Sabtu, 09 November 2013

Perfect (Bab 6)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.35
Aya membuka matanya saat serat-serat tipis itu menerobos masuk lewat celah kecil jendela yang masih tertutup gorden merah muda itu. menyorot permukaan wajah polos yang tampak damai dalam lelapnya. Si pemilik wajah putih bersih itu, mengerjap kecil. Terganggu dengan sinar itu.

Ia memutar bola matanya. Mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi.

Ginan?

Langsung saja ia mengangkat tubuhnya. Pandangannya terfokus pada meja belajarnya. Tempat di mana untuk pertama kalinya ia merasakan pelukan orang yang—mulai ia yakini—begitu dicintainya itu.

"Hanya mimpi..."

Desahan kecewa itu terdengar lirih. Ia biarkan lengannya kembali menutup mata itu. Rasanya sesak sekali begitu sadar, kejadian yang ia alami semalam itu hanya ada dalam mimpinya saja.

"Ginan jahat!" Baru saja ia hendak menangis lagi saat sadar ada bau khas yang menyebar dan  bertepi di indera penciumannya.

Wangi Spray Colonge ini milik Ginan.

Ia menyingkirkan lengannya dan menemukan jaket abu-abu Ginan menempel di tubuhnya.

"Benarkah..."

Sontak saja bibir tipisnya melukiskan senyuman.

*

Ginan membuka matanya saat suara tangisan nyaring itu terdengar berdenging di telinganya. Kepalanya masih terasa berat saat ia memaksa tubuhnya bangkit. Dadanya juga masih sakit saja. Dan suhu tubuhnya terasa lebih panas dari sebelumnya. Ia ingat, baru pukul empat subuh, saat sakitnya mereda, ia bisa memejamkan mata.

"Mama jahat! Disa benci Mama! Mama pilih kasih sama Disa!" jerit Disa penuh dengan nada emosi. Ia meringkuk di atas sofa.

"Disa harusnya ngerti, Papa kan lagi ditugaskan keluar kota dan Kak Ginan lagi sakit. Mama gak mungkin ninggalin kakaknya sendiri di sini." Mama mencoba memberi pengertian. Ia mengelus lembut rambut Disa.

"Tapi acara wisata Disa gimana?!"

"Mama udah telepon Bu Rika dan bilang Disa gak bisa ikut."

"Tapi Disa mau ikut, Ma," lirih Disa menepis tangan mamanya. "Mama itu gak adil. Mama lebih sayang Kak Ginan. Mama gak pernah sayang Disa. Kalo gini caranya, mending Disa gak pernah lahir aja! Disa benci Mama! Disa benci Kak Ginan!" Disa bangkit dari posisinya, melempar tas sekolahnya dan berlari ke dalam kamarnya.

Mendengar kata-kata Disa, langsung saja air mata Mama Gisa berurai. Ia merasa gagal menjadi seorang Ibu. Tangannya ia tangkupkan di balik wajahnya. Menangis pilu. Tidak ada Ibu mana pun yang ingin melihat anaknya kecewa dan menangis.

Harusnya tidak ada yang merasa dinomorduakan. Ia sama-sama sayang kepada keduanya. Hanya saja ia merasa Ginan sedang membutuhkan perhatian lebih. Apalagi di saat kondisinya seperti sekarang ini.

"Harusnya Mama pergi aja. Kasian Disa, Ma. Kegiatan wisata ini kan yang paling Disa tunggu. Disa pasti kecewa banget!" Ginan duduk di samping mamanya, mengelus lembut punggung sang Mama.

"Tapi, Nan—"

"Ginan udah mendingan kok, Ma." Lagi-lagi Ginan  terpaksa menulis 'membohongi Mama' di kolom kiri white and black note-nya. Sakitnya justru terasa lebih parah dari sebelumnya.

"Nan..."

"Ginan akan hubungi Bu Rika dan mempersiapkan semuanya." Ginan berdiri, mengambil tas Disa dan berjalan menuju dapur sambil mencoba menghubungi seseorang.

"Biar Mama aja, Nan," sahut Mama Gisa cepat sebelum Ginan berbelok dan menghilang di pintu dapur.

Ginan berbalik.

 "Kamu temui adikmu saja!"

Dan Ginan mengangguk, mengubah arahnya. Lagipula, tidak mungkin ia mempersiapkan semuanya dengan kondisi super payah seperti saat .

"Disa..." panggil Ginan. Tanpa menunggu persetujuan, ia masuk ke dalam kamar bernuansa ungu cerah penuh boneka itu. Lalu duduk di atas kasur Disa.

Disa tidak merespon. Ia masih terisak.

"Mama memutuskan untuk menelepon Bu Rika dan jadi ikut wisata." Ginan biarkan tangannya yang basah karena keringat dingin itu menyentuh lengan Disa, hingga gadis kecil itu bisa merasakan hawa panas  terasa menyentuh permukaan kulitnya.

"Disa benci Kakak," parau Disa tanpa mengubah posisinya. "Disa benci Kak Ginan yang sering sakit kayak gini!"

"Iya, maafin Kakak! Besok-besok Kakak janji gak bakal sakit lagi." Dan ia yakin ia akan mengingkari janji itu. Ia biarkan tubuhnya agak merapat dengan tubuh mungil Disa. Memeluk erat adiknya itu. “Kakak sayang banget sama Disa.”

Disa hanya larut dalam diam. Tertegun panjang sembari merasakan hembusan nafas Ginan yang terasa panas di telinganya. Pelukan kakaknya terasa berbeda kali ini. Tiba-tiba saja ia  merasa begitu bersalah dengan apa yang ia ucapkan beberapa menit yang lalu. Apa yang Ginan katakana barusan sungguh terdengar begitu tulus, tersampaikan ke dalam hatinya.

-o0o-

“Ginan…”

Langsung saja Ginan mengubah posisi kepalanya yang sebelumnya lurus menghadap langit azzura, ke arah kanan. Sumber suara itu berasal. Dan sat itu pula, manik matanya sempurna menangkap iris Aya yang juga tengah menatapnya. Mereka sama-sama tengah berbaring di atas rumput-rumput pendek di taman belakang rumah Ginan.

Satu jam setelah mamanya dan Disa berangkat, Aya dan kedua sahabatnya yang lain datang ke rumahnya. Sambil nyengir, mereka bilang, dapat tugas jagain dia dari mamanya. Ginan hanya bias geleng-geleng kepala. Sikap mamanya selalu saja berlebihan. Tapi, tidak apa-apalah. Lagi pula, akhir-akhir ini ia benci sekali  dengan kesunyian. Ia selalu ingin berada di dekat orang-orang yang disayanginya.

“Yang semalam itu…” Ginan menggantungkan kalimatnya. Ada getaran aneh di dadanya melihat tatapan Aya yang ia piker menyorotkan sinar-sinar berbeda dari biasanya itu.

Aya mengerukan kening, emnunggu kelanjutan kalimat Ginan.

“Maaf,” sambung Ginan yang langsung membuat Aya terkekeh pelan. Apanya yang minta maaf?

Hening sejenak.

“Ginan,” panggil Aya lagi.

“Ya?” Kali ini Ginan memilih untuk tidak menatap bola mata Aya.

Aya menarik nafas dalam-dalam. Ia juga mulai memfokuskan indera penglihatannya ke arah sebelumnya. “Aku ingin bercerita.”

“Cerita apa?” Tanya Ginan.

“Cerita tentang seorang gadis bernama aku yang mencintai sahabatnya sendiri. Awalnya Aku tidak tahu perasaan apa yang bersemayam dalam dadanya itu. Yang Aku tahu, Aku selalu merasa begitu tersiksa dengan hadirnya rasa itu. Tiba-tiba saja Aku selalu merasa bayang-bayang sahabatnya itu tidak henti membututinya. Aku jadi sering merasakan apa itu rindu dan aku mulai menyadari bahwa rasa itu memang bukan rasa biasa saja. Aku sadar kalau aku mencintai sahabatnya itu. dan nama sahabatnya itu Kamu. Ya, Aku mencintai Kamu.”

Ginan kembali menatap Aya. Tanpa perlu mencerna lebih dalam lagi, Ginan sudah mengerti apa yang Aya maksud. Dan apa yang baru saja terungkap dari bibir tipis si pemilik rambut indah itu, kontan membuat dadanya sesak. Ia menatap lekat bagian samping wajah Aya yang masih asyik saja dengan hamparan langitnya. Gadis itu tida peduli dengan ekspresi kaget Ginan.

“Aya...” panggil Ginan tidak percaya.

Aya menghela nafas lega. Dan ia menoleh kembali ke arah Ginan sehingga pandangan mereka lagi-lagi beradu. “Aku mencintaimu, Ginan. Aku menyayangimu lebih dari sahabat,” ungkap Aya sekali lagi. Meyakinkan.

Ginan tiba-tiba saja menjadi bisu. Ia terdiam, larut dalam ketidakpercayaannya.

“Kenapa Ginan, Ya?”

Dan Isha berdiri tepat di ambang pintu. Ketidakpercayaannya sama besarnya dengan Ginan. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa begitu lemas. Ia sandarkan tubuhnya di balik dinding. Mengambil udara untuk memenuhi paru-parunya yang repleks saja terasa begitu hampa.

Seandainya Aya tahu...

...ia juga mencintainya.

“Sha...”

Isha terperangah. Agak tersentak. Seseorang menepuk pundaknya dengan cukup kuat.

“Sudahlah!” Erru merangkul bahu Isha. Senyumnya yang terkesan dibuat-buat itu merekah. Ia menarik Isha untuk mendekat, bergabung bersama Ginan dan juga Aya. “Tidak perlu menanyakan kenapa. Kita jalani semuanya seperti biasa.”


Isha menarik nafas dalam-dalam. Cukup berat untuk menyetujui pendapat Erru. Tapi akhirnya ia mengangguk juga. Ceritanya belum sampai di sini. Masih ada cinta yang bisa diperjuangkan selama cinta masih ada.

2 komentar:

  1. nexttt kak niaaa.. smangattt . bagus banget lho ini. oiya mau nanya Ginan itu sakit apa? please jawab. hehehe. nextnya lebih panjang yaa.. jangan lama lama :D #maafakucerewet :D

    BalasHapus
  2. makin penasaran ama lanjutan ceritanya....
    Next chapt jgn lama2 ya...
    Kalo bisa lebih panjang lg...hhe

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea