Rabu, 25 Februari 2015

Past

Diposkan oleh Nia Sumiati di 08.04


Hei!

Tidak ada yang berubah. Ia tetap sama. Benar-benar sama seperti empat tahun yang lalu. Suaranya, caranya bilang “hei!”, senyumnya, kulit hitam manisnya, tubuh tingginya yang sedikit kurus, hidung mancungnya. Sungguh tidak ada yang berubah. Bahkan caranya menatapku. Masih tatapan empat tahun yang lalu yang selalu tampak acuh namun penuh dengan pancaran sayang dan kasih.

H-hai...

Tempat ini. Acara ini. Atau lebih tepatnya, takdir ini yang mempertemukan kami kembali setelah sekian tahun sebuah benang merah menghentikan hubungan kami dan memisahkan kami. Tapi, aku tidak tahu kenapa rasanya…

…aneh sekali.

Gugup. Seperti pertemuan pertama dulu. Ketika aku baru menyandang gelar kelas—kalau gak salah— 2 SMA. Ketika aku masih begitu polos menjawab “Iya, aku mau jadi pacar kamu”. Ketika semuanya masih begitu lugu namun terasa begitu tulus dan indah. Sangat indah hingga rasanya tidak mampu menghilangkan satu momen pun meski hitungan tahun sudah kulewati tanpanya. Meski sudah lebih dari banyak orang yang menggantikan posisinya di hatiku. Ternyata, kekuatan kenangan memang dahsyat. Tidak akan ada yang mampu membuangnya jauh dari hidup kita.

Apa kabar?

Yang pasti aku merasa begitu baik sebelum ia pergi meninggalkanku dan sebelum ia kembali menemuiku lagi. Ada fase di mana aku terpuruk, benar-benar terpuruk ketika ia memutuskan untuk pergi dari hidupku. Satu tahun telah menciptakan banyak kenangan yang membandel yang membuatku serasa mati rasa begitu ia membentangkan benang merah di antara kami. Butuh waktu tiga tahun untuk aku akhirnya kembali membuka hatiku untuk orang lain. Butuh waktu yang tidak singkat untuk aku melupakan semua tentangnya yang akhirnya hanya berujung sia-sia. Kenangan tentang ia, tentang aku, tentang kami sederhana namun begitu istimewa untuk dilupakan.

Seneng deh, bisa ketemu kamu lagi.

Aku sendiri tidak tahu dengan perasaan ini. Mungkin aku bahagia, namun ada ketakutan yang mulai menjalari sudut-sudut hatiku. Mari kukutip sebuah kata-kata dalam film yang pernah kutonton.

“Kalau jodoh, kita pasti bertemu lagi.”

OMG, boleh aku teriak sekarang?!

Mungkin dulu. Iya, dulu sekali… ia adalah satu-satunya orang yang selalu kusebut dalam do’aku. Satu-satunya orang yang selalu aku pinta pada Tuhan agar ia yang jadi jodohku. Satu-satunya orang yang kupinta dengan begitu egois pada Tuhan agar ia hanya disandingkan denganku dan tidak dengan orang lain. Satu-satunya orang yang aku berikan kesetiaanku sepenuhnya. Satu-satunya orang yang…

…tapi itu dulu. Dulu sekali.

Sebelum empat tahun ini. Sebelum aku bersama orang lain yang kusayangi juga. Sebelum do’a dan harapanku berubah. Sebelum cinta dan kesetiaanku kupersembahkan untuk yang lain. Sebelum mimpiku berubah arah. Sebelum akhirnya perjuangan dan pengorbananku yang selama ini pernah aku lakuin sama ia berganti.

Maaf, ya dulu aku…

Tidak apa-apa.

Ya, Tidak apa-apa.  Sungguh tidak apa-apa. Aku tidak perlu dengar kata maafnya karena sungguh aku sudah memaafkannya lebih dulu. Aku sudah mengikhlaskannya pergi tanpa alasan saat itu. Lukaku sudah mengering meski terkadang masih terasa sakit. Aku tidak apa-apa. Memang seperti inilah jalannya.

Aku mau kamu kembali lagi…

Aku tidak tahu. Aku dilema. Aku bingung. Aku sendiri masih tidak yakin bahwa nama ia yang pernah aku tulis permanent di hatiku sudah memudar atau belum. Tapi, aku yakin. Sangat yakin bahwa kejadian empat tahun silam, ketika ia pergi meninggalkanku, membuat aku tidak akan pernah melakukan hal yang sama. Aku akan tetap bertahan dengan dia yang saat ini kuposisikan dalam hatiku. Aku tidak akan meninggalkan siapa pun. Aku akan menjaga kekasihku sekarang agar tidak pergi meninggalkanku seperti yang pernah ia lakukan padaku dulu. Tidak akan pernah.

Karena harapanku, do’aku, perjuanganku, pengorbananku, kesetiaanku, semuanya tidak lagi padanya melainkan sudah dimiliki orang lain.

*
FIN

*

Follow me
@nhyea1225


0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea