Senin, 18 November 2013

Perfect (Bab 7)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 06.11

Lingkungan sekolah terlihat sudah menyepi. Cuaca memang tampak sedang tidak bersahabat. Akhir-akhir ini hujan sedang rajin-rajinnya turun ke bumi. Tidak mentolerir. Tidak mau bernegosiasi. Ia datang sesuka hatinya, siang, sore, malam bahkan di subuh hari, sehingga anak-anak itu memilih untuk segera pulang sebelum hujan menjebak mereka di bangunan besar yang selalu tampak lebih menyeramkan saat hujan datang itu.

Tapi laki-laki yang saat ini mengenakan jaket merah cerah itu tampaknya tidak peduli dengan awan-awan kumulonimbus yang sudah menyeringai ke arahnya. Ia sibuk saja mengobrak-ngabrik tas sekolahnya. Mencari sesuatu.

“Ya Tuhan, di mana aku menyimpannya?” gusarnya. Kali ini ia keluarkan semua isi tasnya. Nafasnya memburu cepat. Tangannya bergetar hebat dan mata cokelatnya yang sarat dengan kesakitan itu mulai berkaca-kaca. Sesekali ia merintih pelan sembari menekan dadanya kuat-kuat dengan tangannya yang bebas.

Hujan mulai membasahi bumi seiring menetesnya air mata di balik mata cokelat yang sepertinya sudah mulai meredup itu. Ia tidak menemukan apa yang dicarinya. Ia tidak menemukan apa yang bisa membuat sakit di sekujur tubuhnya mereda. Ia sandarkan tubuhnya di dinding ruangan tempat ia bersama teman-teman satu eksulnya itu berbagi.

Ia pasrah.

Benar-benar pasrah.

Ia biarkan penyakitnya itu mempermainkan tubuhnya. Gemericik hujan yang menghantam pekarangan sekolah, seperti nada-nada yang pas menemani keputusasaannya kali ini.

“GINAN!!”

Saat Ginan merasa keadaan di sekitarnya mulai memekat, pekikan keras yang terasa samar dipendengarannya itu menyapa gendang telinganya. Sekuat tenaga ia mencoba mempertahankan kesadarannya yang kali ini diperebutkan oleh terang dan kegelapan. Saat kesadarannya berada diujung, ia merasa seseorang merengkuh tubuhnya sembari menjejalkan beberapa pil dengan rasa tidak asing ke dalam mulutnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Nan?”

“Apa yang kamu sembunyikan dari kita?”

“Bertahan, Nan, bertahan!”

Ginan tidak tahu apa yang dibicarakan orang-orang yang sekarang ada di sampingnya itu. Tapi ia kenal jelas suara-suara itu. Suara kedua teman laki-lakinya. Erru dan Isha. Mereka ada di sana. Menarik kembali kesadarannya. Menghilangkan sedikit. Ya, sedikit saja sakit di tubuhnya. Itu pun setelah ia memaksa menelam pil tanpa air.
Perlahan ia membuka matanya. Samar. Tapi ia bisa melihat raut-raut kecemasan di balik bola matanya. Dan ia hanya bisa tersenyum singkat melihat ekspresi teman-temannya itu.

“Ini gak lucu, Nan! Benar-benar gak lucu!” Nada suara Isha terdengar penuh dengan kemarahan. “Kamu pikir ini drama yang sering Aya tonton, hah?” Nafas Isha memburu. Ia lampiaskan kemarahannya dengan memasukan alat-alat tulis milik Ginan yang sempat  dikeluarkan ke dalam tasnya kembali. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu.

Isha menemukan botol obat itu di bawah kolong meja Ginan sepulang sekolah saat Ginan memutuskan untuk pergi ke ruang ekskul. Ia sempat mengernyit, kenapa obat yang ia tahu jenis obat penyakit apa itu berada di kolong meja sahabatnya. Isha memutar kembali kejadian ke belakang untuk meyakinkan milik siapa obat itu. Dan ia mulai menyadari, ia mulai meyakini satu hal kalau ada yang salah dengan Ginan. Ia mulai sadar kalau ada yang sedang Ginan sembunyikan dari ia dan teman-temannya yang lain.

Dan ia panik saat melihat kondisi Ginan beberapa saat yang lalu.

“Maaf...,” lirih Ginan.

Erru semakin menguatkan rangkulannya.“Sakit apa, Nan?” tanyanya. Nada suaranya bergetar. Penuh kekhawatiran. Penuh ketakutan.

Ginan mendesah. Tidak mau menjawab pertanyaan Erru.

Isha menatap tajam mata redup Ginan. “Jantung kan, Nan? Jantung kamu bermasalah, kan?” tebaknya pasti. Ia menuntut jawaban Ginan.

Ginan diam saja.

“Aku tahu, Nan. Aku tahu. Obat ini tuh sama dengan obat ibuku dulu.” Isha mengacung-ngacungkan botol obat itu tepat di hadapan Ginan. Ia kecewa. Benar-benar kecewa dengan Ginan. Kenapa ia memiliki sahabat model Ginan yang tertutup. Kenapa ia tidak berhak tahu semua hal yang ada di dalam diri sahabatnya itu. Bukan apa-apa, ia hanya tidak suka dengan rahasia seperti ini. Bukankah dulu ibunya meninggalkannya dengan menyimpan banyak rahasia seperti apa yang Ginan simpan sekarang.

“Udah, Sha! Yang penting sekarang Ginan gak apa-apa.” Erru mencoba menenangkan.

Dan semuanya larut dalam diam. Cukup lama.

“Kayaknya hujannya gak bakal cepet-cepet berhenti. Aku telfon orang rumah biar jemput kita,” putus Erru melihat keadaan di luar yang masih ditemani hujan deras. Ia tidak mungkin pulang membawa orang sakit dengan mengendarai motor.  “Aya udah pulang belum ya?” tanyanya tiba-tiba teringat sahabat perempuannya yang menghilang sejak pulang sekolah tadi.

“Udah. Tadi dia sms aku, katanya pulang duluan,” jawab Ginan. Ia terlihat masih kesulitan bernafas.

“Tumben,” timpal Isha. Sengaja ia melepas baju hangatnya dan memaksa Ginan mengenakan double jaket. Ia tahu Ginan kedinginan. Ginan diam saja dengan tingkah sahabatnya yang paling slengean tapi tingkat kepeduliannya melebihi siapa pun itu.

-o0o-

“Heh, bocah! Jangan mikir lo bisa bebas gitu aja ya, setelah apa yang lo lakuin kemarin lusa sama kita!”

Jari dengan kuku-kuku panjang yang cantik itu menekan pipi chubby Aya dengan kuat. Aya meringis pelan. Ia berada dalam posisi terkunci saat ini. Kedua tangannya diapit oleh Ressi dan juga Diar. Berkali-kali ia memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman maut ketiga gadis yang saat ini ada di hadapannya.

“Enaknya kita apain, ya cewek songong ini?” Aira menjauhkan tangannya dari wajah Aya. Membuat Aya bisa bernafas lega. Dan gadis cantik itu tampak berfikir, mondar-mandir di depan Aya yang dalam hatinya, jujur, menyimpan ketakutan tapi tetap memasang sikap berani. Ia tidak suka dianggap cemen dan kalah oleh gadis-gadis antagonis itu.

“Kalian pikir aku takut sama cewek-cewek pecundang seperti kalian yang hobinya keroyokan dan menindas yang lebih lemah dari kalian?” Aya masih terus berusaha melepaskan cengkraman Diar dan Ressi yang super kuat hingga ia merasa tangannya linu dan sakit. Ada garis-garis merah yang mulai timbul di kulit putih gadis itu.

“Cih! Aneh deh gue. Kok bisa sih Ginan temenan sama cewek songong kayak lo!!!” Dengan seenaknya Aira mendorong kepala Aya cukup keras, membuat rambut Aya terlihat agak berantakan.

“Karena Ginan tahu mana cewek baik-baik kayak gue dan cewek busuk kayak lo dan teman-teman lo itu!” Nada suara Aya meningkat. Amarahnya mulai naik ke level yang lebih tinggi. Selama hidupnya, tidak pernah ada yang mendorong kepalanya dengan keras seperti yang Aira lakukan. Ia merasa sangat terhina dan itu membuat  ia memberontak lebih keras sehingga berhasil lepas dari cengkraman gadis-gadis yang menurut Aya cantik tapi buasnya lebih dari anjing liar itu.

PLAK!

Satu tamparan mendarat tepat di pipi mulus Aya. Repleks Aya memegang pipinya. Tamparan itu sangat kuat sehingga membuat matanya sedikit berkunang-kunang. Ia mendengus kesal, dan seolah tidak mau kalah, dengan gerakan cepat, ia menjambak rambut Aira dengan sangat kasar.

Aira mengerang pelan saat beberapa helai rambutnya tertarik paksa oleh tangan Aya. Pertengkaran yang terjadi di ruangan paling pojok itu semakin sengit saja saat Diar dan juga Ressi yang tidak terima ketua mereka diperlakukan dengan tanpa adab seperti itu, mulai menyerang Aya. Mendorong, menjambak dan mencakar gadis malang itu.

Air mata yang sejak tadi terahan akhirnya jatuh juga di pipi Aya. Ia tidak punya kekuatan lagi untuk melawan. Lawannya tidak sebanding kali ini. Ia terduduk, menekuk lututnya, menyembunyikan kepalanya dari serangan gadis-gadis itu. Ia biarkan kepalanya tertekuk di balik lengannya saat ia mulai menyadari kalau ada air yang jatuh menghantam tubuhnya berkali-kali. Tubuhnya kuyup. Aira dan teman-temannya sengaja menyiramkan air hujan kepadanya.

Dan Aya tidak ingin melawan lagi.

Beberapa titik tubuhnya sakit dan perih.

Ia sendiri dalam perangkap tiga gadis buas.

Tidak ada Ginan.

Erru...

Isha...

 Ia menangis lirih.

“AYA??!!!”

“Ish, pahlawan-pahlawannya udah datang tuh kayaknya.”

“Apa yang kalian lakukan sama Aya, hah?”

“Sedikit bermain-main.”

“Keterlaluan!”

“Aku kecewa sama Kakak...”


Dan semuanya hening.

-TBC-

1 komentar:

  1. siapa yang datang??? Kurang panjang >.<
    Part selanjutnya cepet publish ya :)

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea