Rabu, 05 Februari 2014

Perfect (Bab 11)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.57
“Aya...,” panggil Ginan. Ia menatap lirih Aya yang sedari tadi diam menunduk di tepi  ranjang rumah sakitnya. “Maafkan aku.”

Untuk kesekian kalinya Aya mengacuhkan kata-kata Ginan. Ia sibuk memainkan jari-jemari dengan kuku-kuku cantiknya. Dan sudah lebih dari setengah jam adegan ini berlangsung. Sudah berkali-kali juga Ginan menghela nafas bingung melihat aksi diam Aya yang tanpa alasan ini.

“Kamu jahat sama aku, Nan,” lirih Aya. Baru ia mau mengangkat kepalanya. Menatap bola mata cokelat milik Ginan. Tidak pernah ia duga kalau di balik iris indah itu menyembunyikan banyak dusta.

“Maaf...”

“Maaf, katamu?” Aya mendengus sinis. “Cewek mana yang gak marah dibiarin nunggu berjam-jam?” rutuk Aya tanpa mempedulikan di mana dan bagaimana posisi mereka saat ini.

“Soal yang di kantin itu—”

“Terus, menurut kamu, cewek mana yang tidak sakit hati melihat cowok yang paling dicintainya berciuman dengan cewek lain tepat di hadapannya?!” Karena luka akibat kejadian itulah yang paling membandel dalam hati Aya.

“Kamu harusnya bisa bedain mana yang dipaksa dan nggak, Ya!” Rupanya masalah yang satu ini cukup membuat Ginan lebih sensitif. Ia menaikan nada suaranya. Penuh dengan penekanan. Membiarkan bola mata mereka beradu. Penuh dengan kilatan kemarahan. Marah karena ia tidak pernah bisa mejelaskan bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Bahwa ia juga tidak pernah ingin berada dalam posisi seperti ini.

“Dipaksa atau pun tidak, tetep aja itu tuh namanya ciuman!”

“Beda, Ya!”

“Gak ada bedanya sama sekali.”

“Ya udah, terserah kamu!”

“Aku benci kamu, Nan. Kamu selalu seperti ini. Kamu tidak pernah mau ngertiin bagaimana perasaan aku. Aku tahu, aku bukan siapa-siapa kamu karena kamu tidak pernah ngasih aku jawaban setelah pengakuanku tempo hari. Tapi setidaknya kamu udah tahu kalau aku itu me—”

Dalam satu gerakan saja, Ginan menarik Aya dan mengunci mulut Aya dengan bibir  pucatnya yang tampak lebih kering. Membuat Aya repleks membulatkan matanya. Kaget dengan aksi Ginan yang seperti ini. Gemuruh dalam dadanya meningkat. Ia seperti tersambar beribu-ribu watt listrik. Tiba-tiba saja seluruh syaraf dalam tubuhnya menegang. Tapi dalam beberapa detik berikutnya, ia menutup matanya rapat-rapat. Mulai menikmati ciuman pertama yang Ginan berikan untuknya.

“Ginan hampir dapat surat peringatan dan kena hukuman kalau Kak Aira gak menjelaskan soal aksi ciuman yang beredar di Creative Magazine itu.”

“Lagian, siapa coba yang nerbitin berita murahan kayak gitu di majalah sekolah.”

“Ya, anak-anak Creative Magazine.”

“Dan satu-satunya anggota Creative Magazine yang tahu...”

“Aya gak mungkin la—”

Kata-kata Isha menggantung ketika ia hendak membuka pintu ruang rawat Ginan. Tangannya mengaku di gagang pintu dan pandangannya lurus menyaksikan adegan rated M itu di balik kaca.  Dan tiba-tiba saja ia merasa saat ini, detik ini, pijakannya adalah beratus-ratus derajat selsius air yang mendidih. Udara di sekitarnya hanya di penuhi karbondioksida.

“Kayaknya waktu kita kurang tepat, Ru.” Isha berbalik.  Mengurungkan niat untuk membuka pintu dan ia memilih untuk duduk di kursi tunggu.

Erru yang juga melihat adegan itu sesaat terpaku sebelum akhirnya mulai bersuara, “Kita pulang saja!” ajaknya. Dan setelah itu, kedua laki-laki yang masih menggunakan seragam SMA itu meninggalkan ruangan itu. Menjauh. Membawa segenggam kekecewaan. Keperihan. Wajar jika memang ada rasa itu, karena mereka juga menyimpan rasa lain dalam hati mereka.

“Tidak selamanya mencintai itu harus berpacaran, kan?” Ginan menghentikan aksinya. Menjauhkan wajahnya dari wajah Aya yang tampak lebih merah. Menahan malu. “Yang itu, baru ciuman, Ya. Dan aku berciuman dengan cewek yang benar-benar aku cintai.”

Untuk beberapa saat Aya terdiam hingga akhirnya ia mulai bersuara lagi. “Sebenarnya, yang paling membuatku marah itu karena kamu menyembunyikan penyakit kamu dari aku, Nan. Kamu tahu? Setelah aku tahu kamu sakit, aku begitu takut kehilangan kamu. Dan apa yang kamu lakukan barusan padaku, justru membuat aku semakin takut kehilangan kamu.”

Kini, giliran Ginan yang membisu. Harusnya ia tidak melakukan itu.

*
“Udahlah, kalian gak perlu cari tahu lagi siapa yang ngeekspos berita murahan itu.” Ginan menyandarkan kepalanya di kepala tempat tidur. Baru tadi pagi ia pulang dari rumah sakit sebelum keempat sahabatnya dan The Perfect Girls datang menjenguknya. Ia sempat kaget ketika ia membuka mata, keempat gadis cantik plus Ayalah yang tertangkap lensa matanya.

“Asal kalian gak nyangka lagi aku yang menerbitkan berita itu. Lagi pula, aku bukan bagian redaksi. Aku tidak tahu menahu soal berita apa aja yang nangkring di majalah.” Aya duduk di posisi paling dekat dengan Ginan. Membuat ada beberapa pasang mata yang menatap mereka cemburu.

“Kita semua gak nyalahin lo kok, Ya,” kata Aira yang langsung disusul dengan anggukan setuju ketiga temannya. Pasca kejadian itu dan juga setelah tahu Ginan sakit, Aira dan Aya jadi lebih akur. Bahkan dikabarkan beberapa hari ini mereka tampak lebih kompak mencari tahu siapa orang yang menerbitkan berita aksi ciuman Ginan dan Aira,  yang menyebabkan Aira mendapatkan teguran keras dari kepala sekolah dan guru BP.

Ginan tersenyum simpul melihat teman-temannya yang akur seperti ini.

“Gue denger, yang mukulin lo tempo hari itu Chiko. Iya gak, Nan?” Pertanyaan Ressi sontak saja membuat ekspresi orang-orang yang saat ini mengelilingi tempat tidur Ginan itu berubah. Mata mereka menatap Ginan serius, menuntut jawaban yang sebenarnya.

Ginan mengangguk singkat. “Iya. Tapi yang udah, ya udahlah gak usah diperpanjang lagi. Diperpanjang juga malah bikin tambah ribet entarnya.”

“Gak bisa!” Entah siapa yang mengomandani, teman-temannya itu kompak mengatakan kalimat yang serupa. Jika saja tidak dalam kondisi yang lumayan pulih, Ginan tidak yakin jantungnya masih baik-baik saja. Ia cukup kaget dengan sentakan teman-temannya itu.

“Ini gak boleh didiemin, Nan.” Isha mengepalkan tangannya marah. Ia lupa tidak menanyakan siapa yang memukul Ginan, karena kabar tentang kondisi penyakit Ginan yang semakin parah jauh lebih menyita perhatiannya.

“Udahlah… Yang penting sekarang aku baik-baik saja.”

“Kalau sekarang kamu baik-baik saja, gak baik-baik sajanya gimana?” tanya Erru.

“Gak baik-baik sajanya kalau aku udah gak bisa lihat kalian lagi…”

“Gak boleh ngomong sembarangan!” tegur Aya marah.

TBC

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea