Minggu, 07 Juli 2013

So Sick (Jilid4-Where Are You Now)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.11



Entah apa yang membuat langkah berat itu terasa begitu ringan. Mungkin karena buaian angin malam yang membuatnya seperti terbang dan melayang. Atau karena atmosfer-atmosfer kebahagiaan yang menyebar di setiap ruang jiwanya. Membuatnya merasa begitu ringan, begitu menenangkan dan begitu membahagiakan.

Laki-laki dengan style harajuku itu berjalan menuju pintu berwarna cokelat gelap, setelah sebelumnya melewati gerbang tinggi yang tidak biasanya terbuka dan tidak terkunci. Laki-laki berkulit pucat itu tidak henti-hentinya menyunggingkan salah satu senyuman terbaiknya.

“Permisi ....” Ia mengetuk pelan pintu berwarna cokelat itu saat tubuhnya sempurna berdiri di baliknya. Tulang jari-jemari itu beradu dengan pintu, menghasilkan irama ketukan yang mengusik para penghuni si pemilik pintu rumah itu.

Tidak membutuhkan waktu satu menit untuk pemuda itu menunggu. Pintu terbuka dan seorang wanita setengah baya berdiri di hadapannya. Wanita itu langsung saja tersenyum simpul begitu melihatnya.

“Cakka? Ya ampun, apa kabar?” tanya wanita itu lebih dari ramah. “Lama gak ke sini, kamu jadi kurusan gini ya? Padahal, terakhir kali tante lihat kamu, badan kamu masih berisi deh.”

Laki-laki yang baru saja dipanggil Cakka itu hanya tersenyum mendengar komentar tentang dirinya. Ia meraih tangan wanita itu dan mengecupnya lembut. “Aku baik, tan. Iya nih, diet aku berhasil. Shilla kan dulu paling rewel nyuruh aku diet. Hehe...” jelas Cakka nyengir. “Tante apa kabar?” lanjutnya bertanya.

“Tante baik banget. Masuk dulu, yuk!”

“Gak usah, tante. Cakka cuma mau ketemu Shilla. Dianya ada gak?”

“Yah, baru aja satu jam yang lalu dia keluar.”

“Keluar ke mana?” tanya Cakka lagi. Raut wajahnya melukiskan kekecewaan. Padahal ia begitu bersemangat bertemu gadis yang paling dirindukannya itu.

“Tante gak tahu, sih. Tapi dia janji gak akan pergi lama-lama. Jadi, tunggu aja di dalam!” Wanita itu segera merangkul Cakka. Mengajaknya masuk ke dalam rumah. Cakka pasrah saja. Ia tidak ingin menolak lagi ajakan wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri itu. Setidaknya ia harus menanti harapan untuk membiarkan bola matanya menangkap wajah Shilla.

*

Jalanan lenggang. Rintik hujan membasahi aspal-aspal yang terlewati sedan silver itu. Iseng saja ia membuka kaca jendela mobil. Mengulurkan tangannya. Mencoba menangkap si air hujan yang menghantam telapak tangannya. Tak tertangkap juga. Justru hanya dingin yang terasa menelusup hingga membuat jari-jemarinya kaku. Tapi ia tetap mencoretkan guratan senyum terbaiknya.

“Makasih ya, Yel. Lo selalu bisa buat gue bahagia,” ujarnya masih membiarkan tangannya berkibar di luar jendela sana. Rasa dingin tak lantas membuatnya menghentikan aksinya. Dulu ia selalu merasa menjadi gadis paling malang setiap kali hujan turun. Seolah ia adalah bidadari dari langit yang turun bersama tetesan air hujan itu, dan tidak bisa kembali. Tak bisa merasakan keindahan dan kebahagiaan lagi. Tapi baru saja pemuda yang saat ini duduk di sampingnya itu, telah menunjukan padanya kalau hujan adalah hal yang paling bisa membuatnya melukiskan jutaan kebahagiaan.

“Harusnya gue yang terima kasih sama lo, Shil. Karena lo udah mau membuka hati lo buat gue.” Iyel sengaja menginjak rem mobilnya. Kemudian meraih tangan Shilla yang masih melayang-layang di luar jendela. Ia menggenggam tangan itu erat.

Shilla terhenyek sejenak. Ia merasakan kehangatan saat tangan Iyel yang masih menyimpan suhu normal, menyentuh tangannya yang sedari tadi ia biarkan bermain-main dengan air hujan. “Perjuangan dan kesungguhan lo yang udah jadi kunci pintu hati gue.”

“Percaya sama gue kalau lo cewek pertama yang udah buat gue tahu jatuh cinta itu kayak apa. Lo cewek pertama yang gue sentuh kayak gini. Gue sayang lo. Apa pun yang terjadi, gue akan selalu jagain lo.”

Shilla tersenyum, sejurus kemudian menjatuhkan dirinya dalam dekapan Iyel. Tak pernah ia berfikir kalau ternyata Iyel mampu menggeser nama Cakka dalam hatinya. Meski ia masih ragu, apa nama itu masih ada atau sudah benar-benar beranjak dari dalam sanubarinya.

*

“Cakka permisi aja, tante. Udah malam juga. Lagian, Cakka udah janji sama Kak Zeva buat pulang lebih cepat. Titip salam aja buat Shilla.” Cakka berdiri dari duduknya.

“Ya udah, entar tante sampein salamnya. Hati-hati di jalan ya!”

Cakka mengangguk, kembali mencium tangan wanita itu dan segera berlalu meninggalkan rumah. Berjalan menuju gerbang rumah itu. Pantas saja gerbang tinggi itu tidak dikunci. Rupanya ada penghuni rumah yang tidak ada. Shilla pergi, dan ia tidak tahu ke mana. Perasaannya tiba-tiba saja dililit kabut-kabut kekecewaan. Selama ini Shilla tidak pernah keluar malam. Ah, tapi itu dua tahun yang lalu. Ia tahu kalau Shilla sudah berubah menjadi gadis yang lebih dewasa.

Baru saja ia menutup gerbang itu saat sebuah sedan berhenti tepat di hadapannya. Ia tidak bergerak sama sekali meski air hujan mulai membasahi tubuhnya. Ia yakin gadis yang ada di dalam sana itu Shilla. Ia tersenyum, tapi senyumnya pudar saat ia melihat di balik kaca mobil yang terbuka, Shilla memeluk laki-laki di sampingnya sebelum ia benar-benar keluar mobil.

“Hati-hati!” Shilla melambaikan tangannya begitu mobil itu melaju meninggalkannya. Ia membalikan badannya dan ia baru menyadari ada seseorang dengan jarak beberapa meter saja berdiri di hadapannya. Ia mendekat ke arah laki-laki itu. Entah untuk alasan apa, detakan jantungnya berpacu dengan begitu cepat saat ia yakin siapa orang yang berdiri di hadapannya itu.

“Shilla ....” panggil laki-laki itu begitu Shilla berdiri di dekatnya.

“Cakka?” Langsung saja Shilla memeluk erat tubuh itu. Seerat air hujan memeluk mereka. Rasa rindu itu buncah. Air matanya menderas, lebih deras dari air hujan. Tapi tak lama setelah itu ia kembali melepaskan pelukannya. Ia menatap tajam mata Cakka. Ia tidak boleh seperti ini. Cakka menatap mata Shilla lebih sayu. Ia sadar kesalahan apa yang membuat gadisnya seperti itu.

“Pulang, dan jangan temui aku lagi! Rasa benci ini sudah lebih besar dari rasa rinduku, Kka. Jangan rusak kebahagiaan yang baru saja aku rasain!” Shilla berlari meninggalkan Cakka yang tetap mematung di tempatnya. Ia tidak mencoba mengejar, karena apa yang baru saja Shilla katakan sudah berhasil memaku dirinya.

Shilla berlari menuju kamarnya. Tak mempedulikan teriakan ibunya yang heran dengan sikap anaknya itu. Perlahan Cakka beringsut meninggalkan rumah Shilla. Dengan rasa sakit yang tidak bisa tergambarkan dalam relung hatinya. Sakit karena kesalahannya telah membuat gadis yang paling dicintainya itu menutup seluruh pintu hati untuknya. Kata-kata Shilla seperti polusi yang sesaat saja membuat nafasnya hilang.

*

Kenapa kamu harus pulang di saat aku sudah menemukan kebahagiaanku yang telah kamu bawa pergi?

Shilla mengempaskan tubuhnya di bawah tempat tidur. Bajunya masih basah, sebasah hatinya yang baru saja terbanjiri air mata kekecewaan. Ia dingin, sedingin jiwanya yang baru saja terendam dalam es-es kepiluan. Ia merasa begitu sakit. Entah sakit untuk alasan yang mana. Yang pasti, kehadiran Cakka, orang yang paling dinantinya telah membuatnya gundah. Kegalauan itu kembali memenuhi hatinya.

Dengan tangan gemetar,  ia meraih apa saja yang bisa dijadikannya benaman. Sebuah Angry Birds berukuran besar, ia dekap dengan begitu kuat. Menangis sepuas hatinya hingga air matanya menyerap si Angry Bird merah itu. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa bersabar sedikit lagi saja untuk menunggu Cakka, orang yang paling dirindukannya, orang yang paling dicintainya. Kenapa ia harus terburu-buru membuka hatinya untuk laki-laki lain. Dan ia sudah terlanjur mencintai orang itu. Baru ia sadari kalau ternyata semua ini lebih menyakitkan dari penantian panjangnya selama ini. Karena tentu telah terjadi perang hebat dalam hatinya.

Taksi biru muda itu baru saja berhenti di depan rumahnya. Cakka membuka pintu taksi itu dan segera berlari ke dalam dengan cepat, secepat taksi itu  melaju meninggalkannya. Tak ia pedulikan tatapan heran Zeva dan Riko yang saat ini tengah asyik menonton di ruang tengah. Ia tetap saja berlari menuju kamarnya meski ia mendengar dengan jelas Zeva memanggil namanya berulang kali.

Dihempaskannya tubuhnya yang terasa dingin itu di atas tempat tidurnya. Ia remas kuat-kuat bed cover hijau yang membungkus seluruh tempat tidur itu, sekuat ia menggigit bibir bawahnya. Entah untuk menahan sakit bagian mana aksi yang tengah ia lakukan saat ini. yang pasti, nyeri di beberapa titik tubuhnya tidak senyeri bagian hatinya yang baru saja menerima kenyataan paling menyakitkan.

“Kamu tidak apa-apa?”

Pertanyaan yang sama yang dilontarkan oleh orang-orang di luar kamar mereka—Cakka dan Shilla—diiringi ketukan pintu.

“Sangat sakit!” hanya jawaban dalam hati masing-masing si pemilik kamar itu yang mereka lontarkan. Tanpa suara, hingga tidak ada yang tahu sakit yang mereka rasakan itu separah apa.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea