Selasa, 31 Desember 2013

Perfect (Bab 10)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 18.52
“Bilang sama Mama, Nan!”

Lagi-lagi Ginan diam saja. Menunduk dalam. Menatapi selang kecil yang tertancap manis di lengan kanannya. Bahkan ia tidak tahu kapan selang yang menghantarkan cairan bening sebagai supply makanan untuknya itu terpasang di tangannya. Bola mata redupnya yang sarat dengan kesakitan itu tampak membendung banyak air mata, yang dalam satu kedipan saja bisa membludak, menciptakan sungai-sungai kecil di pipinya.

Setelah laki-laki beriris cokelat itu sadar dari pingsannya pasca di bawa ke rumah sakit, ia tidak mau bersuara sedikit pun. Bukan ia tidak mendengar pertanyaan berulang Sang Mama, tapi memang ia tidak berani menjawab pertanyaan itu. Entah untuk alasan apa.

Mama Gisa menghela nafas panjang. Hampir putus asa menghadapi Ginan yang bersikap seperti ini. Baiklah, selama ini Ginan memang selalu bersikap tertutup dan tidak pernah mau terbuka kepada siapa pun termasuk dirinya. Tapi kenapa untuk hal semacam ini juga anak laki-lakinya itu harus bersikap seolah ia orang asing yang tidak berhak tahu semua permasalahan yang dihadapi anaknya. Tak ada Ibu yang tidak gelisah bila menghadapi persoalan seperti ini.

Ginan meringis pelan saat kedua tangan mamanya parkir di bahunya. Memaksanya untuk menatap mata sendu wanita yang selama ini menjadi tempatnya mengabdi. Dan ia masih saja menunduk.

“Sekali lagi Mama tanya, siapa yang lakuin ini sama kamu, Nan!” Nada suara Mama Gisa menaik. Penuh dengan kemarahan. Penuh dengan kepedihan, telebih saat lagi-lagi fokus matanya tertuju pada luka-luka memar di wajah putera kesayangannya itu.  Setahunya, Ginan jagoannya yang paling baik,  suka menolong orang lain, tidak pernah menyakiti siapa pun, dan tidak pernah membuat masalah sekecil apa pun. Lantas kenapa ada orang yang dengan tega mencoretkan luka lebam itu di wajah tampan puteranya.

Ginan masih diam membisu. Air matanya tumpah.

“Katakan, Ginan!”

Kali ini Ginan merasa bahunya diguncangkan dengan cukup keras oleh Mama Gisa. Dan ia masih belum mau bersuara sedikit pun sampai akhirnya suara isak tangis wanita itu memenuhi ruangan pucat itu. Menjelma menjadi serpihan kaca-kaca runcing yang menelusup dadanya dan menembus, menusuk bagian hatinya yang paling dalam. Dan dalam sesak itu ia merasa tangan halus itu perlahan berubah posisi memeluknya.

“Mama sayang Ginan. Mama takut Ginan kenapa-napa. Mama takut Ginan ninggalin Mama hanya karena masalah sepele seperti ini.”

Dan dalam beberapa gerakan Ginan menuntun tangannya untuk membalas pelukan wanita berjilbab merah marun itu. Menangis lirih. “Mama selalu bilang sama Ginan, biarlah orang lain jahat sama kita, asal bukan kita yang jahat sama orang lain. Mama tidak perlu tahu siapa yang jahatin Ginan. Yang perlu Mama tahu, Ginan, anaknya Mama tidak pernah jahat kepada siapa pun.”

Hening.

“Jika Mama takut kehilangan Ginan, maka perlu Mama tahu kalau Ginan jauh lebih takut berpisah sama Mama. Kalau boleh Ginan bilang, kalau boleh Ginan ngeluh, Ginan benci penyakit ini. Penyakit yang bisa kapan aja pisahin Ginan sama Mama, sama Papa,  sama Disa. Ginan benci kenapa harus Ginan yang ada di posisi ini.”

Sebentar Ginan memberikan jeda dalam kalimatnya. Mama Gisa semakin mengeratkan pelukannya dan menangis lebih deras juga.

“Apa Mama pernah bertanya, kenapa selama ini Ginan memilih diam? Kenapa Ginan memilih menyembunyikan semua rasa sakit Ginan? Kenapa Ginan tidak pernah bercerita semua keluhan Ginan? Kenapa Ginan tidak pernah merengek setiap malam dateng dan Ginan ngerasa dada Ginan sakit, Ginan ngerasa gak bisa nafas, Ginan ngerasa kalau semuanya menghimpit Ginan dan membuat Ginan hampir tidak tahu bahagia itu seperti apa?”

“Kenapa, sayang?” Suara serak Mama Gisa bertanya. Karena itulah yang selama ini selalu berputar dalam kepalanya.

Ginan menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan mamanya. “Karena Ginan sadar kalau sudah terlalu banyak yang mama berikan buat Ginan, sementara Ginan belum bisa memberikan apa pun selama 15 tahun Ginan di samping Mama. Maafin Ginan, Ma, kalau yang Ginan beri selama ini hanya kecemasan buat Mama. Maafin Ginan...”

Dan Mama Gisa hanya bisa menangis lirih mendengar semua yang Ginan katakan. Sungguh ia tidak pernah merasa pamrih. Ia sayang Ginan lebih dari apa pun. Tidak apa jika yang Ginan berikan hanya kecemasan, hanya kekhawatiran, asal puteranya itu selalu berada di sisinya. Selalu bisa ia peluk seperti sekarang ini. Tidak apa...

*

“Dengerin gue, Ya!”

Aya terus saja melangkah dengan cepat. Tidak mempedulikan suara gadis yang bersusah payah mengejarnya. Mencoba menghindar dari gadis cantik yang benar-benar sudah menjadi polusi dalam pikirannya. Tercemar dan ia membencinya. Ia tidak ingin mengenalnya. Ia tidak ingin dekat dengannya.

“AYA!” Gadis itu mencoba menghentikan Aya dengan memegang keras pergelangan tangan Aya. “Gue mohon sama lo, dengerin gue sebentar. OK!”

Akhirnya Aya mau menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Aira dan juga Erru beserta Isha yang saat ini berdiri di belakang gadis cantik itu. Ia mendelik sebal. Bahkan kedua sahabatnya yang lain termasuk Ginan sudah berpihak kepada Aira yang jelas-jelas telah menjahatinya. Ia benar-benar merasa begitu terluka. Selain ciuman Ginan yang Aira rebut, tapi perhatian sahabat-sahabatnya telah dirampas darinya.

“Gue minta maaf, Ya, karena gue udah jahatin lo.  Gue cuma mau ngasih tahu lo kalau Ginan—”

“Kalau Ginan janjian sama Kakak dan dia biarin aku nunggu dia di kantin sampe sekolah bubar, gitu?! Sekarang dengan mudahnya Kakak minta maaf setelah Kakak jahatin aku, Kakak rebut Ginan dari aku, dan Kakak rebut Erru dan Isha juga? Terus Kakak mau apa lagi dari aku?!” jerit Aya marah. Air matanya menggantung. Ia merasa semuanya telah dirampok hingga pedalaman hatinya.

“Bukan itu, Ya...”

“Cukup, Kak! Aku gak mau denger apa pun lagi. Aku gak mau peduli lagi. Terserah, Ginan mau jadian sama Kakak, Ginan mau ciuman sama Kakak, Ginan mau ninggalin dan lupain aku. Ter-se-rah! Aku benci kalian semua.”

Baru saja Aya hendak meninggalkan termpatnya saat tangan Erru menariknya dan menjatuhkannya dalam dekapannya. Menenangkan gadis itu. Isha melengos melihat adegan itu. “Ginan sakit, Ya. Dia di rumah sakit sekarang.” Karena hanya dengan cara ini ia bisa menjelaskan semuanya kepada Aya. “Kemarin, Kak Aira yang nemuin dia pingsan di halaman belakang sekolah.”

Dari awal, Aya memang tidak ada niat untuk memberontak dalam dekapan Erru. Hatinya mencelos saat dengan jelas kalimat laki-laki si pemilik harum silver itu bertepi di telinganya. Menusuk-nusuk gendang telinganya hingga ia merasa semuanya terasa diam dan kosong.

“Aku tahu ini bukan Aya yang kami kenal. Aya yang kami kenal itu Aya yang selalu pengertian, selalu perhatian, selalu berusaha mendengarkan kami dalam kondisi bagaimana pun. Bukan Aya yang bersikap acuh, sok tidak peduli, tidak pernah mau mendengarkan kami.”

Tanpa diundang, Air mata gadis dengan model rambut yang sama dengan kemarin itu keluar. Membasahi seragam Erru. “Sakit apa, Ru?”


2 komentar:

  1. yeah...udah ada lanjutannya.. :)
    Next part nya ditunggu ya..
    Jgn lama2 kalo bisa :D

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea