Senin, 08 April 2013

Sekuel -Alvia-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 06.28
*

Dengan begitu cepat, Sivia berlari menyusuri trotoar jalan raya yang sudah agak sepi karena keadaan yang memang sudah menjelang senja. Ada titik-titik kecil yang tanpa izin keluar dari sudut-sudut matanya. Merembes hingga pipi chubby-nya. Ia menangis, dan air mata itu terus menderas seiring melambatnya langkah kakinya. Ia terduduk lemas di kursi taman kota yang masih dihuni oleh beberapa pengunjung.
Satu persatu para pengunjung itu melangkah pergi. Meninggalkan Sivia yang masih sibuk dengan air mata dan rasa sakit yang baru saja tercipta di pedalaman hatinya.

"Sivia?"


Sivia tahu siapa yang memanggil namanya. Tanpa harus menoleh, ia kenal siapa pemilik suara bariton itu. Alvin. Pemuda bermata sipit yang baru saja mengguratkan sayatan luka dalam sanubarinya. Alvin yang dengan seenaknya mengobrak-ngabrik perasaannya.

"Maafkan aku, Sivia." Alvin duduk di samping Sivia. Merengkuhgadis itu.

"Pergi, Al! Pergi aja sana! Pergi jauh dari hidupku!" Sivia meronta melepaskan rengkuhan Alvin. Dan kembali membenamkan wajahnya di baliktangannya. Menangis lebih pilu lagi. Alvin terdiam. Menatapi Sivia dengan penuh rasa bersalah.

Keadaan tiba-tiba saja menjadi begitu sunyi. Hanya isak tangis Sivia yang menjadi musik pengiring adegan senja kali ini. Dan tangisan itu terasa begitu menyakitkan untuk Alvin. Seperti terompet pencabut nyawa yang sebentar lagi mengutus malaikat kematian untuk merampas ruhnya. Alvin merasa paru-parunya diracuni berbagai obat kimia. Ia tidak kuasa melihat Sivia menangis.

"Maafkan aku, Sivia! Ini bukan mauku." Alvin meraih tangan Sivia  yang masih menempel di wajahnya. Ia genggam kuat jemari lancip itu. Basah ditangan Sivia membuat hatinya terenyuh panjang. Ada rasa yang begitu dingin.

Baru saja mereka merayakan ke sepuluh bulan anniversary hubungan mereka saatAlvin bilang akan pindah ke German. Saat Alvin bilang akan meninggalkan Indonesia dan kekasih hatinya, Sivia. Dan saat Alvin bilang putus.
Semudah itukah ia mengucapkan kata putus setelah sepuluh bulan berlaludengan ikatan kuat? Semudah itukah ia meninggalkan Sivia yang selama inimengisi kekosongan hatinya? Semudah itukah ia mencampakan Sivia yang sudah jatuh terjerembab ke dalam lembah terdalam dalam hatinya?

"Maafkan aku, Sivia," ulang Alvin. Angin lembut terasamenusuk-nusuk persendian tubuhnya.

"Pergi aja! Aku emang gak penting buatmu di sini." Sivia menatap  mata khas Alvin dengan mata merahnya. Lampu taman kota yang menyorot permukaanwajah Alvin membuatnya dengan mudah menikmati pesona itu. Mungkin untuk yangterakhir kalinya.

"Sivia..."

"Kalau begitu, biar aku saja yang pergi." Sivia beranjak dariduduknya setelah menepis tangan Alvin yang masih menempel di tangannya. Namun belum selangkah Sivia meninggalkannya, Alvin kembali meraih tangan itu danmenarik Sivia ke dalam dekapannya. Memeluknya dengan begitu kuat. Sivia diam dalam hangatnya pelukan itu.

"Aku akan kembali. Aku akan kembali, Sivia. Jangan kemana-mana! Janganpergi dan tetap di tempatmu."
Entah apa yang membuat Sivia tiba-tiba merasa begitu tenang. Entah aromaSilver di tubuh Alvin, atau dekapan hangat Alvin, atau entah ucapan terakhirAlvin. Sivia terdiam lama dalam dada Alvin. Menikmati detik-detik terakhir kebersamaan ini.

*

Kesannya gantung kalau gak baca cerpen aku yang lainnya. ehehe... baca juga ya! Wajib baca pokonya! *Maksa*

>>> dilanjut versi RiFy

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea