. Sangat manis! Sayang Nawaf tidak melihat senyuman manis itu karena kembali sibuk dengan sejarahya.

Nawaf menatap Reifa lebih rinci lagi. Reifa memang mengerti dirinya. Dan ia tidak tahu, keputusannya salah atau tidak. Ia mengangguk kecil seraya melemparkan senyuman khasnya.

[Flashback End]

Dan ternyata, melihat gadis itu digenggam oleh laki-laki lain saja hatinya ngilu luar biasa, pertanda ia tidak pernah rela melepas gadis itu. Gadis yang baru saja dilihatnya melakukan adegan romantis di hadapannya. Gadis yang dulu ia genggam, gadis yang dulu selalu tertawa karenanya, kini digenggam laki-laki lain. Ia benci posisinya kali ini. Karena harusnya ialah yang menggenggam tangannya dan membuatnya tertawa.

*

Dengan agak malas, Nawaf membuka buku tulis milik teman-temannya yang kali ini bertumpuk di meja Bu Ern—Guru Sastra Inggrisnya. Baru saja ia diminta untuk mengantarkan buku-buku latihan itu ke kantor, saat ia berniat untuk segera pulang.

Biasanya ada Reifa yang senang membantunya setiap kali ia mendapat tugas seperti apa pun dari para guru. Sering ia menebak kepribadian seseorang lewat tulisan tangannya jika ia mendapat tugas yang serupa seperti saat ini. Tiba-tiba saja ia merindukan mantan kekasihnya itu.

“Udah, Nawaf?” Bu Ern menyembul di balik pintu kantor dengan berbagai tumpukan buku yang lebih banyak. Pasti buku-buku latihan kelas lain.

Nawaf mengangguk dan berdiri dari duduknya, membantu Bu Ern membawa buku-buku itu ke atas meja.

“Ah, makasih. Kau baik sekali!” puji Bu Ern tersenyum simpul.

“Ibu mau memeriksa buku sebanyak ini?” tanya Nawaf menatap tiga tumpukan buku di atas meja Bu Ern.

Bu Ern tersenyum, lantas mendudukan diri di kursinya. “Iya. Mau diapain lagi kalau bukan untuk diperiksa.”

“Gak kesulitan, Bu? Itu tuh banyak banget. Belum lagi tulisan cakar ayam siswa-siswa yang baru dilihat saja bikin mual.”

Bu Ern tertawa pelan mendengar gurauan Nawaf. “Sesuatu, kalau dilakukan sepenuh hati, pasti terasa begitu mudah. Gak bikin mual apalagi muntah-muntah.”

Nawaf terkekeh. “Ibu gak apa-apa, sendiri?” tanyanya lagi sembari mengedarkan pandangannya ke seleuruh penjuru kantor yang dipenuhi banyak piala itu.

“Nawaf mau pulang? Silahkan saja! Aduh, maaf ya udah repotin kamu.”

“Ah, gak apa-apa, Bu. Nawaf seneng kok bantu Ibu.” Sebenarnya Nawaf ingin membantu atau sekedar menemani guru muda bermata besar dengan pupil abu yang lucu itu. Tapi ia benar-benar sangat lelah kali ini. Ia ingin segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa ditindih beton-ton beban.

Nawaf tersenyum lega. “ya udah, Bu. Aku permisi.” Ia segera mencium tangan Bu Ern dan berlalu meninggalkan Bu Ern.

Sepatu kets putihnya beradu dengan keramik koridor. Menciptakan bunyi khas. Keadaan sekolah sudah sangat sepi, sehingga derap kakinya terdengar hingga telinga.

Baru saja ia hendak berbelok ke arah tempat parkir ketika suara tawa menyapa gendang telinganya. Diliriknya lapangan basket yang jadi sumber suara itu. Nizar, kekasih Reifa, tampak sangat mesra dengan seorang gadis. Kiran, sahabat baik Reifa. Nawaf menatap mereka jijik. Ia tidak menyangka Nizar setega itu mengkhianati Reifa.

“Hebat deh lo, Zar!” sindir Nawaf saat ia berdiri tepat di samping ring, di belakang Kiran dan juga Nizar. Baik Nizar mau pun Kiran kompak tanpa komando segera berbalik dan menatap siapa si pemilik suara itu. Mereka segera berdiri dan menatap Nawaf tajam.

Nawaf hanya mengernyit bingung melihat tatapan-tatapan itu. Seolah tidak ada rasa bersalah dari sorot mata mereka. Justru ia yang sepertinya jadi tersangka kali ini.

“Maksud lo?” tanya Nizar dingin

“Nyakitin Reifa banget lo, Zar,” tukas Nawaf kesal. “Lo selingkuhi dia dengan sahabatnya sendiri. Tega ya, lo!!!”

“Lo kan bukan apa-apanya Reifa lagi. Kenapa lo repot-repot ngurusin dia? Urusan gue juga dong mau selingkuhi dia sama siapa aja.” Nizar memarkirkan tangannya di pundak Kiran. Nawaf menatapnya benci.

“Lagian lo kayak yang gak pernah nyakitin dia aja,” sinis Kiran.

Nawaf menghela nafas. Mendengar sindiran Kiran membuatnya seperti kehilangan udara. Ia tak bisa bernafas karena kata-kata itu tanpa permisi langsung menyumbat alat pernafasannya. Ia memang sudah menyakiti Reifa hingga gadis itu butuh berbulan-bulan untuk melupakannya. Ia telah merebut senyum tulus gadis cantik itu.

“Dan harusnya cukup gue aja yang nyakitin dia!” seru Nawaf.

“Lo aja bisa nyakitin dia, kenapa gue nggak?” Nizar nyolot. Tapi ia tetap tenang. “Jangan cuma karena lo ketua osis, siswa teladan dan kebanggan guru-guru, lo aja yang bisa nyakitin Reifa. Gue juga bisa.”

“Eh, lo gila ya? Maksud lo apa sih kayak gini sama gue?”

“Gue cuma mau tahu aja seberapa hebat sih seorang Nawaf, sampai-sampai lo bisa sebegitu wah-nya di mata Reifa.”

Nawaf sama sekali tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Nizar. Semuanya terasa sulit dicerna oleh otaknya yang terasa penuh kali ini. Ia diam sejenak.

“Besok gue tantang  lo bermain basket! Kita buktikan siapa yang paling hebat. Lo atau gue?!” Telunjuk Nizar menunjuk dada Nawaf yang langsung menepisnya dengan kasar.

“Gue gak ngerti sama lo berdua!” Nawaf beranjak dari tempatnya. Meladeni orang-orang yang tidak dimengertinya hanya membuat kepalanya penat.

“Kalo besok lo gak datang, gue pastikan lo bakal menyesal. Sangat menyesal!”

Teriakan Nizar tedengar ketika ia berbelok ke arah tempat parkir. Segera ia menstarter motor matic biru milik kakak perempuannya itu. Kata-kata Nizar terus terngiang bak kaset rekaman butut dalam benaknya.

*

Harusnya aku yang merasakan ciumanmu
Harusnya aku yang memberikanmu hadiah...

“Nawaf! Sipit! Bangun gak?” Iseng saja, wanita berambut ikal itu meloncat ke atas tempat tidur ber-bed cover  dengan lambang Barcelona, tim bola favorit adik laki-lakinya itu. Lantas ia mengoyang-goyangkan tubuh Nawaf pelan. Mencoba membangunkan Nawaf yang tidak biasanya bangun sesiang ini, sampai-sampai meninggalkan subuhnya.

“Apaan sih, Kak?” protes Nawaf kesal. Suaranya serak terdengar. Ia menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi seluruh tubuhnya. Mata sipitnya belum mau terbuka.

“Kamu lewatkan subuhmu, Nawaf.”

Nawaf tetap bergeming.

Come on hero...! wake up!” Ia menarik selimut dengan warna merah, biru dan kuning itu menjauh dari tubuh adiknya itu.

Bola mata Nawaf perlahan terbuka. Masih ada kabut-kabut tipis di sekitar matanya. Wajah kakaknya tidak terlihat jelas. Ia mengerjap beberapa kali untuk menghilangkan kabut-kabut tipis itu. Kak Nisa, Kakak satu-satunya itu tampak memasang wajah kesal.

“Aduh Kak Nisa, Nawaf tuh pusing banget! Gak shalat satu kali gak apa-apa,” protes Nawaf kembali memejamkan matanya.

“Usia baligh itu, kalau gak shalat mesti dipukul. Kata Ayah, gak shalat satu kali dihukumnya tiga ratus tahun!” terang Nisa jengkel.

“Tapi Allah maklumi orang yang lagi sakit, Kak!” rengek Nawaf kembali menarik selimutnya. Udara dingin serentak menyelimuti tubuhnya saat Nisa menjauhkan selimut itu darinya. Ia merasa perlu kehangatan saat ini. Ia merasa suhu tubuhnya sedang tidak normal.

“Kamu gak sakit! Kamu itu malas! Nawaf, get up now! Ini tuh udah siang banget.” Nisa maksa. Nawaf harus sekolah.

“Kak Nisa...” parau Nawaf membuka matanya. Ia menuntun tangan kakaknya itu untuk menyentuh keningnya. “Nawaf gak bohong. Kapan sih, Nawaf malas kayak gini. Ini tuh bener sakit. Dingin banget, tahu.” Nada suaranya pelan terdengar sebelum ia kembali membiarkan garis mata tipisnya itu tertutup rapat.

Nisa tertegun untuk beberapa saat ketika hawa panas itu merambat hingga permukaan kulit tangannya. Badan Nawaf benar-benar panas. Ia panik seketika. Ia tahu betul kondisi adiknya itu. Nawaf jarang sakit, tapi sekalinya sakit, pasti sangat lama dan parah. Setelah Ayah dan Ibu pergi, Nisa memang punya peran penting untuk menjaga Nawaf. Sudah dua tahun ini orangtua mereka pergi untuk menjadi dokter sukarelawan di Negeri jajahan Israel, Palestina. Dan sudah hampir lima bulan ini juga mereka tidak tahu bagaimana kabar keduanya. Tidak ada surat yang mereka terima setelah surat terakhir lima bulan yang lalu. Surat yang menceritakan kalau keadaan Palestina sungguh-sungguh kacau. Sampai saat ini mereka masih menunggu kabar dari pemerintah mengenai dokter-dokter sukarelawan Indonesia itu.

“Bentar ya, Kakak ambil kompresan dulu.” Secepat mungkin Nisa turun dari tempat tidur Nawaf dan berlalu. Berjalan dengan agak tergesa ke dapur. Ia panik sekali. Dulu juga Ibu sering panik kalau Nawaf sakit. Kemarin Nawaf emang pulang sekolah saat langit sudah menunjukan seringai malamnya. Ia pulang dalam keadaan lesu dan terlihat tidak baik-baik saja.

Tidak sampai lima belas menit, Nisa kembali ke kamar Nawaf dan sudah menemukan Nawaf tidak ada di tempat tidurnya. Sesaat ia mengernyit bingung; ke mana Nawaf?. Saat pertanyaan dalam hati itu terlontar, seseorang membuka pintu kamar mandi. Nawaf menyembul di baliknya. Sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya. Nisa mengangkat salah satu alisnya, tak mengerti; ada apa dengan tuh anak satu? Bukannya tadi sakit ya?. Batinnya heran.

“Loh?” Nisa menyimpan air kompresan itu di atas meja belajar Nawaf dan mendudukan dirinya di tepi tempat tidur. Memperhatikan Nawaf yang sedang asyik bercermin. “Kamu kan lagi sakit? Ngapain pergi ke sekolah?”

“Ada ulangan. Terus Nawaf mau tanding basket hari ini.” Nawaf bertengger di balik cermin. Kepalanya sedikit pusing.

“Tanding basket? Sejak kapan kamu bisa main basket, Waf?” tanya Nisa tidak mengerti. Alasan ulangan tidak masalah lagi. Tapi kalau alasan bertanding basket, itu sesuatu yang aneh. Ia tidak pernah tahu kalau adiknya itu suka bermain basket. Setahunya, Nawaf hanya mau berteman dengan buku ketimbang bola basket.

“Sejak saat ini. Ya udah, Nawaf berangkat ya, Kak.” Dalam satu gerakan, Nawaf mengambil tas hitam polosnya yang menggantung di dekat cermin. Setelah itu ia berlalu meninggalkan Nisa, meninggalkan kamarnya.

Nisa hanya bisa menatap punggung tegak adiknya yang perlahan menghilang di balik pintu. Kemudian ia mengalihkan tatapannya ke arah di mana baskom berisi air hangat itu tersimpan. Ia jadi ingat Ayah dan  ibunya. Ia kangen sekali dengan orang tua paruh baya itu. Dua tahun ditinggal tanpa kepastian apa Ayah dan ibunya masih ada dan selamat, membuatnya nyaris tidak bisa tidur setiap malam. Ia selalu dilanda keresahan dan kegundahan. Mungkin Nawaf merasakan hal yang sama. Belum lagi tabungan keluarga yang sudah menipis, membuatnya berfikir berkali-kali lipat. Gajinya sebagai guru bimbel, tidak cukup untuk membiayai sekolah Nawaf dan kehidupan sehari-hari untuk beberapa tahun ke depan jika orangtuanya tidak benar-benar kembali.

Setelah beberapa menit ia habiskan untuk merenung, akhirnya ia beranjak. Kembali mengambil air kompresan itu. Berjalan menjauhi kamar Nawaf dan berhenti di ujung meja telepon. Ia ingin menghubungi seseorang.

*

Nawaf berdiri tepat di tengah-tengah lapangan basket. Tatapan tajamnya tertuju pada laki-laki tampan yang saat ini berdiri di hadapannya. Reifa terlihat cemas melihat keberadaan mereka di tepi lapangan bersama beberapa penonton lainnya. Kiran berdiri di sampingnya, memegang erat pergelangan tangannya. Wajahnya sama-sama cemas. Entah apa yang sebenarnya mereka cemaskan.

Dengan kepercayaan penuh, Nizar menatap remeh Nawaf yang tetap bersikap tenang pada posisinya. Ia tahu kalau ia tidak mungkin mengalahkan Nizar yang jelas-jelas seorang kapten basket sekolah. Seorang Mvp pula. Tidak mungkin seorang  Nawaf yang hanya ketua osis dan tidak banyak mengerti soal basket, bisa mengalahkan jagoan basket semacam Nizar.

“Kita taruhan. Kalau lo kalah, gue mau lo kembali lagi sama Reifa,” kata Nizar sembari mendrible si bundar orangenya. Sejurus kemudian ia melemparnya ke arah Nawaf yang dengan sigap langsung menerimanya. Dalam hati ia tidak mengerti apa taruhan yang Nizar ajukan, tapi ia tidak mau peduli dengan itu. Ia hanya ingin urusan basket ini segera selesai. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan Nizar yang jelas-jelas sudah menebarkan kegalauan selama beberapa bulan ini padanya.

Segera Nawaf mendrible bolanya, menggiringnya mendekat ke arah ring. Mencoba menghindar dari Nizar yang terus-terusan menghadangnya. Beberapa penonton yang didominasi kaum hawa itu, dengan rajinnya memberi support pada keduanya. Ada yang mendukung Nawaf dan ada juga yang mendukung Nizar. Nawaf kewalahan menghadapi Nizar yang sudah jelas masternya basket sekolah. Harusnya ia tidak menerima tantangan Nizar. Kepalanya berat sekali. Tapi ia berhasil memasukan beberapa poin ke dalam ring.

Baru saja Nawaf akan melakukan shooting saat ia merasa telinganya berdenging. Kepalanya berdenyut sakit. Tubuhnya panas, tapi ia merasa begitu dingin. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Nizar dengan sigap merebut bola di tangan Nawaf begitu melihat aksi diam Nawaf. Dan saat itu juga Nawaf merasa dunia berputar. Ia merasa seperti merasakan gempa beratus-ratus skala richter. Warna kuning menghantam penglihatannya dan perlahan samar, samar dan gelap. Ia tidak merasakan tubunhnya sendiri.

“Nawaf!”

Itu pasti pekikan Reifa. Nawaf masih hafal jelas suara lembut itu.

*

Nawaf berjalan terseok-seok, menyusuri beranda kelas. Lemas sekali! Tidak ada siapa-siapa di UKS saat ia membuka mata. Ia biarkan tubuhnya menempel dengan dinding kelas. Berhenti sejenak saat ia melihat adegan itu lagi. Ia menyipitkan matanya hingga tampak seperti orang terpejam.

“Semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah!”

Entah penglihatannya yang salah, ia melihat kening Reifa dicium mesra oleh Nizar. Sesaat Nawaf merasa ada panah berapi yang dengan spontan tertancap di hatinya. Sakit dan panas. Setelah itu, Nizar berlalu meninggalkan Reifa sendiri, sebelumnya ia menyerahkan sebuah kotak bersampul merah jambu pada gadis itu. Reifa diam menatapi kado itu. Ia membiarkan tubuhnya merosot ke bawah. Dan Nawaf melakukan hal yang sama. Ada sakit yang luar biasa sakit dalam hatinya. Ia benamkan wajahnya di telapak tangannya. Pusing. Ternyata tidak hanya dia yang bisa mencium kening Reifa. Bukan hanya dia yang bisa memberikan hadiah pada gadis itu. Mesti harusnya hanya dia yang melakukan itu. Baru ia sadari kalau dia benar-benar menyesal.

*

“Sebenarnya....”

Nawaf menatap gadis berkacamata yang saat ini duduk di hadapannya. Kiran. Ia tidak tahu untuk apa gadis itu datang ke rumahnya malam-malam seperti ini. “Sebenarnya apa, Ran?”

“Sebenarnya, Reifa masih mencintai lo, Waf. Nizar itu saudara gue. Dia gue suruh deketin Reifa, biar bisa move  on dari lo. Tapi, rupanya Reifa benar-benar gak pernah bisa  hapus nama lo. Waktu kemarin, Nizar cerita ke gue kalau dia nyerah dan gak bisa bikin Reifa berpaling dari lo. Makanya pas kemarin lo datang, dia langsung emosi dan nantangin lo main basket. Gue gak tahu kalau basket lo payah banget! ”

Nawaf terkekeh mendengar cibiran Kiran. Ia sudah salah sangka ternyata. Paru-parunya lega terasa kali ini. Jujur ia akui kalau ia juga masih sangat mencintai Reifa. Ia menyesal telah memutuskan gadis itu, dan kali ini ia punya peluang untuk kembali mengulang semuanya. Menyambung kisah yang sempat terhenti. Otaknya penuh dengan rencana esok hari. Besok ia akan mengajak Reifa memperbaiki semuanya. Besok ia yang akan memegang tangan Reifa. Membuat Reifa tersenyum. Dia yang akan mencium kening Reifa dan dia yang akan memberikan kado paling istimewa untuknya. Senyumnya tersemat begitu rapi.

“Nawaf, nanti kalau Kiran udah pulang, cepet beresin barang-barang kamu, ya! Kakak udah telfon nenek. Katanya dia jemput pagi-pagi banget.” Kak Nisa menyimpan dua cangkir teh manis di atas meja. Nawaf memandangnya tidak mengerti.

“Makasih, Kak.” Kiran tersenyum. Ia juga tidak mengerti dengan apa yang Nisa katakan.

“Maksud Kakak apa?”

“Lihat kondisi kayak gini, Kakak ingin kita pindah ke Bandung. Nanti baru balik kalau Ayah sama Ibu benar-benar kembali ke Indonesia. ”

Hancur semuanya! Nawaf tertegun panjang. Sesak itu kembali menghantam alat pernafasannya. Rencana yang sudah ia susun, hancur berantakan. Benar-benar berantakan! Dan ia kembali membiarkan wajahnya tenggelam dalam telapak tangannya. Tak kuasa ia menolak semunya.

*
Gak nyambung kan? Ancur banget pasti! hhe... maklum aja ya.. lama vakum nulis, sekalinya dapet ide... Bingung.. hehe..
Sekali lagi, Nawaf makasih banget namanya.. Jangan banyak ngegalau ya, kamu!!
Jadi seseorang yang selalu happy. Moga cerpennya bisa bikin kamu ketawa! *tapiinikanbukancerpenhumor* hehe... makasih deh pokoknya...

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea