Selasa, 03 Februari 2015

Brittle -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 18.51
Kularut luruh dalam keheningan hatimu
Jatuh derasnya tetes air mata
Kaubenamkan wajahmu yang berteduhkan duka
Melagukan kepedihan di dalam jiwamu

*

“Alvin...”

Lagi. Alvin hanya bisa menatap nanar pemandangan menyedihkan di depannya. Tanpa bisa menghentikan dan mengubah semuanya. Bahkan untuk menyentuh dan menenangkan gadis yang saat ini duduk di balik raga kaku milik dirinya pun ia tidak mampu. Atau, hanya sekedar memanggil nama gadis berambut panjang itu pun. Ah, tidak! Tepatnya, gadis itu yang tidak pernah bisa merasakan kehadirannya. Tidak pernah bisa mendengar dan merasakan adanya jiwa orang yang paling dikasihinya itu.

“Kapan kamu bangunnya, Al?”

Ini adalah air mata yang ke sekian puluh kalinya jatuh, terhempas dan menyerap ke dalam pori-pori kulit kering raganya setelah sebulan yang lalu, pasca kecelakaan yang memaksa ia menjadi penghuni ranjang rumah sakit itu, gadis si pemilik nama Via itu sekali pun tidak pernah melewatkan air matanya terbendung meski Alvin yakin ia selalu mencoba untuk menahannya. Alvin tertegun. Ingin rasanya sekali saja ia menyentuh Via, mendekapnya seperti dulu dan memberitahu banyak hal. Memberitahu kalau ia baik-baik saja dan ia sama sekali tidak pernah ingin melihat kristal bening itu jatuh dari bola mata indah yang selalu dikaguminya itu.

“Katanya kamu mau ngalahin nilai aku di Ujian Nasional besok. Tapi kok kamu gak bangun juga, sih? Masih banyak janji yang belum kamu tepati sama aku, Al. Ngajarin aku main basket, ngajarin aku main gitar, ngajak aku jalan-jalan ke tempat yang belum pernah aku jamah, lulus SMA bareng-bareng dan masuk universitas yang sama, dapat gelar sarjana bersama, kemudian menikah, punya anak dan hidup bersama sampai kita nenek-nenek dan kakek-kakek.”

Hati Alvin mencelos. Sakit. Sesak dan perih. Via benamkan wajahnya di balik lengan Alvin yang masih setia ditemani si selang infus. Menangis lirih. Hatinya menjerit penuh kerisauan, ketakutan dan kegelisah. Sungguh ia tidak pernah siap kehilangan Alvin. Tidak pernah ingin jika tangan yang saat ini dengan begitu erat ia genggam, tidak pernah bisa ia jangkau lagi.

*

Tak pernah terpikirkan olehku
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
Tak terbayangkan jika kuberanjak pergi
Betapa hancur dan harunya hidupmu

*

Via berjalan tergesa, terkesan berlari kecil. Suara derap kaki dan hembusan nafasnya berlomba, mengusik keheningan di sekitar koridor sekolah. Ujian Nasional sedang berlangsung, jadi wajar jika keadaan sekolah terlihat begitu sepi.

Alvin kritis, Vi!

Sebuah pesan dari nomor tanpa nama itu mampir ke kotak masuk ponselnya yang memang sengaja tidak ia kumpulkan di depan kelas bersama tas temannya yang lain. Dari sejak tadi ia sudah dihampiri feeling super buruk. Ia yakin akan terjadi sesuatu yang tidak pernah diinginkannya. Mimpinya semalam seperti sixt sense saja. Dan faktanya memang benar.

Setelah mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesianya dengan sistem kebut, gadis yang juga memiliki mata dengan garis tipis seperti Alvin itu, buru-buru keluar kelas dan memacu motor matic putihnya itu dengan kecepatan agak lebih dari biasanya. Yang ada dipkirannya hanya satu. Alvin. Laki-laki yang paling dicintainya.

“Via!”

Pelukan itulah yang menyambut kedatangan Via setelah kebut-kebutan di jalan dan berlari-lari di koridor rumah sakit. Tangan wanita paruh baya itulah yang tiba-tiba merengkuhnya seolah meminta ia untuk berbagi sedikit kekuatan yang ia miliki. Dari reaksi wanita yang merupakan ibunda Alvin itu, serta tubuh kaku berselimut putih hingga ke ujung kepala yang ia lihat di balik kaca pintu, cukup membuat ia merasa tidak perlu bertanya lagi. Air matanya tiba-tiba mengalir bebas tanpa bisa dibendung. Untuk beberapa saat ia terdiam tanpa bisa menggerakan sedikit pun persendian tubuhnya yang terasa membeku, sampai akhirnya ia membalas pelukan wanita itu. Saling menguatkan satu sama lain.

Dan laki-laki oriental itu lagi-lagi hanya bisa menatap nanar adegan itu. Ia diam membatu dan tak bisa berkutik. Sungguh ini bukan maunya, bukan inginnya. Tak pernah bagian ini menjadi rencana hidupnya bersama Via. Tapi, kematian bukan hal yang bisa direncanakan oleh manusia. Kematian itu sebuah sesuatu yang absolut dan hanya Tuhan yang tahu jadwal kematian itu sendiri.



*

Sebenarnya kutak ingin berada di sini
Di tempat jauh nan sepi memisahkan kita
Kuberharap semuanya pasti akan berbeda
Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi.

*

Dengan lemah, Alvin duduk di samping Via yang masih asyik menyendiri di balkon kamarnya. Menikmati kesendirian dalam gelap dan dinginnya malam. Masih ditemani air matanya yang masih belum kehabisan stok. Ditangannya tergenggam sebuah ponsel berwallpaper ia dan Alvin.

“Alvin...” lirihnya. Air matanya menderas tanpa kendali. Ia sesegukan sendiri dengan siulan angin sebagai soundtrack yang sesuai. Tidak pernah ada yang bisa menerima dengan lapang perih dan sesaknya perpisahan dan kehilangan. Terlebih untuk selamanya. Jadi wajar jika gadis itu masih tersedu-sedan dalam tangis kepergian itu.

“Aku selalu mencintai kamu, Via.” Tangan itu mencoba mengelus pipi chubby Via, menghapus air mata yang selama ini tidak pernah ingin ia lihat. Hasilnya nihil! Ia sama sekali tidak bisa menyentuh gadis itu, sekali saja.

“Aku sayang kamu, Al. Aku gak ngerti kenapa secepat ini Tuhan rebut kamu dari sisiku? Aku gak ngerti kenapa Tuhan gak ngizinin kita hidup bersama? Aku tahu aku gak bisa sebaik Tuhan sama kamu, tapi aku juga sayang kamu. Aku gak ngerti, Al...” Via terisak semakin keras. Ia menekuk lututnya, membiarkan wajahnya terbenam di sana dan membiarkan cairan bening itu diserap pakaian tidurnya.

Alvin biarkan tangannya memeluk erat tubuh Via meski gadis itu tidak pernah tahu keberadaannya. “Aku sayang kamu, Via. Tuhan sayang kita dan Tuhan ingin menyatukan kita di alam sana nanti. Sekarang, aku yang akan pergi terlebih dahulu.” Dan setelah itu, ia bangkit seiring terangkatnya kepala Via.

Air mata yang masih tersisa di balik mata sipit Via, membuat pandangan Via sedikit mengabur. Dan dalam keburaman itu, Via melihat seseorang melangkah menjauhinya. Punggung tegak itu perlahan-lahan menghilang ditelan setitik cahaya yang kemudian membesar. Via menghapus sisa-sisa air mata itu guna memastikan pandangannya tidak salah. Tapi, setelah matanya sempurna melihat jelas, ia sama sekali tidak melihat apa pun selain hamparan langit kelam yang ditemani beberapa bintang kecil.

*

Aku tak mengerti apa yang akan terjadi
Sepenuh hatiku,
Aku tak mengerti...

FIN

1 komentar:

  1. Cerpen alvinnya mellow banget;(. Sumpah! Kakak hebat! So amazing;)

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea