Kamis, 26 Februari 2015

Miss -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 08.00



------------------

Pernahkah kamu dilanda rindu? Rindu menggebu yang membuat kamu nyaris tidak pernah mampu memejamkan mata tiap malam menjelang. Rindu yang setiap kali menelusup sela-sela batin dan menciptakan perih tiada ampun. Rindu yang membuat air mata tak mau berhenti setiap kali bayangan itu tergambar di pelupuk matamu. Rindu yang membuat kamu seperti penderita penyakit paru-paru akut yang tak mampu bernafas karena terlalu menyesakan.

Aku rasa, kamu pernah merasakannya.

Seperti yang aku rasakan kali ini.

*

17 Desember 2012

“Ayo, kalau berani kejar aku, Al!” Aku berteriak lantang. Terus berlari sambil sesekali menoleh ke arah laki-laki bermata sipit yang saat ini berada di posisi cukup jauh denganku. Ia tengah berusaha mengejarku sambil sesekali menggerutu sebal. Dasar payah! Ngejar cewek aja gak bisa!

Aku berlari. Terus berlari. Membiarkan kakiku yang saat ini tidak ditemani alas kaki itu merasakan lembutnya pasir pantai. Deru ombak seakan ikut tertawa bersamaku. Aku kembali menengok ke arah belakang. Posisi laki-laki yang saat ini mengenakan kaos merah polos itu  tampak sudah lebih dekat denganku. Aku berusaha mempercepat langkahku meski pada akhirnya—

“Kena, kau!”

—ia berhasil menangkapku.

Aku memekik pelan ketika lengannya memeluk erat pinggangku. Ia menarikku untuk lebih mendekat ke bibir pantai. Ombak-ombak jinak seketika menyapa kaki kami. Menciptakan sensasi dingin. Hembusan angin menerpa kami, membuat aroma parfumnya menyebar ke mana-mana. Aku menghirup nafas dalam-dalam. Mencium bau parfumnya yang bercampur dengan bau menyejukan air laut. Ini bahkan lebih menenangkan dari apa pun.

“Aku mencintai kamu…”

Aku tersenyum tipis mendengar kalimat itu terlafal sempurna dari bibirnya. Mengalun  merdu di telingaku dan bertepi tepat di dalam hatiku. “Aku juga mencintaimu…” kataku merentangkan tanganku seolah mengizinkan angin untuk ikut memeluk seluruh tubuhku seperti yang ia lakukan. Sepintas, posisi kami tampak seperti meniru adegan paling romantis di film Titanic. Mengingat itu aku tertawa pelan.

Setelah puas meniru adegan Rose dan Jack, aku berusaha melepaskan pelukannya. Kuberjongkok lantas menciprati ia dengan air laut berulang kali hingga bajunya basah. Dan setelah itu aku berlari lagi. Ia tampak marah dan kembali mengejarku untuk balas dendam. Aku tertawa. Terus tertawa. Kebahagiaan tengah menyelimuti tiap inci hatiku. Rasanya aku tidak ingin membiarkan kemesraan ini cepat berlalu begitu saja.

*

17 Desember 2014

“Via! Sadar, Vi, sadar!”

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja aku merasa ada yang mengguncangkan bahuku dengan keras. Sesaat aku menghentikan aksi tertawaku. Dan memandang keadaan di sekelilingku. Tidak ada apa-apa selain shilla, teman baikku yang aku yakini baru saja menguncang-guncangkan tubuhku.

“Sadar, Vi!” lirih Shilla memelukku.

Aku terdiam. Bukankah baru saja aku bersama Alvin, laki-laki yang begitu kucintai? Bukankah baru saja aku saling kejar bersamanya, bukankah baru saja aku dipeluk olehnya dan tertawa bersamanya? Bukankah baru saja aku berada di pantai bersamanya?

“Itu udah dua tahun yang lalu, Vi. Aku mohon… lupain Alvin! Lupain dia! Aku mohon… jangan nyiksa diri kamu kayak gini!” Shilla melepaskan pelukannya. Mata beningnya menatapku sedih dan iba. Meyakinkan aku bahwa semua yang baru saja aku alami hanya masa silam yang harus aku lupakan.

Aku menggeleng kuat-kuat. “Ngga, Shil. Baru aja aku sama Alvin…”

“Ngga, Vi, ngga. Berhenti berkhayal. Kejadian itu udah lama. Udah lama banget! Berhenti hidup dalam kenangan-kenangan itu. Berhenti, Vi!” Shilla kembali memelukku. Ia menangis lirih. Isakannya terdengar begitu memilukan seolah beban yang terpikul dalam pundakku ikut ia rasakan.

Aku membisu untuk sesaat. Berpikir. Aku tidak hidup dalam kenangan. Aku tidak hidup dalam khayalan. Shilla bohong! Baru saja aku hendak menampik keras kata-kata Shilla saat bola mataku menangkap bayangan di cermin. Pantulan diriku. Aku mengamatinya, mengamati sesuatu yang menggantung di leherku. Sebuah kalung perak berliontin huruf “A” menggantung di sana.

*

01 Januari 2013

“Maafkan aku, Via.”

Nada suara itu menyakitkan gendang telingaku. Aku menatap nanar laki-laki berkemeja kotak-kotak berwarna biru itu. Sekuat mungkin aku menahan air mataku agar tidak tumpah. Suasana malam yang gelap dan dingin sesuai dengan keadaan hatiku.

“Aku harus pergi. Maafkan aku…”

Aku menggelengkan kepala secepat mungkin. Sejurus kemudian memeluk erat tubuh itu, berharap pelukan itu membuat ia sejengkal pun tidak bernjak dari sisiku. “Jangan pergi,” mohonku. Air mataku membludak juga akhirnya. Wangi parfum yang sama yang Alvin pakai tidak menenangkanku kali ini.

Dan… pelukanku terlalu lemah untuk menahannya. Setelah beberapa saat ia bertahan dalam pelukanku, memberiku kesempatan untuk menghirup aroma tubuhnya dan merasakan irama jantungnya untuk terakhir kali, akhirnya ia melepaskannya juga. Ia menatapku dengan begitu dalam hingga menusuk lurus sampai pedalaman hatiku.

“Maafkan aku, Via….” Kata yang sama itu ia lafalkan untuk ke sekian kalinya. Kali ini sembari memasangkan sebuah kalung perak berbandul huruf “A”  di leherku. Aku diam saja sampai ia mencium keningku dengan begitu lama dan berbalik meninggalkanku.

Meninggalkanku…

Sendiri…

Saat kembang api pergantian tahun berpijar dengan begitu indahnya di horizon sana.

Sendiri…

Bersama linangan air mata…

Bersama ribuan kenangan paling indah…

*

Tanganku mulai bergerak, membalas pelukan Shilla. Shilla adalah satu-satunya temanku yang tidak pernah berkata bohong. Dan aku menangis. Isakku berpadu dengan isakan Shilla. Rasa nyeri bermain-main dalam hatiku. Sesak.  Ini sudah memasuki tahun ketiga dan bayangan Alvin masih saja hidup dalam sanubariku. Tak mampu aku delete hingga membuat aku nyaris gila.

“Aku kangen Alvin, shil…”

Ia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Pergi tak tahu ke mana. Ia tidak kembali.  Ia meninggalkan kenangan yang kerap kali merobek-robek jiwaku. Dan aku selalu menjadi gila setiap kali merindukannya.  Dan kerinduan ini tidak dibuat-buat. Semakin aku merindukannya, semakin gila diriku. Semakin ingin rasanya aku menghabisi nyawaku sendiri.

Terlebih…

Ketika aku sadar, kerinduan ini tidak pernah ada jawabnya. Tidak pernah ada pemiliknya. Tidak pernah ada yang menganggapnya.

“Aku ingin mati, Shil. Kerinduan ini bahkan lebih menyakitkan dari kematian itu sendiri.”

*
FIN

*

Follow me
@nhyea1225

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea