Minggu, 15 Februari 2015

Crazy -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.15
Agni tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dengan ia dan dengan Cakka-nya. Ia tidak mengerti kenapa orang yang dicintainya sedemikian berubah terhadapnya. Atau apa ada yang salah dengan dirinya? Entahlah...

Yang ia tahu, Cakka-nya jadi begitu aneh. Sangat aneh. Terkadang, Cakka selalu bersikap kasar kepadanya. Cakka bersikap seolah-olah tidak mengenalinya sama sekali. Tak jarang jika sikap kasar laki-laki itu kumat, ia selalu didorong, diumpat, dicaci maki dan dikatai ia gadis gila. Terkadang juga laki-laki itu bersikap dingin, acuh, diam dan selalu menangis tiba-tiba. Agni benar-benar tidak mengerti. Ia frustasi. Ia lelah. Sungguh lelah.

*

"CAKKA!"

"Siapa kamu?"

"Aku Agni, Kka. Kamu gak inget sama aku? Ya Tuhan, jahat sekali kamu. Kamu gak tahu betapa aku merindukanmu. Sangat merindukanmu."

"Aku gak kenal sama kamu. Pergi, cewek sinting!"

"Aku Agni, Kka."

"Jangan sentuh aku!"

"Aku pacar kamu. Agni."

"Cewek gila!"

 *

 "GILA!"

 "Aku gak gila!!"

"Kamu gila, Ag."

 "Nggak. Aku. Gak. Gila."

“Tapi faktanya kamu itu gila. Kamu. Gak. Waras. NGERTI?!"

 ARGH!!

PLAKK!

Repleks Via memegang pipi kirinya yang langsung dikuasai hawa panas. Tamparan gadis yang baru saja ia panggil gadis gila itu benar-benar keras hingga terasa begitu nyeri dan perih. Ia meringis, mendecih sebal, menatapi Agni yang sudah kembali memulai aksi sintingnya. Hanya orang sinting  yang melempar semua barang yang dlihatnya. Ah, lihatlah! Betapa sudah lenggangnya kamar mewah serba ungu ini hanya karena barang-barangnya sudah berakhir tragis di tempat sampah. Dan semuanya karena gadis gila yang sudah mengguratkan luka lebam di pipinya.

 "Ag!" panggil Via kesal.

"Aku gak gila. Kamu yang gila!"

Via menghela nafas berat. Seberat langkahnya. Ia berjalan menghampiri Agni yang masih mengamuk tidak jelas. Beberapa jurus kemudian ia memegang bahu Agni kuat-kuat, memaksa gadis bergaun merah cerah itu menatapnya lekat. Agni bisa melihat banyak kata di balik bola mata cokelat tua milik saudara perempuannya itu. Sakit, letih, sedih, marah, geram, jengkel. Banyak, dan itu terpusat pada satu objek. Dirinya.

"Kamu sadar dong, Ag! Cakka itu udah gak ada. Dia udah ninggalin kita." Via mengguncang pelan bahu Agni. Berharap itu semua bisa membuat Agni sadar, membuat Agni mengerti bahwa selama ini hidupnya jauh dari realita.

Agni mengedikan bahunya. Menampik kasar tangan Via. Matanya kembali menyalak marah. "Pemboghong!" desis Agni tajam. "Dia masih hidup. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

Ia mendorong bahu Via agar menjauh darinya. Ia benci Via, ia benci semua orang yang tidak mempercayainya dan selalu menganggapnya gila. Ia benci dengan semua yang tak pernah ia mengerti. "Cakka masih hidup!" pekik Agni keras.

"CAKKA UDAH MATI, AGNI!!" Via jengah. Tanpa sadar ia menampar pipi Agni. Semuanya diluar kendali. Tapi biarlah, siapa tahu tamparan itu bisa membangunkan Agni. Bisa membuat jam kewarasan dalam kepala mantan kekasih laki-laki bermarga Nuraga itu kembali berdetak. Via terengah dan tersenyum singkat saat matanya menangkap sosok lain di ruangan itu. Alvin, laki-laki oriental, kekasih hatinya tengah berdiri di ambang pintu. Menatapnya miris.

 "Dia masih hidup. Aku melihatnya tadi," keukeuh agni. Ia kembali memberontak. Tangan dengan kuku-kuku cantiknya yang semula terparkir di bagian tubuh yang menjadi sasaran tamparan Via, kini mulai berkibar ke sana-sini. Meraih benda apa pun yang bisa dilemparkannya.

"Yang kamu lihat bukan Cakka, Ag!" memory Via langsung saja flashback ke kejadian beberapa jam yang lalu saat Agni kabur dari rumah, dan ketika Via menemukannya, gadis itu tengah memeluk laki-laki asing. "Kamu melihat semua laki-laki sebagai Cakka. Papa, Kak Iyel, Rio, Om Kiki, Ray dan cowok-cowok lain di luar sana, di taman kota, di pasar, di mall, bahkan di tv sekali pun, kamu anggap Cakka. Kamu itu gila!"

"Nggak!"

Via kembali melirik Alvin yang masih betah pada posisinya. Bersandar di ambang pintu. Sorot mata laki-laki sipit itu mengisyaratkan sesuatu. Tenang. Via harus tenang dan tidak ikut emosi. Dalam satu tarikan nafas panjang, Via mulai merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Perlahan, ia menghampiri Agni setelah sebelumnya mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

 "Ag!" panggil Via lebih lembut. Ia menyentuh lengan Agni yang langsung ditepis tanpa perasaan.

 Sabar, Vi, sabar...

"Ag..." Via tak menyerah. Ia kembali menggenggam tangan Agni. "aku tunjukin sesuatu." Ia menuntun Agni untuk duduk di tempat tidur berbedcover ungu anggur itu.

Mata Agni yang semula menyalak merah penuh amarah kini lebih melunak. Ia menatap Via yang sedang sibuk membuka album foto yang sengaja diletakannya di atas kasur. "Ini Cakka, Ag." Via menunjukan sebuah foto laki-laki tampan, berkulit putih bersih, rambut hitam legam dengan potongan pendek dan bola mata yang menawan. Tadi pagi mama Cakka memberikan album itu padanya. "Ini Cakka pas pertama kali masuk SMA."

Agni mengalihkan tatapannya ke arah album itu dengan antusias. "Iya, ini Cakka" ucapnya berbinar.

"Nah, ini Cakka sama kamu, Ag. Foto ini aku yang ngambil waktu kami liburan tengah semester di Bandung, di rumahnya Bi Asih."

"Kalau ini waktu Cakka ulang tahun ke 16, kan? Aku kasih dia miniatur bola basket sama gitar." Agni membuka album itu.

Via mengangguk semangat. Ia tersenyum simpul. Agni mulai mengingat semuanya. Terimakasih kepada Tante Winda-mama Cakka-yang sudah meminjamkan album itu. Via membuka halaman selanjutnya. Membiarkan Agni menebak kenangan-kenangan itu.

 "Ini pas Cakka menjuarai lomba basket."

"Ini pas Cakka mengisi acara akir tahun. Hari itu juga Cakka nembak aku." senyum Via semakin lebar. Ia melirik Agni yang juga tersenyum bahagia.

"di sini wajah Cakka pucat sekali." Agni mendesis heran. Ia menunjuk foto cakka yang tengah tersenyum tipis. Tipiiiis sekali. Bukan senyuman Cakka biasanya. Terkesan begitu dipaksakan.

"Poto ini diambil dua minggu setelah Cakka divonis ngidap leukimia." Via menjelaskan.

Agni mengernyit bingung. "Cakka sakit?"

 "Iya. Ini, ini lihat, Ag!" Via membuka lagi halaman selanjutnya. Agni semakin memfokuskan titik fokus matanya ke arah gambar yang ditunjuk via.

 "Ini waktu cakka diopname satu bulan lamanya. Ini, kamu ada di sampingnya juga. karena kamu emang gak pernah ninggalin dia."

"Terus ini, Ag. Ini pas Cakka udah ngejalanin kemoterapi. Rambutnya rontok dan kepalanya jadi botak. Waktu itu kamu ngatain dia kayak Aang di film avatar. Botak-botak juga hebat. Hehe…"

"Dan ini, Ag. Ini pas Cakka koma selama dua minggu lamanya yang kemudian dia ninggalin kita untuk selamanya."

Agni terdiam. Mulutnya terkatup sempurna. Membisu. Matanya menatap lekat foto terakhir yang ditunjuk Via. Foto yang menunjukan bahwa Cakka-nya memang sudah meninggal. Memory-memory itu kembali berputar dalam kepalanya seiring mengalir derasnya air bening nan asin dari bola matanya. Tapi, ia merasa menelan kepahitan.

Via menarik nafas lega. Semoga Agni mulai bisa mengingat lagi.

"Jadi..." kalimat Agni menggantung. Ia tiba-tiba memeluk Via dengan begitu erat. Rasanya ada sesak yang menghujam dadanya. Begitu perih, begitu menyakitkan.

"Iya, Ag. Satu tahun yang lalu."

 Sudah cukup lama.

Agni terus menangis. Tapi Via tersenyum senang. Akhirnya Agni bisa mengingat semuanya. Agni mulai mengakui bahwa Cakka-nya sudah tiada.

"Vi..." panggil Alvin yang sudah berdiri di hadapan kedua gadis yang masih berpelukan itu. Ia turut bahagia melihat kondisi saudara kekasihnya itu. Via melepaskan pelukan Agni dan mulai menatap Alvin lekat.

Agni melakukan hal yang sama. Ia menatap Alvin juga, hanya saja dengan begitu rinci. Sebentar ia terdiam sebelum akhirnya buru-buru mengahpus air matanya, lantas tersenyum lebar dan...

"Cakka?" Gadis itu tiba-tiba menabrak tubuh Alvin. Memeluk laki-laki Sindunata itu dengan begitu erat. Via membulatkan mata tak percaya. Dengusan lelah dan desahan pasrah datang silih berganti darinya. Alvin mengangkat tangannya, sejurus kemudian menggaruk kepalanya bingung.

 Agni memang gila!

*

FIN

*

Gak nyambung? Beneeeerrr.
Jelek? Pasti.
Kurang memuaskan? Pinter!
Gak nyiksa? Emang.

1 komentar:

  1. Awalnya sedih, pas diakhir aku kira Agni bakal normal lagi. Tapi ternyata ? wakakaka lucu deh kak

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea