Minggu, 07 Juli 2013

Kami Rindu, Bu! (Sekuel Usah Cemas)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.18


-o0o-

Kupandangi sudut-sudut kamarku. Tak ada yang berubah. Sama seperti saat terakhir kali aku meninggalkannya. Tak ada satu pun barang yang bergeser dari tempatnya. Selimut yang masih terlihat bergulung di atas ranjang, beberapa buku yang tidak tertata rapi di atas meja belajar yang ditemani beberapa alat tulis, beberapa pakaian yang tergeletak sembarang di atas tempat tidur dan kursi. Semuanya sama. Percis. Dan aku dapat memastikan tidak ada yang masuk bahkan menyentuh barang-barang yang ada di kamarku ini.

Aku hempaskan tubuhku dan aku tertegun lama. Kuraih pakaian gamis hitam dengan corak batik di sekitar lengan dan leher itu. Kuhirup perlahan aroma baju itu. Harumnya masih terasa, padahal sudah hampir setengah tahun aku meninggalkannya. Dan wangi ini, mengingatkanku, menarik memori benakku untuk mengingat sosok lembut itu. Kucoba tahan air mata yang tiba-tiba menggantung di pelupuk mataku.

Nah, kalau hendak sholat jum’at itu, disunnahkan memakai wewangian.” Wanita cantik berjilbab merah marun itu mengoleskan sesuatu ke baju gamis cokelat yang saat itu aku kenakan.

“Harum, Bu.” Kuhirup perlahan wangi parfum tanpa alkohol yang baru saja Ibu oleskan.

Ibu tersenyum penuh arti. “Hm, sekarang berangkat gih! Berdiri di shaf paling depan, oke!”

Aku mengangkat ibu jariku. “Sip, Bu...,” kataku berlalu setelah sebelumnya kucium lembut punggung tangannya.

Dan aku tak mampu lagi menahan air mataku. Kepingan kenangan itu mampir kembali ke dalam benakku. Ternyata, tak semudah yang kubayangkan untuk melupakan dan mencoba tegar saat aku kembali mengingat dia yang kupanggil Ibu. Ibu yang hampir enam bulan ini meninggalkanku. Meninggalkanku dan pergi lebih dulu memenuhi seruan Ilahi.

Sadar tak sedikit pun yang mampu kuberikan untuknya di sisa-sisa hidupnya selain pilu dan kesedihan. Sadar hanya impian saja yang terlafal untuk membahagiakannya, sementara tak sedikit pun bukti nyata yang terasa. Dan bolehkah kali ini aku menyesal, Tuhan? Kenapa di saat Engkau sudah mengambilnya, aku baru sadar bahwa aku tak pernah mampu membuatnya bahagia.

“Kak...”

Buru-buru aku menghapus air mataku saat suara cempreng adik bungsuku menyapa indera pendengaranku. Kualihkan pandanganku pada gadis kecil berambut ikal itu. Kupaksakan tersenyum meski sebenarnya hatiku menjerit pilu melihat adik kecilku. Sungguh dia lebih tabah dibanding diriku. Padahal usianya jauh lebih kecil untuk kehilangan sosok ibu. Dia jauh lebih membutuhkan wanita bertangan halus itu. Dia lebih membutuhkan wanita paling cantik yang telah melahirkanku itu. Dia masih membutuhkan bidadari tanpa sayap yang sengaja Tuhan utus untuk senantiasa menjaga jiwa dan ragaku itu. Tapi gadis kecil itu tetap tabah dan kuat meski usianya masih terlalu dini untuk kehilangan seorang ibu.

“Kak Afnan kenapa nangis?” Gadis kecil itu mendekat ke arahku dan duduk di sampingku. Lantas bola mata dengan pupil cokelat itu bergerak menyapu keadaan di sekitarnya. “Kakak nangis pasti karena lihat kamarnya berantakan ya? Biasanya, kalau kakak pulang dari pondok kan, kamarnya bersih. Maaf ya, Kak. Shofi gak bisa kayak Ibu yang bisa beresin kamar kakak tiap Kakak pulang ke rumah.” Shofi menunduk dalam-dalam. Gurat-gurat penyesalan terlihat di wajah lucunya.

Aku menarik nafas dalam dan sejurus kemudian memeluk Shofi dengan erat. “Nggak, Shofi... Kakak bukan nangis karena itu kok. Memang harusnya sebelum Kakak berangkat ke ponpes, Kakak beresin kamarnya dulu. Kan udah gak ada Ibu.” Air mata yang tadi kuhapus, menetes kembali.

“Shofi kangen Ibu, Kak. Shofi sama Kak Nisa butuh Ibu. Ayah juga pasti butuh Ibu. Setelah Kak Nisa mondok, pekerjaan Ayah jadi banyak.Selain sibuk ngurusin pekerjaannya, dia juga sibuk ngurusin Shofi sama pekerjaan rumah. Shofi kasihan sama Ayah. Shofi…”

Melihat air mata yang tiba-tiba saja mengalir dengan derasnya di pipi gadis kecil berusia 6 tahun itu, tak kuasa membuatku membatu. Langsung saja kudekap dirinya. Kurengkuh jiwanya yang ternyata juga rapuh. Kubungkam ia dengan pelukanku yang paling lama. Kurasakan tubuh mungil itu berguncang disertai dengan rasa hangat yang tiba-tiba menyerap pakaian takwaku. Kini hanya ada tangis yang menemani kami berdua. Tangis rindu padanya yang saat ini sudah tenang di sisiNya. Ibu, kami di sini merindukanmu…

*

“Allahummagfirli dzunubii waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayani shoghiro. Ya Allah, apa Shofi buat Ibu marah, sampai-sampai Ibu tega ninggalin Shofi di sini sendiri? Apa Shofi nakal, Ya Allah sampai Ibu gak betah di sisi Shofi sampai Shofi bisa dewasa kayak Kak Afnan? Ya Allah, bilang pada Ibu maafin Shofi. Shofi masih mau Ibu di dekat Shofi. Shofi masih mau dibelai, dimanja sama Ibu. Shofi masih mau Ibu di sini, di sisinya Shofi.

Tubuhku merosot di balik pintu bercat biru cerah kamar Shofi. Kakiku lemas mendengar do’a anak sekecil itu. Nafasku sesak mendengar ejaan do’a kedua orangtua yang dibacakan Shofi. Moga do’a itu sampai padamu, Bu. Kubenamkan wajahku di balik kedua telapak tanganku. Menangis lagi. Sudah dua kali ini air mataku terproduksi. Kehilangan itu mutlak dirasakan semua orang. Dan aku yakin, kehilangan Ibulah yang paling menyakitkan dari banyak hal yang menyakitkan di dunia ini.

“Andai saja aku yang lebih dulu meninggalkanmu, Bu. Mungkin tak akan kurasakan perih ini...” Aku berdesis dalam tangisku. Setelah Ibu pergi hidupku penuh dengan frase andai saja.

“Kalau kakak pergi lebih dulu, Ibu akan merasakan perih yang lebih perih dari yang Kakak rasakan. Emang Kakak tega, buat Ibu nangis karena kehilangan Kakak? Tiap Kakak ninggalin Ibu ke pondok aja, Ibu sering nangis. Apalagi Kakak tinggalin dia selamanya. Semuanya sudah diatur sama Sang Pemilik Nyawa, Kak. Kita harus belajar menerima karena itulah yang terbaik untuk kita. Yang terpenting, jadilah anak sholeh. Karena itulah cara membuat Ibu tersenyum di sana.”

Aku merasakan hawa yang begitu hangat di tubuhku. Seperti pelukan Ibu. Tanpa mengangkat kepala dan memastikan siapa yang tengah mendekapku, aku sudah tahu siapa si pemilik tangan halus itu. Pasti Nisa. Adik keduaku yang saat ini sudah berubah menjadi gadis remaja yang begitu cantik. Setelah masuk pesantren, Nisa tumbuh menjadi lebih dewasa, berjiwa besar, ikhlas dan lembut. Aku melihat Ibu di dirinya.

“Kapan pulang, Nis?” Merasa sudah cukup mendapat ketenangan dalam pelukan Nisa, aku bertanya.

Nisa melepaskan pelukannya. Ia mengusap wajahnya yang juga basah oleh air mata. “Baru saja. Ayah sama Kakek jemput Nisa. Kakak gak dijemput, ya?” tanya Nisa. Matanya yang masih tampak merah menatap ke arahku. Mata Nisa mirip sekali dengan mata Ibu.

“Pesantren kamu kan lebih jauh, Nis,” kataku memaklumi. Tangan Nisa terangkat guna menghapus sisa-sisa air mata yang menggantung di pelupuk mataku. “Sebenarnya, ada apa ya, Ayah nyuruh kita pulang?” tanyaku menghentikan gerakan tangan Nisa. Melihat apa yang Nisa lakukan membuatku semakin ingin menangis.

Nisa menggeleng pelan. Ia beralih duduk di sampingku. “Aku kangen Ibu, Kak. Kangen banget!” desahnya menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kakak juga kangen Ibu, Nis...”

“Shofi juga...”

Di balik pintu, kudengar suara Shofi melirih. Dapat kupastikan ia mendengar percakapanku dengan Nisa. Hati kami, jiwa kami, saat ini sama-sama merasakan hal yang serupa. Merasakan apa yang mereka namakan rindu. Dan rindu itu nyaris membuat kami rapuh dalam sisa-sisa kehilangan yang masih belum mau beranjak dalam hati. Kini, hanya dengan do’a padaNya kami mampu menyampaikan rindu ini pada Ibu. Kami kangen, Bu....

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea