Minggu, 07 Juli 2013

Until In Here (Jilid5-Where Are You Now)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.12


Rasanya ruangan ini seperti dipenuhi oleh salju. Dingin hingga beberapa derajat. Aku menggiìl hebat meski selimut tebal sudah membalut hampir seluruh tubuhku. Mataku perih, dan aku bisa merasakan sensasi panas di tiap hela nafasku. Kepalaku pusing dan berat sekali.

Sudah sejak subuh tadi rasa dingin itu menyerangku tanpa belas kasih. Betapa aku benci tubuh ringkihku ini, yang hanya terkena air hujan saja, tersiksa hingga membuatku nyaris seperti akan mati.

"Kita harus ke Rumah Sakit, Kka. Panasnya gak turun-turun juga." Suara Kak Zeva. Nadanya begitu cemas.

Aku tak merespon apa pun. Rasa dingin itu membuat suaraku tercekat di tenggorokan. Sudah sejak subuh juga Kak Zeva kerepotan mengompres tubuh panasku yang sampai sekarang tak juga reda.
Aku kembali memejamkan mataku lebih rapat. Dingin itu kali ini membuat aku kesulitan bernafas. Dingin itu menusuk-nusuk dadaku hingga sesak. Aku tidak tahan lagi dengan serangan dingin ini.

Hingga akhirnya...

"Ayo, Kka!" Kak Zeva mengangkat tubuhku guna bersandar di kepala tempat tidur. Ia menyambar baju hangat yang tersampir di kursi belajarku, lantas memakaikannya ke tubuhku.

Dingin itu semakin bersikap anarkis. Bibir pucatku bergetar hebat.

Dengan susah payah, kakak tunggalku itu memapahku keluar kamar. Kakiku lemas tak main-main. Dan dadaku semakin terasa sesak. Aku kehilangan oksigen terlebih saat rasa nyeri tiba-tiba menusuk sisi perut kiriku. Sakit. Sakit. Sakit sekali. Repleks tanganku yang bebas dari cengkraman Kak Zeva, meremas bagian tubuhku yang sakit. Sakit ini, baru pertama kali kurasakan.

"Cakka!" pekik Kak Zeva.

Kakiku tak bisa lagi menompang tubuhku. Kusandarkan punggungku di dinding yang terasa seperti balok es. Sakit itu semakin menjadi-jadi saja. Aku benar-benar kehilangan udara. Aku tak bisa bernafas.

"Cakka! Bertahanlah! Kita harus ke Rumah Sakit."

Tapi aku tak kuat lagi berdiri, apa lagi berjalan.

"Ayo, Kka!" paksa Kak Zeva mencoba membangunkanku kembali. Aku tetap bertahan pada posisiku. Tak mampu bergerak lagi. Sakit itu memaku tubuhku. Sakit itu membuat seluruh syaraf tubuhku melemas.

"Kka," lirih Kak Zeva.

Maaf Kak, bukan Cakka  gak mau berusaha. Tapi perut Cakka sakit. Sakit sekali.

"Sampai pintu depan, Kka! Berjalan sedikit lagi saja."

Rasanya aku ingin pingsan. Semuanya berputar dengan begitu cepat.

"Tunggu sebentar! Kakak telpon Kak Riko dulu."

Entah keadaan di sekelilingku yang memutariku, atau aku yang berputar seperti  gangsing di sini?. Aku tidak kuat lagi. Ini sakit yang paling sakit dari yang pernah aku rasakan. Perutku mual dan sesaat saja, cairan merah kental nan amis meronta keluar dari dalam perutku. Muntah darah?. Aku panik, tapi tak ada tenaga untuk menunjukan rasa panikku. Seluruh tenagaku direbut paksa oleh rasa sakit itu. Dan akhirnya, hanya gelap yang kutemui.

Dalam gelap itu, semuanya hilang. Sakit itu, perih itu, dingin itu. Semuanya sirna dan hanya tenang yang kurasa. Hingga wujud yang selama ini kurindukan, tergambar jelas di pelupuk mataku.

Shilla!

Gadis yang semalam tidak berhenti berkeliaran dalam benakku. Gadis yang tiada lelah menemani tiap derai nafasku. Gadis yang telah mengguratkan luka yang begitu dalam dalam sanubari ini. Gadis yang kemarin malam menampik kasar kehadiranku.

Dalam gelap itu, dalam hening itu, kini hanya putus asa yang merajai. Tak ada lagi asa seperti dulu. Semuanya hanya sampai di sini. Aku menyerah...

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea