Sabtu, 07 September 2013

Perfect (Bab 5)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 21.33
Ginan mulai sibuk dengan tugasnya. Memo note book-nya sudah terisi empat halaman di dua minggu ini. Ia tersenyum puas setiap kali membuka white and black notes-nya. Tidak ada satu kalimat pun yang tertulis di kolom kiri, yang artinya ia melakukan kesehariannya penuh dengan kebaikan. Tentunya, itu hanya versinya sebagai manusia biasa yang kadang khilaf dan salah. Buku versi malaikat pencatat amal pasti berbeda dengan punyanya. Tapi setidaknya Ginan berusaha untuk senantiasa mengisi buku—baik buku miliknya maupun milik malaikat utusan Tuhan—dengan kebaikan.

Ternyata, beginilah cara Hadi, si Ketua Annahl itu mengubah anggota-anggotanya menjadi lebih baik. Ia melatih anak-anak yang lain untuk belajar malu. Malu jika melakukan keburukan. Semua orang akan malu saat mengakui keburukan mereka di hadapan semua orang. Dan Hadi menuntut mereka berlaku jujur menulis keburukan-keburukan itu. Ginan kagum kepada si pemilik ide itu.

"Jaga kondisi kamu, ya? Jangan terlalu capek dan pastikan obatnya diminum," pesan Papa Nandi saat Ginan turun dari motor dan hendak masuk, melewati gerbang sekolah. Wajarlah kalau papanya yang biasanya bersikap netral terhadap Ginan, mulai bersikap seperti mamanya yang over protective luar biasa, karena ia sudah mulai menyadari kondisi Ginan yang menurun dan semakin memburuk.

Ginan hanya mengangguk dan mencium punggung tangan papanya sebelum melangkah masuk dan tersenyum ramah pada Pak Satpam.

Ginan menyusuri beranda-beranda kelas dengan langkah calm-nya yang biasa. Sesekali ia melemparkan senyuman ke arah beberapa siswa yang berpapasan dengannya, baik yang dikenal atau pun tidak.

"Ugh! Ugh!"

Sontak langkah kaki Ginan berhenti saat indera pendengarannya menangkap suara asing di sekitarnya. Sebentar ia memutar bola matanya ke seluruh arah. Dan ketika lirikannya berhenti di sebelah kiri, agak jauh dari tempatnya sekarang, ia melihat seorang gadis yang sedang asyik lompat-lompat, memukul-mukul daun pohon mangga yang berada tepat di kebun sekolah, kebun anak-anak ekskul PLH, dengan ranting yang cukup panjang.

Ginan mengerutkan kening bingung. Ngapain pagi-pagi gini ada cewek cantik yang sibuk di bawah pohon mangga? melakukan aksi aneh pula.

Untuk menghapus kebingungan itu, Ginan berjalan mendekat ke arah gadis berrok pendek di atas lutut itu. Dan saat jaraknya hanya tinggal satu meter lagi, Ginan mendengar sesuatu. Isakan. Ya, isakan. Gadis itu—

menangis. Wajahnya basah.

"Kenapa?" tanya Ginan.

Gadis itu menghentikan aksinya, saat ia mendengar suara serak tapi lembut milik Ginan. Ia membalikan badan dan matanya yang merah karena tidak berhenti menangis, berhenti di kedua manik jernih Ginan yang masih memancarkan rona kebingungan. Dan bola mata gadis berwajah ayu itu menajam begitu sadar siapa orang yang ditatapnya kali ini.

"Pergi! Jangan pernah sok perhatian padaku kalau hatimu sama busuknya dengan pacarmu itu!"

Sontak saja dahi Ginan mengernyit tak mafhum. Ia merasa bahunya didorong oleh si gadis berambut sebahu itu. Tidak begitu kuat, memang. Tapi posisi Ginan yang tidak siap membuatnya terhuyung dan hampir jatuh. Beruntung tangannya dengan sigap memegang batang pohon di dekatnya.

"Kamu tahu? Orang-orang semacam kamu itu malaikat berhati iblis! Ak—"

"Aku akan membantumu!" sahut Ginan cepat. Nada suaranya naik beberapa oktaf. Bukan maksud membentak, hanya untuk menegaskan saja. Setelah Aira masuk ke dalam kehidupannya, ia jadi sering dituduh seperti ini.

Gadis itu diam. Mendengar suara tegas Ginan membuatnya sadar kalau Ginan tidak seperti orang-orang yang sudah mengerjainya di pagi-pagi seperti ini. Ia menunduk dalam. Air matanya belum mau berhenti.

Ginan melirik ke atas, ke arah di mana sepatu berwarna pink menggantung. Kemudian matanya beralih ke bawah, ke arah kaki telanjang gadis itu. "Aku akan membawakannya. Berhentilah menangis." Betapa Ginan benci melihat seorang gadis menangis.

Tanpa menunggu apa-apa lagi, Ginan memanjat pohon berdiameter besar itu. Tidak terlalu sulit. Dulu ia, Erru dan Isha sering bermain bersama-sama di atas pohon di halaman belakang rumah kakek Aya. Tapi saat ini cara memanjatnya tidak selihai dulu. Ia sadar kalau tenaganya sekarang ini gampang sekali low, meski hanya aktifitas kecil yang dilakukannya.

"Terimakasih. Maaf sudah berburuk sangka padamu," sesal gadis itu saat Ginan melompat turun dan menyerahkan sepatunya. Segera saja ia duduk dan mengenakan kembali sepatu bermerk terkenal itu.

Ginan terengah. Baru melakukan hal seperti itu aja, capeknya seperi habis maraton jauh. "Tidak apa-apa," katanya tulus. Ia mencoba mengatur nafasnya.

"Ginan, aku menyayangkan hubunganmu dengan Aira. Dia terlalu jahat untuk laki-laki sebaik kamu." Gadis itu berdiri lagi dan menatap Ginan dengan sangat rinci.

Ginan yang tampaknya sudah berhasil menetralisir deru nafasnya, balas menatap gadis itu. Sejenak pandangan mereka bertemu.

Gadis itu terdiam beberapa saat. Pantas saja Aira menyukai laki-laki sederhana di hadapannya kali ini. Ginan terlihat sangat biasa, tapi dalam jarak sedekat ini, ia terlihat begitu menawan. Mata cokelatnya yang indah dan jernih yang saat ini terfokus kepadanya itu benar-benat penuh ketulusan. Tapi kenapa harus Aira yang—

"Aku bukan pacarnya Aira. Duluan ya," pamit Ginan merasa gadis itu menatapnya terlalu lama. Terkesan mengamati. Ia melemparkan senyum terbaiknya, dan gadis itu terpaku di tempatnya. Senyuman Ginan berhasil membekukan syaraf-syaraf tubuhnya.

Indah!

Indah sekali, Tuhan!

-o0o-

"Ginan akhir-akhir ini pucet ya? Lagi sakit ya, Nan?" tanya Isha memperhatikan Ginan yang tampak sedang menekuni buku fisikanya. Laki-laki itu jadi terlihat lebih sering belajar. Ia ingin pintar seperti Erru dan Aya, dan membuat orangtuanya bangga. Begitulah alasan kenapa Ginan jadi setekun ini. Padahal Erru dan Aya malah terlihat lebih cuek terhadap pelajaran. Aya terlalu sibuk di Creative Magazine dan Erru malah dari beberapa bulan ke belakang sudah mulai berpaling pada buku bergambar yang saat ini tengah dibacanya.

"Aku cuma kelelahan aja kayaknya," respon Ginan sambil mengamati keadaan kantin yang tampak lebih penuh dari biasanya.

"Makanya, belajarnya gak gak usah diforsir juga, Nan. Sakit loh entar," nasihat Erru. Ia menutup komiknya. Menyeruput jus jeruknya dan mulai menatap Ginan dengan rinci.

"Hm," gumam Ginan mengiyakan. Baru kelihatan pucat sedikit saja, teman-temannya sudah menunjukan over protect-nya. Apalagi jika mereka tahu perihal penyakitnya.

"Kamu lagi apa sih, Ya?" tanya Isha melihat Aya yang sedari sibuk dengan bukunya. Ginan dan Erru ikut melirik Aya.

"Katanya tadi pagi The Perfect Girls ngerjain anak kelas XII, ya?" Bukan menjawab pertanyaan Isha, Aya justru memberi pertanyaan baru. Topiknya lain lagi.

"Iya. Mereka menaruh sepatu cewek itu di atas pohon mangga," jawab Ginan yang tahu jelas kejadian tadi pagi.

"Mereka itu benar-benar keterlaluan banget ya? Sebenarnya, niat sekolah atau apa sih? Masa tiap hari kerjaannya ngerjain orang. Dan anehnya, kenapa gak ada yang berani laporin mereka." Aya nyerocos kesal barengan saat orang yang sedang ia bicarakan itu masuk ke wilayah kantin bersama teman-teman centilnya.

"Apa bagusnya dari cewek model dia? penampilan gak rapi, rok kelewat pendek, baju ketat. Pinter sih iya, termasuk ngerjain orang juga. Tepatnya itu dia gagal jadi cewek!"

"Ssst, Aya!" tegur Ginan. "Gak boleh vonis orang kayak gitu!"

"Habisan—"

BRAK!

"Minggir, gak?!"

Baru saja Aya hendak memprotes Ginan, saat suara gebrakan meja itu terdengar menggema di sudut-sudut kantin. Seluruh mata kini terpusat ke arah di mana Aira sedang menggertak keras seorang gadis. Ern.

Aya mendengus keras. Ia melihat Ern yang biasanya cerewet langsung diam dan tidak berkutik di hadapan keempat gadis-gadis antagonis itu.

"Baru jadi adik kelas aja udah belagu! Minggir atau gue siram lo dengan kuah bakso ini?" gertak Diar yang langsung membuat Ern bangkit dari duduknya dan mengalah.

Dengusan Aya semakin terdengar di telinga Ginan dan yang lainnya. Gadis itu mengepalkan tangannya emosi. "Sekali saja harus ada yang berani melawan! Mereka gak akan berubah kalau gak ada yang mengingatkan."

Terlalu singkat waktu yang Ginan rasakan saat Aya melewatinya dan berjalan tergesa ke arah meja tempat kejadian perkara sedang berlangsung.

"Kalian ini siapa sih?" tanya Aya sinis saat ia berdiri tepat di hadapan ke empat gadis-gadis cantik itu. Ia meraih tangan Ern dan menarik tubuh yang dua kali lebih besar dari tubuhnya itu untuk berdiri di sampingnya.

"Heh! Harusnya gue yang nanya. Siapa lo yang berani banget ngegertak kita?!" tanya Aira sengit. Pandangannya lurus tepat di arah bola mata milik Aya.

Tak ada satu pun mata yang mau melewatkan adegan ini. Ginan terpaku di tempatnya. Baru kali ini. Ya, kali ini ia melihat Aira berbicara kasar seperti itu.

"Kalian gak kenal aku ya? Oh, tentu saja! Karena aku itu bukan orang famous yang sombong, sok paling berkuasa, hobi membuat orang lain sengsara dan juga bukan cewek murahan yang senang tebar pesona ke sana-sini seperti kalian!"

Perang dimulai! Dan Aya yang saat ini memacu timbulnya peperangan ini.

Ginan bisa melihat wajah Aira memerah, menahan marah. Dan ia yakin dalam hitungan detik saja, bom di kepalanya akan meledak-ledak. Dengan cepat Ginan bangkit dari duduknya, hendak menghampiri Aya sebelum bendera peperangan itu benar-benar dikibarkan. Tapi Erru dengan sigap mencekal tangan Ginan agar duduk kembali.

"Jangan, Nan. Biarkan saja! Kita lihat sejauh mana gadis-gadis itu bertindak."

"Tapi—"

"Dasar bocah songong ya, lo!"

Sayang, Ginan melewatkan adegan ini. Saat dia berbalik, dia sudah melihat sahabat paling cantiknya basah oleh kuah bakso yang tadi hendak disiramkan kepada Ern. Dan Ginan tidak tahu siapa yang dengan tanpa adab melakukan itu kepada Aya, karena kali ini Aya dengan brutal menyiram ke empat gadis itu dengan air bekas cuci mangkuk yang entah sejak kapan pindah ke tangannya.

Ini bukan tontonan!

Ginan benar-benar bangkit dan menghampiri mereka saat Aira dan keempat gadis itu mengerang dan hendak menyerang Aya.

"DASAR CEWEK MURAHAN! LOSER! BERANINYA KEROYOKAN!" pekik Aya keras.

"Ya..."

Nafas Aya yang semula naik turun dengan cepat karena berteriak-teriak, sontak saja terhenti saat ia merasakan tangan seseorang menempel tepat di pergelangan tangannya. Rasa hangat dan tenang tiba-tiba menjalar dan stuck dalam hatinya.

"Udah, Ya," titah Ginan lembut. Seperti biasa, apa yang Ginan perintahkan tidak pernah bisa Aya bantah.

Sejenak gadis pemilik rambut indah itu melirik Aira yang pasti jauh lebih geram karena tangan orang yang dicintainya kini terparkir di tangannya. Sejurus kemudian ia melepaskan tangan Ginan dan berlari meninggalkan kantin.

Ginan menatap punggung Aya yang semakin jauh dengan nanar. Ia tahu bagaimana perasaan Aya yang pasti sangat sedih dengan perlakuan kakak-kakak kelasnya itu.

"Shit!! F*cking!" cerca Aira kesal dan ia pun berlalu dari tempatnya.

"Bilang sama temen lo itu! Setelah ini, gue pastiin dia gak bakal betah di 2Mei ini!"

Diar mengacung-ngacungkan telunjuknya tepat di hadapan muka Ginan. Setelah itu berlalu menyusul Aira setelah sebelumnya ia mendorong bahu Ginan, hingga Ginan hampir terjatuh. Tapi, entah untuk alasan apa salah satu dari gadis-gadis cantik yang saat ini kuyup dan bau air bekas cuci mangkuk itu, menahan tubuhnya.

"Maaf, ya..." Gadis bername tag Bella itu tersenyum dan ikut berlalu juga. Dari awal hanya Bella yang tampaknya paling ogah-ogahan melakukan aksi tercela bersama gengnya itu.

"Kamu gak apa-apa, Nan?" Isha dan Erru berdiri mengapit Ginan.

Ginan menggeleng. "Kita susul Aya."

*

"Udah, Ya, masa kayak gitu aja nangisnya sampai segitunya. Pas MOS dulu kita kan lebih dari ini." Isha mencoba mengeringkan rambut hitam dan tebal Aya yang masih beraroma bumbu bakso.

Aya tidak merespon. Ia masih membenamkan wajahnya di balik tangannya yang masih melingkar di lulutnya yang ia tekuk. Menangis sesegukan. Ia merasa begitu di rendahkan. Sangat terhina!

"Sekarang apa yang bisa bikin kamu berhenti nangis, Ya?" Erru sadar, sudah Dua jam ini ia diam di taman belakang sekolah hanya untuk menemani Aya yang bahkan tidak mau berhenti menangis. Pelajaran Sastra Inggris dan Ekonominya sudah terlewat begitu saja. Dan Ginan—

Si iris cokelat itu baru saja keluar dari toilet saat ia merasa ada yang menariknya dan menghentakan tubuhnya hingga bersandar pada tembok. Kerah seragamnya dicengkram kuat oleh tangan seseorang sementara lengan orang yang saat ini menatapnya penuh amarah itu menekan dadanya dengan kuat.

"Heh, bocah! Gue gak mau tahu ya! Lo jauhi Aira atau gue buat hidup lo gak tenang!"

"Lo itu jangan sok paling segalanya cuma karena berhasil dapetin hati Aira! Inget ya, Ginan! Lo itu cuma bocah biasa yang beda kasta dengan Aira. Lo gak pantes dapetin dia!"

"Ta-tapi—"

"Gue gak nyuruh lo kasih alasan, bodoh!" maki Chiko semakin menguatkan cengkramannya pada kerah baju Ginan hingga membuat Ginan merasa seperti kehilangan udara. Ia kesulitan bernafas.

"Berhentilah! Sebelum lo buat dia mati gak bisa nafas, Chiko!" Dan, laki-laki calm yang saat ini bersandar di ambang pintu toilet memperingati.

"Bener, Ko. Gak seru dong, kalau dia mati sebelum kita buat dia ngerasain penderitaan itu kayak apa."

Mata Ginan sontak membulat. Bukan karena baru saja ia mendengar ungkapan over sadistic yang keluar dari bibir Niro. Tapi, ia merasa ada  sesuatu yang dengan sangat tiba-tiba menusuk dadanya saat ia terbebas dari cengkraman Chiko. Ia terbatuk beberapa kali, nafasnya terengah-engah. Dan tubuhnya merosot ke bawah. Kakinya lemas bukan main.

"Sekali saja lo langgar perintah gue, gue pastikan gue buat lo lebih sakit dari ini."

Dan setelah ancaman terakhir itu, Chiko dan kedua temannya berlalu meninggalkan Ginan yang tampak bersusah payah mencari oksigen. Kali ini tangannya sendiri yang mencengkram dadanya.

Ini sakit sekali!

Jujur, ini yang paling sakit yang pernah Ginan rasa dari sejak ia berteman dengan penyakitnya itu. Ia menutup matanya dengan sangat rapat. Bibir bawahnya ia gigit kuat-kuat dan jari-jemarinya semakin erat mencengkram dadanya.

"Mama, tolong Ginan! Ini sakit sekali, Ma!" rintih Ginan. Memang, hanya Mama yang selalu menjadi orang pertama yang diingat saat sakit melanda. Dan entah sinyal apa, yang bisa dengan sangat cepat menyampaikan pesan batin itu.

 -o0o-

Aya masih saja menangis. Tampaknya, stok air matanya belum mau habis meski kejadian yang ia alami sudah terjadi beberapa jam yang lalu. Rasanya ada yang menusuk relung kalbunya yang paling dalam. Bukan! Bukan karena siraman kuah bakso yang Diar lakukan. Tapi, karena orang yang paling diinginkannya untuk berada di sisinya saat menangis justru tidak ada. Ginan. Ya, Ginan. Si pemilik mata indah itu tidak ia lihat sama sekali.

Entahlah... Apa yang sebenarnya dipikirkan gadis ini. Tapi, sedari tadi pikiran negatifnya berpusat kepada Aira. Ia takut Ginan lebih memilih menenangkan Aira ketimbang dirinya. Dari awal, ia memang sudah berpikir bahwa Aira mengancam posisinya sebagai orang penting untuk Ginan.

"Ginan jahat!" lirihnya yang saat itu duduk di kursi belajarnya. Ia menidurkan kepalanya yang sangat berat di balik tangannya yang disedekapkan di atas meja. Memejamkan mata untuk sejenak saja mencari ketenangan.

Ia merasa terabaikan. Merasa dinomorduakan. Merasa dikhianati.

Ia butuh udara yang lebih positif.

"Aya..."

Eh?

Aya merasa tiba-tiba saja ada sesuatu yang mampir di punggungnya. Sebuah jaket berwarna abu-abu spontan menghangatkannya. Ia menegakkan tubuhnya hendak menoleh ke arah si pemilik jaket itu bersamaan saat sebuah tangan melingkar di lehernya.

"Maaf, Ya. Tapi demi Tuhan aku tidak bermaksud mengabaikanmu."

Mata Aya melebar. Ia kenal suara itu. Ginan. Dan ini untuk pertama kalinya dari sejak mereka bersahabat, Ginan memeluk dirinya. Dekat dengan Ginan saja sudah membuatnya selalu merasa tenang dan aman, apalagi dalam posisi dipeluk seperti ini.

"Maaf, Ya!" kata Ginan lagi. Wangi rambut Aya yang sudah dibersihkan tercium hidungnya. Sedikit menyegarkan pernafasannya. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu tenang.

Aya tidak merespon Ginan. Ia memeluk lengan laki-laki itu dengan erat, mencegah Ginan melepaskannya. Dan air matanya masih mengalir saja. Entah untuk alasan apalagi gadis itu menangis.

"Jangan menangis lagi! Aku benci melihat air mata perempuan. Maafin aku, Ya..."





Memang hanya Ginan udara positifnya selama ini.

TBC

1 komentar:

  1. lanjuuuut.....
    Part selanjutnya lebih cepat lebih baik ;)
    Fighting...!!! ^o^)9

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea