Rabu, 01 Mei 2013

Another Request (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.05
Blank! System is error!” Nyfa menggerutu tidak jelas. Ia membanting felt tip-nya dengan agak keras. Lantas menenggelamkan wajahnya di balik tangannya yang terlipat di atas meja. Sudah hampir satu jam berlalu ia berdiam diri di kursi kayu itu. Mencari ide untuk membuat tulisan yang ditugaskan guru sastranya. Tapi otaknya sama sekali tidak memberikan respon yang baik. Gelap. Semuanya gelap. Gadis yang dalam hidupnya hanya bersahabat dengan kata-kata itu, tengah dilanda kegalauan yang sungguh belum ada ujungnya. Sejenak hanya ada hening dalam kamar bercat azzura itu, sampai isak tangis disertai guncangan tubuh mungil itu mengusik keheningan. Dalam diamnya, Nyfa menangis. Membiarkan mata hazelnya itu memproduksi cairan bening yang sejak tadi ditahannya.
“Nyfa…”
Punggungnya tiba-tiba saja terasa hangat. Ada tangan kekar tapi begitu halus yang tiba-tiba saja memeluk tubuh lemahnya. Untuk sepersekian detik ia terdiam sampai akhirnya ia merubah posisi untuk memeluk si pemilik tubuh yang baru saja memberi kehangatan padanya itu. Ia membiarkan wajahnya tenggelam di dada tubuh tinggi itu. Menangis lebih keras.
“Ada apa?” Suara yang selalu membuat Nyfa merasa berada di puncak ketenangan itu, terdengar berdesis di telinga kanannya. Ia mengeratkan pelukannya lebih erat lagi. Hanya air mata yang bisa menjelaskan betapa tidak mampunya ia berucap untuk saat ini. Betapa tidak mampunya ia mengatakan semua beban yag menyumbat ruang pernafasannya itu. Terlebih kepada orang yang saat ini tengah dipeluknnya.
“Kakak… Kak Mikha a…”
Belum sempurna ia berbicara, orang yang baru saja dipanggilnya dengan nama Mikha itu membungkam mulutnya dengan dekapannya yang lebih kuat lagi. “Jangan menangis lagi!” desisnya lembut. Dirasakannya dadanya basah oleh aliran sungai kecil di mata Nyfa.
“Kakak gak boleh larang aku menangis! Gak boleh!” Dengan agak kuat, Nyfa melepaskan pelukan Mikha. Menatap lekat mata Mikha yang terlihat lebih sayu. Setelah itu ia kembali memeluk Mikha yang hanya bisa terdiam melihat tingkah gadis yang sudah dianggap adiknya sendiri itu. “Aku baru saja menangis. Dan menangisi orang yang aku sayangi itu suatu keharusan. Gak boleh ada yang larang aku nangisin kakak. Gak boleh, Kak!”
“Kalau begitu, Menangislah… karena air matamu yang bisa sembuhkan lukamu itu!”
*
Lelah sekali. Hanya itu yang Mikha rasakan di pagi ini. Apa yang ia lewati tadi malam, nyaris membuat seluruh tenaga dalam tubuhnya terkuras. Rasa sakit yang beberapa bulan ini kerap menemaninya, sama sekali tidak menyisakan sedikit pun tenaga yang membuatnya paling tidak mampu menggerakan tangannya. Masih dalam keadaan berbaring, Mikha menatap lekat atap kamarnya. Memikirkan banyak hal.
Sudah hampir dua bulan setelah ia divonis menjadi penderita kanker darah stadium akhir ia seperti ini. Membuka mata dan merasa keadaan di sekitarnya tidaklah sempurna. Hanya dingin dan keputusasaan yang kerap menyergap batinnya. Rasanya tak perlu lagi ia membiarkan kelopak matanya terbuka jika hanya resah dan gelisah serta air  mata yang bisa ia berikan untuk orang-orang di sekitarnya. Terlebih Nyfa yang setelah tahu bahwa tak ada satu pun yang bisa menyembuhkannya, selalu saja menangisinya.
“Pagi, Kak!” Nyfa duduk di tepi tempat tidur Mikha. Menyimpan satu nampan sarapan yang sudah dipersiapkan ibunya. Sepersekian detik ia menatap Mikha sebelum akhirnya kembali mengalihkan titik focus matanya itu ke objek yang lain. Sebuah foto dengan bingkai biru langit yang beberapa tahun lalu di hadiahkannya untuk Mikha, menjadi objek yang dipilihnya. Rasa sesak mengerubuninya ketika gambar ia dan Mikha yang masih berumur delapan tahun itu terlukis di pelupuk matanya.
Nyfa tidak pernah tahu apa permintaannya pada Tuhan dulu pantas untuk disesalkan. Ia tidak pernah tahu sama sekali. Yang ia tahu, dulu waktu ia berumur 12 tahun dan Mikha menginjak 13 tahun, ia pernah memohon-mohon pada Tuhan agar Mikha tidak dijadikan kakaknya. Agar mereka tidak dijadikan saudara sedarah hanya karena ia menyadari ada rasa tidak wajar dalam dadanya. Rasa yang mulai tumbuh dalam hatinya. Tentang cinta yang entah bagaimana caranya Tuhan hadirkan untuknya kepada Mikha yang saat itu masih Nyfa tahu sebagai kakak kandungnya.
Dan sama sekali tidak pernah diduganya, bahwa permohonannya Tuhan kabulkan. Satu tahun setelah ia tersiksa karena rasa tidak wajar lantaran mencintai kakak kandungnya sendiri, ia mendengar cerita dari ibunya bahwa Mikha ternyata bukanlah kakaknya. Mikha bukanlah bagian dari keluarganya. Mikha hanya anak laki-laki terbuang yang mendapat belas kasihan dari keluarganya. Nyfa mengucap syukur tiada henti meski pada akhirnya cintanya tak terbalas juga oleh Mikha. Mikha tidak pernah bisa mencinta Nyfa lebih dari cinta seorang kakak pada adik.
“Hei…!”
Nyfa tersadar dari lamunannya saat telunjuk seseorang menusuk pipi chubby-nya. Segera ia mengalihkan tatapannya pada Mikha yang sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur.
“Kakak lapar…” lapor Mikha menatap wajah Nyfa yang sudah menyemburkan warna merah.
Nyfa mengangguk salah tingkah. Ia mengambil mangkuk bubur di meja kecil di samping tempat tidur Mikha, lantas membiarkan tangan yang biasanya memegang pena itu dengan telaten menyuapi Mikha. Sesekali ia tersenyum melihat Mikha yang pura-pura lahap, padahal ia tahu betapa pahitnya bubur yang Mikha makan itu.
“Nyfa ingin jadi adiknya kak Mikha lagi. Nyfa gak mau kakak jadi orang lain. Nyfa akan lupain rasa cinta Nyfa asal jangan ambil Kak Mikha dari sisi Nyfa.”
Nyfa tahu itu hanya angan. Itu hanya do’a yang tidak mungkin Tuhan kabulkan lagi. Karena sudah terbukti bahwa tidak ada kecocokan darah yang bisa membuatnya menolong Kak Mikhanya. Ia tidak bisa mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Ia tidak bisa berbuat banyak lagi untuk kakaknya itu, selain terus berdo’a ada keajaiban dari Tuhan. Entah itu menyembuhkan sakit Mikha atau menjadikannya adik kandung Mikha sehingga ia bisa mendonorkan apa yang Mikha butuhkan.
Mikha menarik nafas berat sebelum akhirnya membiarkan tubuhnya merapat dengan tubuh Nyfa. “Jika esok kakak tidak kembali, kenang kakak dalam do’a Nyfa. ” Bisik Mikha parau. Tak ada yang tahu bahwa sesungguhnya ia menyayangi Nyfa lebih dari apa pun. Entah itu saudara. Kekasih. Yang ia tahu ia hanya ingin waktu yang singkatnya itu ia buat Nyfa tahu bahwa hanya Nyfa yang ia sayangi di dunia ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea