Selasa, 24 Februari 2015

Undersirable -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 08.12


23:55. Angka itulah yang tertera di sudut paling bawah bagian kiri ponsel ber-wallpaper Uchiha Sasuke itu. Artinya, hanya tinggal  lima menit lagi angka itu berubah menjadi angka 00:00. Dan 300 detik lagi aku akan melanjutkan sisa-sisa lembaran hidupku di tahun yang berbeda. 2014. Rasanya tidak ada yang spesial di malam pergantian tahun ini. Yah, selain berisiknya ledakan-ledakan kembang api yang menurutku sama buruknya dengan  bom-bom tentara Israel di Palestina sana. Ayolah, sudah dua hari ini mood-ku jelek dan aku sama sekali tidak ingin melakukan apa pun selain berdiam diri di kamar, bergelut dengan bantal, guling, selimut, terkadang beberapa kali memegang si Sony Ericsson jadulku hanya untuk memastikan ada pesan masuk atau tidak. Dan bad mood-ku masih diperpanjang hingga tahun 2014 ini. Benar-benar menyedihkan!

Aku sama sekali tidak peduli dengan aktifitas di luar sana. Dengan orang-orang yang menghambur-hamburkan uang untuk merayakan tahun baru ini tanpa mereka pikirkan apa hidup mereka, keimanan mereka, akhlak mereka akan lebih baik di alam dunia yang semakin menua dan mengkeriput ini. Aku tidak tahu dan aku tidak peduli dengan apa pun. Termasuk dengan film The Avengers yang sedang tayang perdana di salah satu channel TV. Padahal dari dulu aku ingin sekali menonton film gabungan para super hero itu, tapi dengan seenaknya aku abaikan begitu saja.

Apalagi yang harus aku pedulikah, heh? Hidupku, impianku, cita-citaku, termasuk kisah cintaku sudah tidak layak dipedulikan. Apa yang harus dipedulikan dengan semrautnya tatanan hidupku. Dengan cita-cita yang semula kutargetkan terwujud di 2013 ini, dan stuck begitu saja seperti nasib jam dinding kamarku yang sudah dua bulan ini wafat di angka dua. Terlebih dengan kisah cintaku yang untuk diceritakan saja rasanya lebih sulit dari pelajaran matematika. Faktanya, masalah perasaan ini justru faktor paling hebat yang membuatku merasa ciut dan kecil, lebih kecil dari si ponsel hitam polosku.

Drrt... drrrrt... drrrtt...

Mendengar getaran itu membuatku yang memang sejak pukul delapan tadi menunggu pesan seseorang, cukup sensitif dan buru-buru menyambar ponsel yang kuletakan di samping televisi itu dengan cepat.

DiaJugaPernahAdaDanAkuTidakMembencinya
31-12-2013
23:56

Aku di luar rumahmu. Lihat kembang api bersama-sama, yuk!

Aku membulatkan mataku. Mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa mata minusku itu tidak salah baca kalau pesan yang baru saja mampir di inbox-ku adalah pesan dari si pemilik nama paling panjang di kontak HP-ku.  Dengan ragu, aku bangkit guna mengintip di balik jendela. Tidak mempedulikan tatapan mengintimidasi anggota keluargaku yang lain yang sedang sibuk menyaksikan si Hulk dan kawan-kawan melawan para pasukan-pasukan jelek utusan si bodoh Loki.

*

“Gak ngerayain tahun baruan?” tanyanya saat kami sama-sama duduk di bangku panjang di depan rumahku. Kembang api yang meluncur sebelum disahkannya tahun 2014 itu menjadi satu-satunya fokus yang kupandang. Aku tidak pernah menduga bisa duduk berdua dengan laki-laki yang dulu pernah menjadi penghuni ruang kosong dalam hatiku itu lagi. Terakhir kami seperti ini, empat bulan yang lalu sebelum garis merah memutuskan hubungan kami.

Aku mendengus kecil. “Menurutmu, apa yang pantas dirayain di tahun baru coba? Bakar-bakar ayam? Haha, kamu tahulah gajiku bahkan tidak lebih besar dari harga mercon itu.” Aku tetap menengadah, menatapi percikan-percikan cahaya yang berpijar lalu hilang di atas hamparan hitam sana. “Atau, meniup terompet? Jujur aku terlalu takut meniup benda itu. Bayangkan saja, bagaimana kalau seandainya malaikat Israfil ikut-ikutan meniup terompetnya.”

“Sakral!” desisnya. Aku terkekeh pelan.

“Harusnya kita banyak-banyak berdo’a, semoga  kehidupan kita, akhlak kita, keimanan kita, semuanya lebih baik, minimalnya selalu baik-baik saja di sisa-sisa waktu ini. Pada hakikatnya umur kita tuh berkurang, tahu!”

“Fanatik ah!”

“Eh?” Aku menonjok pelan lengan kirinya hingga ia meringis pelan. Tidak setuju dengan ungkapannya barusan. Bukan maksudku fanatik, tapi aku hanya sekedar memegang teguh keyakinanku bahwa tahun baru tidak harus dirayakan dengan berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang.

“Ngomong-ngomong, pacarmu mana?” tanyanya penuh selidik. Ia menatapku dan tanpa kuminta aku kembali menatapnya. Entah kenapa, bola mata cokelatnya selalu bisa membuat waktu seperti berhenti berdetak.

“Dasar bodoh! Ini itu udah malam, mana mungkin dia ada di sini.” Tanpa sadar aku mengelakan mataku dari mata indahnya yang menurutku bahkan lebih hebat dari sharinggan milik Clan Uchiha. Mata yang membuat aku berkali-kali jatuh cinta padanya dan berkali-kali juga terluka karenanya. Aku tidak ingin lagi terjerumus di balik si iris cokelat itu. “Dia sedang sakit,” terangku berlanjut. Beberapa jam yang lalu pacarku memang mengajakku bertemu, tapi setelah itu ia membatalkannya kembali dengan alasan sakit.

“Kulihat kamu tidak bahagia,” tukasnya sinis. Ia mengamatiku lebih rinci.

“Sok tahu. Aku lebih bahagia dari yang kau tahu!”

“Dengan segala kesibukannya dan sifat cueknya?”

“Tapi sesibuk apa pun, dia selalu menyempatkan waktu untuk menghubungiku. Dia bukan tipe cuek seperti kamu, dia tidak pernah mengecewakanku dan dia selalu membuatku tersenyum. Tidak ada alasan untukku tidak bahagia!” cerocosku menaikan nada suaraku beberapa oktaf.

Dan keadaan hening. Kami biarkan suara letusan kembang api sebagai tanda hijrahnya tahun 2013 ke tahun 2014 itu mendominasi keadaan. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku diingatkan sosok dia yang aku sebut kekasihku. Aku cukup faham, entah karena perasaanku saja, aku merasa ada yang berbeda darinya. Bukan, bukan aku meragukan kesetiaannya, karena aku yakin dia tidak seperti laki-laki si pemilik mata cokelat yang saat ini duduk di sampingku.

“Maaf jika aku menyinggung perasaanmu. Aku hanya ingin kamu tahu, kalau aku tidak bisa menemukan cewek yang lebih baik dari kamu. Aku sadar tidak ada yang sepengertian dirimu, seperthatian dirimu, sesetia dirimu, setegar dirimu dan sekuat dirimu.”

Aku tertegun. Entah kenapa tiba-tiba saja ada sesak yang menghujam dada ini. Setelah dulu ia meninggalkanku, memberikanku ribuan harapan kosong, memutuskan hubungan kita sebelah pihak hingga aku memohon, merendahkan harga diriku agar dia tidak memutuskanku, sekarang dia datang. Seenaknya. Kembali mengusik hidupku yang jauh lebih tentram tanpa hadirnya. Saat ini, aku merasa semuanya menjadi lebih sunyi. Telingaku berdenging dan mataku mengabur. Betapa aku benci berada di posisiku saat ini.

“Harusnya aku tidak menemuimu malam ini!” desisku tajam. Aku tertawa sumbang. Underestimate. Meremehkan kebodohannya karena meninggalkanku dan kebodohanku yang selalu terkena tipuannya.

“Aku serius!”

“Jika dulu kamu tidak memutuskanku, tidak mendepak aku keluar dari hatimu, seberapa buruk pun kamu memperlakukanku, seberapa kali pun kamu mengkihanati cintaku, seberapa sering pun kamu menduakanku, selama kamu tidak memintaku pergi, aku akan tetap bertahan. Dan kamu sudah memintaku pergi, maka maafkan aku karena aku tidak akan pernah mampu kembali.”

Karena sekarang, hatiku, perhatianku, pengertianku, kesetianku sudah dimiliki oleh laki-laki lain yang berhasil membuat aku terlepas dari sulitnya kata move on  itu.


 FIN



Follow me
@nhyea1225

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea