Selasa, 19 November 2013

Perfect (Bab 8)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 03.18

Dengan kesadaran yang tidak sepenuhnya berkumpul dalam tubuhnya, Ginan berdiri, bersandar di balik pintu ruangan itu. Menyaksikan adegan di hadapannya dengan kekecewaan yang super mendalam. Jika bukan karena Bella yang memberitahu ia dan teman-temannya yang saat itu hendak pulang, ia tidak akan pernah tahu apa yang tejadi pada Aya.
Dari awal Ginan memang curiga dengan sms Aya yang agak berbeda dari biasanya.Aya tidak pernah mau pulang sendiri dan Aya tidak pernah menulis sms dengan menggunakan gaya bahasa yang tidak sesuai dengan EYD. Dan pesan yang Ginan terima, sama sekali berbeda. Bella bilang, Aira sengaja merebut ponsel Aya dan mengirim pesan dusta itu padanya. Ia kecewa dengan tindakan kakak-kakak kelasnya itu.
Baik Erru mau pun Isha sama-sama mendekat ke arah Aya yang masih terisak di tempatnya. Sementara Aira menatap Ginan penuh dengan kerisauan. Semuanya di luar rencananya. Ia sama sekali tidak menduga kalau orang yang membuatnya tahu apa itu jatuh cinta pada pandangan pertama itu akan datang dan menyaksikan aksinya.
“Ayo, Ya!” Isha membantu Aya berdiri, setelah Erru membiarkan jaket hitam bermerk-nya ia pindah alihkan ke tubuh sahabatnya yang tampak sangat berantakan.
Tubuh Aya limbung. Ia tidak bisa berjalan sempurna jika Erru dan Isha tidak memapahnya. Sekilas ia memandang kakak-kakak kelasnya yang masih saja menatapnya sinis, lurus menikam ke arah bola matanya yang tampak sayu dan berair.
“Ginan...” Aira berjalan mendekat ke arah Ginan yang kali ini sudah berada dalam posisi tegak.
“Aku kecewa, Kak. Aku kira Kakak gak sejahat ini,” ujar Ginan saat ketiga sahabatnya sudah berdiri di sampingnya. Erru beralih merangkul Ginan yang dalam penglihatannya juga terlihat sama payahnya dengan Aya.
“Ini karena gue sayang sama lo, Ginan,” tukas Aira cepat. Ia ingin Ginan mengerti bahwa ia tidak pernah suka Ginan sangat dekat dengan Aya. Ia menatap mata cokelat Ginan yang masih menyimpan kesakitan itu dengan lekat, berharap Ginan bisa membaca semua maksud yang tersimpan dalam hatinya.
Ginan menghela nafas panjang. Nyeri di dadanya masih belum mau menghilang. “Sayang itu bukan kayak gini, Kak. Kalau Kakak sayang sama aku, Kakak gak akan pernah menyakiti orang-orang yang aku sayangi.” Laki-laki itu berbalik, diikuti oleh Erru dan yang Isha yang masih setia di samping Aya.
“Ginan tunggu! Gue minta maaf.” Aira mencekal pergelangan tangan Ginan, membuat Ginan mau tidak mau menghentikan langkahnya. “Gue beneran suka sama lo. Gue minta maaf...”
Dengan gerakan pelan, tanpa menoleh ke arah Aira, Ginan berusaha melepaskan cengkraman tangan gadis cantik itu. Tanpa merespon satu patah kata pun ucapan Aira. Dan ia kembali melangkah.
Aira tidak menyerah. Ia mengejar Ginan. “ GINAN!” Aira kembali mencekal tangan Ginan dan menariknya dari rangkulan Erru. Ia biarkan tubuh yang masih menyimpan rasa sakit itu bersandar di dinding kelas. Dan beberapa jurus kemudian, Aira membiarkan bibirnya menempel sempurna di bibir merah Ginan yang tampak lebih putih itu.
Sontak saja mata Ginan membesar saat ia merasakan sentuhan lembut di bibirnya itu. Mengisyaratkan keterkejutan. Tangan Aira menekan dada Ginan dengan kuat, sehingga laki-laki itu tidak bisa memberontak. Ditambah dengan keadaannya yang masih begitu lemas. Ia berada dalam posisi yang tidak terelakan. Semua mata yang melihat adegan itu sama-sama tercengang. Terlebih Aya. Ia merasa, ada pedang super panjang yang menikamnya hingga pedalaman hatinya.
Setelah Ginan merasa tidak ada udara yang bisa dihirupnya, sekuat tenaga ia mendorong bahu Aira dengan agak keras. Tubuh Gadis itu mundur beberapa langkah, menjauh dari Ginan yang tampak pucat pasi dan terengah. Wajah yang selalu mengekspresikan ketenangan itu berubah beratus-ratus persen. Berbagai ekspresi negatif terlukis di baliknya.
Air mata Aya kembali tumpah. Dengan sisa tenaga yang ada, gadis itu berlari. Meninggalkan tempatnya. Ada sesuatu yang merobek hatinya dengan kejam. Entah kenapa ia merasa dikhianati. Lagi-lagi ia merasa semuanya tidak adil. Lantas kenapa ia harus marah, sementara ia tahu Ginan tidak pernah ingin melakukan ciuman itu. Tapi ia juga tidak tahu kenapa hatinya senyeri ini melihat bibir yang selalu memamerkan senyuman paling indah itu menempel dengan bibir orang yang begitu dibencinya.
“Aya!” Isha berlari mengejar Aya. Meninggalkan Ginan dan Erru juga keempat gadis cantik yang tampak lebih kusut itu dalam keheningan.
Ginan memejamkan matanya. Mencari udara yang entah kenapa terasa menghilang. Ada ngilu dalam dadanya. Tangannya ia biarkan mencengkram kuat dada kirinya. Kali ini semua mata kecuali mata sipit milik Erru, menatap aksi Ginan dengan heran. Ginan tampak kesakitan.
“Ya Tuhan, Nan!” Erru memekik pelan saat tubuh sahabatnya itu terkulai lemas.
Aira yang berada dalam posisi paling dekat dengan Ginan, yang paling pertama menahan tubuh Ginan yang hendak terjatuh sebelum Erru membantunya. Ia panik luar biasa.
“Nan! Ginan!”
Dan Ginan tidak ingat apa-apa lagi. Ada yang menarik kesadarannya dengan perlahan.

1 komentar:

  1. kak niaaa.. pleaseeee lanjutinn... aku penggemar setia cerita "PERFECT"

    Pleasee lanjutinn :) :) :)

    bagus banget kak. so perfect and cool.
    tapi kirang panjang . hehehe :D

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea