Minggu, 07 Juli 2013

Never Let You Go (Jilid Akhir-Where Are You Now)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.13


"Maafkan aku, El..." Gadis itu mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya menatap bola mata pemuda jangkung di hadapannya. "Aku tidak bisa. Ternyata aku tidak pernah bisa, El. Maafkan aku," mohon gadis itu.

Pemuda hitam Manis itu mendesah. Menghilangkan sumpek dalam hatinya, dan selang beberapa detik saja ia membiarkan sudut-sudut bibirnya ke samping. Membentuk senyuman. "Tidak apa-apa, Shil. Berbaliklah dan tinggalkan aku untuk Cakka. Dia jauh lebih membutuhkanmu. Tapi kapan pun kamu membutuhkanku, aku selalu ada di belakangmu. Aku selalu ada untukmu."

Seseungguhnya, terbuat dari apa hati laki-laki ini? Terlalu baik, terlalu tulus, terlalu lembut tapi terlalu kuat.

"Terimakasih, El. Aku sungguh berterimakasih." Gadis itu memeluk erat pemuda itu. Menangis...

*

"Aku merindukanmu..."

Shilla mengangguk pelan. Meraih tangan Cakka yang bebas selang infus, menggenggamnya dengan begitu. Betapa hatinya diselimuti kecemasan dan kepanikan saat Kak Zeva menghubunginya dan memberitahu kondisi krisis Cakka.

"Kamu merindukanku juga, kan?"

Shilla mengangguk lagi. Kali ini lebih cepat. "Aku sangat merindukanmu, Kka. Sangat..." Suara Shilla serak. Ia tidak berhenti menangis sejak dua jam yang lalu.

Keadaan hening. Hanya desahan nafas berat Cakka yang menyelimuti kesunyian ruangan inap itu.

"Jangan pernah pergi dariku lagi!" pinta Shilla menepis keheningan itu. Ia tidak suka dengan keheningan. Ia benci kesepian. Cukup dua tahun yang lalu ia merasakan perihnya kesepian dan Kesendirian itu.

Cakka tersenyum. "Tetaplah tersenyum saat aku pergi."

"Aku tidak akan pernah mengizinkanmu pergi. Tidak akan!" Shilla menggenggam erat tangan kurus Cakka.

"Aku sakit. Sudah lebih dari lima kali aku memuntahkan darah di seharian ini. Aku tidak tahu ada apa dengan tubuhku. Aku hanya tahu kalau itu sangat menyakitkan."

Yang Shilla tahu, orang yang sangat ia cintai itu, bernafas dengan susah payah.

"Pasti ada dokter genius yang bisa menyembuhkanmu. Kamu tidak akan merasakan sakit itu lagi," harap Shilla menatap dengan rinci tiap lekukan wajah pucat Cakka. Laki-laki itu sangat kurus saat ini.

Cakka tak merespon. Ia menatap Shilla sayu.

"Aku menunggumu terlalu lama. Jangan harap aku bisa mengizinkanmu pergi lagi."

Dan Cakka hanya bisa menanggapi kata-kata Shilla dengan diam. Dalam senyum perih tentunya.

*

"Ikhlaskan Cakka pergi, Shil! Kakak mohon sama kamu. Dia sudah sangat kelelahan!"

Kak Zeva mengguncang-guncangkan tubuh Shilla yang memilih diam. Tertunduk dan membisu. Larut dalam angannya yang penuh dengan bayang-bayang menakutkan.

Setelah obrolan singkat dengan Shilla, Cakka kembali kritis dan tak sadarkan diri. Dan ini hari ketujuh laki-laki itu koma. Dokter sudah menyerah menangani Cakka yang pada dasarnya sudah kehilangan hampir seluruh nyawanya. Hanya tinggal menunggu keikhlasan untuk membuatnya pergi dan hidup dengan tenang di alam yang berbeda.

"Kakak mohon, Shil!" Bahu sempit itu kembali diguncangkan lebih keras lagi.

Dan Shilla lagi-lagi menggeleng tegas. Tak ada air mata, tapi jelas kesedihan tumpah di wajahnya.

"Shilla! Kamu gak kasihan sama Cakka, heh?" Suara Kak Zeva meninggi. Membuat Kak Riko, Ify dan Iyel yang berada di antara mereka kaget dengan nada suara itu.

"Aku sayang Cakka, Kak Zeva. Aku gak ingin dia pergi lagi," lirih Shilla. Nada suaranya sungguh pilu.

"Tapi dia menderita, Shil..." Suara Kak Zeva kembali melunak. Ia menjatuhkan diri dalam pelukan Kak Riko. Tak menyangka gadis itu akan keras kepala seperti ini.

Air mata Shilla menepi di pelupuk mata. Perlahan mengalir membasahi pipi putihnya. Ify yang duduk di sampingnya, langsung merengkuh tubuh itu.

"Aku sayang banget sama Cakka, Fy!"

Ify menarik nafas panjang. Mengelus lembut rambut panjang Shilla. "Itu sebabnya lo harus ikhlasin dia pergi, Shil. Kasian Cakka..."

Shilla diam. Ia berada dalam pilihan yang sulit. Sungguh sulit! Dan ia hanya bisa menangis.

Keadaan pun menyepi. Isak tangis Shilla dan Kak Zeva mendominasi keadaan. Tak ada yang mau memecahkan keheningan itu sampai akhirnya Shilla berdiri dan berjalan gontai memasuki ruangan Cakka. Ia melihat laki-laki itu tidur dengan begitu tenang seolah tidak menanggung beban dan sakit apa pun. Lalu apa yang membuatnya menderita, Tuhan?

Shilla menundukan tubuhnya yang begitu lemas itu di kursi terdekat dengan ranjang Cakka. Sebentar ia menyeka wajahnya, lantas meraih tangan Cakka yang begitu dingin. Dan air mata itu kembali menetes.
Sunyi. Lama sekali.

"Cakka..."

Shilla menarik nafas berat. Sungguh ia belum siap untuk kehilangan Cakka lagi. Apa lagi untuk selamanya.
Dan gadis itu menangis lagi...

"Cakka... Aku izinin kamu pergi. Aku ikhlasin kamu pergi karena aku begitu mencintaimu. Bahagialah di sana hingga saatnya nanti kita dipertemukan kembali." Gadis itu menangis lirih. Ia benamkan wajahnya di balik lengan Cakka.

"Pergilah...

"Pergilah Cakkaku, sayang...

"Aku mengizinkanmu pergi karena aku mencintaimu. Sangat mencintaimu!"

Tak ada air mata yang tak menetes melihat aksi Shilla di sana. Bukan hanya karena baru saja ada garis lurus yang tergurat di monitor di samping ranjang Cakka, tapi juga karena tangis pilu gadis itu membuat kesedihan menjadi berlipat ganda.

Tubuh Kak Zeva merosot di balik pintu. Baru saja ia kehilangan satu-satunya anggota keluarganya, setelah ia kehilangan Ayah dan ibunya dua tahun silam. Kak Riko langsung saja merengkuhnya dengan begitu erat.
Dan Ify serta Iyel berjalan menghampiri gadis yang masih memeluk erat tubuh Cakka. Biarlah sejenak saja ia merasakan raga itu berada di sisinya meski sudah kaku dan mendingin.

"Shil..." Iyel memberanikan diri menepuk pundak Shilla.

Shilla mengangkat kepalanya. Menoleh ke arah Iyel dan sejurus kemudian memeluk pemuda itu. Mencari ketenangan. Dan di sana, di balik dada Iyel terasa lebih hangat.

"Tenang... Meski hatimu tetap untuk Cakka... Aku selalu ada untukmu..."

END

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea