Minggu, 15 Februari 2015

Keep Silent –Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.10


*

“Ayolah… gue pernah lebih buruk dari lo.” Shilla duduk di sebelahku. Di depan jendela rumahku sore ini. Di luar hujan sedang beraksi dengan begitu deras. “Waktu itu lo yang semangatin gue sampai akhirnya gue bisa hadapi semuanya.” Gadis berlensa kontak biru itu menepuk bahuku. Menguatkanku.

Aku diam. Bicara memang mudah. Aku yang menjalani ini semua. Aku yang merasakan ini semua.

“Cakka itu luar biasa ya? Dia bikin sodara gue terpuruk sampai kayak zombie gini.”

He is a loser! Dia gantungin gue seperti pakaian lusuh, namun sayang untuk dibuang. Kalau dia pemberani, harusnya dia putusin gue sekalian!” Aku emosi. Sekelebatan bayangan Cakka, laki-laki yang sampai sekarang—mungkin—masih berstatus kekasihku, bermain-main dalam kepalaku. Rasanya menyesakan setiap kali ini terjadi.

Ponselnya aktif. Ini seperti lirik sebuah lagu dangdut yang sering Shilla dengarkan. Disms gak bisa, ditelpon gak diangkat. Apa, sih mamu? Aku muak. Dia mendiamkanku. Dia tidak lagi peduli padaku. Tanpa alasan. Dia menyebalkan. Dia pecundang. Dia mempermainkanku.

“Kalo gitu lo sama saja. Kenapa gak lo aja yang putusin dia? Dan masalah clear!”

“Gak bisa. Siapa yang ingin putus? Dia, kan? Gue tau, dia penakut. Dia takut bakal menyesal karena udah putusin gue.”

Shilla tersenyum tanpa arti. Selain menyedihkan, aku juga menyusahkan. “Lo ingat Acha?”

“Mantannya?”

“Ya. Dulu, waktu Cakka lagi PDKT sama lo, sebenarnya dia masih berhubungan dengan Acha. May be, dia melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan ke Acha dulu sama lo. Mungkin dia lagi PDKT sama cewek lain dan nungguin lo mutusin dia.”

“Bodoh!” desisku tajam.

“Dia pintar, Agni. Pintarnya itu, melebihi kapastitas rata-rata. Kalau dia gak pintar, dia gak mungkin bisa bikin lo kayak gini. Dia jalani harinya dengan biasa, dengan ceria, sementara lo di sini, jalani hari lo seperti hidup tapi mati. Layu. Dan sebentar lagi membangkai. Jadi, sudah jelas yang bodoh di sini itu lo. Dia membuat lo mencintai dia, sampai lo berkorban banyak buat dia, lo beri semua yang lo punya. Dan kemudian, dia ngikat lo dalam ruang gelap dengan sedikit oksigen. Lantas, pergi ninggalin lo sendiri.”

That’s right!” Shilla benar. Aku yang bodoh di sini. Aku yang terlalu mempercayainya. Aku yang terlalu mencintainya. Aku yang melakukan hal bodoh untuk dirinya. Aku memang bodoh.

“Mau tahu satu lagi fakta kebodohan lo?” Shilla menatapku sengit. Tapi, tatapan itu menyimpan banyak kata. Mungkin dia iba, mungkin dia kasihan, mungkin dia marah, mungkin dia benci. “Untuk lupain rumus matematika, lo bisa dengan cepat melupakannya. Tapi, buat lupain dia, lo payah!”

Sedikit pun, aku tidak tersinggung dengan ucapan Shilla. Karena memang seperti itulah faktanya. “Aku udah nyoba jauhi dia, tapi gak bisa,” keluhku sedih. “Aku udah berusaha lupain dia, tapi emang gue payah!” Pernah aku mencoba sekuatku. Tapi, bayangan dia masih melekat dalam hatiku. Semuanya memang sulit. Sangat sulit! Jangan pernah menganggap aku mendramatisir ini semua, sampai kalian merasakan apa yang aku rasakan sekarang.

Shilla menarik nafas panjang. Di balik matanya, ia menyimpan banyak mafhum. Ia memang yang paling mengerti keadaanku saat ini. Ia yang paling tahu seberapa terlukanya diriku. “Kalau itu memang sulit dan menyakitkan, lo gak usah melakukannya. Lo gak perlu menjauhi dan melupakannya.” Ia menguatkanku.

“Terus? Gue harus apa, Shil?”

“Diam. Seperti dia diemin lo.”

“Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan diam, Shilla!”

“Setiap orang punya titik jenuh. Lo jalani aja. Biarkan dia terus bermain di dalam hati lo. Biarkan dia terus hadir dalam ingatan lo. Jangan lawan dia, jangan hadang dia, sampai lo bosen dan hati lo kebal dengan sakit itu. Selama apa pun itu, gue yakin saatnya nanti dia bakal berhenti. Lo hanya tinggal diam dan menunggu.”

Aku memeluk Shilla. Berusaha untuk tidak menangis.

“Jangan melakukan apa pun yang emang udah gak bisa lo lakuin. Waktu adalah hal terkuat di dunia ini. Lo hanya tinggal diam. Diam, diam, dan diam. Jangan bersuara apa pun, sampai suatu saat lo tahu, bagaimana waktu nyembuhin lo. Dan sampai lo lihat sendiri, bagaimana waktu mulai main-main dengan dia yang mempermainkan lo saat ini. Lo tonton aja. Skenario Tuhan tidak pasaran seperti cerpen lo!”

Baiklah, aku tidak tersinggung dengan ucapan Shilla sebelumnya. Tapi, untuk sindirannya saat ini aku benar-benar tersinggung. “Enak saja!” Aku menjitak pelan kepalanya.

“Emang bener. Kata-kata dalam surat penerbit yang bilang, tulisan anda berpotensi tapi  cerita yang anda tulis klise atau tidak ada sisi uniknya itu, kalau disederhanain, cerita lo itu pasaran.” Shilla tertawa.

Aku cemberut. Tapi setelah itu kembali memeluk Shilla. Betapa aku menyayangi saudara perempuanku yang paling cantik ini. Mungkin ini akan jauh lebih mudah. Tuhan tahu yang terbaik untukku.

FIN
*
Aku gak tahu ini cerpen atau apa. Yang pasti, idenya ngalir gitu aja. Percayalah, ini hanya tulisan gak jelas yang aku sendiri tidak tahu apa.

Follow me
@nhyea1225


0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea