Minggu, 07 Juli 2013

You Smile (Jilid3-Where Are You Now)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.09




Aku masih tetap pada posisiku selama kurang lebih satu jam ini. menatap kerlipan benda-benda mungil di angkasa sana. Rasa dingin dari genteng rumah yang saat ini kududuki, terasa menelusup telapak tangan kiriku yang menempel di baliknya. Kuputar-putar ponselku asal. Benda mungil itu yang paling sering menemaniku selama ini. selama kamu pergi dari sisiku. Berharap ada satu saja pesan masuk dari dirimu.

Ah, bahkan kamu tidak tahu seberapa banyaknya air mata kerinduan yang membasahi ruang dalam paru-paruku. Kamu tidak tahu pernah tahu seberapa pegalnya hati ini menunggumu kembali. Pantas kamu masih tersenyum saja, karena jelas kamu tidak pernah tahu apa yang aku rasa saat ini. Dua tahun ini.

“Di mana sih, kamu sekarang?” tanyaku lirih pada gambar dirimu yang terus saja tersenyum mendengar pertanyaanku itu. Tak berniatkan sedikit pun kah kau menjawabnya? Kutermenung panjang.

Sesaat aku terperangah saat kurasakan ponselku bergetar. “Gabriel Calling”. Aku mendesah. Rupanya laki-laki ini belum mau menyerah juga. Padahal sudah dari berulang kali kuacuhkan dirinya.

Sebenarnya Gabriel terlalu sempurna untuk mendapat  tampikan kasar dariku, atau mungkin dari cewek-cewek yang lebih dariku sekalipun. Ia pintar, baik, famous, kebanggaan guru-guru, tampan pula. Tak ada alasan untuk cewek mana pun untuk menolak kehadirannya. Hanya orang bodoh semacam aku yang berani menepis kasar keberadaannya. Semuanya hanya karena senyumanmu lebih sempurna dari apa pun. Tapi di mana kamu sekarang? Di mana senyuman nyata itu? Aku rindu melihat kamu tersenyum.

Move on, Shil! Banyak orang yang lebih dari Cakka yang sayang dan care sama lo. Gak perlu lo harapkan Cakka kembali. Gak ada satu pun kabar darinya tuh udah ngebuktiin kalau dia gak sayang lagi sama lo.”

Kata-kata Ify tiba-tiba terngiang dalam benakku. Apa benar aku harus move on? Sejujurnya aku mampu untuk bertahan menunggumu hingga waktu yang tidak ditetapkan pun. Tapi aku tidak pernah mampu melihat Ify, sahabat karibku begitu lelah menghadapiku. Ia nyaris menyerah untuk merobohkan tembok pertahananku yang teramat kokoh untuk menjaga aman namamu. Tapi aku memang benar-benar harus move on. Bukan untuk men-delete namamu, tapi untuk menyimpannya dalam-dalam. Mungkin nama itu akan menghilang dengan sendirinya. Aku mampu, tapi aku lelah....

Aku menarik nafas dalam-dalam. Kutekan tombol hijau. Suara Iyel terdengar mengusik gendang telingaku.

“Hallo, Shil!” sapanya.

“Iya, Yel?” responku lebih halus, lebih ramah. Kasihan laki-laki tampan itu harus mendapat respon buruk setiap kali ia menghubungiku beberapa hari ke belakang.

Iyel diam sejenak. Mungkin ia aneh dengan sikapku hari ini. Aku ikut diam, menunggunya berbicara.

“Shil, sekali saja, Gue mau ngajak lo jalan. Setelah itu, terserah sama lo. Lo mau nolak gue, atau apa. Yang pasti, gue gak akan gangguin lo lagi. Tapi bukan berarti gue berhenti suka sama lo. Bukan berarti gue berhenti berjuang buat dapetin lo.”

Aku menarik nafas panjang sebelum merespon ajakannya. Lantas aku berkata, “Baiklah.”

Aku tahu Iyel bersorak riang di sana. Aku langsung mendengar suara aneh di balik telepon. Ia mengucapkan terima kasih sebelum benar-benar menutup teleponnya. Aku tersenyum tipis mendengar suaranya yang begitu semangat. Baru Iyel yang bisa membuatku tersenyum selama dua tahun ini. Tidak ada laki-laki yang mampu menciptakannya sebelumnya.

Dan aku kembali tertegun. Kutatap lekat-lekat sekali lagi gambar dirimu sebelum akhirnya kubiarkan jari-jemariku yang dihiasi kuku-kuku cantik ini, mengotak-ngatik ponselku. Menghapus gambar-gambar dirimu. Kuganti wallpaper ponselku dengan gambar diriku dan Ify yang tengah tersenyum ceria. Kamu memang bukan milikku yang sesungguhnya. Jadi, untuk apa aku berharap memiliki apa yang tak seharusnya menjadi milikku. Maafkan aku...

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea