Rabu, 18 Februari 2015

Amanah–Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 07.55



 --------------

Ummi galau. Ummi sedih. Ummi murung. Ummi tidak tersenyum. Semuanya gara-gara anak perempuan dan laki-lakinya yang masih sibuk sendiri di kamar masing-masing. Ummi benar-benar bingung dan tidak mengerti. Kata Zamzam, Rifa yang salah. Kata Rifa, Zamzam yang salah. Kata Rifa, Zamzam yang tidak amanah dan malah menghilangkan buku novel  yang ia pinjam dari perpus. Kata Zamzam, Rifa yang salah karena menitipkannya dan ia tidak tahu kalau akan ada kejadian yang membuat buku itu akhirnya hilang. Ummi sungguh tidak tahu bagaimana caranya untuk membujuk mereka kembali berbaikan.

“Udahlah… nanti juga baikan sendiri.” Abi nongol dari balik pintu dapur. Berjalan menuju meja makan yang sudah dihiasi beberapa menu makan malam.

“Udah tiga hari, Bi, mereka kayak gini cuma gara-gara buku.” Abi selalu menganggap sepele urusan anak-anaknya. Padahal Ummi begitu tersiksa melihat kedua anaknya diam-diaman seperti ini. Rumah yang biasanya ceria jadi terlihat begitu sepi. Tidak ada nonton bersama, makan bersama, sholawatan bersama, ngaji bersama. Semuanya jadi mereka kerjakan masing-masing.

“Kalian itu saudara, jangan bermusuhan seperti itu!” Ummi menegur ketika Zamzam dan juga Rifa menghabiskan makan malam mereka. Ia membereskan piring dan membawanya ke westafel. “Buku bisa diganti lagi, tapi saudara tidak akan pernah ada gantinya.”

“Ini bukan soal bisa atau tidak bisa digantinya, Mi. Tapi yang jadi permasalahannya itu, amanah dan tidak amanahnya. Rifa malulah, sama Bu Irma,” protes Rifa kesal. Ia membantu Ummi membereskan piring. “Ciri ketiga orang munafik itu apabila diberi amanah ia mengingkari, kan?” sambungnya dengan maksud menyindir Zamzam yang masih sibuk dengan air minumnya.

“Dari awal, aku udah bilang kan, jangan nitipin buku itu sama aku.” Zamzam ikut kesal. Enak saja, dibilang orang munafik!

“Umar Bin Khattab aja, yang tidak pernah ingin diamanahi kekhalifahan sama Abu Bakar, tetapi tetap bertanggungjawab dan menjaga amanahnya.”

“Aku mana tahu kalau tasku bakalan hilang. Lagian, dikira kamu aja yang kecewa? Aku juga!”

“Salah sendiri jadi orang teledor banget. Gak ada tanggungjawabnya, sih…”

“Terserahlah… namanya juga musibah!” Zamzam mengakhiri perdebatannya dengan meninggalkan dapur. Ia masuk kamar. Marah. Emosi. Ia kesal dengan Rifa yang menyalahkannya. Lagian, ia tidak tahu kalau tas miliknya akan hilang sewaktu di stasiun kereta seminggu yang lalu.

“Sudahlah, kalo barang itu memang rezekinya kita, nanti juga punya cara sendiri buat balik lagi sama kita.” Abi menengahi dengan kalem. Ia baru saja keluar dari kamar mandi.

*
Seminggu yang lalu..

Liburan selesai. Keluarga Zamzam dan juga Rifa memutuskan untuk kembali ke rumah setelah menghabiskan dua minggu di rumah nenek. Mereka pulang naik kereta. Rifa ngotot pengen ngerasain gimana rasanya naik kendaraan paling panjang itu, sehingga Ummi dan Abi memutuskan tidak menggunakan kendaraan pribadi. Waktu itu tas Rifa yang penuh dan padat, memaksa Rifa untuk menitipkan buku yang ia pinjam sebelum liburan itu di dalam tas Zamzam. Zamzam sempat menolak karena ia malas membenahi tasnya kembali. Tapi Rifa maksa dan Zamzam mengalah.

Sampai akhirnya, sesuatu yang tidak diduga terjadi. Sewaktu kereta berhenti, Zamzam membantu Ummi mengambil barang-barangnya dan ia meletakan tasnya sebentar di kursi tunggu. Belum beberapa detik, tas punggung berwarna hitam corak merah itu hilang. Tas dengan merek Alto itu tidak ada di tempatnya saat ia kembali berbalik. Mungkin dicuri…

Rifa marah, Rifa kecewa karena buku pinjamannya ada di dalam tas. Tapi, Zamzam justru lebih kecewa. Bukan hanya buku, tapi handphone, laptop, beberapa buku pelajarannya ada di dalam tas itu. Ia bisa mengikhlaskannya, tapi kenapa Rifa tidak? Iya, ia tahu amanah itu yang memberatkan Rifa. Tapi, ia juga tidak pernah tahu kalau musibah itu akan menimpanya juga.

Zamzam melafalkan istighfar. Ia begitu marah pada Rifa.

“Kak Zamzam!”

Zamzam membuka mata. Tersentak. Teriakan Rifa dari luar kamarnya.  Ia beringsut keluar kamar.’ Mau berdebat apalagi, sih?’ batin Zamzam kesal. Rifa meneriakan namanya dengan begitu keras. “Kenapa lagi?” tanya Zamzam sembari membenarkan posisi kacamatanya.

“Ummi nangis di teras. Gak tahu kenapa.” Ummi langsung keluar dari dapur saat Zamzam masuk kamar. Ia duduk di teras dan menangis. Rifa mencoba bicara dan bertanya, tapi katanya ia akan menjawab kalau ada Zamzam di sana. Jadi Rifa, dengan ogah-ogahan dan melupakan gengsinya, terpaksa memanggil kakaknya itu. Meski masih ada raut permusuhan di balik wajah manis itu.

“Ummi kenapa?” tanya Zamzam duduk di samping kiri Ummi. Rifa memilih duduk di posisi kanan.

“Ummi galau, Zam,” jawab Ummi membenamkan wajahnya di balik telapak tangannya.

Zamzam menaikan salah satu alisnya. Ibu-ibu juga bisa galau ternyata. Pikirnya. “Galau kenapa, Mi?” tanya Zamzam.

“Ummi galau karena gak bisa jadi Ibu yang baik buat anak-anaknya Ummi.”

“Selama ini Ummi udah jadi Ibu yang baik, kok buat kita,” Rifa merangkul Ummi.

“Ngga, Rifa. Ummi belum bisa jadi Ummi yang baik. Buktinya, Ummi gak bisa buat kalian jadi anak sholeh yang punya kelapangan hati buat saling maaf-memaafkan. Padahal kalian sesama saudara. Terus, kata Rosul, abghadur rojuli ilallahil aladdul khashim. Orang yang paling dibenci Allah, ialah orang yang sangat suka bertengkar. Ummi, gak mau kedua buah hati Ummi dibenci oleh Allah…” Ummi menangis.

Baik Zamzam, mau pun Rifa sesaat membisu. Mereka jadi merasa begitu bersalah. Mereka sudah membuat air mata wanita yang telah mengandung mereka sembilan bulan lamanya itu mengalir. Tiba-tiba saja, sesuatu tertancap dalam hati mereka. Rasanya menyesakan. Hanya karena keegoisan mereka, air mata Ummi harus menetes seperti ini.

“Maaf, Ummi, kalau sikap kita ternyata nyakitin Ummi.” Rifa memeluk Ummi. Ia ikut menangis. Ia sadar, ia yang tidak bisa belajar untuk ikhlas. Ia yang pertama membentangkan garis permusuhan ini. Ummi menangis karena sikap kekanak-kanakannya.

“Iya, Ummi. Maafin kita. Kita janji bakal maaf-maafan, tapi Ummi jangan nangis lagi.” Zamzam ikut memeluk Ummi. Juga memeluk Rifa. Kedua perempuan yang paling disayanginya, perempuan yang akan selalu dijaganya, bukan dimusuhi seperti ini, bukan dibuat menangis seperti ini. “Maafin, Zamzam.”

Perlahan Ummi melepaskan pelukan kedua anaknya itu, menghapus air matanya dan tersenyum kepada mereka. “janji sama Ummi untuk saling menyayangi.”

Zamzam dan Rifa dengan kompak mengangguk. Lantas kembali memeluk Ummi. Abi yang melihat adegan itu di balik jendela rumah hanya tersenyum.

“Assalamu’alaikum…”

Kompak, tanpa komando, ketiga orang yang saat ini duduk di teras depan rumah itu mengangkat kepala mereka. Bola mata mereka berputar, mencari arah suara salam itu berasal. “Wa’alaikum salam,” jawab ketiganya tanpa mengalihkan tatapan mereka dari seseorang yang saat ini berdiri di hadapan mereka.

“Maaf sebelumnya. Saya ke sini mau ngembaliin tas ini. Sepertinya waktu di stasiun kereta tiga hari yang lalu saya salah mengambilnya. Selama beberapa hari ini saya mencari alamat rumah ini, dan Alhamdulillah ketemu. Maaf sekali! Tapi, semua isi tas ini aman. Saya cuma ngeluarin kartu identitas aja buat cari alamatnya.”

Diam. Membisu. Tidak ada yang bersuara ketika gadis cantik berwajah putih bersih itu menjelaskan.  Tapi setelah itu Rifa tersenyum dan buru-buru mengambil tas itu. Ia mengucapkan terimakasih tiada henti. Apa yang Abi ucapkan benar. Ummi melemparkan senyuman seramah mungkin pada gadis berambut panjang lurus itu. Dan Zamzam, seperti ada tanda waqaf, ia seperti berhenti bernafas. Wajah gadis itu benar-benar cantik, ia terpaku, terpesona, sampai sesuatu yang berbisik dalam hatinya memaksa ia untuk menunduk dan melafalkan istighfar berulang kali. ‘Dosa, Zam, dosa!’ hati Zamzam berbisik.

Gadis itu tersenyum dan kembali pamit. Ummi sempat mengajaknya ke rumah, tapi ia menolak. Jantung Zamzam deg-degan luar biasa ketika ia melihat senyuman gadis itu. Masa sih, jantuh cinta?

FIN

Follow me
@nhyea1225

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea