Senin, 30 Maret 2015

Separation -Delapan-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 05.08
SEPARATION

-Delapan-

-------------------

Dengan cukup kasar, Ify menutup bindernya yang sudah penuh dengan coretan tak jelas. Ia tidak tahu, apa cara pertamanya ampuh atau tidak. Yang pasti, perkataan Rio sungguh membuat hati dan pikirannya bekerja lebih keras. Ia merasa itu bahkan jauh lebih membingungkan dari sekedar menghafal rumus-rumus kimia.

“Apa ya, maksud Rio?” Ify mulai menatap layar laptopnya yangs ejak tadi menampakkan beranda facebooknya. Statusnya sudah ter-update sejak satu jam yang lalu. Ada tiga komentar dan salah satunya dari Cakka.

Cakka Nuraga
9 Cara dapetin gue, maksud lo, Fy?

Ify mendengus. Sahabatnya yang satu itu memang nomor satu dalam urusan narsis. Pedenya udah over limit. Baru saja Ify hendak mengetik dan membalas komentar Cakka saat laptopnya berbunyi.  Ada request conversations di ym-nya. Ify mengernyit sebelum mengklik menu accept. Ia terkikik geli membaaca ID YahooMessenger orang itu.

AkuBknBgToyib : Ify? Bonsoir.
Alyssaufikaaaaa : Selamat malam juga. Nyapanya pake French, tapi ID-nya band Indonesia banget!
AkuBknBgToyib : Hahaha.. Wali gitu loh...
Alyssaufikaaaaa : Siapa nih, btw?
AkuBknBgToyib : Orang Galau, Fy…
Alyssaufikaaaaa : Ohhalah… Mr. OG
AkuBknBgToyib : Hahaha… Nama lo, Ify apa Alyssa ya?
Alyssaufikaaaaa : Alyssa Saufika Umari. Kenapa jadi Ify, itu nyokap dan bokap gue yang tau alasnnya apa. Btw, nama  lo sendiri sebenarnya siapa?
AkuBknBgToyib : Yang pasti, sih, gue bukan Bang Toyib.
Alyssaufikaaaaa : Jiaaah, sok misterius bangett!
AkuBknBgToyib : Hahaha…
Alyssaufikaaaaa : Oya, tadi lo nyapa gue pake bahasa Prancis. Lo bisa French juga?
AkuBknBgToyib : Udah hampir dua tahun gue di Prancis. Udah lumayan bisalah…
Alyssaufikaaaaa : Wow, lo tinggal di Paris? Keren, sumpah!
AkuBknBgToyib : Gak sebaik dan sekeren yang lo pikir sih, Fy…
Alyssaufikaaaaa : Kenapa?
AkuBknBgToyib : Je suis ici pour ie traitement. Pas en vacances
Alyssaufikaaaaa : Maksud? Ayolah… gue gak ngerti.
AkuBknBgToyib : Bukan apa-apa, Fy. Hehe.. udah dulu ya.. Entar kita sambung lagi.

Ify mendesah kecewa begitu membaca pesan terakhir orang yang bahkan, lagi-lagi belum sempat ia ketahui siapa namanya itu mematikan obrolan. Sebenarnya Ify merasa nyaman chatting dengan teman barunya itu. Karena saat itu juga ia merasa bayangan Rio berhenti mengikutinya. Dan sekarang, baru beberapa menit ia ditinggal, bayangan Rio langsung saja mengerubuninya. Dan ia selalu tidak bisa berkutik.

“Kenapa masih di luar, Fy? Udara malam, apalagi di cuaca seperti ini, tidak baik untuk kesehatan loh…”

Lamunan Ify tentang Rio buyar.  Ia mengalihkan tatapannya ke arah sumber suara. Wanita paruh baya yang saat ini berdiri di ambang pintu belakang tengah menatapnya dan tersenyum tulus ke arahnya. Tanpa banyak bicara, Ify menutup laptopnya, membereskan alat tulisnya dan segera berlalu. Meninggalkan wanita yang baru tiga bulan ini menjadi ibu tirinya itu tanpa bicara sedikit pun. Sampai sekarang, Ify belum bisa menerima kehadiran wanita lain dalam hidupnya.

----------------

“Selamat malam para pendengar setia One Radio. Masih bersama saya, Woody… penyiar terkece sepanjang sejarah, yang akan menemani para sahabat One Radio yang masiiiihhh aja larut dalam kegalauan. Baik itu karena putus sama pacar, LDR, diselingkuhi, dicuekin dan hal lainnya. Ayolah… jangan biarin galaunya terus sita waktu dan juga perasaan bahagia sahabat. Percaya sama Woody yang paling ganteng ini, kalau keputusan apa pun yang kita ambil itu adalah jalan terbaik. Semangaatt! “

Dalam keadaan sunyi, di tempat yang sama, suara penyiar radio tampak asyik sendiri mengoceh. Shilla yang termasuk ke dalam pendengar setia One Radio beberapa hari ini, tampak menyimak dengan serius meski matanya tetap terfokus pada Blackberry-nya.

Iel tidak menjawab pesannya lagi. Padahal, sudah puluhan kali ia mengirim pesan. Mulai dari yang baik-baik sampai yang kasar-kasar. Mulai dari pesan perhatian sampai pesan marah-marah. Tapi, tidak ada satu pun respon dari Iel. Shilla sedih. Iel sudah benar-benar tidak peduli padanya.

Shilla menarik nafas dalam. Menghapus air matanya yang sudah dari sejak pulang sekolah selalu mengalir tanpa izin. Woody si penyiar masih mengoceh. “Iya, benar. Gue harus ambil keputusan. Gue gak peduli akhirnya baik atau buruk. Gue bakal terima. Semuanya harus selesai malam ini juga!”

“Baiklah… biar sahabat One Radio gak galau lagi, Woody puterin la—”

Dalam satu gerakan, Shilla mematikan radionya. Lantas dengan tergesa berjalan keluar kamar setelah sebelumnya meraih jaket cokelatnya yang menggantung di sisi pintu. Ia bertekad untuk pergi ke rumah Iel dan bicara dengan laki-laki itu.

“Ke mana, Shil?”

Shilla yang baru saja sampai  di tangga paling bawah, segera menoleh ke arah sumber suara. Mama dan papanya sedang duduk berdua di ruang nonton TV.  “Keluar sebentar, Ma.”

“Ini udah malam, sayang.” Wanita paruh baya yang selalu terlihat glamour itu mengingatkan. Wanita itu sungguh lain dengan Shilla, yang meski termasuk jajaran anak orang super kaya, tapi selalu tampil sederhana dan apa adanya. Ia tidak pernah memperlihatkan seberapa kaya keluarganya. Seberapa terkenal Ayahnya, dan seberapa banyak perusahaan yang ayahnya pimpin.

“Sebentar aja, Ma…” Akhirnya Shilla merajuk.

“Asal jangan sampai matiin handphone.” Papanya yang sejak tadi sibuk dengan tayangan bolanya, langsung menyetujui.  Tanpa menoleh sedikit pun ke arah anak gadis satu-satunya itu.

Shilla ber-yes ria. Papanya memang yang selalu pengertian. Ia memandang kedua orang yang selalu memanjakannya itu sebentar. Lantas segera berlalu. Meski ia tidak yakin, kalau ia ingat dengan baik jalan menuju rumah Iel, tekadnya tetap kuat untuk mencarinya. Selama hubungan mereka terjalin, hanya satu kali Shilla pernah berkunjung ke rumah Iel. Dan ia bukan pengingat yang baik, terlebih jalan menuju rumah Iel tidak begitu gampang diingat. Tapi apa pun yang terjadi, ia harus menemukannya. Harus!

--------------------

Sivia membanting pintu kamarnya dengan keras, membuat kedua orang yang saat ini berada di lantai bawah menoleh dengan cepat ke arah pintu cokelat yang baru saja menelan tubuhnya. Gadisyang saat ini menggunakan piyama merah muda itu langsung saja menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur mewahnya. Perasaannya benar-benar berantakan.

“Kamu lihat!! Bahkan untuk mendidik satu anak saja kamu gak becus!!”

Sivia menyumpal telinganya dengan Teddy Bear super besar. Berharap pertengkaran yang sudah berlangsung selama setengah jam lamanya itu tidak sampai lagi ke telinganya. Ia benar-benar sudah muak. Belasan tahun ia hidup, Mama dan Papanya selalu menyuguhkan cekcok, adu mulut, dan pertengkaran padanya. Rasanya hatinya sudah hancur menyikapi kondisi keluarganya itu.

Sivia kira, sekembalinya ia dari Singapura, Mama dan papanya bisa berubah dan hidup rukun. Tapi harapannya melenceng. Justru keadaannya jauh lebih parah dan mengenaskan.

“Kamu juga sama gak becusnya! Harusnya seorang sarjana pendidikan serta pemilik sekolah terbesar lebih bisa mendidik anaknya sendiri. Bukan malah membiarkan kedua orangtuamu yang mengurus anakmu. Jadi siapa yang tidak bertanggung jawab, hah?”

“Itu karena kamu jauh lebih mementingkan karir gak jelasmu!!”

Dan akhirnya Sivia menangis. Ia menggigit bibir bawahnya agar tangisnya yang menyakitkan tidak sampai terdengar. Semua kata-kata orangtuanya benar-benar seperti pedang yang mengoyak sadis perasaannya.

Baru saat suara ribut itu tidak terdengar lagi, Sivia mengangkat tubuhnya. Mengusap air matanya. Ia segera meraih tas sekolahnya dan berniat mengambil buku hariannya. Saat sedih seperti ini, Sivia suka menulis dan menuangkan perasaannya dalam buku diarinya. Tapi, saat ia hendak mengeluarkan buku dengan lembaran warna-warni dan bergambar lucu itu, matanya menangkap buku bersampul cokelat. Ia belum menemukan orang yang membuatnya penasaran.

Ia mengambilnya dan sekali lagi membuka buku itu. Entah kenapa, ia suka melihat nilai-nilai tinggi di buku itu. Perasaan sedihnya seketika lenyap. Rasa penasaran jauh telah mengalahkan kesedihannya.

-------------------
“Hah? Rujuk?” Agni memekik keras. Matanya melotot dan wanita di hadapannya mengangguk pelan. Agni berdiri dari duduknya. Remot TV yang sedang dipegangnya ia lempar ke atas sofa sebagai bentuk protes.

“Mama lupa bagaimana Papa memperlakukan Mama? Mama lupa berapa banyak air mata Mama yang keluar gara-gara Papa? Dan sekarang, Mama bilang sama Agni mau rujuk sama Papa? Agni gak setuju! Mama sama aja dengan memasukan singa ke dalam rumah untuk kedua kalinya!”

“Ag…” Wanita itu meraih tangan Agni dan menuntun Agni untuk duduk kembali.

Agni mendengus. Kilat kemarahan terlihat di balik mata indahnya.  Selama ini, setelah kepegian Sang Ayah, hidupnya sudah jauh lebih tenang dan tentram. Ia tidak lagi melihat Mama dipukul. Ia tidak lagi melihat Mama menangis. Ia tidak lagi melihat berbagai kekacauan di rumah karena papanya yang sering marah-marah dan juga mabuk-mabukan. Dan sekarang, Agni tidak mengerti kenapa mamanya terkesan ingin kejadian yang sama itu terulang lagi.

“Papamu sudah minta maaf dan berjanji untuk berubah, Ag”

“Bulshit!!” Agni berteriak. “Lagian, kenapa Mama niat banget balik sama laki-laki itu? Kenapa Mama gak nikah aja sama laki-laki lain yang lebih baik dari laki-laki tukang mabuk itu?!”

“Ag, apa salahnya kita memberi kesempatan kedua buat Papa?”

“Bilang aja Mama masih sayang sama Papa! Ayolah, Ma, jangan seperti anak ABG yang apa-apa didasarkan karena cinta. Mama lihat dong, banyak fakta yang membuktikan kalo Mama itu menderita karena cinta.”

Bagi Agni, Ayah adalah hal yang paling ia benci di dunia ini. Ayah yang telah membuat keluarganya berantakan. Ayah yang membuat ia terpuruk bertahun-tahun lamanya. Ayah yang membuat ia tidak percaya dengan cinta dan laki-laki.

“Ini memang karena cinta, Ag. Tapi bukan karena cinta Mama sama Papa. Karena sungguh selama ini kami tidak pernah saling mencintai. Mama mau kembali sama Papa itu karena Mama sayang sama anak-anak Mama. Sama kamu dan juga sama adikmu. Kemarin Deva telpon dan bilang kalau dia tidak betah tinggal sama Papa dan pengen kembali ke Indonesia. Dan Papa bakal izinin Deva pulang kalau pulangnya bareng sama Papa. Papa pengen kita rujuk.”

Agni diam. Ia lupa ada Deva, adik laki-laki satu-satunya yang dipaksa ikut dengan Papa saat palu hakim sebagai tanda resminya perceraian orangtuanya terdengar. Ia tidak tahu bagaimana kehidupan Deva bersama Papa yang kasar dan pemabuk. Ia tidak tahu nasib adiknya itu. Jika itu alasan Mama, Agni tidak bisa berkomentar apa pun lagi. Bagaimana pun juga, ia tidak ingin ia bahagia bersama Mama sementara adiknya tidak bahagia bersama Papa.


-------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
www.nia-sumiati.blogspot.com
Tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…
Terimakasih


3 komentar:

  1. wah cerita yang mengharu biru, klo dibuat film bagus..

    BalasHapus
  2. Next nya ditunggu kakkk >,<

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea