Selasa, 09 Juli 2013

Perfect (Bab 2)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.57


“Lakukanlah sesederhana mungkin”

*

“Kamu udah masukin obatnya, Nan?” Mama Gisa tampak sibuk mengobrak-ngabrik isi ransel Ginan. Memastikan anak sulungnya itu tidak melupakan hal yang mulai saat ini wajib dibawanya ke mana-mana.
“Ginan gak lupa, Ma. Mama udah ngingetin Ginan dari sejak malam,” ujar Ginan malas. Ia menghabiskan sisa potongan rotinya dan meneguk setengah gelas susunya.

“Mulai saat ini juga, jangan lupa bawa jaket.”

Ginan menghela nafas. Papa Nandi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah isterinya itu. Dan Disa―adik perempuan Ginan―memperhatikan mamanya yang sibuk sendiri itu dengan kening berkerut.
 
“Pastikan kamu tidak mengikuti ekskul apa pun yang berhubungan dengan fisik.” Bola mata Mama berputar ke arah Ginan kali ini. “Basket, futsal, voli, bahkan pelajaran olahraga pun,” sambungnya kali ini sembari menutup resleting ransel Ginan kembali.

Ginan berdiri dari duduknya. Mengambil piring bekas makan dan membawanya ke dapur seraya berkata, “udahlah, Ma, gak usah over gitu pro―”

“Oya, nanti siang setelah nganter Disa ke sekolah, Mama akan ke sekolah kamu dan bilang sama kepala sekolah biar kamu dapat dispensasi di pelajaran olahraga.”

Ginan mendengus, Ia kurang suka dengan sikap mamanya pagi ini. Ia menyimpan piring-piring kotor itu di atas westafel. Telinganya masih mendengar nasihat-nasihat over mamanya.

“Jangan terlalu capek!

“Pastikan pasang alarm biar gak lupa minum obatnya!

“Kalau ada apa-apa, hubungi Mama dan Papa segera!”

Kalau Mama gini terus, teman-teman Ginan pasti tahu. Batin Ginan agak jengkel.

“Ada apa dengan Mama, Pa?” Anak perempuan yang baru saja memiliki title anak TK itu, bertanya pada papanya yang hendak meninggalkan meja makan.

“Perhatian Mama sedang terpusat sama kakak kamu, tuh. Mama tuh lagi terserang virus lebay,” jawab Papa tersenyum geli melihat Ginan yang sudah kembali dari dapur sembari memasang raut wajah kesal. Disa hanya mengernyit mendengar jawaban papanya.

“Ma, gak usah berlebihan gitu!” pinta Ginan menghampiri mamanya dan mengambil ransel yang saat itu ada digenggaman sang mama. “Ginan gak suka apa pun yang berlebihan. Perhatikan Ginan sesederhana mungkin. Lakukan apa pun untuk Ginan dengan sederhana, karena itu jauh lebih indah dan lebih baik.” Ginan meraih tangan Mama Gisa dan menciumnya. “Ginan berangkat, Ma. Jangan khawatir, Ginan bisa jaga diri Ginan dengan baik.” Ia berjalan dan berlalu meninggalkan tempatnya.

Mama Gisa menarik nafas dalam dan membuangnya

dalam satu helaan saja. Ginan tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Anak laki-lakinya yang baru saja menyandang gelar anak putih abu-abu itu masih terlalu polos, terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Apa yang sedang menimpanya.

“Mama lebay!” cibir Disa tertawa kecil. Membuat Mama Gisa repleks menoleh ke arah anak perempuannya itu.

“Hei, sejak kapan kamu tahu kata-kata gaul seperti itu?” Mama Gisa duduk di samping Disa yang belum beranjak dari kursi makannya.

“Dari Papa barusan. Katanya, Mama lagi terserang virus lebay.”

Gisa terkekeh pelan. Puteri bungsunya sungguh lucu. Dulu Ginan tidak seenergik Disa. Disa begitu aktif, lain dengan Ginan yang sejak lahir begitu pasif, pendiam dan pasti mudah sakit.

*

"What? Ginan? Lo bilang, Ginan?"

"Adik kelas kita yang... biasa."

"Super biasa, tepatnya!"

"Apa namanya kalau ini bukan tanda-tanda kiamat, coba? Cewek cantik dan popular model lo, jatuh cinta sama adik kelas yang double sangat berbeda sama lo. You're crazy, Ra!"

Gadis cantik―atau lebih tepatnya―sangat cantik, yang jadi objek tatapan mata-mata penuh ketidakpercayaan itu, hanya menatap balik gadis-gadis yang menurutnya sangat-mirip-komentator-sepak bola-itu dengan bingung. Ia menaikan salah satu alisnya tak mengerti.

"Emang apa salahnya, heh?" tanyanya sinis. Mata hazelnya yang lucu menatap bergantian ketiga gadis dengan name tag berbeda-beda itu. Tatapan matanya berbicara; Diar, Bella dan lo, Ressi, jangan pernah urusi urusan perasaan gue!

“Ayolah, Aira sahabat gue yang paling famous, Ginan itu... terlalu biasa buat lo yang super duper ektra wow. Ya, Tuhan, Aira si cantik, ketua geng terpopular di SMA 2MEI ini, jatuh cinta sama adik kelas yang―"

"Pingsan di terakhir MOS."

"Hahahaha..."

Gelak tawa pun membahana di ruangan berlabel XII IPA-2 yang dicat penuh warna cream itu, saat Ressi nyeletuk meneruskan perkataan Diar yang menggantung. Beberapa teman sekelas mereka hanya menatap mereka sekilas. Setelah itu kembali sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sudah biasa dengan keributan keempat gadis terkenal di 2MEI ini.

Dan Aira―gadis cantik beriris hazel itu―hanya mendelik sebal. Ia memalingkan muka keluar jendela kelas. "Kalian itu―"

Suara Aira tercekat. Matanya melebar. Ginan, anak laki-laki yang dimentorinya di MOS kemarin, melintas di hadapannya. Posisinya yang berada tepat di samping jendela bisa dengan jelas melihat sosok yang hampir dua minggu ini tak dilihatnya.

"Sangat menarik!"

Tawa itu berhenti seketika. Ketiga pasang mata itu mengikuti arah pandangan Aira. Dan Ginan berhenti, berbincang sebentar dengan seseorang. Membuat Aira bisa lebih lama menatapnya.

"Tetap saja dia adik kelas. Biasa dan tak ada satu hal pun yang menarik darinya," malas Diar. Gadis yang berpenampilan paling mencolok tapi modis dan cantik itu memang paling pandai berkomentar.

Ginan yang merasa ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya, dengan gerakan cepat menoleh ke arah kelas di samping kanannya. Dan benar saja, keempat kakak kelasnya itu tengah menatapnya. Terlanjur saling tatap, laki-laki pemilik bibir tipis merah itu tersenyum dan mengangguk.

"Tak ada yang menarik kecuali―" Bella berdesis pelan.

Aira mengangguk pelan dan juga melemparkan senyum terbaiknya.

"Senyumnya." Bella ikut membalas senyuman itu.

Dan Aira masih tersenyum saja meski adik kelasnya itu sudah menghilang dari hadapannya. Tapi sungguh bayangnya melekat di pelupuk mata indahnya. Baiklah, sepertinya Ginan, si anak laki-laki biasa itu sudah menarik perhatiannya. Menarik hatinya juga.

-o0o-

"Keempat cewek itu menyebalkannya setingkat Raja Fir'aun! Sok berkuasa. Merasa paling cantik, padahal dibandingkan sama Selena Gomes dan Ashley Olsen, mereka tuh jauh banget! Terus, otak belum seencer Issac Newton aja udah sok pintar."

Sesekali Aya hanya tertawa kecil mendengar cerocosan teman-teman sekelasnya tentang anak-anak geng The Perfect Girls. Geng beranggotakan empat orang gadis paling cantik di SMA 2MEI ini. Gadis-gadis yang tadi dengan asyik membicarakan Ginan. Gadis-gadis yang tentu menjadi rebutan golongan Adam. Jelas saja, keempat gadis itu, selain cantik dan kaya, mereka juga pintar dan berprestasi di sekolah.
 
"Huh, mereka fikir, mereka tuh udah kayak Daniel Radcliffe dan Mark Zuckerberg yang udah dapat gelar remaja terkaya karena hasil kerja keras mereka sendiri, apa? Baru bisa pake harta ortu aja sombongnya amit-amit jabang bibeh!"

Bagi Aya, gadis-gadis itu memang perfect. Sesuai dengan nama geng mereka. Aira, Diar, Bella dan Ressi. Itulah nama-nama anggota geng The Perfect Girls yang baru Aya tahu dari teman-temannya. Ia pasti mengagumi kakak-kakak kelasnya itu, seandainya saja mereka tidak memiliki watak pongah, suka pamer, sok berkuasa dan merasa paling. Mungkin Aya juga ingin seperti mereka.

Apa yang tak Aya miliki? Ia juga tak kalah cantik. Ia juga termasuk jajaran anak orang kaya. Otaknya cukup pintar. Di SMP-nya dulu ia selalu menjadi juara umum. Ia juga sering mengharumkan nama baik sekolah dengan tulisan-tulisan amazingnya. Ia bisa saja menjadi seperti The Perfect Girls, hanya saja untuk menjadi seperti itu ia harus berfikir berkali-kali lipat. Selain ia tidak suka menjadi pusat perhatian orang, ia juga takut Ginan, yang begitu mencintai hal-hal sederhana, membencinya hanya karena segala hal yang hampir membuatnya dekat dengan kata perfect itu ia tonjolkan.

"Ish, udah sehat kamu, Nan?"

Mata Aya langsung saja beralih. Ah, baru saja laki-laki itu mampir difikirannya. Ia beranjak dari tempatnya, meninggalkan teman-teman perempuannya yang masih asyik membicarakan kakak-kakak kelasnya. Ia berjalan menghampiri Ginan dan duduk di samping Isha.

"Hei, Ya!" sapa Ginan.

Aya tersenyum. Menatap Ginan dengan rinci. "Udah sehat, nih?"

Ginan mengangguk, mengiyakan. "Rame sekali!" Ginan mengamati keadaan kelasnya yang baru sebulan ini ia tempati, dan selama dua minggu ini juga ia tinggalkan. Sebelumnya kelas tidak seramai ini.

"Iyalah, ternyata si Ern tuh bigos kelas kakap loh, Nan. Biang gosip yang hobi bikin nih kelas kayak pasar!" Isha menatap Ern yang masih asyik aja ngerumpi bersama beberapa teman sekelas lainnya. "Dan sia Aya, nih!" sambungnya menatap Aya yang duduk di sampingnya. "Ketularan Bigosnya. Ia jadi sering ikutan ngerumpi juga."

Aya mengernyit. Menatap Isha tajam.

"Iya, Ya, jangan kebanyakan ngomongin orang. Gak baik," timpal Erru yang entah sejak kapan beralih profesi, dari suka baca buku fisika dan buku pelajaran lainnya menjadi membaca komik seperti sekarang ini.
"Ikh, nggak, Erru! Aku gak ikut ngomongin juga. Orang aku cuma dengerin doang!" sengit Aya membela diri sendiri.

"Dosanya sama aja, tukang gosip!" gemas Isha menyentil kening Aya. Dan ia tertawa melihat ekspresi kesal Aya.

"Nan, Ishanya nih," lapor Aya menatap Ginan yang sudah sibuk dengan buku tulisnya.

Ginan mengangkat kepalanya dan balas menatap Aya yang sudah memasang wajah-minta-pembelaan-itu dengan geli. Ah, iya gadis yang juga hobi menonton film―satu hal yang bisa membuat ia nyambung dengan Isha yang juga suka dengan dunia perfilman―itu bisa berubah menjadi manja saat ia berada dalam posisi terpojok seperti saat ini.

"Ngadu, dia!" Isha tertawa.

"Udah dong, Sha! Diusili terus Ayanya." Ginan mengalihkan bola mata cokelatnya pada Isha yang langsung diam. Ia paling tidak bisa melawan perintah sahabat pendiamnya itu.

"Kamu juga, Ya, kepo sih boleh, asal keponya sama yang baik-baik aja. Jangan kepo sama keburukan orang lain, ya?"

Lembut sekali nasihat Ginan yang bertepi di telinganya. Membuat syaraf otaknya memerintahkannya untuk langsung mengangguk tanpa harus mendumel seperti mendapatkan nasihat dari Erru dan Isha.

Laki-laki yang baru kemarin dijatuhkan vonis positif sebagai penderita penyakit berbahaya itu hanya bisa tersenyum melihat mata jenaka Aya yang menatapnya dengan begitu lembut.

Dan Erru menatap Ginan dengan rinci. Tak pernah ia fikirkan sebelumnya, ia akan dianugerahkan sahabat seperti Ginan. Terlihat begitu sempurna di balik kesederhanaannya.

TBC

1 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea