Sabtu, 03 Agustus 2013

Perfect (Bab 3)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.35

Ginan menghempaskan tubuhnya di meja kantin paling pojok, tepat di samping Aya, di hadapan Isha yang tampak asyik menyelesaikan level akhir game Ultra Sonic Jumping-nya.

'Ayo, sedikit lagi! Mati, lo mati! Haha... rasain musuh bodoh! Kena tembakan gue, kan?'

Disela ramainya suara Isha, sepintas Ginan melirik Aya yang juga tengah sibuk dengan novel setebal Kamus Bahasa Inggris miliknya itu. Beginilah, jika mereka sudah nge-date dengan hobinya. kehadirannya pun tidak dipedulikan.

Tapi Ginan tidak merisaukan itu. Ia menyeruput sedikit teh kotaknya. Lantas membiarkan wajahnya tenggelam di balik lengannya yang ia sedekapkan di atas meja. Ia merasa sangat lelah. Sungguh ia tidak tahu kalau kawan barunya ini cukup pandai membuatnya gampang capek.

“Akh, sialan! Rajanya kuat amaat! Padahal dikit lagi...”

Itu pasti gerutuan Isha yang lagi-lagi gagal menyelesaikan last stage gamenya. Ia memasang wajah sebal sembari membanting pelan ponselnya di atas meja, repleks membuat Aya dan Ginan menoleh ke arahnya.

“Berhentilah mengagetkanku, gamer payah!” kesal Aya. Ia menatap Isha yang memilih menatap Ginan.

“Sejak kapan di sana, Nan?”

Kali ini titik fokus mata Aya beralih pada sosok di sampingnya. Mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran sahabat baiknya itu.

"Kalian terlalu fokus," ujar Ginan kembali menegakkan tubuhnya dan meminum teh kotaknya lagi.

"Jadi ikut ekskul volinya, Nan?" Aya menutup novel bercover sebuah lokasi di Negara Rusia itu dan mnulai terfokus pada laki-laki yang saat ini mengenakan jaket putih berpolet lavender itu. Jaket yang sama yang juga dimiliki Aya, Erru dan Isha. Jaket kelas yang kompak dibuat saat kelulusan SMP kemarin. Di belakang jaket itu ada nama-nama aneh teman-teman SMP mereka.

Isha bisa melihat Ginan menggeleng lesu saat pertanyaan Aya terlontar. Membuat ia mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Kenapa, Nan? Bukannya niat banget ya, kamu masuk tim voli sekolah?" tanya Isha heran.

Ginan memang cukup berbakat di bidang olahraga yang satu itu. Dulu di SMP, Ginan dengan permainan handalnya sering membawa tim voli sekolah menuju podium kemenangan. Jelas saja itu mencoretkan tatapan tidak mafhum kedua sahabatnya.

"Aku gabung sama anak-anak rohis."

"Rohis?" Mata Isha dan Aya sama-sama membulat. Tak percaya.

Memang sih, Ginan dan keluarganya termasuk jajaran orang yang cukup mengerti agama. Tapi―

"Aku mau belajar ilmu agama lebih dalam lagi." Nada suara Ginan terdengar penuh dengan keyakinan.
Ia menghabiskan sisa teh kotaknya.

Isha mengangguk-nganggukan kepala sok mengerti. Ia kembali asyik dengan handphone-nya. Main game lagi, dia!

"Langsung masuk aja, Nan?" tanya Aya. Gadis yang baru saja memutuskan untuk bergabung dengan anak-anak Creative Magazine, majalah sekolah itu, menatap Ginan lebih serius lagi.

Ginan mengangguk singkat.

"Gak pake tes-tes dulu, ya? Kayak di Creative Magazine,"

Ginan tertawa kecil. "Nggak, Ya. Siapa saja, mau yang ilmu agamanya pinter, mau pun yang kurang pinter, yang penting ada kemauan buat belajar, Rohis sekolah nerima dengan lapang," jawab Ginan.

"Enaknyaaa." Aya berdesis.

"Dikira Mie Ayam Mas Parso!" cibir Isha menekan tombol pause dan terkekeh geli melihat pupil mata Aya yang langsung mendelik sebal ke arahnya. Dasar, Isha! Senang sekali melihat sahabatnya yang paling cantik itu memasang ekspresi kesal.

"Eh, ada yang ngomong-ngomong Mas Parso, nih." Erru duduk di samping Isha yang sudah bergeser memberi tempat untuknya. "Gimana kabarnya ya Mie Ayam favorite kita itu?"

"Terakhir kita jajan itu sebelum UN. Udah lama banget, ya?" Aya mengingatkan.

"Pulang sekolah kita―"

"Ye... Isha mau nraktir nih kayaknya." Langsung saja Aya memotong ucapan Isha yang-sangat-ia-yakini akan mengajaknya mampir ke kedainya Mas Parso yang ada di ujung komplek perumahan tempat tinggal Ginan.

"Ikh, enak aja gak―"

"Setuju dong, Isha yang traktir? setuju ya, setuju?" sergah Aya cepat. Ia membolak-balik bola matanya ke arah Ginan dan Erru sembari mengangguk-nganggukan kepala, meminta persetujuan. Dalam ekspresi jenaka seperti itu Aya sungguh lucu. Membuat Erru repleks mengacak-ngacak poni Aya gemas.

"Setuju dong...," kata Erru.

Ginan mengangguk. Matanya terfokus pada tangan Erru yang masih nangkring di puncak kepala Aya. Dia tidak cukup berani menyentuh gadis yang ngaku ngefans berat sama orang-orang―yang menurutnya―ganteng yang ada di dunia ini itu.

Isha merenggut pasrah. Tapi, apa yang tidak untuk sahabat-sahabatnya? Ia rela menghabiskan jatah seminggu uang jajannya. Ia rela jika harus berpuasa selama ia tidak punya uang. Yang penting ia bisa membuat ketiga orang yang paling berharga setelah ayahnya itu bahagia.

Selama beberapa saat Ginan tenggelam dalam alunan tawa lembut Aya sampai akhirnya, sudut matanya menangkap gerak-gerik tidak mengenakan di meja sebrang yang entah kenapa merambat hingga hatinya.
Laki-laki berjumlah 3 orang yang ia yakini kakak kelasnya itu, tengah berbisik-bisik sambil sesekali melirik tajam ke arahnya. Sebentar ia menata dirinya, apa ada yang salah dengannya sampai mata-mata itu menyorotkan sinar―yang ia kira―penuh dengan kebencian.
"Kenapa, Nan?" tanya Erru yang rupanya lebih peka dengan sikap Ginan yang tiba-tiba saja menjadi aneh. Mata dengan garis yang teramat tipis itu beralih, mengikuti arah pandangan Ginan.

Aya dan Isha melakukan hal yang sama. Dan, kompaklah, lensa dengan warna berbeda-beda itu kini terpusat pada objek yang sama.

"Aku jadi gak niat masuk ekskul basket gara-gara lihat wajah-wajah mereka yang sok itu." Erru memutar kembali bola matanya.

"Mereka senior-senior basket, ya?" tanya Isha.

"Iya. Tadi pas mau daftar, aku liat mereka lagi nyerocosin anak-anak baru. Dari gaya bahasanya sih, tinggi banget. Udah gitu gak ada ramah-ramahnya. Aku jadi males masuk ekskul basket," terang Erru mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.

"Mereka kok natap kita kayak yang gak suka gitu, sih?" Aya baru mau menghindar dari tatapan pemuda-pemuda berpenampilan keren tapi jutek itu.

Ginan memilih untuk menundukan kepala. Entah kenapa tatapan-tatapan menikam yang hampir sepenuhnya terlontar untuknya itu membuat dadanya sesak. Ia merasa berada di zona yang tidak aman.

"Udahlah, gak usah difikirin juga. Yang penting entar pulang sekolah kita go to Mas Parso...!" semangat Isha yang merasa keadaan mulai membeku.

"Traktirnya jadi, dong!" Aya ngingetin.

"Asal Aya mau jadi pacarnya Isha," celetuk Isha spontan membuat mata Ginan dan Erru beralih padanya. Mata Aya yang paling lebar menatapnya.

"Becanda kali, Ya," sahutnya cepat-cepat. Ngeri melihat tatapan Aya yang galak seperti itu.

Aya mendengus.

"Tapi kalau Aya nanggepin serius juga gak apa-apa. Haha..."

Bukk!

Auw!

Ginan dan Erru tertawa renyah melihat Isha meringis sembari mengelus kepalanya karena baru saja novel tebal Aya mampir di kepalanya.

-o0o-

'Ginan pulang sama Erru. Papa gak usah jemput.'

Baru saja Ginan menekan tombol 'send' di ponsel Sony Ericsson mungilnya saat seseorang duduk di sampingnya. Ginan bisa merasakan hawa asing dari orang itu. Bukan salah satu dari sahabatnya
.
"Hai, Ginan!" Seseorang menyapanya kompakan saat ponselnya bergetar. Sebelum melirik si pemilik suara, Ginan menyempatkan untuk melirik si hitam mungilnya.

'Message delivered to Papa'

Ia menekan tombol OK dan mulai menatap sesorang yang saat ini duduk di sampingnya. "Hai!" Ginan balas menyapa. Ia kenal gadis itu.
"Inget sama aku? Tepatnya, kenal sama aku gak?" tanya gadis itu tersenyum. Senyumnya melebihi batas manis.

Ginan balas tersenyum. Tapi senyumnya terkesan geli. "Harusnya aku kali yang nanya gitu. Kakak kenal aku?"

Gadis itu tertawa lembut. "Kenal dong. Aku tuh inget banget kalau kamu itu pernah―"

"Ngerepotin mentor kelompok 7 gara-gara pingsan di hari terakhir MOS?" tebak Ginan memotong kata-kata kakak kelasnya yang cantiknya luar biasa itu.

"Ahaha... nggak juga. Walaupun bagian itu emang yang paling aku inget, sih. Dikira, di drama aja ada cowok pingsan." Gadis yang digilai cowok-cowok sesekolahan itu tertawa lagi.

Ginan mengernyit. Aneh. Kenapa teman-teman perempuan sekelasnya―termasuk Aya di dalamnya―banyak yang bilang tidak suka pada gadis bernama Aira yang saat ini duduk di sampingnya.

"Lagi apa, Nan?" tanyanya lagi. Mata hazelnya beradu dengan iris cokelat milik Ginan. Dan ia merasa, jantungnya akan meletup jika dalam beberapa detik lagi saja matanya belum ia alihkan.

"Nunggu temen, Kak," jawab Ginan. Ia menantang Aira dengan tatapan kalemnya. Berapa lama gadis itu berani bertatap-tatapan seperti ini.

"Pulang bareng aku aja, yuk! Naik mobil mewah loh. kenyamanan kamu aku jamin deh!"

Ginan menaikan salah satu alis tebalnya. Senyumnya kecut kali ini. Satu poin yang kali ini bisa menjawab pertanyaan yang ia fikirkan tadi, tentang kenapa banyak yang tidak suka dengan gadis cantik yang saat ini sudah kalah telak tak mau menatapnya lagi.

"Nan? Mau, ya?"

"Eh?"

"Ginan!" Aya berdiri di samping Ginan. "Kamu ini, kita nungguin kamu di parkiran tahu." Gadis itu berkacak pinggang. Raut wajah kesalnya muncul. Bukan karena Ginan yang sudah membuatnya menunggu hingga karatan, tapi Gadis dengan pakain super ketat dan seksi di samping Ginanlah yang membuat ekspresi yang biasanya tergurat saat diusili oleh Isha itu, muncul.

Ginan memilih untuk tidak merespon gerutuan Aya. Ia melihat ada laser yang terpancar dari bola mata Aya, lurus menusuk pupil Aira. Tatapan kedua gadis di antaranya sama-sama sinis dan tidak bersahabat.

"Ginan mau pulang bareng sama gue tahu!" Aira langsung saja menarik tangan Ginan untuk lebih merapat ke arahnya. Lengan laki-laki yang saat ini berada dalam posisi tidak nyaman itu diapit oleh Aira.

"Eh? Ng―"

"Apaan, sih Ginan? Katanya mau mampir dulu di kedainya Mas Parso. Tapi kok malah..." Aya sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Aira geram, kemudian tatapannya berubah menjadi sedih ketika beralih pada Ginan.
"Y-ya udah. Kita pergi bertiga aja." Aya berbalik dan berlari meninggalkan Ginan dan Aira. Ada nada kecewa dan sedih di balik suaranya.

"Ya! Aya!" Ginan menoleh ke arah Aira yang masih mengapit lengannya. "Maaf, Kak, tapi aku udah lebih dulu janji mau pergi bareng sama sahabat-sahabatku. Jadi, tolong lepaskan aku!" pinta Ginan.

Ternyata, tidak hanya sama Isha dan sahabat-sahabatnya saja, ya, mantra menurut milik Ginan itu ampuh? Aira yang notabennya tidak suka diperintah, meski sedikit kecewa, ia melepaskan cengkraman tangannya. Membiarkan Ginan pergi dan menyusul sahabat perempuannya itu.

Ayolah, Aira. Kamu harus lebih bersabar! Rupanya Ginan itu bukan makhluk biasa yang dengan senang hati didekati olehmu. Harus ada pendekatan yang lebih lagi.

Aira menghentakan kakinya kesal. Lantas berjalan menuju Honda Jazz-nya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya sekarang. Pak Jul, sopir pribadi keluarganya, hanya mengangguk cepat saat lagi-lagi majikannya itu memerintahnya untuk segera melajukan mobil mewah itu. Tentu dengan nada tinggi yang tidak enak didengar.

-o0o-

"Dasar Aira! Sejak kapan dia menjelma menjadi gadis bodoh seperti itu?" Diar yang saat itu berada di lantai dua sekolah bersama kedua sahabat lainnya dan tiga orang laki-laki, berdesis tak percaya. Ia menatap body mobil Aira yang sudah menghilang di balik gerbang sekolah.

"Mana boleh dia tertarik sama si Ginan yang cupu itu? Jelas gue lebih segalanya dari tuh bocah! Kelilipan apa sih, si Aira itu." Laki-laki dengan potongan rambut cepak itu berujar sinis.

"Hah, gue yakin tuh bocah bakal besar kepala karena disukai gadis paling cantik di 2MEI ini." Seolah gak ingin ketinggalan berkomentar, Ressi melontarkan kata-katanya yang langsung disahut dengan anggukan setuju oleh Diar, si laki-laki cepak bernama Chiko dan laki-laki bertubuh pendek bernama Niro.

"Setidaknya kepala dia tidak akan sebesar kepala kalian yang besarnya melebihi kepala Jimmy Neutron."

Repleks saja seluruh mata terarah kepada Laki-laki pewaris rupa George Lorenzo, si pembalap MotoGp, dengan versi rambut hitam dan mata cokelat tua yang saat ini bersandar di dinding kelas dengan tatapan datarnya.

Bella yang sedikit tidak setuju dengan ocehan teman-temannya yang lain mengenai Ginan, terkekeh pelan sembari mengangguk semangat, setuju dengan kata-kata pemuda dingin yang akrab dipanggil Dan itu.
"Lah? Lo malah mojokin kita sih, Dan," gerutu Diar tidak setuju.

"Iya nih anak satu emang bikin gedek tahu, gak?" timpal Niro.
 
"What ever lah... orang gue ngomong berdasarkan fakta yang ada." Dan menegakkan tubuhnya. Tangannya ia biarkan tenggelam dalam saku celananya, beberapa jurus kemudian berjalan santai meninggalkan orang-orang itu.

Wajah-wajah cantik dan tampan yang sering dipuja puji orang-orang sesekolahan itu selalu sukses dibuat cengo oleh pemuda dingin itu.

"Kalo bukan temen lo, gue makan juga tuh anak," kesal Diar.

Bella hanya tertawa pelan. "Gue pulang duluan juga, ya? Bye..." Ia meninggalkan tempatnya, melambaikan tangannya cepat dan berlari kecil.

"Selama ada si Ginan, kesempatan lo buat dapatin si Aira makin tipis, Ko."

Chiko melirik Niro. Membenarkan ucapan sahabat baiknya itu.

"Apalagi, sekarang tuh posisinya Aira yang suka tuh bocah," tambah Ressi. Membuat sumbu di hati Chiko tersulut.

Ini tidak boleh terjadi. Dia sudah mengejar Aira dari sejak kelas satu. Perjuangannya tidak boleh sia-sia hanya karena bocah simple semacam Ginan.

Posisinya untuk mendaparkan Aira sedang terancam kali ini.

-o0o-

Hanya ada hening di antara mereka. Tak ada yang berani memulai percakapan dari sejak mereka menunggu pesanan datang sampai mereka hampir menghabiskan mie ayam favorite mereka itu.

Erru dan Isha yang tidak tahu sebab akibat dan asal usul kenapa keheningan ini terjadi, hanya bisa ikut diam. Pasalnya yang ditanya juga hanya memberi jawaban unik. Diam, diam dan diam. Dalam kondisi seperti ini, mie ayam Mas Parso terasa berbeda. Seperti hambar tanpa rasa.

"Ini ada apa sih sebenarnya?" Erru melontarkan pertanyaan dengan maksud yang sama untuk kesekian kalinya. Ia meyeruput teh botolnya hingga tandas tak tersisa. Bibir tipisnya merah, panas karena baru saja ia memakan mie ayam ektra pedas.

Keadaan Isha tidak jauh beda dari Erru. Ah, ketiga sahabat Ginan ini memang penggila makanan pedas. Dan Aya yang paling Gila. Jika tidak dalam keadaan ngambek, dia pasti paling heboh niupin bibirnya yang terasa beberapa senti lebih tebal. Dia juga yang biasa minta jatah minum Ginan yang pada dasarnya anti dengan makanan pedas.

"Siapa saja yang mau jawab, traktirannya aku tambah deh," kata Erru lagi. Ia tidak suka berada dalam posisi seperti ini.

Sebenarnya Ginan mau saja menjelaskan. Tapi, ia sendiri tidak tahu kenapa Aya tiba-tiba bersikap seperti ini. Biasanya gadis itu akan bertanya panjang lebar meminta alasan yang sangat detail mengenai kesalahan sahabat-sahabatnya. Tapi, kali ini gadis itu bersikap egois dan tak mau tahu alasan yang Ginan jelaskan dari sejak di sekolah tadi.
"Ayolah... baik nggaknya manusia tuh dengan bahasa tahu gak? Diem kayak gini tuh gak bikin masalah jadi selesai." Erru mulai jengkel. Ah, iya. Sikap dewasa Erru pasti timbul dalam situasi seperti ini.

"Tadi aku..." Ginan yang semula fokus pada mie ayamnya, segera angkat suara. Ia juga tidak suka posisinya saat ini. Setidaknya mungkin salah satu dari sahabatnya bisa memberi pengertian pada Aya, kalau kejadian tadi itu hanya salah paham. Well, Ginan tidak mengerti kenapa sikap Aya tiba-tiba jadi kayak gini.

"Tadi apa?" Erru sudah seperti hakim yang tidak sabar mendengar penjelasan tersangka.

"Tadi aku―"

"Aku tuh gak suka kalau di antara kalian deket-deket sama anak-anak The Perfect Girls!" potong Aya cepat. Ia meletakan sendok dan garpu dengan agak keras hingga beberapa pengunjung lainnya menoleh sebentar ke arah mereka.

Isha mengangguk-nganggukkan kepala ke arah mereka. Mulutnya bergumam kecil meminta maaf. Yang melakukan kesalahan hanya memasang wajah tanpa dosa dan malah asyik memandang Ginan kesal.

"Ta-tapi kenapa, Ya?" Yang Ginan tahu, ekspresi Aya yang seperti ini itu menunjukan rasa cemburu dan takut. Ia kenal ekspresi seperti ini.

"Karena mereka lebih cantik dariku. Mereka lebih kaya dan lebih pintar juga dariku. Aku takut, kalau kalian dekat dengan mereka, kalian jadi berpaling dan melupakanku." Kali ini Aya menunduk dalam-dalam. Suaranya berada di tangga nada paling rendah, tapi ketiga sahabat laki-lakinya itu masih bisa mendengarnya.

"Ya ampun, Ya..." desah Ginan tak percaya. Ia mengusap wajahnya. Isha dan Erru hanya bisa tersenyum tipis mendengar alasan Aya. Sebegitu takutnya gadis itu kehilangan sahabat-sahabat tampannya.

"Ya, tadi tuh aku juga gak tahu kalau Ai―"

"Aku akan membayar semua ini asal berhentilah menyebut nama gadis cantik itu!" pinta Aira menatap Ginan penuh dengan nada memohon.

Erru dan Isha saling pandang. Lalu terkekeh. Bukan senang karena jatah uang saku mereka akan utuh, tapi keanehan Aya yang membuat mereka tidak bisa menahan kekehan mereka.

Ginan menghela nafas dan tersenyum heran. Ia sepakat dengan kedua teman sejenisnya kalau Aya benar-benar aneh!

Ah, laki-laki pendiam itu tidak pernah tahu kalau Aya menyimpan rasa cemburu sebesar milky way galaxy dalam hatinya setiap kali ia melihat laki-laki itu

dekat dengan gadis yang lebih cantik darinya. Dan Aira termasuk di dalamnya. Ia sungguh tidak suka nama gadis paling cantik, yang menurut gosip versi Ern, menyukai Ginan itu. Jadi wajar saja kalau Aya benar-benar marah saat Ginan menyebut nama itu, terlebih duduk dalam jarak yang begitu dekat dengan si gadis. Dan tadi ia melihatnya dengan begitu jelas.

----TBC-----

1 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea