Selasa, 03 Februari 2015

Galau? -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 18.39

 Zamzam melepas kacamatanya setelah diyakininya tugas matematika yang sedang ia kerjakan selesai dengan sempurna. Matanya sudah terasa begitu lengket dan ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya. Aktifitasnya hari ini cukup melelahkan. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudlu. Dari kecil, Abi dan Ummi sering mengajarkannya agar membiasakan berwudlu sebelum tidur. Biar dijaga Malaikat, katanya.

Baru saja, laki-laki bernama lengkap Ahmad Zamzam Zainal Muttaqin itu keluar dari kamar mandi, saat seseorang menghadang tubuhnya. Memandangnya dengan begitu kusut. Ia memandang Rifa, adik perempuannya, yang saat ini memasang wajah berantakan dengan bingung.

“Ada apa?” tanya Zamzam sembari mengelap wajahnya yang basah dengan telapak tangannya.

Rifa menghela nafas panjang. Ia mengambil handuk yang digantungkan di balik pintu dan memberikannya pada kakak laki-laki satu-satunya itu. “Kak Zamzam udah mau tidur ya?” Bukan menjawab pertanyaan Zamzam, gadis yang mulai tumbuh menjadi gadis remaja itu malah balik bertanya.

“Ada apa?” Zamzam mengulang pertanyaannya kembali. Ia mengelap wajahnya dengan handuk yang tadi Rifa berikan.

“Rifa mau nanya, Kak.”

“Nanya apa?” Zamzam menutup mulutnya. Ia menguap dan benar-benar sudah mengantuk. Adiknya ini bertele-tele sekali. “Kalau gak begitu important, baiknya besok aja nanyanya.”

“Rifa gak tahu ini penting apa tidak. Tapi, masalah ini membuat Rifa benar-benar gak bisa tidur belakangan ini. Ini bukan soal PR matematika atau soal ulangan fisika, Kak. Tapi semuanya terasa lebih sulit dari itu.” Rifa menundukan kepalanya sedalam mungkin. Ia tidak tahu harus cerita kepada siapa selain sama kakaknya. Dan ia rasa, mengingat waktu Zamzam sangat sibuk, ini saatnya ia bercerita. Ia tidak bisa lama-lama memendam perasaan ini.

Zamzam yang sudah berbaring dan hendak memejamkan mata, kembali mengangkat tubuhnya begitu melihat wajah adiknya itu benar-benar tampak seperti benang kusut. “Kata-katanya so dramatis gitu. Emang ada apa?” tanya Zamzam kali ini sembari merangkul Rifa yang masih menunduk.

“Kakak pernah galau gak sih, Kak?” tanya Rifa menoleh ke arah Zamzam dan menatap lekat manik cokelat itu. Mata Zamzam itu sangat indah dan selalu membuat siapa pun yang menatapnya begitu nyaman. Seolah di sana tersimpan telaga luas dengan air yang jernih dan tenang.

Mendengar pertanyaan Rifa, sontak saja alis tebal itu bertaut. Tapi setelah itu ia tersenyum. “Seringlah… Kakak, kan manusia juga. Mana mungkin gak pernah galau. Galau itu wajar, Dek. Kalau kita gak galau, kita tidak akan pernah bisa membuat diri kita tumbuh menjadi lebih baik.”

Rifa diam saja. Menyimak kata-kata Zamzam dengan seksama.

“Kakak sering banget galau kalau nilai ulangan Imran lebih besar dari Kakak. Atau pas liat anak-anak berprestasi di luar sana, sementara Kakak masih gini-gini aja. Kakak juga sering galau kalau liat anak-anak yang jauh umurnya di bawah Kakak tapi sudah hafal semua isi Al-Qur’an. Kakak galau karena Kakak gak pernah bisa menjadi yang terbaik di mata Allah. Kakak belum bisa beribadah dengan baik dan ikhlas. Banyak banget yang Kakak galauin. Tapi, semua kegaluan itu memotivasi Kakak untuk terus berusaha menjadi lebih baik.”

Rifa tertunduk. Tertegun panjang. Ada yang mengendap dalam hatinya. Entah apa itu, yang jelas, kata-kata Zamzam justru membuat kegalauan dalam hatinya bertambah saja.

“Kenapa sih, Dek?” tanya Zamzam bingung begitu melihat raut wajah Rifa malah semakin jelek.

“Sebenarnya bukan itu yang membuat Rifa galau, Kak. Emang Kakak gak pernah ya, galau karena masalah lain selain yang tadi Kakak sebutin?” tanya Rifa pelan. Lemes.

“Contohnya?”

Huh, Kakaknya ini polos apa gimana sih? Gak ngerti banget! Rifa membatin. Ia mengeluarkan handphonenya, sedikit mengotak ngatiknya dan langsung memperlihatkan handphone itu pada Zamzam.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

Dan…

“Hahaha…” Zamzam tertawa membaca tulisan di handphone berlayar full touch screen itu.

“Kakak ini ketawa atau ngetawain?” tanya Rifa sebal.

“Ada orang yang mencintai kok galau? Jawab aja boleh.”  Rifa, bolehkah aku mencintaimu? Zamzam kembali tertawa mengingat kalimat itu.  Ia mengacak-ngacak rambut Rifa yang dibiarkan tergerai. Di dalam rumah apa lagi menjelang tidur Rifa memang sering melepas jilbabnya.

Rifa memajukan bibirnya, cemberut. Kakaknya kok ngasih saran yang tidak bijak sih? Emang boleh pacaran? Lagian ia kan belum faham betul soal kayak gituan. Terus, ia juga gak menyimpan perasaan apa pun sama si pengirim pesan. Kakaknya ini menyebalkan sekali!

“Bilang boleh, bukan berarti pacaran. Cinta itu sebuah anugerah dan bisa dititipkan pada hati siapa saja. Jadi, mana boleh kita melarang orang untuk tidak mencintai kita? Cintailah aku semaumu, asal cintamu itu benar-benar tulus karena Allah.” Zamzam tersenyum. Ia menghempaskan tubuhnya dan bersiap untuk tidur.

Rifa diam. Sedikit tersenyum mendengar kalimat terakhir kakaknya yang setelah itu langsung terlelap begitu saja. Perasaannya terasa lebih lega. Dan itu karena Kakak juara satunya. Kakak yang selalu bisa membuatnya tenang dan damai. Sebelum ia benar-benar keluar kamar Zamzam, ia mencium lembut kening Zamzam. “Terimakasih, Kakak sayang. Galau Rifa hilang.”

-FIN-

Kritik dan sarannya ditunggu J

Follow me
@nhyea1225

529E0A64

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea