Minggu, 29 Juni 2014

Perfect (Semi Last Part)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 18.42
Reaksi gadis kecil itu berbeda dari sebelumnya. Ekspresi datar dan tidak suka yang biasanya ia lemparkan pada Ginan selama beberapa minggu ini, berubah beratus-ratus persen. Kebingungan dan kepanikan beradu di wajah polosnya. Saat ini ia tengah berada di kamar kakaknya itu. Menangis. Menggenggam erat tangan yang dipenuhi peluh dingin itu. Ia berniat untuk meminta kakaknya membuatkan sarapan karena Papa dan mamanya sedang tidak ada di rumah, ketika ia menemukan sang kakak tengah meringkuk sambil sesekali mengerang, menahan sakit di atas tempat tidurnya.

“Kakak kenapa?” tanyanya panik.

Ginan menggeleng kuat. Besusah payah mengumpulkan oksigen yang untuk kesekian kalinya tampak memusuhinya. Ia menatap lirih adik kecilnya itu. Untuk ke sekian kalinya ia membuat air mata gadis itu menetes karenanya.  Dan itu terasa lebih menyakitkan daripada sakit yang saat ini tengah mempermainkan setiap inci tubuhnya.

Air mata Disa meluncur semakin banyak saja saat erangan Ginan yang tampak menyakitkan itu terdengar menusuk pendengarannya. Ia benar-benar panic. Bola matanya berputar ke sana-sini. Berharap mamanya yang sedang pergi ke super maket segera pulang. “Apa yang sakit, Kak?” tanyanya yang membuat Ginan justru tersenyum tipis mendengarnya.

Bahkan Disa tidak pernah tahu penyakit apa yang sedang menggerogoti tubuh ringkihnya itu. Dengan sisa tenaga yang ada, Ginan menuntun tangan adiknya itu, meletakan tangan mungil itu di atas dadanya yang menjadi sumber segala nyeri itu. “Di sini…,” katanya parau.

Disa bisa merasakan detakan tidak wajar di bagian tubuh itu. Dan ia menangis semakin keras. Lantas memeluk Ginan dengan begitu erat. Membiarkan kepalanya bersandar di dada bidang itu. Detakan jantung yang semakin melemah itu terasa lebih jelas sekarang. “Kakak udah janji gak bakal sakit lagi. Kakak bohong sama Disa. Kakak udah ingkar janji sama Disa!” Disa terisak semakin hebat.

“Maafin Kakak, Disa…” Ginan mengelus lembut rambut hitam adiknya itu. Bisa ia rasakan tetesan hangat itu membasahi kaus abu-abunya. Tidak terasa, air matanya juga ikut meluncur bebas. Selain karena sakit yang menusuk-nusuk pemompa darahnya, juga karena air mata gadis kecil yang tidak mau berhenti menangisinya. Ginan sadar, selama hidupnya ia tidak pernah bisa membuat adik kecilnya itu bahagia.

Disa tidak merespon apa pun. Ia terus menangis. Tangan mungilnya memeluk erat tubuh yang semakin meronta menahan sakit itu. Dadanya bergemuruh penuh ketakutan dan kepanikan. Tangan Ginan yang semula terparkir di atas kepala sang adik, berpindah, meremas seprai biru mudanya. Bibir bawahnya ia gigit guna meredam semua nyeri yang sangat pintar mempermainkan tubuhnya. Puncaknya, di saat sakit itu menemui klimaks, ia berteriak, mengerang dan juga menangis. Membuat Disa semakin ketakutan.

“Kakak yang kuat. Mama bentar lagi pasti pulang. Kakak…” lirih Disa di sela isakannya.Sebentar pun ia tidak ingin melepaskan pelukannya.

“GINAN?”

Mama Gisa berlari tergesa memasuki kamar Ginan yang tiba-tiba saja terasa lebih hening. Wajahnya panic dan khawatir.

*
“BRENGSEK!”

Dengan sekuat tenaga, Isha memukul wajah laki-laki tampan yang saat itu tengah asyik bermain basket bersama kedua temannya. Emosinya yang sejak kemarin ia tahan, akhirnya membludak juga. Sejak datang ke sekolah, Isha sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakak kelasnya itu. Rasanya otot-otot tangannya sudah gatal ingin menciptakan warna memar di wajah orang yang juga sudah membuat warna memar di wajah teman baiknya.

Chiko yang cukup kaget dengan pukulan tiba-tiba yang telak mengenai pipi kirinya, sontak menoleh. Memandang sinis Isha. Sumbu amarah dalam dadanya tiba-tiba tersulut. Ia memegang pipi kirinya yang terasa ngilu dan nyeri.  Beberapa siswa lain yang melintas di depan lapang basket outdoor sekolah itu langsung berkumpul mengelilingi mereka.

Erru dan Aya yang waktu itu berada di tempat kejadian, hanya bisa diam. Tidak ada niat sedikit pun dalam hati keduanya untuk menghentikan Isha. Mereka berpikir bahwa Chiko pantas mendapat balasan yang setimpal atas apa yang dilakukannya. Ginan nyaris tidak bisa diselamatkan karena tindakannya.

“Itu buat Ginan! Dan ini…” Isha kembali menyerang Chiko. “Untuk Ginan juga!” tegas Isha barengan saat tangannya kembali menyentuh keras pipi Chiko yang lain. “Jangan berpikir bahwa gue bakal diem aja lihat temen gue babak belur gara-gara lo!”

Chiko mendecih. Meludah. Darah mengalir di sudut bibirnya. Niro yang hendak membela chiko, dicegat oleh Erru. Laki-laki sipit itu mencekal lengan Niro dan menatapnya tajam. “Hanya pengecut yang beraninya keroyokan. Kalo perlu, lo lawan gue!” tantangnya. Dan Niro hanya bergeming.

Aya menatap teman Chiko yang lain. Laki-laki calm yang saat ini sedang berdiri di tiang ring itu hanya tersenyum penuh arti. Senyum meremehkannya entah ia lemparkan untuk siapa. Aya tahu kalau Dan sama sekali tidak pernah menyentuh Ginan sedikit pun. Tapi ia tetap berjalan menghampiri laki-laki itu. Dan…

PLAKK!

Tangan halus itu menampar keras  pipi Dan. “Harusnya Kakak menyelamatkan Ginan waktu itu. Harusnya Kakak gak biarin Kak Chiko mukulin Ginan. Kakak gak tahu seberapa singkatnya waktu Ginan di dunia ini.”

Dan hanya menatap Aya bingung. Tangannya repleks memegang pipinya. Gamparan Aya tidak berarti apa-apa untuknya. Tapi jujur tamparan itu lebih berefek pada hatinya. Harusnya Aya juga tahu kalau selama ini ia yang selalu menyelamatkan Ginan. Harusnya Aya tahu, kalau ia yang selalu menghentikan aksi Chiko. Ia yang selalu mencegah Chiko menjahati Ginan. Semuanya karena ia peduli pada Ginan. Pada Aya dan pada semuanya.

“Ya…”

“Berhenti! Apa yang kalian lakukan, hah?!”

Baru saja Dan membuka mulutnya dan hendak menjelaskan sesuatu pada Aya, suara teriakan seorang pengajar memekakan telinga. Pak Burhan berdiri di antara Chiko dan Isha yang sudah tampak lelah karena saling serang. Aira dan anggota The Perfect Girls lainnya yang baru melihat kejadian itu tampak terbengong-bengong.

“Kalian semua!” Pak Burhan menunjuk satu per satu dari keenam siswanya yang berdiri tepat di lapangan. “Ikut Bapak ke kantor!!!” tegasnya dan berjalan menuju kantornya. Lelaki berumur dengan perut buncit, kepala sekolah SMA 2 Mei itu tampak begitu marah.

Sekali lagi Isha dan Chiko saling tatap. Sorot mata keduanya sama-sama mengatakan bahwa semuanya belum berakhir. Sementara Erru dan Niro yang sebenarnya tidak bertengkar sama sekali hanya bisa pasrah mengikuti Kepala Sekolah.

“Ginan itu sakit parah, Kak. Jadi tolong! Jangan sakiti dia lagi.” Aya berlalu dari hadapan Dan, berjalan mengikuti teman-temannya menuju ruangan Kepala sekolah.

Dan tertegun sebentar sebelum akhirnya melakukan hal yang sama dengan yang lainnya.

*

“Kenapa harus kayak gitu? Aku gak pernah menyimpan dendam sama siapa pun. Aku juga gak pernah berharap kalian balas dendam kayak gini,” komentar Ginan. Ia sedang duduk di bangku kayu di taman belakang sekolah. Tampak sibuk memainkan white and black note-nya sambil sesekali memandang ketiga temannya yang masih sibuk dengan tugas masing-masing.

“Kita kan tadinya Cuma mau ngasih mereka pelajaran aja. Mereka tuh kan  kakak kelas. Harusnya tuh mereka ngasih contoh yang baik, bukan malah gebukin orang sampai masuk rumah sakit,” protes Isha.

“Gak selamanya yang lebih tua dari kita itu bisa jadi contoh yang baik, Sha. Yang terpenting adalah selalu melihat orang dari sisi positif. Dan senantiasa mengambil contoh baik orang itu. Karena aku yakin, setiap orang selalu memiliki sisi terang dan gelap. Lagian, aku masuk rumah sakit kan emang karena aku orang sakit.”

“Iya, Nan. Sory deh. Kita salah memang.”  Kata Isha menyapu daun-daun kering dengan asal, membuat Aya sontak memukul kepala Isha dengan sapunya.

Ginan tertawa pelan melihat Isha meringis dan menyeringai ke arah Aya. Erru juga tertawa. Bahkan dalam situasi mengesalkan pun, selalu ada tawa ceria di antara mereka.

“Yang bener dong, Sha! Bukannya jadi bersih,malah tambah berantakan nih!” kesal Aya sambil menunjuk daun-daun mangga kering di hadapannya dengan sapunya. Wajar saja, sudah seharian ini mereka membersihan taman belakang sekolah yang bukan main luas dan kotornya itu. Anehnya, tamannya tidak juga kelihatan bersih.

Melihat ekspresi cemberut Aya, Isha yang tadinya sempat kesal karena dipukul dengan sapu, nyengir dan menatap Aya.  “Maaf ya, Ayanya Isha yang cantik!” puji Isha. Iseng saja ia mengacak-ngacak poni Aya seperti biasanya. Lantas, ia berjalan mendekati Ginan dan duduk di samping laki-laki yang tampak sangat pucat itu “Kita istirahat bentar, ya? Cape nih..” keluhnya kemudian.

Ginan tersenyum singkat saat Isha duduk di sampingnya dan merangkul bahunya. Erru dan juga Aya  menyimpan alat-alat kebersihannya dan memutuskan untuk beristirahat juga. Mereka bersamaan berjalan menghampiri Ginan. Karena bangku kayu itu hanya muat untuk tiga orang saja, Erru memilih untuk duduk di bawah.

“Kayaknya, kamu keliatan masih sakit banget, Nan.” Erru mengamati Ginan. Isha dan Aya melakukan hal yang sama dan kemudian mengangguk setuju.

Ginan menggeleng pelan. Setelah penyakitnya kumat kemarin pagi, Ginan memang tidak merasa kondisinya membaik. Sakit di dadanya mengikutinya ke mana pun ia pergi. Ginan benar-benar merasa hanya tinggal sedikit lagi saja jatah organ-organ penting dalam tubuhnya itu berfungsi. Ia benar-benar merasa bahwa sebentar lagi jam kehidupannya akan berhenti. Dan itulah yang membuat ia nekat pergi ke sekolah hanya untuk bertemu dengan teman-temannya. Untuk menikmati suasana 2 Mei. Untuk menghirup udara luar yang mungkin tak kan mampu ia hirup lagi. Untuk sekali lagi saja ia merasakan seragam putih abu-abu itu menempel di tubuhnya sebelum esok hanya kafan putih yang dikenakannya.

“Hidup itu sederhana, ya?” desah Ginan. Ia sandarkan tubuhnya di punggung kursi kayu itu. Lelah sekali rasanya.

Ketiga temannya menoleh bersamaan.

“Cukup merasa sempurna. Dan sempurna itu adalah ketika aku tersenyum melihat kalian tersenyum. Dan ketika kalian tersenyum melihatku tersenyum.”

Sepintas Aya melihat genggaman tangan Ginan yang begitu erat memegang bukunya. Urat-urat tangan yang pernah mendekap erat tubuhnya itu tampak menonjol. Seakan ikut berusaha menahan segala sakit yang ada. Lantas ia memandang wajah Ginan. “Kamu gak ap—”

“GINAN!”

Belum sempat Aya melanjutkan kalimatnya, Isha sudah memekik pelan. Erru juga. Beruntung ia duduk di bawah sehingga bisa dengan mudah menahan tubuh Ginan yang tiba-tiba saja tersungkur. Isha buru-buru membantu Erru menahan tubuh itu. Belum apa-apa, Aya sudah menangis. Ekspresi panic itu tergurat penuh di wajah-wajah sahabat yang sejak tadi merasa kesadarannya sudah hampir habis.

*

Ginan tidak bersuara. Semuanya tidak ada yang bersuara. Keadaan kamar berdesain sederhana itu begitu hening. Sangat hening. Di sana tampak begitu banyak orang, tapi tidak ada satu pun yang mau membuka mulut untuk mengucapkan sepatah kata pun. Hanya air mata yang menyampaikan banyak kata itu. Tentang betapa mereka khawatir akan keadaan Ginan.

Setelah kejadian pingsan di sekolah tadi, Ginan tidak lagi membuka matanya. Iris cokelat yang indah dan meneduhkan itu enggan terbuka lagi. Sudah seharian ini mata itu terus tertutup.  Jika tidak ingat pesan Ginan untuk tidak membawanya ke rumah sakit lagi apa pun yang terjadi, Mama Gisa tidak akan membiarkan anak laki-lakinya itu tidur di kamar ini.

Mama Gisa menangis sesegukan dalam dekapan Papa Nandi yang baru dua minggu ini pulang tugas dan berada di rumah. Tangannya menggenggam erat white and black note milik Ginan. Di buku itu begitu banyak kata membohongi Mama dan membuat Mama menangis di kolom kiri. Ia tidak pernah tahu seberapa sering Ginan menyembunyikan sakit itu darinya.

Disa terpaku saja di balik pintu. Memandang sang kakak yang dikelilingi teman-temannya. Kenangan-kenangan bersama kakak satu-satunya itu tereplay kembali. Tiba-tiba saja ia merasa takut kakaknya pergi.

Sementara Aya, yang berada di posisi paling dekat dengan Ginan, tak mau berhenti menatap wajah Ginan yang tampak begitu damai. Tidak ada air mata yang keluar dari mata gadis itu. Sedetik pun ia tidak mau memalingkan pandangannya dari wajah tampan itu. Ia mengamati mata yang tertutup itu, mengamati hidung mancung itu, dan mengamati bibir tipis yang begitu kering dan pucat itu. Ya, bibir itu. Bibir itu yang dengan lembut mengecup bibirnya untuk pertama kalinya. Bibir itu yang membuat ia merasa semakin takut kehilangannya.

“Aya…” ini suara pertama. Isha memegang pundak Aya. Menyadarkan Aya yang baginya terlihat begitu aneh. Menatapi wajah Ginan selama berjam-jam lamanya tampaknya bukan sesuatu yang wajar.

Aya tidak merespon, meski kali ini semua mata menatapnya bingung. Ia menggerakan tangannya yang sejak tadi terkepal di dadanya untuk menyentuh laki-laki di hadapannya. Bibir Ginan adalah objek pertama yang disentuhnya. Isha dan Erru cukup faham dengan apa yang Aya lakukan. Hanya mereka berdua yang melihat adegan ciuman kedua sahabatnya itu. Mereka tidak tahu, apa sekarang waktu yang tepat atau tidak untuk merasa cemburu.

Aya terhenyak, ketika kulit mulusnya menyentuh pipi Ginan. Ada hawa berbeda. Kemudian ia menyentuh bagian tubuh lain. Leher, kening, tangan dan terakhir berhenti di dada laki-laki itu. Dan sontak saja ia mengangkat tubuh yang langsung terkulai itu setelah yakin bahwa tubuh itu benar-benar dingin. Setelah sadar bahwa ia tidak merasakan detakan apa pun di dada lelaki itu…

….“GINAAANN, BANGUN, NAN!!!” Dan ia berteriak sekencang mungkin. Diiringi tangis yang hebat. Erru dan Isha repleks ikut memeluk tubuh kurus itu. Menangis bersamaan.

Jantung Mama Disa berdegup kencang. Sangat kencang. Tiba-tiba saja ia merasa begitu lemas. Buku yang ia pegang terlepas, ia tidak tahu apa yang ia pijaki sekarang. Kepalanya pusing dan tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap. Sangat gelap. Dengan sigap Papa Nandi menahan tubuh Mama Gisa.

“Jangan pergi, Kak. Nanti siapa yang mau ngasih Disa cokelat lagi?” Disa melirih. Tubuhnya merosot di balik pintu. Membenamkan wajah di balik telapak tangannya. Ia merasa sangat sedih mengingat hanya sebentar waktu yang pernah ia habiskan bersama kakaknya.

*



0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea