Sabtu, 24 Agustus 2013

Perfect (Bab 4)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 03.42
Ginan menarik nafas lega saat Hadi menyelesaikan pembahasannya mengenai tugas pertama anak-anak Annahl, organisasi yang bergerak di bidang keagamaan di SMA 2Mei. Laki-laki berhidung over mancung, beralis tebal dan berkacamata persegi itu baru saja memberi tugas―yang menurut Ginan―unik. Ginan cukup tertarik melaksanakan tugas yang sepertinya gampang, padahal-pasti-cukup-sulit itu.

"Kholas (cukup)! Aku yakin kalian mengerti tugas kalian di pertemuan kedua ini. Selamat mengerjakan, dan semoga selalu diberi kemudahan dalam segala urusan. Pertemuan ini saya tutup. Wassalamu'alaikum."

Kasak-kusuk langsung saja terdengar seperti sekawanan lebah yang terganggu saat yang ketua Annahl yang sebentar lagi melepas jabatannya itu berlalu meninggalkan ruangan. Ruangan paling barat dekat dengan masjid Sekolah. Ukurannya cukup luas, nyaman dengan nuansa hijau yang menenangkan. Di dinding itu banyak ditempeli kata-kata mutiara yang bermakna mengingatkan, menyemangati dan lainnya. Ada satu kalimat yang jadi favorite Ginan.

"By learning to obey we know to command. Dengan belajar mematuhi perintah, kita akan tahu cara memerintah"

Ginan belajar satu hal dari kata-kata itu. Jika ingin mendapatkan kalimat pasif dalam hidup, maka harus melakukan kalimat aktif terlebih dahulu.

Untuk mendapatkan rasa disayangi, maka harus menyayangi terlebih dahulu. Ingin dihormati, maka harus menghormati lebih dulu.

Dan kali ini laki-laki yang menyukai kata-kata itu sedang sibuk membereskan alat-alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam ransel, saat iris cokelatnya kembali menangkap kardus kecil yang sejak tadi pagi masih betah di dalamn ranselnya. Ia menghela nafas panjang dan tertegun cukup lama.

Ada banyak hal yang ia alami di dua minggu terakhir ini. Dan ia cukup risih dengan hal-hal itu. Ia tidak suka berada dalam sorotan publik, terutama dalam hal yang menurutnya negatif, seperti yang dialaminya kali ini.
Aira, kakak kelasnua yang paling cantik itu acap kali mendekatinya. Menarik ia ke tengah-tengah publik. Banyak gosip yang beredar tentang ia dan Aira. Hampir seluruh 2Mei tahu gosip kedekatan itu. Selain risih karena ia tidak suka timbul di tengah-tengah kerumunan orang, ia juga risih dengan sikap anak-anak―terutama kakak kelas golongan Adam―yang jadi sering menatapnya sinis.

Ginan ingat, sabtu kemarin, saat ia baru saja memasuki kelasnya, teman-temannya tiba-tiba ramai-ramai menyorakinya. Kira-kira seperti ini.

"Ciee... ada yang lagi seneng nih kayaknya. Ditaksir bidadari paling cantik di 2Mei ini, sih."
"Ginan pake pelet apa sih, sampe dikejar-kejar sama cewek yang jadi rebutan cowok-cowok itu?!"

"Cantik-cantik mata kak Aira katarak, ya? Masa jatuh cinta sama cowok model Ginan."

Ginan hanya bisa merespon semua cibiran itu dengan diam. Ia tidak ingin membuat keadaan menjadi semakin keruh jika ia membalas tuduhan-tuduhan menyakitkan itu. Beruntung tidak ada Erru, Isha dan Aya saat itu. Ia tidak yakin kelas akan kemnbali normal jika emosi ketiga sahabatnya itu tiba-tiba tersulut karena mendengar sahabat mereka dilempari tuduhan tidak beradab seperti itu.

Dan keadaan yang paling ruwet tentu tadi pagi saat salah satu teman sekelasnya tiba-tiba memberinya sebuah ponsel keluaran kanada, yang Ginan duga masih baru. Ponsel itu masih lengkap dengan kardusnya.Temannya bilang ponsel itu hadiah dari Aira untuknya. Ginan dibuat kikuk, ia sama sekali tidak membayangkan apa pendapat teman-temannya tentang semua ini.

"Nan, ayo pulang!"

Gerbang lamunan itu sontak tertutup setelah sebelumnya menarik Ginan kembali ke alam sadarnya. Laki-laki yang kali ini memilih mengenakan jaket biru langit itu menoleh ke arah pintu. Rehan, salah satu teman An-Nahl-nya tampak sedang memperhatikannya heran. "Ah, iya," katanya sambil berdiri dan menggendong ransel hitam berpolet kuning cerah itu dipunggungnya, lantas berjalan ke arah laki-laki yang berdiri di ambang pintu itu.

"Anak-anak cheers udah pulang belum, ya?" tanya Ginan saat tali sepatunya terikat sempurna. Ia berjalan beriringan bersama laki-laki kutu buku, berkacamata bulat tebal yang saat ini beda satu tingkat dengannya itu.

"Biasanya mereka pulang jam setengah lima, Nan. Kenapa? Mau nemuin Kak Aira, ya?"

"Eh?"

"Aku cuma ngasih tahu aja, Nan, pacaran sama Kak Aira itu harus hati-hati. Siap siaga, kuat mental, kuat fisik juga."

Ginan tidak merespon. Ia bukan pacarnya Aira, kok.

"Pas awal masuk SMA dulu, aku di-bully habis-habisan sama The Perfect Girls dan Chiko Cs gara-gara seluruh sekolah tahu aku suka Kak Aira. Kamu tahu? Betapa sampai saat ini aku benci anak-anak Creative Magazine! Mereka itu tidak lebih dari tukang gosip yang hobi mengumbar aib orang lain. Bayangkan saja! Mereka membuat berita tentang aku di setiap edisi." Rehan tiba-tiba curhat dengan lancarnya, selancar penyiar radio yang sedang asyik siaran. Ia bersemangat tapi sinar matanya redup. Tampak menjelajah kembali ke masa satu tahun silam. Masa di mana ia dijajah ketidakadilan hanya karena mencintai seseorang.

 Ginan hanya bisa menghela nafas pendek, turut prihatin dengan kisah masa lalu Rehan yang sepertinya membekaskan luka yang mendalam. Awalnya ia tidak percaya dengan isu kalau gadis-gadis cantik itu berbahaya, karena yang ia tahu Aira begitu baik dan manis untuk berbuat hal setercela itu. Tapi, mendengar cerita Rehan dan beberapa bukti yang ia temui beberapa bulan setelah masuk 2Mei ini, seperti ketika ia menemukan seorang anak perempuan kelas XI basah kuyup gara-gara disiram air pel, dan gadis malang itu bilang The Perfect Girls yang melakukannya. Ia juga pernah melihat tukang kebun sekolah yang keliling sekolah mencari bekal makannya yang diumpetin mereka. Dan banyak kejadian lainnya yang pernah Ginan tahu. Tapi secara langsung ia tidak pernah melihat komplotan gadis-gadis itu mengerjai orang lain.

Tiba-tiba saja, Ginan merasa kalau sekolah 2Mei ini tidak aman. Perasaannya juga was-was, ia belum siap jika harus mendapatkan cerita kelam yang sama dengan Rehan.

Tapi sepertinya tidak akan. Posisinya dengan Rehan terbalik. Ia tidak berada diposisi mencintai, tapi dicintai. Ia juga bukan termasuk jajaran anak-anak―maaf―cupu seperti Rehan yang gampang di-bully oleh mereka.
"Hati-hati aja ya, Nan! Mereka lebih kejam dari mafia." Rehan kembali mewanti-wanti sebelum akhirnya mereka berpisah di ujung koridor. Ginan berbelok menuju lapangan basket dan Rehan berjalan menuju parkiran sekolah.

-o0o-

"Kak!" Ginan berdiri tepat di samping Aira yang sedang asyik berceloteh ria bersama teman-teman se-gengnya dan 3 laki-laki, Chiko Cs.

Tidak hanya Aira yang menoleh ke arah Ginan, tapi seluruh mata kini terfokus pada satu titik. Ginan.
Ginan tidak mempedulikan tatapan-tatapan menyengat keempat orang lainnya. Ia sibuk mengeluarkan kotak kecil yang sejak tadi sangat mengganggunya.

"Kenapa, Nan? Kamu suka, kan hadiahnya? Aku beliin itu biar bisa BBM-an sama kamu loh," kata Aira ceria. Si hazel lucunya berbinar senang. Lain dengan tatapan Chiko, ia memperuncing tatapannya pada Ginan, seolah dengan begitu ia bisa melukai Ginan.

Ginan menghadapkan kotak it tepat di hadapan Aira. Tidak mempedulikan ekspresi Chiko yang sudah seperti guru killer memergoki muridnya tidak mengerjakan tugas. "Maaf, Kak, bukannya aku gak mau, tapi aku gak butuh BB itu, kok. Lagian ini kan barang mahal. Kakak gak perlu repot-repot kasih hadiah semahal ini."
Dan tolong jangan pernah mendekatinya lagi! Jangan mengganggunya lagi! Ia sangat-sangat terganggu dengan semua yang dilakukannya!

Andai saja Ginan punya cukup keberanian untuk mengatakan itu. Sungguh ia terlalu takut. Takut menyakiti gadis itu.

"Tapi, Nan, niat aku kan baik pengen ngasih itu sama kamu. Kamu kok nolak gitu, sih?" tanya Aira kecewa.
"Sebaik apa pun niatnya, tidak perlu berlebihan seperti ini, Kak!"

Aira meraih kotak kecil itu saat Ginan memberi isyarat agar ia segera mengambilnya. Matanya berkaca-kaca, air mata kekecewaan itu berkumpul di ujung-ujung matanya.

Chiko dan yang laiknnya menatap adegan itu tidak percaya. Hebat! Aira bisa menampilkan wajah sedih seperti itu hanya karena seorang adik kelas yang bahkan selama ini bisa famous karena kehadiran Aira dalam hidupnya. Ginan bisa melihat tatapan-tatapan mereka menikam perasaanya hingga bagian terdalam sanubarinya, seolah ia telah melukai perasaan mereka juga karena ponsel ber-keyped qwerty itu. Sumpah demi apa pun yang ada di dunia ini, Ginan tidak bermaksud melukai Aira dan juga mereka.

"Maaf!" Ginan berbalik, hendak meninggalkan tempatnya, ia tidak suka berlama-lama diam dalam kepulan asap ketegangan. Kepalanya tiba-tiba pusing dan ia ingin segera pulang. Aya pasti sudah menunggunya di parkiran sekolah. Mereka sudah berencana pulang bersama mengingat Aya sedang sibuk dengan tugasnya juga. Erru dan Isha pasti sudah pulang lebih dulu. Dengan agak limbung, Ginan berjalan meninggalkan lapangan basket, meninggalkan orang-orang yang saat ini memasang ekspresi beraneka ragam.

"Tunggu!" Aira berlari menghampiri Ginan yang sudah menghentikan langkahnya. "Ini bukan barang mahal, terimalah!" sebuah cadburry tertangkap indera penglihatannya.

Ginan menghela nafas pendek. Ia melihat Cadburry itu sekilas, kemudian melirik Aira yang seluruh wajahnya terlukis tinta-tinta penuh pengharapan agar pemberiannya kali ini diterima.

Bukankah hal yang wajar, ketika kita ingin memberi kepada orang yang kita cintai, meski hanya sesuatu yang kecil? Seorang yang pernah merasakan cinta, pasti pernah merasakan hal itu juga.

"Terimakasih," ujar Ginan mengambil cokelat itu. Agak ragu, sebenarnya. Tapi seperti yang sudah dibilang, ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Ia ingin segera pulang dan tidak mau berurusan lebih panjang lagi dengan Aira dan yang lainnya.

Aira membiarkan sudut-sudut bibirnya tertarik ke samping, membentuk senyuman saat Ginan berbalik meninggalkannya.

"You're stupid girl!!"

"Nama baik The Perfect Girls tercoret oleh ketua gengnya sendiri!"

"Apa gue, bilang? Bocah itu pasti bakal besar kepala!"

"Dia nolak mentah-mentah pemberian lo! Apa namanya kalo bukan nginjek-nginjek harga diri lo!"
Aira membalikan badannya begitu mendengar dengan jelas cacian itu. Ia memandang teman-temannya bergantian dan tertegun lama.

-o0o-

Mama Gisa tampak sedang menemani Disa belajar berhitung saat seseorang membuka pintu, diiringi ucapan salam. Dari suaranya yang khas, Mama Gisa tahu siapa pemilik suara itu. Ginan. Dia menyembul di balik pintu. Wajahnya pucat sekali, tampak sangat payah. Setelah menutup pintu, ia membiarkan tubuhnya bersandar di balik pintu. Mengatur nafas yang timbul tenggelam tak beraturan.

Melihat kondisi Ginan yang tidak biasa, Mama Gisa langsung saja berdiri, berjalan tergesa menghampiri Ginan. Ia tidak peduli dengan Disa yang sudah cemberut karena pertanyaan 4 X 4-nya tidak didengarkan. Gadis kecil itu mendelik kesal, 'selalu Kakak!'

"Kenapa, Nan?" Mama Gisa berdiri di samping Ginan. Menatap cemas anak laki-lakinya itu. Tangannya yang lembut mengapit lengan Ginan.

Sadar ada Sang Mama, Ginan langsung saja menegakkan tubuhnya. "Rada pusing dikit, Ma, tapi Ginan gak apa-apa," jelas Ginan mencoba menenangkan Mamanya yang jadi terlihat sering parno sendiri dengan kondisinya sekarang. "Ginan hanya perlu istirahat sebentar," sambungnya sambil melepaskan tangan mamanya dan berjalan agak terhuyung ke kamarnya.
Mama Gisa mengikutinya dari belakang. Matanya yang penuh kesedihan menatap nanar punggung tegak Ginan. Sempat ada niat ingin memapah Ginan saat Papa memanggilnya dan membuatnya membatalkan niat itu.

Saat melewati Disa yang masih betah bersila di atas karpet ruangan depan, Ginan melirik sejenak adiknya itu. Ia melihat Disa memalingkan muka ke arah telivisi yang gelap saat kedua pasang iris cokelat itu beradu. Akhir-akhir ini adik perempuannya jadi lebih sering marah padanya.

Ginan menghela nafas berat. Ia memutar arah kepada Disa, melupakan kata istirahatnya meski rasa lemas ditamani pusing itu merayapi tubuhnya tiada ampun.

"Disa tahu gak kenapa banyak perempuan suka sama Kakak?" tanya Ginan duduk di hadapan Disa.
"Tapi Disa gak suka sama Kakak!" ketus Disa. Matanya tetap fokus pada layar televisi yang gelap. Tidak mempedulikan kakaknya yang sudah berubah warna menjadi makhluk seputih kapas itu.

"Hmm, ngambek lagi ya? Katanya, kemarin kita udah baikan. Katanya Disa udah maafin Kakak."

Disa Diam saja. Wajahnya yang dihiasi pipi chubby dan mata indah yang sama dengan Ginan itu tampak sangat lucu dalam ekspresi cemberut seperti itu.

"Maafin Kakak, dong! Entar Kakak..." Ginan melepas ranselnya, mencari sesuatu di dalamnya. "Kakak kasih ini." Ia menunjukan Cadburry pemberian Aira tepat di depan wajah Disa.

Mata Disa melebar. Menatap penuh gairah cokelat di hadapannya. Repleks saja tangan mungilnya merebut paksa cokelat dari Ginan. "Disa maafin," katanya singkat.

Ginan terkekeh pelan melihat tingkah adiknya itu. Si cokelat maniak itu sudah sibuk membuka bungkus cokelatnya dengan brutal. "Kakak ke kamar dulu, ya?" Ginan bangkit dari duduknya. Disa mengangguk tanpa minat.

Keadaan di sekitarnya bergoyang saat tubuhnya sempurna berdiri tegak. Ia menguatkan cengkramannya pada ujung lemari TV, guna menompang tubuhnya yang tidak kira-kira lemasnya.

Disa mengernyit sebentar melihat gelagat kakaknya yang aneh itu, sebelum akhirnya kembali sibuk dengan cokelatnya. Acuh dan masa bodoh. Dan Ginan melanjutkan langkahnya. Tangannya repot sendiri menggapai-gapai apa saja yang bisa dijadikan pegangan. Ya, Tuhan, kenapa ia harus menempati kamar yang jauh dari ruangan depan ini? Ginan sungguh menyedihkan.
-o0o-

Ginan membuka memo note booknya yang seluruh jilidnya berwarna kelam di hadapannya. Ada tulisan 'Spend and God Send' berwarna emas di baliknya. Tulisan itu timbul saat Ginan meraba permukaan jilid itu. Baru tadi, saat ia pulang bersama-sama Aya ia membeli buku itu. Aya sendiri yang memilihkannya untuknya. Dan baru kali ini ia bisa membukanya kembali.

Sudah dua kali Ginan terbangun. Pertama ia dibangunkan oleh papanya untuk melaksanakan kewajibannya. Dan kali ini, tepat saat jam digital persegi berwarna hitam sedikit keabu-abuan, menampilkan angka 22:23, ia kembali membuka mata. Ada yang mengusik tidur lelapnya. Dan itu terjadi beberapa minggu ke belakang ini.
"Katakanlah yang benar itu walau pahit." Ginan menggumam kecil sembari menuliskan gumaman kecilnya di halaman pertama buku itu. Kata-kata yangh Hadi ucapkan di pertemuan tadi.

Tugas pertama Ginan: Buatlah catatan hitan dan putih. Tuliskan semua amal baik dan buruk. Jadilah Raqib dan Atid untuk diri sendiri. Keren! Fikir Ginan. Hadi memadukan banyak pelajaran dalam tugas itu. Beramal baik, jujur, bertanggungjawab dan selalu merasa diawasi oleh Tuhan. Sebenarnya Ginan belum faham betul tentang tugasnya itu, yang ia tahu, tulisan-tulisan amal yang akan ia tulis di memo note book-nya itu akan dipertanggungjawabkan nanti di hadapan seluruh anggota Annahl. Ginan jadi berfikir, ini semacam simulasi hari pembalasan kelak. Dan ia hanya bisa tertawa samar memikirkan hal itu.
 
Dengan ungkapan kecil 'kalau Tuhan berkenan' dalam hati, Ginan bertekad akan mengubah dirinya menjadi lebih baik lagi dan akan mengisi 'Black and White note'-nya dengan kebaikan-kebaikan. Di sisa-sisa hidupnya, memang semestinya ia mulai menabung amal-amal baik itu.

-TBC-

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea