Kamis, 02 Mei 2013

Another Request 2 (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.07
Sekeping hati telah ikut terbang besama ruhmu.
Meninggalkanku jauh ke tempat yang entah kapan bisa kujamah.
Ketika sang Pemilik Nyawa sama sekali tidak mengabulkan pintaku
Agar kau tetap di samping.
Agar kau tetap menjadi bagian dari cerita ini.
Aku sadar, aku ingin ikut pergi bersamamu.

Gel ink pen itu terlepas dari tangan halusnya. Lagi-lagi Nyfa melakukan kebiasaan yang sama selama beberapa hari ini. Mengisi beberapalembar buku hariannya, lantas menangis semaunya. Meringkuk di balik bed cover  putih bercorak emas itu. Mengingat semua kenangan yang pernah ia tapaki bersama orang yang baru tiga hari ini meninggalkannya.

*

“Nyfa orang yang paling Kakak sayang di dunia ini. Dan sampai akhirat kelak pun, Nyfa tetap yang paling Kakak sayang.”

Nyfa merasa tangannya digenggam erat saat itu. Mikha menatapnya dengan begitu hangat meski sinar matanya hendak padam. Rasanya Nyfa tidak mampu membalas tatapan itu. Ia takut, ketika akhirnya mata itu tertutup rapat dan tidak bisa lagi ia melihat bola mata indah itu. Nyfa menunduk dalam-dalam. Suasana ruang rawat terasa begitu sunyi. Sesunyi hari-hari yang telah lalu, saat Mikha kembali menemui masa komanya. Dan baru dua hari ini Mikha kembali dari tidur panjangnya.

“Ajarkan Nyfa tentang menerima, Kak! Ajarkan Nyfa kata ikhlas yang sesungguhnya.” Nyfa menjatuhkan kepalanya di dada Mikha. Dia bisa merasakan seberapa kurusnya kakaknya saat ini. Tulang-tulang dada itu tersentuh kulit pipinya. Dan itu membuat air matanya terproduksi lebih banyak.

Dengan susah payah, Mikha mengangkat tangannya yang hampir dikuasi selang-selang medis itu.Ia mengelus lembut rambut hitam Nyfa. “Nyfa... Percayalah! Tuhan sedang berbicara tentang menerima padamu kali ini. Dan sebentar lagi dia akan bicara tentang ikhlas itu seperti apa padamu.” Suara Mikha terdengar lebih lemah dari sebelumnya. Nyfa bisa merasakan betapa susahnya Mikha bernafas, meski masker oksigen menemaninya kali ini.

“Nyfa ingin jadi adik Kak Mikha yang sesungguhnya! Nyfa ingin sedikit saja membagi sumsumtulang belakang Nyfa untuk Kak Mikha. Nyfa...” Nyfa mengangkat kepalanya. Menatap tajam mata Mikha yang tetap saja redup. Ia tidak kuasa melanjutkan kalimatnya saat melihat ada butiran bening disudut mata Mikha. Ini pertama kalinya ia melihat Mikha menangis. Dan sedikit saja air mata itu timbul, mampu membuat Nyfa membisu dalam tangisnya. “Nyfa... Nyfa sa-sayang Kak-kak Mikha.”

Mikha menarik nafas dalam-dalam. Rasanya begitu menyakitkan. Kepalanya berdenyut hebat. Rasanya derap kaki petugas pencabut nyawa sudah terdengar berdegup ditelinganya. Semakin cepat derapan kaki itu, semakin lambat pula jantungnya berpacu. Persendian tubuhnya sedikit demi sedikit mengkaku. “Peluk Kak Mikha, Nyfa!” Hanya itu yang Mikha pinta saat lagi-lagi ia tidak mampu menahan amukan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Dengan sigap Nyfa memeluk tubuh itu. Masih menangis. Ia merasa sebentar lagi akan ada yang masuk ke dalam ruangan ini dan akan ada jiwa yang hilang meninggalkannya.

“Kakak tidak pernah ingin Nyfa jadi adik Kakak atau siapa pun. Kakak hanya ingin Nyfa jadi orang yang tahu bagaimana itu cara menerima dengan ikhlas. Kakak tidak pernah meminta sumsum tulang belakang Nyfa, meski Nyfa saudara sedarah Kakak. Kakak tidak membutuhkan apa pun dari Nyfa selain do’a yang tulus saat Kakak pergi.”

Nyfa menangis lebih kencang. Isak tangisnya menggedor pintu-pintu ketenangan. Ruangan sunyi itu ramai sekietika oleh tangisan pilunya. Tubuhnya berguncang hebat. Ia memeluk Mikha yang semakin lemah itu dengan begitu erat. “Benarkah Kak Mikha-ku harus kau bawa saat ini, wahai Malaikat Tuhan? Tidakkah Nyfa diberi kesempatan untuk mendengar sekali lagi suaranya saat memanggil namaku? Ya Tuhan, benarkah kau sedang berbicara tentang menerima dengan ikhlas itu seperti apa padaku? Tunjukan padaku dan biarkan aku memahaminya. Hingga aku bisa membuat Kakak yang paling aku sayangi ini tersenyum karena aku mampu menjadi seperti  yang ia mau.”

*

“Nyfa...”

Nyfa membuka matanya saat ia mendengar suara memanggil namanya. Diamatinya keadaan disekitarnya. Kamar hijaunya. Ia masih di kamarnya. Buku hariannya masih terbuka. Penanya masih tergeletak di sampingnya. Ia mengedarkan pandangannya pada seseorang yang saat ini duduk di tepi ranjangnya. Mama.

“Makan, yuk!” ajak Mama lembut. “Udah nangis biasanya, kan lapar.” Katanya tersenyum. Tampaknya wanita paruh baya itu sudah maklum dengan kebiasaan anak perempuannya itu. “Nangis kan, capek. Emang Nyfa belum mengerti juga apa yang Kak Mikha bilang?”

Nyfa menggeleng lesu.

“Tuhan sedang berbicara kepada Nyfa dengan cara memberikan Nyfa ujian ini. Dia sedang mengajarkan Nyfa tentang ikhlas. Belajarlah memahaminya, sayang! Kak Mikha tidak butuh tangisanmu seperti ia tidak membutuhkan sumsum tulang belakangmu. Ia hanya butuh do’amu. Kak Mikha itu hakikatnya milik Tuhan. Dan Tuhan berhak mengambilnya dari kita.”

Nyfa tertegun mendengar kata-kata mamanya. Sejenak ia berfikir, lantas menarik nafas dalam-dalam. “Nyfa menyayangi Kak Mikha, Ma,” lirih Nyfa menjatuhkan tubuhnya dipelukan Mama. Baru ia sadari kalau belajar ikhlas itu sungguh sulit.

“Dan yang memiliki Kak Mikha itu lebih menyayanginya.” Mama mengelus lembut kepala Nyfa.“Ikhlaskan Kak Mikha-mu ya, sayang. Dia yang meninggalkan harus bahagia, dan kamu yang ditinggalkan juga harus bahagia!”

Nyfa hanya bisa mengangguk meski ia tidak yakin, ia bisa. Tapi setidaknya ia harus berusaha untuk itu. Mama benar, Mikha akan bahagia dan tenang jika ia sudah mengerti ikhlas itu seperti apa.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea