Minggu, 07 Juli 2013

Dream Is Too Good (Jilid2-Where Are You Now)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.08




*

Ada yang terhenyak dalam jasadku. Suara yang pertama kali kudengar adalah bunyi monitor di sampingku. Setelah itu beberapa suara kasak-kasuk yang sepertinya melafalkan kalimat-kalimat syukur. Aku membuka mata. Berat sekali rasanya. Wajah-wajah familiar itu yang pertama kali memenuhi bola mataku. Aku mengerjap beberapa kali. Kabut-kabut tipis di sekitar mataku tampaknya belum mau menghilang.

“Cakka ....”

Suara lembut itu memanggil namaku seiring menjelasnya pandanganku. Kulihat Kak Zeva, kakakku, duduk di samping ranjang yang saat ini tengah kutempati. Ia menggenggam kuat tanganku yang masih terasa begitu kaku. Dokter yang baru saja dipanggil oleh Kak Riko, suami Kak Zeva, bergegas menghampiriku dan memeriksa keadaanku yang entah berapa lama tertidur di ranjang rumah sakit ini.

“Shilla mana, Kak?” tanyaku saat dokter itu selesai memeriksaku dan berlalu bersama Kak Riko untuk membicarakan perihal kondisiku pasca koma ini.

“Sepertinya kita harus pulang ke Jakarta.” Kak Zeva mengelus kepalaku yang hampir seluruhnya dibalut kain putih. Rasanya begitu sakit.

Aku baru sadar ada yang membalut kepalaku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi denganku. Yang aku ingat, malam itu aku mencoba melarikan diri dari rumah sakit yang saat ini sedang kutempati. Aku dikejar Kak Zeva dan juga Kak Riko. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Ada mimpi yang begitu indah yang menemaniku setelah kejadian itu.

Aku bertemu bersama Ayah dan ibuku. Aku bermain bersama mereka di tempat paling indah. Mereka memelukku, merengkuhku, menciumku, membelai dan menggenggam erat tanganku seolah tidak akan pernah dilepas lagi.

“Ceritakan padaku apa yang sudah terjadi, Kak! Shilla mana? Ayah dan Ibu mana?” Sesungguhnya memori otakku kehilangan banyak file-file penting. Dan mencoba mengingat itu membuat kepalaku seperti akan meledak.

Kak Zeva hanya menatapku prihatin. Tapi aku tahu ia akan memulai ceritanya. Dia bercerita dari awal dan aku menyimak dengan baik.

Dua tahun yang lalu, Ayah, Ibu dan aku mengalami kecelakaan. Orangtuaku meninggal dan aku masih bisa diselamatkan meski mendapat luka yang begitu parah. Setelah kejadian itu, aku ikut bersama Kak Zeva ke Bandung, karena hanya Kak Zeva satu-satunya keluarga yang kumiliki. Aku meninggalkan Jakarta, sekolahku dan juga Shilla, gadis yang baru dua bulan menjabat sebagai kekasihku waktu itu.

Selama dua tahun ini aku mengalami penurunan kesehatan. Akibat kecelakaan maut itu, banyak organ tubuhku yang kehilangan fungsi, terutama organ di bagian kepalaku. Aku sering pusing hingga kehilangan kesadaran. Koma yang baru saja terjadi, bukan koma pertama kalinya. Aku sering mengalami hal yang sama meski tidak selama koma kali ini.

Aku sering bermimpi indah hingga rasanya aku tidak ingin bangun lagi. Mimpi yang menurutku jauh lebih baik dari kehidupan yang saat ini kujalani. Lebih baik dari rasa sakit yang selalu mendera fisik dan jiwaku.  Mimpi yang membuat aku tidak bisa lagi bertemu dengan kekasihku, Shilla.  Namun ada sesuatu yang membuatku terpaksa meninggalkan mimpi-mimpi yang begitu indah itu. Aku masih harus merasakan bagaimana sakit ini, bagaimana perih ini. Tuhan belum mengizinkan aku untuk merasakan keindahan mimpi itu untuk seutuhnya.

“Kamu jatuh dari tangga saat kamu berusaha melarikan diri dari rumah sakit, Kka. Kakak cemas sekali lihat keadaan kamu,” ujar Kak Zeva nyaris menitikan air mata. Aku merasa begitu bersalah.

“Maafkan aku, Kak,” sesalku. Aku mencoba mengangkat tubuhku yang ngilunya tak main-main. ”Aku hanya merasa begitu merindukan Shilla. Aku merindukan Ayah dan Ibu juga. Aku ingin berziarah ke makam mereka.”

“Kalau memang di Jakarta bisa membuatmu jauh lebih baik, Kakak akan minta Kak Riko agar kita semua pindah ke sana.” Dengan lembut, tangan yang selama dua tahun ini menjagaku, mengelus tanganku yang terasa begitu sakit karena tertancap selang infus. Tangan Kak Zeva terasa begitu hangat. Sehangat pelukan Ibu dan juga Shilla yang lama tak kurasakan.

Aku tersenyum penuh harap. Aku mengerti, Tuhan belum mengizinkanku untuk merasakan mimpi-mimpi yang terlampau indah itu dengan abadi, karena aku memang masih punya banyak hal yang mesti kurasakan. Termasuk bertemu dengan orang yang begitu kucintai. Yang aku yakin, masih setia di tempatnya. Menungguku.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea