Minggu, 04 Januari 2015

Gone -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 19.27
Langkah kaki itu berjalan menyusuri tiap undakan tangga yang akan membawanya dari lantai atas menuju lantai bawah. Wajah yang selalu menjadi pemikat hati cewek-cewek sesekolahan itu tampak kusut, tak bergairah. Tanpa senyum ia menatap anggota keluarganya yang sedang sibuk dengan sarapannya masing-masing. Lantas, pemuda dengan seragam putih abu-abu itu mengalihkan tatapan matanya ke arah lain. Langkahnya tidak dibiarkan berhenti di meja makan seperti biasanya.

“Rio gak sarapan?”

Pemuda yang rupanya bernama Rio itu baru mau menghentikan langkahnya ketika suara khas wanita dewasa itu menyapa gendang telinganya. Lalu, tanpa berminat menoleh barang sejenak pun, ia melengos, kembali melangkah tanpa menjawab pertanyaan wanita yang baru dua minggu ini resmi menjadi Ibu tirinya.

“RIO!”

Juga dengan suara  berintonasi tinggi itu. Teriakan ayahnya sama sekali tidak dihiraukannya. Ia terus melangkah, menjauhi semua orang yang tampak memandangnya lelah. Suara deru motor pertanda Rio sudah meninggalkan rumah membuat orang-orang yang saat ini masih betah di kursi masing-masing membisu. Wanita berambut pendek itu mengusap pelan lengan laki-laki yang duduk di sampingnya. Menenangkan suaminya itu. Aren, adik Rio yang saat ini duduk di bangku kelas 5 SD itu menaruh sendoknya. Ia menatap nanar gadis yang duduk di hadapannya . Mata gadis itu terpusat pada pintu cokelat, tempat di mana sosok Rio menghilang.

“Kak Ify…” Aren memanggil nama gadis itu, menyadarkan Ify dari lamunannya. Ify mengalihkan tatapannya ke arah Aren. “Bagaimana kalau hari ini Aren berangkat sekolahnya bareng Kak Ify aja. Kali-kali Aren pengen dong, sekolah naik bus.”

Untuk sejenak Ify memandang Ayah barunya, meminta persetujuan. Setelah ibunya resmi menikah dengan ayahnya Rio yang juga ayahnya Aren, tidak membuat Ify menjadi pribadi yang manja hanya karena ayah barunya itu termasuk jajaran orang kaya. Ia tetap saja menjadi Ify yang mandiri, tidak tergantung dengan semua fasilitas yang diberikan ayah barunya. Ia tetap menjadi Ify yang mau berdesak-desaYon dengan penumpang lain untuk sampai menuju sekolah.

“Boleh ya, Yah?” pinta Aren manja seketika membuat kemarahan yang baru saja tercipta dalam hati ayahnya itu luput. Laki-laki berpostur tubuh tinggi besar itu mengangguk, mengiyakan. Aren tersenyum senang begitu pun dengan Ify.

*

Cuaca terasa begitu terik, padahal waktu baru menunjukan pukul sepuluh pagi. Sekumpulan anak-anak berseragam olahraga itu dengan ogah-ogahan, berkumpul di tengah lapangan olahraga. Menantikan nama mereka diabsen oleh guru olahraga yang dengan sangat egoisnya berdiri di bawah pohon rindang yang sulit ditembus oleh ganasnya sinar matahari pagi ini sementara anak-anak didiknya berpanas-panasan di tengah lapangan.

“Alvin, Bagas dan Bastian.” Teriaknya yang langsung membuat ketiga siswa yang namanya baru saja dipanggil maju ke depan dan berdiri di posisi masing-masing.

Rio memandang ketiga teman-teman sekelasnya itu tanpa arti. Cuaca benar-benar panas, sehingga membuat ia yang bahkan belum dipanggil saja sudah memproduksi banyak keringat.

“Ayo, Al! Lo pasti bisa!”

Suara lembut Ify yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempatnya terdengar hingga gendang telinganya. Seketika ia menoleh ke arah gadis yang saat ini sedang tersenyum menyemangati Alvin. Pemuda yang juga merupakan teman baiknya itu terlihat mengacungkan jempolnya. Meyakinkan Ify kalau ia bisa menjadi pemenangnya. Alvin memang satu-satunya teman yang selalu berpikir positif dan percaya diri.

Rio buru-buru mengalihkan tatapannya ke arah lain begitu pandangan Ify berubah kepadanya. Suara peluit terdengar dan Alvin juga peserta yang lainnya seketika melesat meninggalkan garis start. Mata mereka hanya terpusat pada garis finish di hadapan mereka. Dengan usaha maksimal mereka mencoba mengalahkan lawan masing-masing. Mereka terus berlari dan tidak ada yang mau mengalah. Teman-teman yang lain berteriak-teriak mendukung jagoannya masing-masing. Suara Ify terdengar paling keras meneriakan nama Alvin. Melihat hal itu, Rio mendengus sebal.

“Keren!” puji Ify saat Alvin mendekatinya dengan deru nafas tidak teratur. Baru saja laki-laki oriental itu menjadi peserta pertama yang berhasil melewati garis finish.

“Oia, dong… Gue,” bangga Alvin menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya. Ify hanya menyeringai mendengar kenarsisan sahabat baiknya itu.

next…  , Debo, Gabriel, Mario.” Guru berperawakan atletis itu kembali meneriakan nama muridnya dengan lantang. Termasuk nama Rio di dalamnya.

Segera Rio melangkah ke posisi paling ujung, tempat yang sama dengan Alvin tadi. Sekilas ia memandang Ify yang lebih memilih untuk menatap objek lain selain dirinya. Alvin mengacungkan jempolnya sebagai dukungan. Ia mengangguk singkat. Perasaan kecewa sedikitnya telah menohok hatinya begitu melihat respon dari gadis yang saat ini sudah resmi menjadi saudaranya setelah sahnya pernikahan Ayah dan juga ibunya itu.

Segera Rio melangkahkan kakinya secepat mungkin saat peluit menjerit, memekakan telinga. Saling susul dengan Gabriel dan Debo yang sama-sama ingin menjadi pemenang. Untuk kali ini saja ia tidak boleh kalah dari Debo dan Gabriel. Tepatnya, ia tidak boleh kalah dari Alvin. Jarak 200 meter bukan jarak yang jauh. Dengan keyakinan penuh ia menyusul Gabriel yang saat ini menempati posisi paling depan.

Cepat! Rio semakin mempercepat gerakan kakinya seiring cepatnya deru nafasnya. Seiring cepatnya detak jantungnya. Ia terus berlari. Memaksa kakinya bekerja lebih keras. Sesaat, semua beban hidupnya yang sempat bergentayangan dalam kepalanya sirna. Ikut menetes bersama peluh di sekujur tubuhnya. Suara ramai anak-anak perempuan berpadu dengan suara jeritan peluit saat kaki yang dilindungi sepatu Adidas berwarna putih itu menapaki garis finish.

Rio terdiam sesaat di tempatnya. Nafasnya masih terdengar tidak beraturan. Begitu pun dengan detak jantungnya. Ia mencoba menetralisir semuanya, namun sia-sia. Justru semuanya terasa menjadi lebih sulit. Entah kenapa ia merasa seperti ada yang meremas jantungnya dari dalam dan juga menyumpal seluruh alat pernafasannya. Sakit dan sesak berpadu menjadi satu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba  melangkah, lebih menepi ke sisi lapangan yang lebih teduh. Sepintas ia melihat Alvin dan juga Ify berlari menghampirinya.

“Lo tadi hebat!” puji Alvin begitu sampai di mana posisi Rio berada. “Iyel tuh jagonya lari,” sambungnya lagi sembari menepuk pundak Rio.

Ify menatap Rio yang tidak merespon apa pun dengan rinci. Ada yang aneh dengan pemuda itu. Kaki dan tangan yang sengaja Rio jadikan tumpuan terlihat bergetar. Bibir tipisnya ia gigit kuat-kuat. Peluh mengalir deras dari keningnya. Dan Ify baru menyadari ada yang tidak baik dengan Rio saat tubuh itu tiba-tiba limbung dan ambruk di hadapannya. Ia memekik keras dan Alvin berusaha menahan tubuh Rio yang sedikit lagi saja menyentuh pavingblock lapangan olahraga.

*

Perlahan, tangan itu meraih tangan yang terkulai di atas spring bed berukuran king size itu. Menggenggamnya dengan begitu erat. Berharap dengan begitu si pemilik tangan dengan ukuran lebih besar dari tangannya itu bergerak. Perasaan cemas dan sedih tergambar dengan begitu jelas di wajahnya saat pemuda yang sempat tak sadarkan diri di hadapannya itu tidak juga membuka mata. Ia benar-benar khawatir mengingat sudah hampir tiga jam ini kelopak mata itu tidak juga terbuka.

“Rio, lo kenapa jadi gini sih?” lirih gadis itu—Ify—merapikan poni Rio yang sedikit berantakan. Ia tidak tahu kenapa semuanya harus seperti ini. Kenapa keadaan membuat Rio berubah total dan terlihat begitu antipati padanya. Kenapa takdir harus menciptakan jarak antara ia dan Rio. Ify terisak pelan dan membenamkan wajahnya di balik lengan Rio.

“Ify?”

Segera saja Ify mengangkat kepalanya begitu ada suara lain yang terdengar di ruangan bercat hijau itu. Bola matanya berputar ke arah pintu masuk. Ibunya berjalan mendekatinya dengan segelas air putih dan semangkuk bubur di tangannya. Wanita bernama Rahmi itu menaruh nampan di atas meja dan segera duduk di tepi ranjang.

“Barusan Ayah telepon.  Kalau pas ia pulang Rio belum juga siuman, kita baru bawa Rio ke rumah sakit,” jelas Rahmi mengelus kepala Rio lembut. Ia tidak mengerti kenapa anak tirinya itu begitu egois dan tidak pernah mengizinkan ia untuk menunjukan kasih sayangnya.Ia tidak tahu kenapa Rio begitu membenci ia dan keluarganya.  Padahal, ia juga menyayangi Rio sama seperti ia menyayangi Ify. Ia tidak hanya peduli pada ayahnya tapi juga peduli padanya.

“Sebelumnya Rio tidak pernah seperti ini, Bu. Ia selalu terlihat baik-baik saja bahkan saat harus berlari lebih dari 200 meter pun. Tapi Ify tuh gak ngerti kenapa tadi dia tiba-tiba ambruk gitu aja,” cerita Ify mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

“Mungkin Rio terlalu capek, Fy. Ia juga terlalu banyak pikiran. Setelah pernikahan Ayah dan Ibu tampaknya ia memang berubah. Ia terlihat tidak baik-baik saja. Ibu selalu berpikir bahwa Rio memang tidak pernah menerima kehadiran kita di antara ia dan keluarganya. Rio tidak senang pada Ibu dan juga kamu. Mungkin Rio berpikir bahwa Ibu itu tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuknya. Ia pasti menganggap bahwa Ibu sudah menggeser  nama Ibu kandungnya di hati Ayah. Rio berpikir bahwa Ibu menikah hanya karena Ayah adalah orang kaya,”

Ify melihat ada air mata yang menggantung di pelupuk mata wanita paruh baya itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala pelan, memastikan ibunya kalau semua yang jadi praduganya tidak tepat sasaran. Pasti ada alasan lain yang membuat Rio sedemikian berubah. Bukan! Bukan alasan yang-terlalu-sangat-sinetron yang barusan ibunya bilang. “Nggak, Bu. Nggak mungkin Rio kayak gitu.”

“Ngapain kalian di sini?”

Baru saja Rahmi hendak berkomentar saat suara serak itu terdengar. Repleks kedua bola mata Ibu dan anak itu beralih ke arah si pemilik suara. Mata mereka sama-sama berbinar senang dan lega melihat orang yang sedari tadi dikhawatirkannya sudah membuka mata.

“Akhirnya kamu sadar juga.” Rahmi mengelus lembut kepala Rio. Rio buru-buru menarik  tangannya yang masih digenggam oleh tangan Ify dan menepis tangan Ibu tirinya itu. Ekspresi Ify sesaat berubah. Ia menatap Rio sedih.

“Pergi! Tinggalin Rio sendiri!” Dengan susah payah Rio merubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap tajam bola mata Rahmi, namun tetap menghindar dari tatapan Ify. Rasanya ia tidak ingin melihat pancaran kesedihan di balik iris hazel gadis itu.

“Tapi kamu lagi sakit, Rio…” Tak ada sedikiti pun niat dalam hati wanita yang saat ini mengenakan daster cokelat tua itu meninggalkan puteranya. Rio tidak tahu kalau ia  adalah orang yang paling mengkhawatirkan keadaannya.

“Rio gak butuh siapa pun! Kalian pergi dari sini!”

Air mata Ify menderas begitu saja saat dengan jelas tangan yang baru beberapa jam yang lalu digenggamnya mendorong bahu ibunya dengan kuat. Ia melihat air mata ibunya juga mengalir. Setelah kepergian Ayah kandungnya, hal yang paling Ify jaga adalah air mata ibunya. Ia berjanji kalau sekali pun ia tidak akan pernah membiarkan kristal bening dari balik mata ibunya jatuh. Dan Rio dengan sangat mudahnya membuat air mata yang selalu ia jaga tumpah seketika.

“PERGI!!!”  teriak Rio dengan intonasi lebih tinggi saat kedua orang itu tidak juga beranjak dari sisinya.

“Ayo, Bu. Dia bukan Rio yang kukenal.” Ify menuntun ibunya untuk berdiri. Rasa sakit berpadu dengan kemarahan dalam dadanya. Ia kecewa pada Rio. Benar-benar kecewa.

“PERGI!  PERGI KALIAN!” Rio kembali memekik keras ketika Ify dan juga Rahmi melangkah meninggalkannya.

“RIO!!!”

Belum sempurna Ify dan juga ibunya keluar dari dalam kamar yang cukup rapi untuk seorang cowok itu, teriakan seseorang menggema. Menambah kesan panas yang semula tercipta. Andrian—laki-laki yang Rio panggil Ayah—itu menggeram kesal di balik pintu.  Ify yang cukup kaget dengan teriakan ayahnya berdiam diri di sisi ruangan. Begitu pun dengan Rahmi. Pandangan mereka mengarah pada sosok Andrian yang sudah berjalan tergesa ke arah Rio.

“Apa yang kamu lakukan, hah? Dia itu ibu kamu! Ibu kamu, Rio!” Dengan agak kasar, Andrian mencengkram bahu Rio hingga pemuda itu meringis kesakitan. “Kamu gak pantas berlaku kasar seperti itu!” Tidak ada yang mengerti kenapa Rio jadi berubah drastis seperti ini. Kenapa Rio jadi kasar dan keras kepala.

“Rio gak peduli mereka siapa! Rio cuma mau mereka pergi! Pergi dari sini! Rio benci mereka!” raung Rio mencoba melepaskan cengkraman tangan ayahnya. Ia mendorong tubuh laki-laki yang lebih besar dari tubuhnya itu lantas segera turun dari tempat tidurnya.

“Keterlaluan kamu, Rio!” Baru saja Rio hendak melangkah menjauhi ayahnya saat pergelangan tangannya dicekal kuat oleh ayahnya. Rio berbalik. Dan sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kirinya. Untuk sesaat Rio terdiam dan di detik ke sepuluh ia baru sadar bahwa ada rasa nyeri di bagian pipinya. Ify dan ibunya menjerit dan segera mendekat ke arah Rio dan juga Andrian.

“Sebenarnya kamu kenapa, Rio?!!!”

Rio tidak menjawab. Ia mendengus marah, menatap sengit mata ayahnya. Denyutan di kepalanya yang tiba-tiba saja datang ia hiraukan. Ketidakpercayaan melahap habis kesabarannya. Untuk pertama kalinya semasa ia hidup, tangan yang dulu selalu ia andalkan, tangan yang menjadi penentu kehidupannya, dengan sangat keras menampar bagian wajahnya. Sesaat saja, akal sehatnya hilang entah ke mana. Ia mendorong tubuh ayahnya, mendorong tubuh Ify dan juga ibunya yang sudah berdiri di dekatnya. Rahmi yang tidak siap dengan dorongan Rio seketika terjatuh. Pinggangnya membentur ujung meja belajar Rio. Ia mengaduh, Ify segera membantu sang ibu dan Andrian tanpa pikir panjang menarik Rio, mendorong tubuh itu ke pojok ruangan.

“KAMU BENAR-BENAR KETERLALUAN, RIO!!”

Rio tidak tahu benda apa yang baru saja menghantam bagian punggungnya karena ia sengaja menenggelamkan wajahnya, melindungi bagian kepalanya dari pukulan sang Ayah yang sedang kalap. Ia tidak menduga sebelumnya kalau ayahnya akan semarah ini melihat ibu barunya itu terluka seperti itu.

Mungkin karena Ayah sudah tidak lagi sayang padanya. Mungkin karena sayang Ayah sudah beralih pada wanita itu.

Rio benci ini. Benci semua ini terlebih saat sadar benda tumpul yang entah apa itu kembali menghantam bagian tubuhnya yang lain. Pundak dan lengan kanannya menjadi sasaran. Apa hanya karena kesalahannya yang tidak seberapa ia harus menerima banyak sakit? Tidak hanya sakit dalam hatinya tapi di raganya juga?

“Ayah udah, Yah! Udah, Yah!” Ify dan Rahmi menjerit kompak. Seketika mereka merengkuh tubuh Rio yang masih meringkuk di pojok ruangan. Mencoba menghentikan aksi brutal Andrian yang sedang dikuasai kemarahan. Rio tidak bereaksi apa pun. Tidak sedikit pun ia memberontak dengan dekapan kedua wanita yang tadi sempat disakitinya itu. Beberapa titik tubuhnya terasa begitu sakit.

Andrian menghela nafas lelah. Ia melempar tongkat baseball yang tadi ia hantamkan pada tubuh Rio ke sembarang arah. Lantas setelah itu, dengan kemarahan yang masih bergemuruh dalam dadanya ia melangkah keluar kamar Rio, meninggalkan Ify dan juga Rahmi yang sedang sibuk menangani Rio yang untuk kedua kalinya tidak sadarkan diri. Di ambang pintu, Andrian melihat Aren. Gadis kecil itu sudah berlinang air mata. Ia menatap sendu ayahnya.

“Ayah jahat! Kenapa Ayah pukulin Kakak kayak gitu? Ayah bukan ayahnya Aren! Aren benci Ayah!” Dan gadis itu segera berlalu. Kembali ke kamarnya dan menangis di balik ruangan yang tidak jauh dari ruangan Rio itu. Ia tidak cukup mengerti dengan semuanya. Yang ia tahu, keluarganya sekarang tidak seharmonis keluarganya dulu. Dulu ayah begitu tegas namun juga sabar dan tidak kasar seperti apa yang baru saja dilihatnya. Kakaknya juga tidak sedingin saat ini. Dulu Kak Rio itu periang, mengasyikan, baik, peduli padanya dan siapa pun. Dalam tangisnya Aren memanggil nama Ibunya berulang kali. Berharap wanita yang melahirkannya itu hadir dan menghapus air matanya seperti yang dulu selalu dilakukannya.

*

“Rasanya gue mau mati!” keluh Rio yang langsung mendapat tatapan super sengit dari Alvin. Koridor sekolah masih terlihat ramai mengingat jam masuk masih setengah jam lagi. Alvin yang sedang sibuk menebar senyum ke arah teman-teman yang kebanyakan dari mereka tidak begitu dikenalnya, tiba-tiba menoleh ke arah Rio begitu kata-kata itu bertepi di telinganya. Mata sipitnya tiba-tiba saja melotot meski tetap saja tidak terlihat melotot.

“Apaan sih, lo? Kematian gak dipinta juga bakalan nyamperin kita. Jadi buat apa repot-repot minta mati? Kalau udah waktunya juga mau tidak mau ya gak bisa dihindari,” kata Alvin sembari kembali membalas senyuman adik-adik kelasnya yang sedang sibuk berkumpul di depan mading.

Rio menghela nafas. Ia merasa tidak hanya tubuhnya yang terasa lelah, tapi jiwanya juga. Rasanya ia ingin sekali waktu berhenti dan membiarkannya beristirahat sejenak.

“Jangan putus asa gitulah. Percaya deh, kalau masalah yang lo hadapi sekarang bakal segera berakhir.” Alvin kembali bersuara saat melihat Rio diam saja. “Ayolah!” sambungnya sembari merangkul Rio yang langsung memekik keras.

“Kenapa?” Tanya Alvin bingung. Buru-buru ia melepaskan rangkulannya dan memandang Rio bingung. Pemuda yang saat ini—tidak biasanya—mengenakan pakaian hangat ke sekolah itu tampak meringis menahan sakit. Tangan kirinya ia parkirkan di bahu kanannya. “Lo kenapa, sih?” Tanya Alvin lagi begitu tak kunjung mendapat jawaban dari Rio. Dengan inisiatif sendiri ia menarik Rio menuju toilet yang sangat kebetulan dekat dengan posisinya sekarang.

“Gue gak apa-apa!”

“Bohong!” Alvin memaksa Rio membuka jaketnya dan seketika ia mengernyit begitu luka memar menjadi pemandangannya saat jaket dan seragam Rio sempurna terbuka.

Belum semenit Alvin mengamati luka-luka memar itu, buru-buru Rio merapikan bajunya kembali. Ia meninggalkan toilet. Merasa tidak terima saat Alvin memaksa ia membuka bajunya dan memperlihatkan warna-warna biru keunguan yang sejak ia membuka mata pasca pingsannya terasa begitu sakit dan ngilu itu.

“Siapa yang mukulin lo?” Alvin mengejar Rio. Mencoba mensejajarkan langkahnya.

“Gue jatuh.”

“Bohong!”

“Ya udah, kalau gak percaya!” ketus Rio membuka pintu kelas yang baru setengah terbuka. Beberapa bangku masih terlihat sepi. Ify sudah duduk di tempatnya. Di meja paling ujung dekat dengan jendela. Ia tampak sibuk dengan buku dan penanya, pura-pura tidak menyadari ke hadiran kedua orang itu.

“Gue gak ngerti deh, Yo kenapa lo jadi berubah kayak gini. Lo bukan Rio yang gue kenal tahu, gak? Ify juga sering banget ngeluhin sikap lo yang sekarang. Gue tahu, Yo… gue tahu lo kecewa banget! Tapi…”

“Berisik!” Sungut Rio sembari menenggelamkan wajahnya di balik ranselnya yang baru saja ia letakan di atas meja. Ia benar-benar merasa begitu lelah. Lelah untuk semuanya termasuk mendengarkan ocehan Alvin yang hampir sama selama beberapa hari ini.

Alvin hanya bisa menghela nafas panjang sembari melirik Ify sekilas. Gadis itu masih  tetap pada aktifitasnya. Mata sembab gadis itu membuatnya yakin bahwa ada hubungannya dengan luka-luka di tubuh Rio.

*

“Kak Rio…”

Rio menarik nafas sebentar sebelum akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatap si pemilik suara yang baru saja memanggil namanya. Ia mengernyit. Menatap bingung Aren—si pemilik suara—yang saat ini sudah berdiri di hadapannya yang tengah duduk di tempat parkir sekolah.  Keadaan sekolah sudah sangat sepi. Rasa sakit di dadanya dengan disertai rasa sakit di beberapa titik tubuhnya akibat pukulan sang Ayah, membuat Rio terduduk lesu di tempat itu. Jangankan untuk mengendarai motor, untuk menggerakan tubuhnya pun rasa sakit itu sudah protes besar-besaran.

“Aren kok belum pulang?” tanya Rio. “Emang Ayah gak jemput?”

Aren duduk di samping Rio. Menyandarkan kepalanya di lengan Rio. “Aren mau pulang sama Kakak aja. Aren lagi benci banget sama Ayah.”

“Kenapa benci? Kita gak boleh membenci orangtua kita sendiri. Baik buruknya mereka, mereka tetap orang yang berjasa untuk kita.”

“Abisan Ayah jahat banget pukulin Kakak.” Rio tertegun. Ia tidak tahu kalau Aren melihat adegan kemarin malam. “ Lagipula, kalau kita gak boleh membenci orangtua kita, kenapa Kakak membenci Ibu? Dia kan orangtua kita juga.”

Rio menyeringai. Kata-kata Aren sedikit menohoknya. Aren tidak pernah tahu dan tidak akan pernah mengerti. Bahwa sebenarnya, dalam lautan hatinya yang paling dalam, ia bahkan tidak membenci siapa pun. Baik Ayah mau pun ibu tirinya. Tidak! Ia tidak membenci mereka. Ia hanya belum menerima. Menerima kenyataan yang membuat hatinya terkoyak, pecah berkeping-keping. Kenyataan yang membuat harapannya pupus begitu saja. Kenyataan yang bahkan lebih menyakitkan dari pada melihat posisi Ibu kandungnya tergeser dari hati Ayah.

“Ayo, Kak, kita pulang!” ajak Aren begitu melihat Kakak paling gantengnya itu diam saja.

Rio tersadar, ia melirik Aren sejenak sebelum akhirnya menatap Ninja putihnya dengan nanar. Perlahan ia meraba daerah bahunya yang terasa begitu sakit.

“Kakak kok diem aja, sih? Kenapa? Ayo kita pulang, Kak. Keburu sore lagi.”

“Eh? Oh, iya, ayo!” Rio berdiri. Ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan erangan untuk tidak keluar dari mulutnya dan terdengar oleh Aren.

“Kakak sakit?”

Rio tidak tahu kenapa Aren bisa tahu kalau ia sakit padahal ia sudah berusaha menyembunyikannya. Mungkin Aren memang bisa membaca semua gerak-geriknya. “Ng—”

“Kakak kok mimisan gitu sih?”

Baru saja Rio hendak berbohong dan mengatakan ia baik-baik saja sebelum Aren memotong kata-katanya dan menunjuk hidungnya. Dalam satu gerakan, Rio menyentuh bawah hidungnya dengan jari-jarinya. Seketika warna merah terlihat memenuhi  pandangannya. “Gak usah khawatir.”

“Ngga, kok.” Aren tahu, Kakaknya paling tidak suka orang-orang mencemaskannya. Ia menyembunyikan rasa cemas itu dan menghadapkan sapu tangan merah muda miliknya pada Rio. Sebenarnya itu sapu tangan milik Ify yang diberikan padanya setelah ia sering naik bus bersama Kakak tirinya itu.

*

“Kakak gak bisa ya, bersihin idung sendiri!” Aren mendumel. Ia membersihkan darah yang masih saja mengalir dari hidung Rio. Ia tahu, bukan Rio tidak bisa membersihkan darah itu. Tapi, memang darahnya gak bisa berhenti dan gak bisa dibersihin.

 Rio diam saja, membiarkan adik kecilnya itu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Ia menengadahkan kepalanya guna menahan laju darah itu. Pusing sekali. Ia tidak tahu apa ide Aren naik bus untuk sampai rumah terbilang ide yang baik atau tidak. Meski bus tidak terlalu padat, tapi tidak membuat keadaannya membaik.

“Kakak sakit apa sih, sampai mimisan gini?” tanya Aren menatap wajah pucat Kakaknya. Mimisan Kakaknya sudah tampak mereda.  Membuatnya sedikit bernafas lega.

“Kakak kebanyakan makan es tadi,”  jawab Rio diselingi dengan kekehan pelan.

“Yeh, makanya bagi-bagi, dong!” iseng Aren mencubit pinggang Rio yang repleks membuat Rio meringis. “Hehe… Maaf ya, Kakaknya Aren yang paling ganteng…”

Rio tersenyum lemah dan mengusap pelan kepala adiknya itu.
Keadaan hening. Cukup lama.

“Kakak kenapa benci Ibu Rahmi? Dia baik kok, Kak. Dia gak jahat kayak di TV-TV.” Aren memasukan tissue terakhir ke dalam tasnya. Ia tidak mungkin membuang setumpuk tissue penuh darah di dalam bus sehingga ia memutuskan untuk memasukannya saja ke dalam tas.

“Kakak tidak membencinya, kok,” parau Rio.Matanya terpejam tanpa ingin membukanya kembali. “Kakak tidak pernah membenci siapa pun,” ulangnya lagi, menegaskan tapi nada suaranya tampak tidak terdengar tegas sedikit pun.

“Aren seneng punya Ibu baru. Meski tidak seperti Ibu, tapi setidaknya Aren punya Ibu yang bisa nyiapin makanan buat Aren, yang bisa bacain Aren dongeng setiap malam, yang bisa ngambil rapor Aren tiap akhir tahun, yang bisa Aren cium tangannya pas Aren mau berangkat sekolah. Seperti teman-temannya Aren yang lain. Aren gak mau lagi kesepian seperti dulu, Kak…”

Rio diam saja. Tidak merespon apa pun.

*

“Gue mohon… gue mohon! Gak sekarang…”

Bibir tipis kering pucat itu terus melafalkan kalimat yang sama di setiap langkah lebar dan cepatnya. Pandangan matanya yang hampir memproduksi banyak cairan bening, terfokus penuh pada apa yang ada di hadapannya. Kakinya terus berlari cepat secepat detak jantung dan deru nafasnya.

Ibu meminta Ayah menceraikannya. Mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di bandung.

Aren seneng punya Ibu baru. Meski tidak seperti Ibu, tapi setidaknya Aren punya Ibu yang bisa nyiapin makanan buat Aren, yang bisa bacain Aren dongeng setiap malam, yang bisa ngambil rapor Aren tiap akhir tahun, yang bisa Aren cium tangannya pas Aren mau berangkat sekolah. Seperti teman-temannya Aren yang lain. Aren gak mau lagi kesepian seperti dulu, Kak…

Kalimat-kalimat itu terus terngiang dalam telinganya. Membuat ia semakin mempercepat langkah kakinya. Ia harus bisa mengejar Ify dan juga Ibu Rahmi. Mereka tidak boleh pergi. Ia harus mencegah mereka untuk pergi. Aren membutuhkan mereka, begitu juga dengan Ayah. Mungkin dirinya juga. Ia tidak boleh egois dengan merebut kebahagiaan anggota keluarganya yang lain hanya karena perasaannya sendiri.

“Ify… Jangan pergi.”

Ify membalikan badannya. Baru saja ia hendak menaiki bus jurusan Jakarta-Bandung ketika suara serak dengan nafas tidak beraturan itu terdengar menyapa gendang telinganya. Ibu Rahmi ikut membalikan badannya dan menatap lamat-lamat anak tirinya itu. Seketika waktu seperti jeda sejenak.

“Aku… mm.. hh… af..”

Dan Rio tidak tahu apa yang baru saja merebut seluruh cahaya di sekitarnya. Semuanya tiba-tiba saja gelap dan sunyi. Yang ia ingat, hanya rasa nyeri di bagian dadanya dan juga di seluruh tubuhnya. Sebelum akhirnya semuanya hilang dan pergi, ia merasa melayang dan ia tidak ingat dengan apa pun.

*

Saya tidak menduga sebelumnya kalau Rio menyembunyikan masalah ini dari Bapak. Beberapa bulan yang lalu ia ke sini dan mengeluh kalau dadanya sering terasa sakit. Saya turut menyesal, Pak. Ternyata jantung yang istri Bapak donorkan tidak bertahan lama berfungsi dengan baik di tubuh Rio.

Air mata Ify tidak berhenti selama dua jam setelah aksi pingsannya Rio di terminal bus tadi. Kata-kata dokter Egi terus terngiang di dalam memory kepalanya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Rio menyembunyikan semua itu darinya juga dari keluarganya. Ia benar-benar tidak tahu kalau beban yang selama ini ditanggung oleh laki-laki yang paling disayanginya itu teramat besar. Ia menyesal tidak memperhatikan Rio dengan lebih lagi.

“Kenapa kamu nyembunyiin ini, Yo? Kita tuh keluarga kamu. Kita sayang sama kamu. Kita gak mau kehilangan kamu…” Ify melirih pilu. Ia tenggelamkan wajahnya yang basah di punggung tangan Rio yang bebas jarum infus. Sesaat saja ia merasa takut kehilangan Rio untuk kedua kalinya.

“Karena aku gak ingin kehilangan keluargaku untuk kedua kalinya.”

Sontak saja, Ify mengangkat kepalanya begitu suara parau milik Rio terdengar. Ia menatap Rio bahagia campur sedih. Bahagia karena akhirnya laki-laki itu kembali membuka matanya. Dan sedih karena harus dalam keadaan seperti ini ia dan Rio bisa bersama setelah beberapa hari yang lalu saling berjauhan.

“Cukup saja kehilangan Ibu, Fy. Tidak kehilangan siapa pun lagi. Karena kehilangan Ibu membuat aku kehilangan kamu juga.” Rio memejamkan matanya untuk sepersekian detik. Banyak bicara membuat dadanya agak sedikit sesak dan nyeri.

“Jangan bahas ini lagi, Yo, aku mohon! Kita harusnya bahagia dengan pernikahan orangtua kita.”

“Dengan ngorbanin hubungan dan perasaan kita?”

“Tapi, bukankah tujuan kita hidup di dunia ini adalah membuat orangtua kita bahagia? Tolong, Yo… jangan berpikir kalau cuma kamu yang menderita dengan takdir ini. Aku juga sama, Rio. Hanya saja… apa salahnya kita berusaha untuk lebih melapangkan hati dan dada kita, Yo?”

Rio menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya, ia setuju, ia bahagia dengan pernikahan Ayah dan ibunya. Hanya saja ia tidak pernah menerima kalau hubungan ia dan Ify yang sudah terjalin dengan begitu lama harus diakhiri begitu saja. Ia tidak bisa menerima Ify sebagai saudaranya. Ia hanya ingin Ify menjadi kekasihnya seperti dulu.

“Yo…”

“Aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu sebelum aku mati, Fy.”

“Kamu gak akan mati, Yo. Penyakit ini gak akan pernah bisa merenggut nyawamu. Gak akan!”

“Tapi lebih baik aku mati dari pada aku berdosa karena mencintai saudaraku sendiri!”

“Cukup, Yo! Aku benci sama kamu. Dulu aku berpikir bahwa aku selalu mencintai kamu meski kamu saudaraku sendiri. Tapi melihat sikap kamu yang egois, kasar, dan keras kepala membuat aku muak. Muak sama kamu! Aku benci sama kamu!” Ify bangkit dari duduknya. Menepis tangan Rio yang semula ia genggam.

Dengan melupakan rasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya, Rio juga bangkit. Ia mencabut kasar selang infuse di tangannya. Lantas ia pergi meninggalkan Ify yang cukup kaget dengan aksinya. Sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan, ia melihat kedua orangtuanya dan juga Aren berdiri di ambang pintu. Menatapnya dengan sedih. Sepertinya mereka mendengar semua pembicaraan dan pertengkarannya dengan Ify.

“Rio… Maafin Ayah. Ayah benar-benar tidak tahu kalau kamu dan Ify…”

“Lupakan!” tanpa menunggu kelanjutan kalimat ayahnya, Rio berlari meninggalkan keluarganya. Berlari sekuat ia mampu. Melewati lorong-lorong rumah sakit. Beberapa orang menatapnya dengan heran. Rasanya nyeri di dadanya ia hiraukan. Justru ia berharap rasa nyeri itu bisa segera merenggut nyawanya. Ia sudah tidak kuat menanggung semua sakit ini sendirian. Baik sakit dalam fisik maupun batinnya.

“Apa sebaiknya kita… hm.. untuk kebaikan anak-anak kita, Yah…” Rahmi menatap Andrian sedih. Andrian menggeleng pelan. Ia benar-benar berada dalam pilihan dilematis.

Rio menghentikan kakinya saat ia benar-benar merasa jantungnya berdebar jauh lebih lebih dan lebih cepat dari biasanya. Ia membungkuk. Nafasnya yang pendek berhembus tidak beraturan. Sakit di dadanya bertindak lebih anarkis lagi. Kepalanya pusing. Sesaat matanya yang memburam melihat cairan merah kental menetes di balik aspal. Tunggu…

Rio mengangkat tubuhnya. Ia tidak tahu kalau ia berhenti tepat di tengah-tengah jalan raya. Ia memutar kepalanya ke arah kiri barengan saat sebuah klakson berbunyi dengan begitu keras. Matanya yang benar-benar buram membuat ia tidak tahu mobil jenis apa yang sedang melaju dengan begitu cepat ke arahnya. Yang ia tahu, mobil itu dalam hitungan detik membentur tubuhnya dengan begitu keras hingga ia terlempar jauh dari tempatnya berdiri.

Bau amis menyengat indera pernafasannya yang terasa penuh. Sepintas ia melihat orang-orang berlari mengerubuninya termasuk Ify dan juga Aren. Kedua gadis yang paling disayanginya itu kompak meneriakan namanya dengan panik. Ingin rasanya sebentar saja ia membelai pipi saudarinya itu. Namun kedua tangannya sudah tidak ia rasa lagi. Sebelum akhirnya, ia merasa seluruh tubuhnya pun bernasib sama dengan tangannya. Ia tidak merasakan apa pun lagi karena baru saja ia ditarik paksa keluar dari tubuh itu.

Ify benar. Bukan penyakit itu yang merenggut nyawanya. Bukan… Tapi, cara apa pun yang merenggut nyawanya, tidak membuat orang-orang yang disayanginya tidak menangsi kepergiannya.

END

@nhyea1225

529E0A64

2 komentar:

  1. wah kak :) makasih banyakk :) ini cerita menyedihkan sekali hehe

    BalasHapus
  2. neng udah pernah nawarkan teksnya ke pH.. kali aja hobi bisa jadi profesi.. sukses slalu deh buat cerpennya

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea