Jumat, 27 Februari 2015

Forgive -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 07.57



Laki-laki itu membiarkan mata sipitnya memandang langit-langit kamarnya. Di bola matanya tersimpan banyak kata misteri yang sama sekali tidak pernah mampu ia ungkap. Dan sekarang, ia tampak sedang mengeja satu persatu kata-kata itu, seolah langit-langit yang sepenuhnya berwarna putih polos itu halaman-halaman kosong yang sebenarnya penuh dengan kata-kata rahasia. Sungguh ia tidak pernah menyangka bahwa semuanya akan terasa sesulit ini.

Pertemuan itu. Pertemuan yang telah membuatnya terperangkap dalam rasa yang tak semestinya bersarang dalam hatinya. Tapi, apa yang harus dilakukannya? Bukankah cinta itu sesuatu yang aneh, selalu bersikap semaunya dan tidak pernah tahu aturan? Ia selalu datang tiba-tiba dalam kondisi bagaimana pun dan di tempat seperti apa pun. Selalu misplacing! Dan ia benci dengan cinta yang datang padanya saat ini.

“Alvin...”

“Via...”

Ia tersenyum mengingat kejadian itu. Matanya tetap fokus pada titik yang sama di mana lembaran-lembaran itu bergerak dan membuka kembali kenangan tiga bulan yang lalu. Tiga bulan yang lalu ketika tangannya menjabat hangat tangan mungil gadis bernama Via itu. Ketika manik matanya sejajar dengan bola mata gadis yang saat itu mengenakan dress berwarna biru muda, warna favoritnya. Ketika ia menyadari ada sesuatu yang berdesir di dalam hatinya.

082115631XXX
22-11-2011
21:37

Alvin, lagi apa nih?
Via.

Alvin masih ingat. Itu pesan pertama Via yang mampir ke inbox ponselnya tiga jam setelah pertemuan itu. Dan setelah itu disambung dengan pesan-pesan yang lainnya hingga saat ini. Pesan yang semula hanya berisi pembahasan-pembahasan ringan bertema pertemanan, mulai diisi dengan ungkapan-ungkapan kecil dari dalam hati seiring seringnya mereka melakukan pertemuan yang disengaja atau pun tidak. Hingga ia dan gadis yang juga memiliki mata sipit itu mulai sama-sama merangkai kisah bersama-sama dalam sebuah hubungan berstatus.

Dari awal, ia memang sudah jatuh hati pada Via. Tepatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan ia sama sekali tidak pernah menduga kalau gadis itu juga memiliki rasa yang sama terhadapnya. Bahkan lebih tulus. Dan bukankah memang cinta itu egois? Tapi, keegoisan itulah yang membuat semuanya terus berdiri kokoh dan  kuat. Tak peduli seberapa banyak rintangan dan seberapa banyak dusta yang terlafal, yang ia tahu, ia mencintai Via dan Via mencintainya.

Tidak ada jalan lain selain melangkah maju dan tetap berpegang tangan menghadapi apa yang akan terjadi di depannya. Karena ia yakin, bahwa cintanya jauh lebih kuat dan tulus untuk Via.

Alvin terhenyak saat mendengar dering singkat ponselnya berbunyi. Mengusik sistem saraf tubuhnya yang semula hanya terpusat pada Via, menjadi terpusat pada ponsel berkeyped qwerty itu. Ia mengangkat tubuhnya dan mengambil BlackBerry-nya yang sengaja ia simpan di meja lampunya.

Cakka
26-02-2012
15:49

Al, gue lagi OTW ke rumah lo.

Repleks saja bola mata Alvin membulat melihat isi pesan sahabatnya itu. Ia selalu tiba-tiba panik saat mendapat sms dari Cakka. Tidak ada alasan lain yang selalu membuatnya terlihat seperti penjahat buronan itu, selain karena Cakka adalah sahabatnya yang juga kekasihnya Via. Sahabat terbaik yang telah ia khianati. Sahabat yang dengan begitu bodohnya mempertemukan ia dengan Via sehingga mereka yang dipertemukan itu sama-sama mengisyaratkan rasa.

Alvin tertegun sendiri. Tapi, semuanya sudah nanggung. Mundur pun rasanya tidak mungkin. Ia sudah terlanjur jatuh begitu dalam dalam rengkuhan gadis penuh cinta itu. Karena seperti yang dibilang, jalan lain hanya maju dan tetap bersikap egois. Masih terus berpikir positif, ia bangkit dan berjalan menuju pintu depan saat bel rumahnya berbunyi.

*

“Al...,” panggil Cakka. Masih terdengar nada ceria khas Cakka yang mampir di telinga Alvin, membuat ia masih bisa menghela nafas lega. Bersyukur karena Cakka tidak datang ke rumahnya dalam kondisi marah-marah yang berarti rahasianya masih belum sampai ke telinga Cakka.

“Kenapa, Kka?” tanya Alvin. “Mau minjem flashdisk gue lagi?” Karena kebiasaan aneh Cakka saat mampir ke rumahnya hanya untuk meminjam flashdisk-nya.

“Haha... Keseringan minjem, kalo gue ke sini pasti deh lo nawarinnya flashdisk.”

“Aneh deh, lo orang kaya, Kka. Flashdisk aja masih minjem. Beli dong!”

Cakka hanya tertawa sumbang mendengar cibiran Alvin. “Jadi selama ini lo gak ikhlas ya, minjemin gue?”

“Gak gitu juga kali, Kka. Ngambekan aja lo jadi orang.”

Cakka kembali tertawa. Dan tawa laki-laki itu jujur membuat hati Alvin lebih tenang.

Keadaan hening. Lama.

“Al, sebenarnya gue ke sini tuh mau bilang sesuatu.”

Repleks saja kepala Alvin yang semula tertunduk, terangkat. Tubuhnya menegang. “Bilang apa, Kka?” Nada suaranya bergetar.

“Gue mau tunangan sama Via, Al.”

Hampir saja Alvin lupa caranya berkedip ketika suara bass itu sampai ke telinganya yang tiba-tiba saja berdenging. Dan ia merasa ada nyeri yang juga dengan sangat tiba-tiba mampir ke dalam hatinya. Via tidak pernah bilang tentang pertunangan ini padanya. Apa lagi yang harus diegoisinya jika Cakka sudah memutuskan untuk bertunangan dengan gadis yang dicintainya itu? Alvin termenung dalam diamnya. Tidak merespon sedikit pun ucapan Cakka.

Keegoisan memang tidak selamanya menang.

Karena ialah yang salah. Ia pengkhianat dan ia tidak berhak untuk menang.

“Tapi gue batalin. Gue baru tahu kalau lo ternyata cinta juga sama Via, dan Via juga sama.”

Alvin diam. Bisu. Tidak mengerti.

Searching Device...

Butuh waktu lama untuk Alvin mencerna kata-kata Cakka dan mengembalikan seluruh sistem saraf otaknya untuk bekerja normal. Ia sungguh tidak faham maksud laki-laki yang saat ini mengenakan kaus merah tua itu.

“Mak—”

“Gue ikhlas kok, Al, lo sama Via. Seikhlas lo minjemin flashdisk lo sama gue. Walau pun rasanya sangat menyakitkan, gue gak bisa bersikap egois juga, kan? Gue harus nerima kalau faktanya Via udah berpaling sama lo dan gue gak bisa paksain semuanya.”

“Tapi, Kka...”

“Udahlah...”

Entah kenapa, rasanya apa yang Cakka katakan terasa menampar keras hatinya. Di sela rasa bahagia karena kedewasaan dan kelapangan hati Cakka, ada rasa perih yang menyelinap dalam sanubarinya. Ia benar-benar penjahat yang sudah mengkhianati orang yang selama ini bahkan sudah ia anggap keluarganya itu.

“Hahaha... heran deh, lo ganteng, Al. Milih pacar kok kayak Via? Udah gendut, cerewet,  gampang ngambek lagi. Tapi dia baik kok, perhatian, pengertian, dia juga orangnya tulus banget. Tapi gue gak pernah tahu kalau dia juga satu-satunya cewek yang bisa patahin hati gue. Hancurin semua harapan dan mimpi gue.Buat gue ngerasain apa itu namanya sakit hati. Hahaha...”

Alvin hanya bisa merespon cibiran Cakka dengan senyuman miris. Ada bendungan air mata yang hampir jebol di balik mata indah itu. Dan semua itu karenanya. Karena keegoisannya. Semakin Cakka tertawa keras, tawa yang menyembunyikan sayatan luka lebar yang berhasil ia goreskan dalam hati sahabatnya itu.

‘Maafin gue, Kka...’

Kenapa cinta seegois ini.....


*

Follow me
@nhyea1225
www.nia-sumiati.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea