Senin, 08 Juli 2013

Perfect (Bab 1)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.25


Jangan sepelekan hal yang sepele!

-o0o-

“Bagaimana hasilnya, Nan??!!!”

Baru saja Ginan membuka pintu rumahnya saat ketiga temannya dengan tanpa komando, kompak melontarkan pertanyaan yang sama. Laki-laki berpupil cokelat itu menatap teman-temannya datar sebelum akhirnya melemparkan senyuman terbaiknya. “Tentunya, aku baik-baik saja,” ujarnya yang langsung mengundang tarikan nafas lega dari ketiga sahabat karibnya itu.

“Syukurlah…” Aya, satu-satunya perempuan di antara ketiga anak laki-laki itu mengempaskan tubuhnya kembali ke sofa. Perasaannya jauh lebih tenang setelah beberapa jam ke belakang dikabuti rasa cemas dan was-was.

“Makanya, Ya, jangan kebanyakan baca novel sama nonton drama.” Erru ikut menghempaskan tubuhnya di samping Ginan yang sudah duduk lebih dulu.

“Dasar Drama Queen!” cibir Isha memilih duduk di samping Aya. Iseng saja ia menyentil hidung bangir Aya.

Aya meringis sembari menyeringai sebal ke arah Isha. “Hentikan kebiasaanmu menyentil hidungku, bodoh!” rutuknya kesal. Isha hanya nyengir lebar melihat ekspresi kesal Aya. Dan Aya sungguh benci dengan cengiran itu.

Ginan hanya bisa tersenyum melihat tingkah ketiga temannya. Bagi laki-laki pendiam itu, kehadiran sahabat-sahabatnya itu selalu mampu membuatnya merasa menjadi makhluk Tuhan yang paling beruntung. Ia selalu merasa sempurna karena tanpa diminta, Tuhan telah menciptakan ketiga pemilik crayon warna-warni yang selalu sukses mewarnai lembaran kisah kosongnya. Ia bersyukur karena ternyata bisa merasakan seperti apa indahnya pertemanan. Pershabatan. Di mana ketika diri merasa begitu tenang, begitu berarti dan begitu indah saat dia yang dinamakan sahabat berada di dekatnya.

Sebenarnya, sebelum hari ini, Ginan tidak pernah meminta apa-apa lagi. Ia tidak menuntut apa pun lagi pada Tuhan. Baginya, apa yang telah Tuhan anugerahkan sudah cukup membuatnya bahagia. Orangtua yang lengkap meski tidak termasuk jajaran orang sukses nan kaya. Hanya orang sederhana yang hidup seaadanya. Tapi betapa Ginan suka kesederhanaan itu. Sesederhana dirinya.

Dan ketiga sahabatnya. Aya, Erru dan Isha. Tentu adalah hal yang paling disyukurinya. Membuatnya merasa tidak butuh apa-apa lagi. Kehadiran ketiga juara itu membuatnya merasa mempunyai apa yang tidak dimiliki semua orang di dunia ini. Persahabatan. Persahabatan yang indah dan penuh dengan ketulusan.

Erru, si sipit tampan yang pintar dan berjiwa besar yang selalu membuatnya merasa menjadi orang besar, meski ia tak lebih dari anak laki-laki kecil biasa yang hidup dalam kesederhanaan. Isha, si pemilik kulit hitam manis itu, dengan sifat humorisnya, selalu bisa membuat Ginan merasa tak perlu ada kesedihan di dunia ini. Hanya boleh ada senyum ceria ketika ia bersama laki-laki pecinta game itu. Dan Aya, tentu satu-satunya alasan terbesar yang membuatnya merasa begitu sempurna. Aya, si cantik yang selalu membuatnya merasa begitu berarti. Gadis energik berkulit putih bersih itu, adalah gadis yang unik di matanya. Penuh mimpi, penuh angan dan asa. Ia pemimpi, ia pengkhayal dan Ginan sungguh tertarik dengan Gadis itu. Meski ia tidak pernah tahu, di batas mana ketertarikannya itu.

-o0o-

Ginan tidak menyangka kalau teman-temannya akan menunggunya di rumah hanya untuk mengetahui hasil pemeriksaan kesehatannya yang baru selesai hari ini. Beberapa hari yang lalu, Ginan mengalami demam yang cukup tinggi. Ia tidak masuk sekolah selama hampir seminggu lebih. Jelas saja itu membuat ketiga sahabatnya cemas. Ginan yang tidak pernah suka rumah sakit, dipaksa untuk menginjakan kaki di bangunan serba putih dengan bau obat-obatan kimia itu oleh teman-temannya. Tentu Aya yang paling tegas memaksanya untuk itu. Gadis pecinta buku yang keponya melebih batas maksimal orang-orang kepo pada umumnya itu, memang paling tidak suka menyepelakan sesuatu yang orang anggap kecil dan sepele. Dan anehnya, Ginan tidak pernah mampu menolak apa yang Aya inginkan.

“Dokter bilang apa, Nan?” Aya memecahkan keheningan sore itu. Suntuk juga berjam-jam hanya diam dalam keheningan bersama buku-buku.

Ginan yang tengah sibuk dengan tugas matematika yang Erru berikan, segera menoleh ke arah Aya. Kemudian menoleh ke arah Erru yang masih sibuk saja dengan buku kimianya. Dan Isha, laki-laki yang biasanya paling kocak dan ramai itu, kini diam. Tak banyak tingkah dan mengoceh ini itu karena sebagian ruhnya sudah melayang ke alam mimpi. Ginan tahu temannya yang satu itu memang paling malas dalam urusan belajar. Tak aneh jika nilainya paling buruk di antara mereka.

“Sehat-sehat saja, Ya,” jawab Ginan kembali menekuni pekerjaannya. Ia harus segera menyelesaikan soal-soal itu sebelum apa yang Erru terangkan kembali menguap. Maklum saja, Ginan bukan termasuk barisan orang dengan daya ingat yang tinggi seperti Erru. Apalagi untuk mengingat rumus-rumus matematika yang terkadang membuatnya pening.

“Bener dokternya bilang gitu doang ya, Tan?” Merasa tidak yakin dengan jawaban Ginan, Aya melemparkan pertanyaan ke arah Tante Gisa yang kebetulan lewat di depan mereka.

Ginan kembali melirik Aya sekilas. Benar-benar kepo. Fikirnya.

Wanita muda berjilbab dark lavender blue yang sepertinya tengah sibuk membuat menu untuk makan malam ini, berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan Aya. “Tak usah cemas, gadis cantik,” jawab Tante Gisa yang diselipi dengan pujian untuk Aya. Ia tersenyum lantas kembali berjalan menuju dapur seraya berseru riang,  “tante akan masak makanan yang enak untuk kalian.”

Pipi Aya merona. Ah, gadis yang memiliki rambut mirip model iklan sampo itu begitu suka dengan pujian.

“Dari awal Ginan udah bilang kalau dia hanya demam biasa kan, Ya? Sakit di saat perubahan cuaca itu bukan hal aneh. Kamunya aja yang terlalu mendramatisir keadaan.” Erru menutup buku kimianya. Sejurus kemudian memperhatikan Ginan yang sungguh-sungguh serius menekuni pekerjaannya. Ginan bukan termasuk siswa berprestasi di sekolah, tapi sedikit pun tidak pernah acuh terhadap pelajaran apa pun. Setidaknya ia selalu berusaha untuk mengerti. Dan seminggu lebih ini ia ketinggalan banyak mata pelajaran. Untungnya, Erru selalu mau membantunya.

“Erru! Jangan pernah sepelekan hal yang sepele!” tegas Aya tak suka. “Sesuatu yang kecil, jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik bisa berdampak fatal. Kamu tahu, apa penyebab negara kita ini berantakan? Itu tuh karena pemerintah yang selalu menyepelekan permasalahan-permasalahan negara yang kecil. Sesuatu yang kecil, jika terus dibiarkan, bisa menjadi lebih besar dari apa pun yang besar di dunia ini.” Nada suara Aya penuh dengan penekanan. Ia mengetuk-ngertuk tutup pulpen di atas meja sembari menatap si pemuda sipit keturunan Jepang di hadapannya.

Erru hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sehingga rambut model spyke-nya agak berantakan. “Aku gak...”

“Aya benar, Erru. Udahlah...” Ginan menengahi. Dia sedang tidak ingin mendengar perdebatan apa pun.

“Kenapa ramai sekali? Seperti di kelasku saja.” Isha bangkit dari tidurnya. Menutup mulutnya. Menguap lebar dan mengerjap beberapa kali. “Kenapa kamu hobi sekali membuat keributan, Drama Queen?” Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Mata bulatnya yang masih tampak merah dan sayu menatap Aya yang membalas tatapan itu dengan tajam.

“Diamlah atau aku pukul kamu dengan buku ini, tukang tidur!” ancam Aya galak sembari mengacungkan novel dengan tebal 3cm di hadapannya.

Seperti biasa. Isha hanya merespon ancaman itu dengan cengiran lebar. “Kamu galak sekali!” tangannya dengan bebas mengacak-ngacak rambut Aya yang selalu disisir rapi itu dengan gemas.

Aya langsung saja bisu saat mendapat perlakuan seperti itu baik dari Isha maupun Erru. Aya suka saat teman-temannya melakukan hal itu padanya. Entah apa alasan yang jelas. Tapi Aya begitu menyukainya. Dan hanya Ginan satu-satunya dari ketiga laki-laki itu yang tidak pernah sekalipun melakukan itu padanya. Hanya Ginan yang tidak pernah mendebatnya. Hanya Ginan  yang tidak pernah mencibirnya. Hanya Ginan yang tidak pernah usil padanya. Dan kalau boleh jujur, hanya Ginan yang mendapat tempat spesial di hatinya. Seandainya Ginan tahu, apa akan ada yang berbeda setelahnya? Entahlah....

“Waktunya makaaaann!!!”

Seluruh mata repleks menoleh ke arah sumber suara. Tante Gisa baru saja selesai menghidangkan berbagai menu makanan di meja makan. Isha tentu menjadi orang pertama yang berdiri dan menghampiri Tante Gisa. Kealpaan sosok Ibu dalam diri Isha membuatnya menganggap Tante Gisa Ibundanya sendiri. Dan seperti Ginan, tak ada masakan yang paling ia sukai selain masakan Tante Gisa. Erru dan Aya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya yang paling slebor itu. Ginan tersenyum tipis. Betapa ia merasakan seuatu yang berbeda. Dan itu, karena kehadiran sahabat-sahabatnya.

-TBC-

1 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea