Minggu, 29 Desember 2013

Perfect (Bab 9)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 22.03

Ginan memfokuskan bola matanya keluar jendela kamar yang berada tepat di dekat tempat tidurnya. Sedikit membenarkan posisi tubunya hingga bersandar di kepala tempat tidur. Ia menghela nafas berat. Seperti pagi-pagi sebelumnya, matahari tampak sedang bermalas-malasan. Tidak mau menampakan diri. Tugasnya sedang digantikan oleh titik-titik kecil yang basah. Hujan. Air dari langit itu tampaknya sedang rajin-rajinnya. Bahkan ia selalu datang di pagi-pagi seperti sekarang ini.

Rekaman yang terjadi beberapa hari yang lalu, yang membuat Ginan terpaksa menghabiskan waktu di tempat tidur dan melewatkan sekolahnya, tidak berhenti berputar dalam kepalanya. Bahkan ia masih tidak mempercayai kalau ciuman pertamanya direbut paska oleh gadis yang bahkan tidak disukainya. Ia tertegun panjang dalam diamnya. Menatapi tiap tetes air yang mampir di jendela kamarnya.

Tapi bukan itu yang jadi permasalahan sebenarnya. Melainkan sikap Aya yang-setelah kejadian itu-berubah drastis. Gadis yang sebenarnya juga telah ia posisikan dalam hatinya itu tampak lebih dingin padanya. Dan rasanya lebih menyakitkan dari sakit mana pun. Terlebih saat  mengingat Aya yang selama beberapa hari ini tidak menengoknya sama sekali. Padahal, ia tahu gadis itu selalu yang paling cemas setiap kali ia sakit. Ia tidak pernah menyangka kalau semuanya akan berdampak begitu fatal terhadap persahabatan mereka. Juga terhadap perasaannya.

Masih dalam posisi yang sama, Ginan memikirkan banyak hal. Ia mulai berpikir kalau semuanya tidak akan selesai dengan ia membiarkan tubuhnya berdiam diri seperti ini. Ia merasa perlu bertemu Aya. Jika memang ia salah, ia harus meminta maaf. Ia tidak tahan berada di tempat asing seperti ini. Ia tidak biasa dibiarkan. Ia tidak biasa diacuhkan. Terlebih oleh seorang Aya.

Dengan tubuh yang memang belum sepenuhnya pulih, Ginan menyibakan selimut biru tuanya yang baru tadi malam diganti oleh mamanya. Bergegas ke kamar mandi. Tekadnya kuat untuk berangkat sekolah dan bertemu dengan teman-temannya, khususnya Aya.

“Ginan?!” Mama Gisa tampak terkejut dengan kehadiran Ginan di meja makan pagi ini. Lengkap dengan seragam sekolahnya. Hanya perlu sepuluh menit untuk Ginan menyiapkan diri. Disa yang tampak sedang menikmati roti berselai kacangnya menatap Ginan sekilas tanpa ekspresi, kemuadian kembali menekuni sarapan paginya.

“Ginan udah baikan Ma. Ginan sekolah aja.” kata Ginan menjelaskan. Ia mengambil roti bagiannya. Tanpa menunggu pertanyaan mamanya ia sudah tahu apa yang hendak ditanyakan mamanya itu.

“Tapi dokter bilang seminggu ini Ginan harus istirahat total,” protes Mama Gisa meletakan satu gelas susu di hadapan Disa. Lalu kembali ke dapur untuk membuatkan satu gelas yang sama untuk Ginan.

Ginan menggigit rotinya malas. Beberapa hari ini makanan yang masuk ke dalam mulutnya terasa aneh. Ia jadi malas mengkonsumsi makanan apa pun. Termasuk air putih juga. “Hm, Ginan akan baik-baik saja, Ma.”

“Janji?!” tanya Mama Gisa memastikan. Ia menaruh gelas berisi susu itu di hadapan Ginan dan duduk di samping putranya yang telihat masih pucat itu. Hatinya terenyuh perih setiap kali melihat warna yang selalu membuatnya takut itu terlukis di wajah tampan putranya.

Ginan mengangguk ragu. Palingan akan tertulis di white and black note-nya kalau ia melanggar janji lagi pada mamanya. “Mama tenang aja. Percaya sama Ginan.”

Dan Mama Gisa tersenyum. Meyakini hatinya kalau anak laki-lakinya itu memang akan baik-baik saja. Wajarlah, setelah kejadian pingsannya Ginan, keparnoannya bertambah hingga beberapa persen.

“Ginan berangkat ya, Ma,” pamit Ginan berdiri dari duduknya setelah sebelumnya meneguk sedikit susu buatan mamanya. Ia mencium tangan mamanya yang kemudian disusul dengan mengacak-ngacak rambut adik kecilnya yang kali ini ditemani bandana merah muda. “Belajar bagaimana caranya tersenyum yang manis ya, adik kecil,” goda Ginan. Selama ini—tepatnya semenjak Ginan divonis sakit—Disa jadi lebih sering mendiamkannya.

Disa hanya tersenyum kecut. Sebenarnya ia tidak bermaksud mengacuhkan kakaknya itu. Ia hanya ingin Mama dan papanya tahu kalau ia tidak suka mereka terlalu memperhatikan Ginan dan mulai terlihat tidak memperhatikan dirinya sepenuhnya.

*

Ginan berjalan agak tegesa menuju ke arah barat sekolah. Tak mempedulikan tatapan anak-anak lain yang terlihat lebih aneh. Sorot itu terkesan mengintimidasi dirinya. Tapi untuk saat ini ia tidak ingin tahu apa penyebab para penghuni 2Mei itu menatapnya dengan tajam seperti itu. Yang jadi fokusnya hanya ruangan kesekretariatan Creative Magazine yang ada di ujung koridor. Tempat di mana orang yang sedang dicarinya berada.

“Aya!” Ginan berdiri di samping meja tempat Aya berkutat dengan komputer dan artikelnya. Beberapa orang melirik ke arahnya. Tatapan mereka sama dengan tatapan-tatapan yang tadi sempat ditemuinya. Tapi lagi-lagi Ginan tidak mempedulikan hal itu. Yang ia pedulikan tentu gadis yang bahkan belum mau menoleh sedikit pun ke arahnya.

“Hm...” respon Aya singkat.

Benar. Memang ada yang tidak beres dengan Aya. Sejak pagi tadi gadis yang saat ini memilih mengepang rambutnya itu terkesan menghindarinya. “Ke kantin, yuk!” ajaknya basa-basi. Ia tidak mungkin membicarakan masalah ini di hadapan banyak orang.

“Aku lagi ngejar deadline, Nan. Kamu sendiri aja,” tolak Aya. Ia tetap fokus pada layar komputernya.

Ginan menghela nafas panjang. Sikap Aya seperti ini membuat dadanya sesak. “Bentar aja, Ya. Ada yang mau aku bicarain,” bujuknya.

“Di sini aja!”

“Aku mohon, Ya!” Ini pertama kalinya Ginan bersikap seperti ini. Sebelumnya ia tidak pernah memohon seperti ini. Bukankah selama ini semua yang ia inginkan, yang ia ucapkan selalu dituruti oleh sahabat-sahabatnnya. “Sebentar aja, Ya. Aku tunggu kamu di kantin.” Dan setelah itu ia berlalu meninggalkan ruangan yang penuh dengan tumpukan majalah dan kertas-kertas bekas itu.

Sebentar Aya tertegun. Ia menatap nanar berita yang beberapa hari lalu terbit di Creative Magazine. Berita yang sama sekali tidak pernah ia harapkan muncul. Dadanya sesak. Ada perih yang sesaat menusuk-nusuk perasaannya. Ia sendiri tidak pernah tahu apa alasan yang membuat ia bersikap acuh dan dingin seperti ini kepada Ginan. Yang ia tahu, ia merasa begitu kecewa dengan kejadian tempo hari. Ia kecewa kenapa harus Aira yang mencium Ginan. Ia kecewa kenapa Ginan diam saja dan tidak melakukan perlawanan. Ia kecewa dengan semuanya.

“Temui, Ya. Gue yakin lo lebih tahu kejadian yang sebenarnya. Gue gak percaya anak selugu Ginan melakukan hal seperti itu.”

Tepat!

Karena memang seperti itu faktanya.

Aya menoleh ke arah kakak seniornya yang duduk di meja, di hadapan mejanya. Berpikir cukup lama.

*

Ginan yang saat itu sudah stand  by di meja kantin paling pojok, sudah mempunyai feeling tidak enak saat ketiga laki-laki yang sudah tidak asing lagi buatnya, menghampiri mejanya. Bola mata mereka, terutama laki-laki bernama Chiko, terasa menyengat hingga ke dalam dadanya. Pasti akan terjadi sesuatu yang buruk!

“Heh, bocah! Ikut gue, lo!”

Tanpa persetujuan, Niro menarik tangan Ginan dengan kasar. Menyeretnya ke tempat yang lebih sepi. Ginan pasrah saja meski ia tahu akan ada sesuatu yang lebih buruk dari kejadian tempo hari padanya. Bukan ia tidak ingin melawan, tapi memang kondisinya tidak memungkinkan untuk melawan tiga orang yang sedang kalap seperti orang-orang yang saat ini berdiri di hadapannya.

Mereka berhenti di halaman belakang sekolah. Tempat yang lebih sunyi.

“Apa maksud lo nyium Aira, hah?!”

Sudah Ginan duga. Pasti perihal ciuman itu. Ah, kenapa harus ia yang dituduh jadi tersangka seperti ini?

“Jangan bilang lo gak tahu!” Chiko melemparkan Majalah sekolah tepat di halaman yang memuat berita aksi ciumannya dengan Aira. Ia cukup tercengang. Seketika saja dadanya terasa nyeri. Kenapa tidak ada satu pun dari teman-temannya yang memberitahunya tentang dieksposnya berita ini. Bahkan Aya yang merupakan anggota Creative Magazine. Kali ini ia benar-benar merasa diacuhkan.

Ginan menarik nafas dalam. Mencoba memerintah paru-parunya untuk kembali bernafas dengan normal. Sebisa mungkin ia bersikap tenang—seperti Ginan biasanya—untuk menghadapi kakak kelasnnya ini. “Kalian harusnya menanyakan berita ini sama Kak Aira juga.”

Seolah tidak mau mendengar kelanjutan kata-kata Ginan, penjelasan Ginan, laki-laki yang penampilannya jauh dari kata rapi, tapi selalu terlihat lebih keren itu, melayangkan pukulannya tepat di wajah Ginan dengan begitu kuat. “Lo ingat, kan? Gue pernah bilang lo bakal dapat yang jauh lebih menyakitkan kalau lo gak jauhin Aira.”

Ginan meringis pelan. Langsung saja ia merasa ada sesuatu yang keluar dari sudut-sudut bibir tipisnya. Merah dan amis. “Dengerin penjelasan aku dulu, Kak!”

Kenapa harus ada orang seegois Chiko yang bahkan tidak mau mendengarkan penjelasannya dan justru semakin membabibuta melemparkan pukulan ke arah tubuh ringkih Ginan? “Gue gak akan pernah mau dengerin penjelasan lo!”

Merasa dalam posisi diam seperti ini Ginan berada dalam keadaan bahaya, ia berusaha memberontak. Ia sadar bahwa tidak semestinya ia diam saja diperlakukan tidak adil seperti saat ini. Adakalanya ia harus membela dirinya sendiri.

Dalam satu gerakan, Ginan membiarkan kepalan tangannya mendarat di wajah tampan Chiko. Cukup keras hingga membuat Chiko tersungkur. Niro repleks membantunya berdiri. Sementara si calm Dan hanya menonton adegan mereka dengan cuek. Sesekali ia menyeringai sinis seperti meremehkan action movie buatan Indonesia.

Cih! Chiko menggeram marah. Ia menatap Ginan super tajam, lantas menyerang Ginan dua kali lebih anarkis.

“Argh!” Ginan mengerang pelan. Sejenak ia terdiam. Merasakan nyeri yang tiba-tiba mampir di dadanya saat tonjokan Chiko mendarat mulus di dada kirinya. Tubuhnya merosot perlahan. Repleks saja tangannya ia tangkupkan di atas mulutnya begitu menyadari ada sesuatu yang memaksa keluar.

Seolah belum puas melihat Ginan tumbang, laki-laki yang benar-benar sedang kalap itu, mencengkram kerah baju Ginan dan hendak melayangkan pukulannya kembali jika Dan tidak segera merelainya. “Ini peringatan terakhir!” kecam Chiko tajam sembari melepaskan cengkramannya, lantas berlalu meninggalkan Ginan sendiri dalam kesakitannya.

Uhuk!

Darah. Tangannya penuh dengan noda merah.

Ginan merasa sesaat saja jantung berhenti selama beberapa detik hingga ia merasa tersentak diiringi dengan nyeri yang luar bisa, lantas alat pemompa darah itu berdetak dengan begitu cepat. Sangat cepat dan sakit.

Ia merintih menahan sakit.

Sendiri.

Tidak ada Erru...

Isha....

Dan Aya....

Ke mana mereka di saat ia benar-benar payah seperti saat ini. Rasa sakitnya bertambah semakin banyak kala ia sadar bahwa saat ini ia berada dalam posisi terbaikan.

2 komentar:

  1. lanjuuuuuuuutt......
    Arght...penasaran ama nasib ginan nya..siapa yang bakal nolongin dia??
    Ditunggu lanjutannya :D

    BalasHapus
  2. yes, udah ada pulsanya kak? ^_^ lanjutttt lagii kakkk !!! semangkaaaa... :) tenang aja ginan. nanti aku iket tuh si chiko dibawah pohon mangga yang kemarin. sambil dibawahnya aku nyalain api unggun. dimutilasi dibakar abis itu kita makan deh daging chiko bareng-bareng. . .

    kak nia. "dibalik kacamata alifa" kok ngga ada?

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea