Senin, 23 Februari 2015

Nothing -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 08.17


“Kamu jadi cewek gak bisa rapi dikit apa? Kayak Zela dong. Rapi, besih, anggun, cantik. Gak kayak gini!”

Aku menunduk dalam. Menatapi ujung-ujung sepatu merah cabeku. Ingin rasanya aku menutup telingaku dengan apa pun asal suara yang sebenarnya selalu kurindukan itu tidak sampai lagi ke telingaku. Rasanya tiap kata yang keluar dari bibir tipisnya itu seperti panah yang melesat dari busurnya dan tertancap tepat di dalam hatiku.

“Aku gak ngerti!”

Aku mendengar desahan panjangnya. Erru. Laki-laki berkulit putih bersih yang hampir dua bulan ini menjadi kekasih dalam diamku itu tampak begitu lelah menghadapiku. Menghadapi semua yang ada dalam diriku. Aku yang tidak pernah bisa menjadi seperti yang ia inginkan.

“Maaf, Ru.” Hanya itu yang keluar dari bibir keringku yang polos tanpa lipstick mau pun lipgloss. Rasanya aku tidak mampu mengungkapkan apa pun lagi. Aku tidak pernah bisa mendebatnya. Aku tidak pernah bisa melawannya. Meski semua komentarnya tentangku selalu menyakitkan. Semuanya hanya karena satu alasan. Aku mencintainya. Ya, aku begitu mencintainya. Meski aku orang ke sekian dalam hidupnya, aku tetap merasa takut ia meninggalkanku.

“Kita pulang!” putusnya. Ia berdiri. Merapikan pakaiannya yang agak berantakan. Lantas ia berjalan , meninggalkan gedung bioskop yang jadi tempat kencan pertama kami. Aku mengikutinya dari belakang. Tanpa bermaksud mendahuluinya apalagi mensejajarkan langkahku dengan langkahnya.

Sepintas kulirik tangan kekarnya yang ditemani Nixon hitam polo situ. Ingin rasanya tangan itu menggapai tanganku, mnggandengnya seperti yang dilakkan pasangan-pasangan lain. Atau merangkul bahuku seperti yang selalu ia lakukan ketika jalan dengan zela. Apa karena penampilanku jauh berbanding dengan Zela, aku tidak layak mendapat perlakuan special darinya?

Aku memelankan langkahku. Menambah spasi antara aku dan dirinya. Mungkin aku memang tidak pantas untuk berjalan beriringan dengan laki-laki sesempurna ia. Aku berhenti. Membiarkan ia berjalan sendiri tanpaku. Aku pikir, itu jauh lebih baik.

Aku menatapi pantulan diriku di balik pintu kaca gedung besar itu. Seharusnya tidak seperti ini pakaianku, sepatuku, rambutku dan semuanya. Harusnya bukan kaus dan jeans belel favoritku yang aku kenakan. Tapi gaun atau dress yang selalu Zela kenakan. Harusnya bukan sepatu kets merahku yang tidak bersih ini yang menemani aksi kencan pertama kami. Melainkan sebuah pantofel cantik seperti yang Zela pakai. Bukan diikat seadanya pula rambut panjangku ini. Tapi digerai dan dihiasi sebuah jepit kupu-kupu atau bandana yang lucu. Mungkin itu yang Erru suka. Karena itulah Zela ketika berkencan dengannya.

Sekarang, aku hanya berharap ada kesempatan kedua untukku menjadi seperti yang ia minta.

*

Aku hanya seorang gadis biasa. Tidak cantik. Tidak kaya. Tidak pintar. Dan tidak punya kelebihan apa pun selain jago karate. Lihat saja di rumahku, lemarinya begitu sumpek dengan piala-piala juara karate yang pernah aku juarai. Tapi, kelebihanku itu sama sekali tidak membuat Erru senang. Tidak membuat Erru sekali saja melirikku dan berpaling hati padaku.  Ia tidak begitu peduli dengan model cewek penyuka bela diri sepertiku. Karena ia hanya suka dengan model cewek anggun, pejabat sekolah yang aktivitasnya hanya berkutat di ruang osis. Seperti Zela. Argh! Betapa aku ingin menjadi seorang Zela.

Sebenarnya, aku hanya cewek beruntung yang tanpa terencana bisa bertemu dengan laki-laki setampan Erru. Menyandang gelar kekasihnya dan berhubungan dengannya. Mungkin hanya aku yang menganggapnya. Karena setelah Orangtua kami memutuskan untuk menjodohkan kami, Erru sama sekali tidak menyetujuinya. Ia satu-satunya orang yang menentang perjodohan ini.

Aku menatapi pantulan diriku di cermin. Make up yang sudah tertata dengan rapi di wajahku tampak berantakan. Bajuku juga. Semuanya. Semuanya hancur berkeping-keping. Dengan bringas aku melempar handphone-ku dan melemparnya tepat ke arah cermin di hadapanku. Seketika cermin itu pecah. Hancur. Sama mengenaskannya dengan hatiku. Aku menangis.

“Meta…!”

Mama menggedor keras pintu kamarku. Aku tidak peduli dan terus menangis. Rasanya ada yang menusuk-nusuk hatiku. Membuat persendian tubuhku kaku. Aku tidak bisa menggerakan tubuhku sama sekali. Rasa sakit yang beberapa jam yang lalu Erru tancapkan membuatku benar-benar tidak berdaya.

“Meta! Buka pintunya sekarang!”

Mama kembali berteriak dan aku tetap tidak mau peduli. Aku sedang tidak ingin diganggu. Aku hanya ingin sendirian. Meredam perih dan sakit ini tanpa teman. Berbicara pada kesunyian tentang seberapa lebar luka yang baru saja tergurat dalam hatiku.

“Meta! Kita harus ke rumah sakit sekarang! Erru baru saja meninggal, sayang.”

Teriakan ketiga Mama sukses membuat mataku yang tampak sembab melebar seketika. Aku menatap pintu kamarku yang masih tertutup rapat. Memastikan kalau  aku tidak salah dengar. Kalau telingaku masih berfungsi dengan baik. Tiba-tiba saja kekakuanku mencair. Aku bangkit dengan segera dan berlari membuka pintu. Mama memelukku dengan begitu erat ketika aku sempurna membuka pintu. Ia menangis.

“Erru tadi membatalkan rencana dinner kami, Ma. Ia memutuskan untuk pergi menonton konser musik sama Zela. Mana mungkin ia meninggal,” desisku tanpa mau membalas pelukan Mama.

*

Ada kebencian yang bersemayam dalam hatiku melihat Zela saat ini. Perempuan cantik itu sama berantakannya denganku kali ini. Ia juga tampak terguncang sepertiku. Ia menangis tiada henti sementara air mataku tak bisa lagi aku keluarkan. Bagaimana pun juga semua ini karenanya. Ia yang membuat Erru membatalkan rencana kami. Padahal aku sudah dandan secantik mungkin untuk Erru. Aku sudah menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli dress, sepatu dan semuanya yang aku harap bisa menyulap aku menjadi seperti dirinya. Menjadi seperti yang Erru inginkan. Tapi dengan begitu mudahnya ia menghancurkan semuanya, bahkan sebelum Erru melihat seberapa cantiknya diriku.

Dan ia juga yang menjadi penyebab kematian Erru. Jika saja ia tidak memaksa Erru untuk menemaninya menonton konser, Erru akan pergi bersamaku dan tidak akan bertemu dengan sekawanan perampok. Kalau pun kami harus bertemu dengan mereka, aku akan menjaga Erru dengan jurus-jurus karateku. Kalau saja Erru tidak pergi dengannya, perampok itu tidak akan membunuh Erru.

“Kami saling mencintai, Meta…” suara serak Zela bertepi di telingaku. Ia masih menangis. “Para perampok itu merampok semua yang aku miliki. Mereka merampok hingga ke pedalaman hatiku. Habis semuanya, Meta. Mereka merampok barang-barangku dan Erru. Mereka juga merampok nyawa orang yang begitu aku cintai. Dan mereka juga merampok kesucianku. Mereka memperkosa aku, Meta.”

Tiba-tiba saja Zela memelukku. Ia menangis lirih. Bagaimana pun juga Zela tidak pernah tahu kalau aku adalah calon tunangan Erru. Zela tidak pernah tahu siapa aku sebenarnya. Yang ia tahu aku hanya teman sekelas Erru.

Kurasakan bahu sempit itu terguncang dengan begitu keras. Ia terisak. Menangis tiada henti. Entah dorongan dari mana, perlahan tanganku membalas pelukannya. Kebencianku berubah menjadi rasa iba. Rasa kasihan. Luka dalam hati Zela pasti jauh lebih lebar dan dalam. Kesedihannya tidak hanya karena kehilangan Erru saja. Aku yang terlalu egois selama ini. Harusnya aku tahu kalau ia begitu mencintai Erru dan Erru begitu mencintainya. Harusnya aku menolak perjodohan itu dan mengikhlaskan Erru untuk Zela.

Tapi sekarang hanya ada kami bersama kesedihan ini. Tanpa Erru lagi. Di sini. Di salah satu ruangan di rumah sakit.

“Aku ingin kau di sini…” Bukan untukku. Bukan untuk memperlihatkan penampilanku yang sudah bisa secantik Zela. Tapi untuk memperbaiki semuanya. Untuk Zela.

Namun, berpuluh-puluh kali pun aku mengulang kalimat itu, Erru tidak akan pernah ada di sisi kami. Aku kembali menangis. Saling bersahutan dengan tangisan Zela. Beberapa polisi masuk ke dalam ruangan untuk meminta keterangan dari Zela. Tapi aku belum mau melepaskan pelukanku. Rasanya aku ingin menjaga ia untuk Erru.

FIN
*

Follow me
@nhyea1225
www.nia-sumiati.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea