Minggu, 15 Februari 2015

Perfect -Last Part-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.07
Di malam yang dingin itu, masih ada air mata yang betah menemani. Seolah, tiap tetesnya yang jatuh adalah  hitungan seberapa berharga orang yang baru beberapa jam yang lalu tertidur beralaskan tanah itu untuk mereka. Jangankan untuk orang-orang yang sudah bertahun-tahun mengenalnya, tapi untuk orang yang baru hitungan bulan ini dekat dengannya pun. Ginan, orang yang selalu tampak sempurna di balik sifatnya yang sederhana itu, telah dengan sempurna pula menciptakan kesedihan untuk mereka.

“Kami benar-benar minta maaf, tante…”

Malam itu, dalam kesunyian, setelah acara do’a bersama untuk Ginan, orang-orang itu baru bisa berkumpul. Mama dan Papa Ginan menatap anak-anak seumuran anak laki-lakinya yang telah pergi di hadapannya sebentar. Wanita yang baru saja mendengar penjelasan anak laki-laki tampan di hadapannya itu, tampak menghela nafas lelah.

“Kami minta maaf karena udah jahatin Ginan selama ini.” Chiko menunduk dalam, air mata yang membasahi pipinya, sarat dengan penyesalan yang kini membludak dalam hatinya. Ia tidak pernah tahu kondisi Ginan, dan ia sungguh menyesal. Ia menyesal dan berharap ibunda Ginan yang masih saja menangis itu bisa memaafkannya.

Keadaan hening. Aya yang saat ini masih nyaman berada dalam dekapan Erru, tidak begitu mempedulikan adegan Chiko. Rasa kehilangan yang dengan sukses memporak porandakan perasaannya, membuat pikirannya sama sekali tidak bekerja dengan jernih. Yang ada di dalam sana, hanya rekaman usang yang pernah ia dan Ginan lewati yang saat ini sedang berputar tiada henti. Sementara Erru dan Isha yang tidak kalah sembabnya dengan Aya, hanya menatap mereka dengan pandangan kosong.

Baik Mama Gisa, mau pun Papa Nandi, tidak ada yang urung merespon ucapan Chiko. Padahal laki-laki tampan dan kedua temannya itu begitu berharap, ada kalimat untuk mereka meski itu sebuah makian atau kemarahan. Sampai pada akhirnya, semua mata langsung membulat ketika tangan lembut pekerja keras itu, meraih tubuh Chiko. Mama Gisa memeluk tubuh itu entah untuk alasan apa.

Chiko membatu. Hatinya yang terasa begitu sempit tiba-tiba melapang.

“Tidak apa-apa.” Mama Gisa memeluk tubuh yang lebih besar dari tubuh Ginan itu dengan begitu erat. Ia selalu bilang pada Ginan, untuk senantiasa memaafkan orang yang menjahatinya. Jadi tidak ada alasan untuk ia tidak memaafkan teman-teman Ginan itu. Karena melihat mereka, memeluk mereka, seperti ia memeluk Ginan. Lagipula, ada atau tidaknya kejadian itu, Ginan tetap akan meninggalkannya.

Tiba-tiba saja, dengan pelukan Mama Gisa, Chiko merasa dunia mengkhianatinya. Tanpa hukuman apa pun, wanita baik hati itu memaafkannya begitu saja. Padahal, kesalahan yang ia lakukan terlampau fatal, bahkan bisa saja diusut hingga jalur hukum.

“Kalian semua anak-anak tante. Kalian Ginannya tante. Kalian boleh peluk tante seperti Ginan yang selalu memeluk tante setiap tante rapuh seperti ini.”

Dan Chiko yang kali ini memilih untuk mengeratkan pelukannya. Aya, orang kedua yang memeluk Mama Gisa, disusul oleh Isha dan Erru serta Geng Aira dan yang lainnya. Dalam dinginnya malam itu, ada kehangatan yang tiba-tiba menjelema, menyelimuti hati-hati yang sempat membeku. Bahkan di saat ia sudah tidak ada, ia mampu menyatukan tali-tali persahabatan yang kini terasa mengokoh dan tangguh.

Papa Nandi yang sedari tadi diam saja, tersenyum haru. Ia mengusap pelan rambut Isha yang memang duduk paling dekat dengannya. Ia dihadirkan banyak jagoan ketika ia harus kehilangan jagoannya. Disa yang baru saja keluar dari kamarnya, mengernyit bingung melihat teman-teman kakaknya itu memeluk mamanya ramai-ramai seperti itu.

“Disa…,” panggil Papa Nandi begitu menangkap sosok Disa di ambang pintu ruangan.

Disa berjalan lebih mendekat dan duduk di pangkuan sang Ayah. Satu persatu pelukan itu terlepas dan beralih menatap wajah polos Disa. Mukena putih berrenda pink merungkup tubuh mungil adik Ginan itu.

 “Kata Kakak, kalau Kakak pergi, dia mau Disa rajin sholat dan do’ain dia. Tapi Disa pengen kalian bantuin do’ain Kakak juga.”

Suara polos yang penuh dengan ketulusan itu, tiba-tiba saja mencipatkan getaran-getaran kecil di hati mereka yang mendengarnya.

“Baiklah, kita berwudlu sekarang juga…”


FIN

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea