Senin, 14 April 2014

Ignore -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 05.48


Sebelum lanjutin Perfect


Alvin
12-12-2012
21:05:30

Maaf ya, Vi, aku gak jadi dateng. Mendadak Aren minta jemput.

Gadis berambut sebahu itu mendesah. Menatap lamat-lamat layar ponsel touhscreen-nya. Memastikan kalau ia tidak salah baca. Lantas setelah itu ia bangkit dari duduknya, menarik nafas dalam dan mulai melangkah menjauhi taman kota yang sudah dua jam ini menjadi latarnya. Hamparan langit yang kelam, sungguh mewakili perasaannya.

“Ya, aku ngerti.” Desisnya pelan. Berbicara pada angin atau apa pun yang mungkin bisa mendengar isi hatinya. Hatinya yang menyimpan perih. Menyimpan luka paling dalam. Menyimpan sesak tiada banding. Tapi inilah pilihannya. Inilah kemauannya. Meski sesak, meski perih.

*

Sesekali Via melirik ke arah meja di sebrangnya. Nanar. Sesekali juga Alvin menatapnya mohon pengertian. Via hanya tersenyum dan setelah itu menunduk dalam, pura-pura sibuk dengan aktifitasnya, pura-pura tidak peduli dengan aktifitas Alvin bersama Aren di sebrang sana. Pura-pura tidak peduli dengan sakit yang lagi-lagi menusuk-nusuk pedalaman hatinya setiap kali ini terjadi.

“Ikut aku, Vi!” Tiba-tiba saja Via merasa seseorang menarik tangannya dengan cukup kuat. Ia diseret paksa keluar kelas.

“Shil bisa pe—”

“Sampe jam berapa kamu di taman kota kemarin malem, Vi?”

Baru saja Via hendak memprotes tindakan tidak sopan Shilla, sahabatnya, gadis cantik berambut ikal itu sudah membungkam mulutnya dengan pertanyaan bernada sinis penuh simpatik. “Jam berapa, Vi?!” ulang Shilla yang tak kunjung mendapat jawaban apa pun dari Via. Ia memegang bahu Via cukup kuat, terkesan meremas.

Via menarik nafas dalam setelah sebelumnya menepis pelan tangan Shilla. “Jam sembilan,” jawabnya dan ia mendudukan dirinya, di beranda kelas. “Alvinnya jemput Aren. Ta-tapi gak apa-apa kok, Shil. Aku ngerti ada di mana posisiku.”

Shilla mendengus kesal. Ia melakukan hal yang sama, mendudukan dirinya di samping Shilla. “Kenapa kayak gini sih, Vi? Banyak tahu gak cowok yang mau sama kamu. Tapi kenapa kamu masih keukeuh sama Alvin yang jelas-jelas udah punya Aren?”

Via mendesah keras. Sudah beberapa kali ia menjelaskan kepada sahabat termodisnya itu. “Karena aku mencintai Alvin. Karena aku menyayanginya, Shil. Aku gak peduli kalau aku jadi nomor dua. Aku gak peduli kalau Alvin lebih sering ngabisin waktu sama Aren. Aku gak peduli, Shil.” Air mata yang sejak kemarin berusaha ia bendung, akhirnya membludak juga. Mengalir, menciptakan sungai-sungai kecil di pipinya.

“Dan kamu tidak peduli walau pun kamu harus nunggu selama berjam-jam di taman kota? Kamu tidak peduli kalau setiap hari kamu melihat Alvin bermesraan dengan Aren? Kamu tidak peduli kalau faktanya Alvin itu lebih menyayangi Aren ketimbang kamu?”

“Yang penting, aku tahu kabar dia 24 jam,” desis Via pelan. “Itu udah cukup buat aku, Shil.”

Shilla mendengus kesal. Ia tidak pernah mengerti bagaimana jalan pemikiran sahabat sejak kecilnya itu. “Naif! Hipokrif!”

“Aku gak peduli, Shil!”

“Tapi aku peduli sama kamu, Vi. Aku gak suka lihat kamu bohongi diri kamu sendiri kayak gini. Aku gak suka lihat senyum palsu kamu yang nyembunyiin banyak perih itu, Vi. Aku peduli sama kamu dan aku ingin lihat kamu bahagia. Gak kayak gini!” Shilla kembali memegang pundak Via kuat. Ia mengguncangkan tubuh Via cukup keras, seolah dengan begitu ia bisa menyadarkan Via dari segala kebodohannya. Dengan segala kedunguannya.

“Bisa kayak gini sama Alvin adalah hal yang paling membahagiakan buat aku, Shil.” Via menepis pelan tangan Shilla. Menghapus air matanya dengan cepat dan kemudian berlalu meninggalkan Shilla. Ia tidak ingin mendengar apa pun. Tentang dirinya, tentang orang yang paling dicintainya. Ia tidak ingin peduli dengan apa pun termasuk dengan sakit yang selalu dengan cerdas menelusup sendi-sendi hatinya. Karena yang ia tahu, kebahagiaannya selama ini adalah Alvin. Laki-laki oriental yang selama beberapa bulan ini menjadi kekasihnya dalam diam.

Via menghentikan langkahnya tepat di belokan koridor. Menyandarkan tubuhnya di tiang penyangga langit-langit. Memikirkan banyak hal. Tidak. Ia sama sekali tidak menyesali posisinya sekarang. Ia sangat mencintai Alvin dan ia yakin Alvin juga mencintainya. Meski cinta itu tidak sepenuhnya untuknya. Karena setiap orang tentu tidak hanya memiliki satu cinta.

“Aku mencintaimu...”

Tiba-tiba saja, Via merasa tangan seseorang melingkar di pinggangnya. Ia terhenyak, cukup kaget dengan aksi yang sangat tiba-tiba itu. “Alvin!” pekiknya tertahan. “A-a...”

“Aren izin pulang,” potong Alvin cepat seolah tahu apa yang ada dalam isi kepala gadisnya itu. “Hari ini hanya ada aku dan kamu.”

Via  menarik nafas lega. Bukan ia takut aksiya ini kepergok oleh Aren. Tapi ia takut jika Aren mengetahui rahasia ini, Aren akan memaksa Alvin memilih dan Alvin akan meninggalkannya karena lebih memilih gadis yang jelas lebih lama berstatus kekasihnya itu. Ia tidak pernah siap jika ia harus kehilangan Alvin. Lebih baik ia berada di zona menyakitkan, daripada ia harus ditinggal pergi oleh laki-laki yang sudah dari kecil menjadi pujaannya itu.

“Alvin...,” panggil Via lembut memegang lengan Alvin yang masih parkir di pinggangnya.

“Ya?” Alvin membiarkan kepalanya bertumpu pada bahu Via, sehingga ia bisa menghirup aroma khas gadis itu. Jujur, ini adalah pertama kalinya ia seperti ini setelah tiga bulan ia menjadi kekasih Via. Dan rasanya, ia lebih nyaman dengan aroma gadis itu.

“Aku gak peduli kalau cinta kamu terbagi. Asal cintamu padaku gak pernah hilang.”

“Tidak akan pernah,” kata Alvin mantap. Tegas dan penuh dengan keyakinan.

Via tersenyum.

Karena ia tidak pernah peduli pada apa pun selain cintanya.


*
FIN

1 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea