Minggu, 04 Januari 2015

Sahira -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 19.31
-Untuk kakakku-

*

Percaya atau tidak, penyesalan adalah hal yang paling menyakitkan. Terlebih ketika tidak ada lagi kesempatan untuk kita memperbaikinya.

*

Kepada Tuhan sang Pemilik Waktu.
Saat ini aku tengah jatuh cinta
Di satu sisi, aku ingin Kau menghentikan waktu untuk sejenak saja.
Dan di sisi lain, aku ingin Kau memerintahkan waktu untuk berputar dengan agak sedikit cepat.

Tuhan, yang selalu punya jalan cerita terindah untuk makhluk-Nya
Saat ini aku tengah jatuh cinta
Aku ingin hidup bahagia.
Aku ingin hidup dan menghirup udara lebih banyak lagi.
Aku ingin merasakan jatuh cinta itu lebih lama lagi.

Hingga ada saat di mana kami berjalan berdampingan di bawah temaram lampu-lampu senja
Hingga ada saat di mana kami berdiri menyalami teman dan kerabat di atas panggung raja dan ratu yang mereka bilang pelaminan.
Hingga ada saat sebuah ikrar untuk hidup bersama saling menjaga di sisa-sisa hidup kami.
Hingga ada saat di mana kita tua bersama dengan dikelilingi oleh anak-anak yang tampan dan cantik.

Tuhan, pemilik tiap hela nafas ini.
Tidak ada yang sulit untukmu
Tapi jika pintaku ini terlalu muluk untuk-Mu
Maka buatlah aku selalu bersamanya. Jangan jauhkan kami. Itu saja…

*

Laki-laki dengan potongan rambut cepak itu meremas kertas yang ia genggam dengan agak keras. Mengerang tertahan. Ia pejamkan matanya rapat-rapat menahan amarah. Lantas ia berteriak sekencang mungkin berharap dengan begitu rasa sumpek dalam dadanya bisa sedikit melega. Hidungnya memanas, merambat hingga mata bulatnya yang kemudian meneteskan cairan bening yang untuk pertama kalinya ia teteskan setelah 4 tahun ia penjarakan dalam mata indahnya.

Kehidupan yang pahit. Perjuangan yang keras. Tajamnya kerikil kehidupan yang harus ia lalui selama lima tahun pasca meninggalnya Ayahanda tercinta, dengan tegar ia lewati tanpa pernah meneteskan air mata. Ia perankan kisah Tuhan dengan baik untuk menyambung kehidupannya, adik-adiknya dan ibunya tanpa kenal lelah. Ia lelaki tangguh yang pernah ada.

Tapi hanya karena beberapa lembar kertas saja air mata itu tiba-tiba muncul bak air Zamzam di tengah padang pasir yang terus mengalir hingga berbagai zaman. Mata cokelatnya yang dulu selalu kering seolah tak memiliki stok air mata itu tiba-tiba saja basah. Penyesalan dan kepiluan memaksanya untuk mengeluarkan cairanbening itu. Dan semua itu tercipta hanya karena satu hal. Cinta.

“Dia menangis lebih dari ini sepanjang waktu, Annan.”

Laki-laki pemilik nama Annan itu mengusap air matanya dengan kasar sebelum menatap gadis yang sejak tadi duduk di sampingnya. Gadis itu balas menatapnya dengan nanar. Seolah ikut merasakan apa yang dirasakan pemuda di sampingnya.

Annan tidak berkomentar. Perlahan ia membuka kembali kertas yang sempat ia remas dan membacanya sekali lagi. Tiba-tiba saja tiap untaian kata itu mengajaknya berjalan mundur, mengingat kembali masa itu. Ya, masa itu…

*

[Flashback]

“Hei!!”

Annan memekik pelan, Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Yang ia ingat, ia sedang berjalan di trotoar jalan raya saat seseorang tiba-tiba saja menabraknya dan memeluknya dengan begitu erat sampai ia tidak tahu bagaimana caranya meloloskan diri dari lingkaran tangan mungil itu.

“Jangan dilepaskan! Aku mohon, jangan lepaskan pelukanku!”

Untuk beberapa saat Annan memberontak meminta agar gadis yang ia pikir orang gila itu untuk melepaskan pelukan itu, sampai suara lembut yang terdengar lebih pilu itu terdengar hingga gendang telinganya. Ia berhenti memberontak dan membiakan gadis itu melakukan apa yang ingin dilakukannya.

Melihat pemuda itu diam saja, gadis itu semakin merapatkan pelukannya. Tidak peduli kalau orang yang saat ini dipeluknya itu orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Ia tidak peduli siapa pun orang itu. Bahkan jika orang itu penjahat sekali pun ia sama sekali tidak peduli. Ia hanya ingin menangis. Ia ingin bahu seseorang untuk dijadikan sandarannya. Dan ia menangis semakin keras, membuat Annan semakin bingung dibuatnya.

“Sudahlah…” Annan memegang bahu sempit gadis itu. Mencoba melepaskan pelukan itu begitu ingat sudah cukup lama mereka melakukan adegan itu. Untung jalanan cukup sepi hingga tidak ada orang yang bisa melihat mereka. Dengan enggan gadis itu melepaskan pelukannya dan tertunduk. Menyembunyikan wajahnya dari orang yang baru saja dengan seenak jidatnya ia peluk tanpa permisi. Ia masih terisak dan larut dalam tangisnya.

Satu hal yang paling Annan benci adalah air mata wanita. Ia ingin saja meninggalkan gadis  yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Tapi melihat air mata gadis itu masih saja menderas seperti itu membuatnya mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengajak gadis itu lebih menepi dan duduk di teras sebuah toko.

“Ada apa?” tanya Annan. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya membuat seorang gadis berhenti menangis.

Gadis itu menyeka air matanya. Lantas menatap Annan dengan matanya yang sembab. “Maaf,” lirih gadis itu. “Maaf sudah memelukmu begitu saja…”

Annan menarik nafas panjang. “Tidak masalah. Sebenarnya kamu kenapa? Kenapa menangis segitunya sampai-sampai harus meluk orang yang bahkan tidak kamu kenal sama sekali?”

“Sahira.” Gadis itu mengulurkan tangannya sembari menyebutkan namanya.

Annan mengernyit. Menerima uluran tangan gadis bernama Sahira itu. “Annan,” katanya.

“Sekarang kita sudah saling kenal dan aku sama sekali tidak memeluk orang asing.”

Annan tertawa kecil. Perkenalan yang unik. “Jadi, kamu kenapa nangis?” tanya Annan penasaran.

Sahira menarik nafas dalam sebelum menjawab. Ia menatap laki-laki tampan di sampingnya sekali lagi. “Ngga kenapa-napa. Sayang aja air matanya, kalau gak dikeluarin entar kadaluwarsa lagi.”

Mendengar jawaban Sahira, repleks saja Annan terkekeh pelan. Gadis yang lucu. Dengan lekat ia memperhatikan Sahira. Gadis itu cantik juga. Entah kenapa Annan merasa begitu nyaman melihat senyuman yang melingkar di bibir tipis Sahira. Tanpa sadar ia terus dan terus mengamati Sahira. Seolah ia baru saja menemukan pemandangan Tuhan yang paling indah.

*
[FlashbackEnd]

“Dia gadis yang baik, Annan. Dia gadis luar biasa. Dia lewati hari-harinya dengan penuh senyuman dan keceriaan. Waktunya penuh dengan sejuta mimpi dan angan. Dia selalu bilang, nanti aku akan jadi penulis hebat! Bukuku akan berjajar rapi di toko buku. Dunianya hanya dengan tulisan dan baginya itu jauh lebih indah dari apa pun.”

Annan melirik gadis di sampingnya kembali sesaat setelah ia tersadar dari lamunannya. Ia mengepalkan tangannya lebih kuat lagi hingga buku-buku tangan kekar itu memutih. Rasanya tiap kata yang keluar dari bibir gadis yang baru beberapa jam lalu ia kenal itu layaknya panah berapi yang dibidikan tepat di jantungnya. Panas dan nyeri berpadu di sana. Kemarahan terasa mempermainkan hatinya. Ia marah. Benar-benar marah pada dirinya sendiri. Pada kebodohannya dan keegoisan hatinya.

“Dan semuanya berubah, Annan. Berubah ketika kau mulai hadir dalam hidupnya. Dia bukan Sahira yang kukenal. Bukan Sahira yang dunianya hanya penuh dengan kalimat-kalimat menawan. Dia bukan Sahira yang mimpinya menjadi seorang penulis terkenal lagi.”

Seharusnya Annan tahu. Seharusnya saat pertemuan dan perkenalan pertamanya dengan Sahira, ia sudah menyadari bahwa gadis itu bukan sembarang gadis. Sahira bukan gadis biasa. Dia gadis unik dan istimewa. Hanya saja, ia telat menilai. Ia berpikir Sahira sama saja dengan gadis biasa lainnya.

“Dia berubah menjadi Sahira yang dunianya hanya kamu, kamu, dan kamu, Annan. Dia melupakan mimpinya untuk menjadi seorang penulis. Mimpinya hanya ingin memiliki kamu seutuhnya. Ia hanya ingin menikah denganmu, hidup denganmu, dan tua bersamamu. Dia tidak punya mimpi lain selain kamu. Dia sungguh mencintai kamu, Annan. Sangat mencintai kamu sampai dia lupa mencintai dirinya sendiri!”

*
[Flashback]

“Annan…”

Annan menoleh saat suara gadis itu sampai di telinganya. Ia menaikan salah satu alisnya. “Kenapa?” tanyanya.

“Aku merasa sedang bermimpi saat ini. Rasanya aku ingin seperti ini selamanya. Aku merasa tidak ingin ada jarak sejengkal pun di antara kita. Aku sangat mencintai kamu, Annan…” Sahira menyandarkan kepalanya di bahu Annan sementara tangannya ia lingkarkan di pinggang laki-laki itu.

Annan tersenyum singkat. Kesibukannya selama ini membuat ia jarang sekali bertemu dengan gadis yang setahun lalu ia tembak itu.  Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan aktifitasnya sehingga waktu ia dan Sahira pun tak jarang ia lewatkan. Maklumlah, kehidupannya yang sulit membuat ia harus bekerja pagi, siang, sore, dan malam. Dan Sahira satu-satunya gadis yang mau mengerti dengan segala kesibukannya. Baru kali ini setelah satu tahun hubungan itu berlangsung, mereka bisa jalan bersama.

“Aku juga mencintaimu,” ujar Annan merangkul gadis itu. Angin yang berhembus serta bau belerang membuat gadis itu tampak kedinginan. Ia tidak tahu kenapa harus ke pusat wisata Kawah Putih ini ia mengajak gadisnya. Mungkin memang karena gak ada pilihan lain.

“Annan…” panggil Sahira lagi.

“Hmm?”

“Dulu yang paling aku takutkan di dunia ini adalah kematian. Tapi setelah mengenalmu, hal yang paling aku takutkan adalah kehilanganmu dan jauh darimu.”

Annan tertawa pelan sembari mengacak pelan rambut gadis itu. “Kamu ini… sejak kapan pintar menggombal seperti ini?”

“Hei! Aku tidak sedang menggombal tauuu. Emangnya kamu?” protes Sahira tidak setuju. Orang apa yang ia ucapkan benar-benar tulus tanpa ada sedikit pun unsur bercanda.

“Iya… iya…” Annan manggut-manggut mengiyakan. Sahira sangat bawel dan jika tidak ia iyakan, dia akan terus berbicara.

*
[FlashbackEnd]

“Baginya, waktu adalah kamu, Annan. Setiap detik yang diingatnya adalah kamu. Aku tidak mengerti kenapa sosok laki-laki seperti kamu bisa membuat Sahira benar-benar nyaris seperti orang gila. Kamu tidak tahu seberapa berartinya kamu untuknya. Andai kamu tahu, Annan. Dia adalah satu-satunya gadis yang paling sering menangisimu, mengkhawatirkanmu, dan mencemaskanmu setiap kali kamu tidak menghubunginya.”

Memang. Harusnya ia lebih peduli seperti Sahira yang selalu peduli padanya.

“Aku sama sekali tidak mengerti kenapa kamu bisa sebodoh itu menyakiti orang yang dengan sepenuh hatinya mencintai kamu. Kenapa kamu meninggalkannya, Annan? Kenapa kamu membuatnya menunggu? Kenapa kamu menghancurkan semua mimpi dan harapannya, Annan? Kenapa kamu sejahat itu?”

Annan terlonjak saat gadis di sampingnya itu mengguncang bahunya dengan cukup kuat. Gadis itu menangis. Air mata dan kata-katanya menampar hati Annan dengan begitu keras.

“Kamu pikir apa yang dia ucapkan itu bohong, hah? Kamu pikir itu hanya gombalan biasa? Tidak, Annan. Sahira sungguh-sungguh mencintaimu. Dia tidak bisa jauh darimu. Dia tidak bisa didiamkan olehmu. Dia rapuh tanpamu, Annan.”

“Apa yang tidak Sahira lakukan untukmu? Kamu menyuruhnya bersabar menunggumu? Ia melakukannya. Ia melakukan semua itu. Tanpa kamu tahu, waktu 2 tahun yang kamu berikan sama dengan menggiringnya ke arah kematian. Kamu tidak tahu, Annan. Semakin lama ia menunggumu, semakin besar rasa rindunya padamu, dan semakin parah juga penyakitnya itu. Dan setelah ia menunggu waktu itu, kamu malah pergi dari hidupnya.”

Annan benar-benar tidak pernah tahu soal masalah ini. Yang ia tahu, Sahira selalu tampak ceria dan sehat. Ia tidak tahu bahwa ada sesuatu yang mengerogoti nyawa gadisnya itu. Ia tertunduk lebih dalam lagi. Semuanya memang murni kesalahannya. Kesalahannya karena terlalu sombong dengan kemampuannya membuat Sahira selalu luluh dan bertekuk lutut mengemis cinta padanya.

“Sahira sangat mencintaimu hingga ia rela selalu mengalah setiap kali kalian bertengkar. Sahira sangat mencintaimu hingga ia rela bersikap murahan mengemis-ngemis cinta padamu padahal di luar sana banyak laki-laki yang mengemis cintanya. Kamu ngerti gak sih, Nan?”

Annan diam saja. Rasanya semua kata yang keluar dari bibir gadis itu membuat lidahnya benar-benar kelu.

*
[Flashback]

“Kau sudah berjanji akan mengenalkanku pada orangtuamu. Hubungan kita sudah berjalan 3 tahun lamanya dan kamu belum juga mengenalkanku pada keluargamu. Harus berapa lama lagi aku menunggu, Annan? Usiaku sudah 23 tahun.”

“Bersabarlah! Jika kamu gak bisa sabar, ya udah…” nada suara Annan terdengar ketus. Entahlah, ia merasa kesal dengan sikap Sahira akhir-akhir ini. Sahira terkesan lupa mengerti akan keadaan dirinya.

Sahira terdiam. Menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Sejauh ini dia sudah bersabar menunggu Annan. Dia sudah jauh lebih bersabar menghadapi semuanya sendirian di tengah kekhawatiran akan jatah hidupnya yang hanya tinggal sedikit. Dia sudah berusaha mempertahankan semuanya. Mempertahankan cinta dan juga hidupnya. Tapi kata-kata Annan barusan dengan sekejap mata menghancurkan harapannya. Menghancurkan mimpi dan cita-citanya.

“Pergilah dan tinggalkan aku, Sahira. Kamu bisa menikah dengan orang yang jauh lebih baik dalam waktu yang singkat ini. Jika kamu tidak bisa melakukan itu, aku yang akan pergi dari hidupmu.”

“Aku memang selalu salah. Aku pengganggu untukmu. Aku gak berguna buatmu. Aku gak berarti sama sekali buatmu. Aku tahu, Annan. Aku tahu aku salah, aku minta maaf dan aku mohon jangan pergi. Jangan pergi dari hidupku. Aku akan menunggu berapa lama pun juga tapi aku mohon jangan tinggalkan aku… aku mohon, Annan..”

Mungkin Sahira memang sudah gila. Tidak, ia tidak gila. Hanya saja cintanya pada Annan terlalu besar. Ia terlalu takut mimpinya untuk bahagia bersama Annan sirna begitu saja hanya karena ia tahu bahwa hidupnya sedang berada di ambang kematian.

“Jangan pergi, Annan…” Sahira terduduk lesu menyaksikan langkah pelan Annan. Tanpa berbicara apa pun lagi Annan meninggalkannya. Tiba-tiba saja ia merasa malaikat kematian benar-benar telah mengambil sebagian nyawanya dan sebagian lagi ikut pergi bersama Annan. Ia menangis lirih. Hatinya rusak parah. Penantiannya selama dua tahun sia-sia tanpa alasan yang jelas.

Sekarang ia hanya bisa pasrah pada takdir Tuhan.

*

[FlashbackEnd]

Annan menangis. Tiba-tiba saja ia memeluk gadis di sampingnya. “Aku tahu aku salah. Waktu itu kondisi keluargaku sedang kacau. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku emosi mendengar Sahira terus-terusan menuntutku untuk menikahinya sementara dia tidak faham dengan kondisi aku dan keluargaku.”

“Tapi setidaknya kamu bisa kasih dia pengertian sekali lagi. Sahira pasti akan mengerti dengan semuanya. Bukan dengan ninggalin dia gitu aja.”

“Aku berpikir bahwa itu jalan terbaik. Dan aku juga tidak benar-benar meninggalkannya. Dia sudah berjanji akan menungguku berapa lama pun. Dan aku pergi ke Makassar, mencari pekerjaan yang jauh lebih baik dengan niat akan kembali dan menikahi Sahira. Tapi… aku gak tahu kalau ternyata Sahira mengingkari janjinya. Ia tidak bisa bertahan sedikit lagi saja untuk menungguku.”

“Tuhan tidak tega melihatnya menunggu seperti kehilangan harapan, Annan. Oleh karena itu Dia memutuskan untuk mengambil Sahira dan menyandingkannya dengan orang pilihan Tuhan di surga sana.”

“Dan kehilangan ini, adalah hukuman dari Tuhan untukku karena sudah menyia-nyiakan gadis seistimewa Sahira.”

Annan kembali meremas kertas berisi tulisan Sahira. Seperti inikah rasa sakit yang Sahira tanggung ketika ia pergi meninggalkannya? Semuanya memang salahnya. Ia terlalu menganggap sepele perasaan Sahira. Dan penyesalan itu tiba-tiba saja menggerogoti perasaannya tanpa belas kasih. Ia sungguh menyesal. Sahiranya benar-benar pergi dan mewujudkan dengan laki-laki terbaik pilihan Tuhan di surga sana.

FIN

*
@nhyea1225

529E0A64

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea