Selasa, 30 April 2013

Sekuel -Shiel-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.35

Shiel

***

Lagi-lagi Bagas hanya bisa menatap prihatin keadaan kakaknya itu. Ia menghela nafas berat saat untuk yang kesekian kalinya melihat kakak satu-satunya yang paling ia sayangi mengulangi kebiasaan yang menurutnya begitu aneh. Berdiam diri di atas genteng sembari menatapi layar laptopnya yang memampang gambar seorang laki-laki tampan. Sesekali ia menengadahkan wajahnya ke atas. Menatapi langit malam yang hanya dihiasi gugusan bintang yang sama sekali tidak bisa menyampaikan risalah apa pun dari orang yang dinantinya.

Kehilangan yang Shilla rasakan memang bukanlah sebuah kehilangan kecil. Melainkan kehilangan dengan ukuran ektra besar yang mengguratkan penyesalan tiada batas. Saat ia ditinggal pergi untuk selamanya oleh orang yang begitu menyayangi dan disayanginya. Iel. Begitulah ia memanggil namanya. Iel yang ia sakiti di saat-saat terakhirnya berada di dunia ini. Iel yang jadi korban keegoisannya. Iel yang ternyata menyimpan rahasia paling menyakitkan. Rahasia yang pada akhirnya membawanya pergi menuju keabadian.

Shil…”

“Iya, El??”

“Buatin aku puisi, dong…”

“Hah? Gak bisa. Kamu aja deh, yang buatin puisi buat aku.”

Shilla terenyuh begitu mengingat masa itu. Masa yang paling diingatnya. Di sini, di tempatnya sekarang ini. Saat Iel dengan kata-kata manis membuainya manja. Bahkan ia masih ingat dengan jelas rangkaian kata itu. Ia menarik nafas panjang. Hendak berkata sesuatu.

“Sesaat, pandangan hati ini tak dapat kupalingkan
Di tengah kerumunan perasaan yang memaku diri
Hingga saatnya terlepas tanpa beban
Hingga akhirnya menghilang tanpa jejak…”

Suara Shilla terdengar begitu parau. Dengan agak tersendat karena menahan tangis, ia membacakan puisi yang pernah tercipta itu. Berbicara pada langit. Memberitahu dia yang sudah berada di atas sana bahwa gadis yang pernah menjadi bagian dalam hatinya, tidak pernah sejangkal pun mampu berpindah dari hatinya. Tidak pernah mampu!

“Tautan yang diciptakan
Tak mampu mengembalikan
Terlalu rapuh dan membisu
Dalam diam dan tanpa pandangan...

Akhirnya tetesan bening itu membasahi pipiya juga. Kenangan-kenangan manis itu sontak terputar. Membuatnya tak kuasa menahan tangis itu lagi. Saat lagi-lagi telinganya hanya bisa mendengar suara khas itu. Saat bola matanya hanya bisa menatap wajah itu. Saat hanya ia yang dimanja, hanya ia yang dipeluk dan hanya ia yang dicintai. Kini tak bisa lagi ia merasakan itu semua. Segera ia menekuk lututnya. Membiarkan piamanya menyerap kristal-kristal cair itu. Hatinya pilu luar biasa. Dan saat itu pula ada rengkuhan kuat dalam tubuhnya. Membuat sesuatu yang hangat menjalar di punggungnya dan sampai hingga hatinya.

“Aku tersenyum, Tuhan…
Di saat rasa kembali memberi  wangi
Walau hanya sedetik
Dan tak kan mampu membentuk titik”

Shilla tahu. Suara Bagas—adiknya—yang kali ini berbisik di telinganya. Dan bait yang baru saja disampaikan tetap sebuah penggalan puisi yang pernah Iel karyakan untuknya. Ia semakin terenyuh saja. Air matanya menderas lebih banyak lagi.

“Bagas percaya Kakak kuat. Bagas yakin Kakak bisa move on! Bagas yakin, Kak…” Adik kecil itu melepaskan rengkuhanya dan beralih duduk di samping Shilla. Ikut menatapi langit. “percaya, deh kalau Tuhan itu udah nyiptain yang lebih baik buat Kakak. Lebih baik dari Kak Iel.”

Shilla mengangkat kepalanya. Menatap Bagas serius. Dan Bagas balas menatapnya.

“Gak akan pernah bisa, dek!” keluh Shilla putus asa. Dan hanya desahan nafas berat yang terdengar.

-TAMAT-

1 komentar:

  1. engg.. engg kok nyesek sih...



    numpang promo yaa kunjungi blog gue yaa: obat kista tradisional

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea