Selasa, 03 Maret 2015

Separation -Dua-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 22.10
SEPARATION

-Dua-


-------------------------

“Kenapa, Shil?” Rio—teman sebangku Shilla—bertanya begitu gadis manis itu menghempaskan tubuhnya di sampingnya. Raut wajah Shilla terlihat berbeda dari sejak ia keluar dari dalam kelas tadi. Terlihat lebih bete.

“Gak yakin sih gue kenapa. Tapi tadi gue ketemu cewek, Yo. Katanya sih anaknya pemilik Albider,”jelas Shilla. Rio hanya merespon penjelasan Shilla dengan membulatkan bibirnya saja. Ia tampak acuh tak acuh. Dan Shilla yang tak mau larut dalam pertanyaan tentang gadis cantik itu, mulai menyibukan diri dengan buku sejarahnya.

“Selamat pagi, anak-anak sekalian…”

Semua mata yang semula sibuk dengan objek masing-masing, seketika beralih ke arah sumber suara berasal. Pak Aris, Kepala Sekolah Albider, berjalan masuk ke dalam kelas. Tapi bukan pria gemuk berkumis tebal itu yang menjadi magnet yang menarik perhatian anak-anak kelas XI IPS-1 itu. Melainkan seorang gadis cantik yang berjalan di belakanganya. Di saat semua terpana karena kehadirannya, Shilla malah menunduk dalam dan mencoba menghindar untuk tidak menatapnya. Dan Rio, yang memang sama sekali tidak tertarik, hanya menatap sebentar lantas kembali fokus pada buku sejarahnya.

“Kita kedatangan teman baru. Namanya—”

“Gue, Sivia Azizah. Pindahan dari Singapur dan putri pemilik sekolah ini.” Dengan angkuh, Sivia memotong ucapan Pak Aris. Ketegasan pria yang paling disegani sesekolahan itu langsung sirna begitu saja oleh kalimat Sivia yang jauh dari kata sopan. Ia tampak menarik nafas panjang, mencoba memaklumi. Lantas memandang anak-anak didiknya yang mulai ricuh seperti sekawanan lebah yang terganggu. Mereka langsung sibuk menyebut-nyebut nama Albi Azizi, nama pemilik Albider yang tak lain adalah ayah Sivia.

Sebenarnya Sivia masih kesal sama kepala sekolahnya itu. Kalau saja pria tua itu tidak menemukannya dan memaksa ia masuk ke dalam kelas, mungkin ia masih asyik mendengarkan musik di taman belakang sekolah. Tanpa harus bertemu dengan mata pelajaran dan juga teman-teman barunya yang culun itu. Penampilan mereka yang super rapi membuat Sivia menganggap teman-temannya itu kuno.

“Baiklah, Sivia, masih ada yang mau disampaikan?” tanya Pak Aris kembali membuat kelas diam.

Nothing,” jawab Sivia pendek. Bola matanya mulai terfokus pada satu objek. Meja Shilla.

“Ya udah, sekarang kamu duduk,” titah Pak Aris sambil melirik ke arah kanan dan kiri. Mencari bangku kosong.

“But, I don’t wanna sit if not with him.” Tangan Sivia terangkat untuk menunjuk salah satu bangku. Dan itu bangku Shilla. Tapi, telunjuknya tepat mengarah ke arah Rio.

Rio yang dari tadi asyik dengan bukunya, mulai mengangkat kepalanya, beralih menatap Sivia begitu sadar semua mata kini sudah terfokus padanya. Shilla mendesah berat.

“Shilla, kamu bisa pindah dengan Kiki.” Pak Aris mencoba memberi keputusan terbaik. Ia tidak ingin ada cekcok di pagi-pagi seperti ini. Apalagi dengan Sivia yang keras kepalanya melebihi kapasitas rata-rata. Ia sudah biasa menghadapi anak-anak bandel, tapi tidak dengan anak keras kepala seperti Sivia yang bisa mengancam posisi jabatannya sekarang.

Shilla mendesah berat. Lantas, gadis baik hati itu tersenyum dan mengangguk pelan ke arah Pak Aris. Meski hatinya mengatakan tidak mau, Shilla tetap beringsut meninggalkan tempatnya. Shilla memang gadis baik, tapi ia manusia normal yang pasti bisa kesal. Meski bola matanya tidak mendelik sebal, tapi tetap ada sorot kemarahan yang terlontar untuk Sivia. Tapi ia sangat yakin tidak Sivia tidak akan betah duduk dengan Rio yang dinginnya melebihi minus nol derajat itu. Yang tidak tahu Rio seperti ia dan sahabat-sahabatnya, memang tidak akan betah dekat-dekat dengan Rio.

------------------ ---

Ify mendesah keras-keras. Ia mendudukan dirinya di samping Alvin yang sudah duduk lebih dulu. Meja pojok kantin, tempat favorit itu  adalah satu-satunya tujuan mereka saat bel istirahat atau bel pulang berbunyi. Kantin terlihat sepi saat Ify dan juga Alvin yang menempati kelas yang sama, datang ke tempat paling menyenangkan itu. Mungkin karena mereka datang ke tempat ini di jam pulang mengingat pas istirahat mereka sibuk menyalin catatan dan tidak sempat istirahat.

“Puyeng…” Ify memijit-mijit pelan keningnya.

“Kenapa?” tanya Alvin. “Tanya jawab barusan?”

Ify mengangguk. Satu gelas jus alpukat pesanan Ify baru saja disimpan di hadapan Ify oleh Lintar, anak yang usianya satu tahun di bawah Alvin dan juga Ify yang terpaksa harus menjadi penjaga kantin karena tuntutan hidup yang keras. Ify langsung saja menyerbu jus alpukatnya dan menyeruputnya  dengan buru-buru. Tenggorokannya yang kering merasakan sensasi basah dan dingin sekita. Kesegaran itu ikut menguar ke kepalanya yang sempat terasa panas.

“Mas Alvin gak pesen?” tanya Lintar sopan. “Jus apel baik loh, Mas buat jantung. Kata Pak Duta, guru biologinya Mas, Apel itu banyak mengandung fitonutrien atau fitokimia dan pectin yang bertindak sebagai antioksidan dan berfungsi menurunkan kolesterol jahat atau yang dikenal dengan LDL.”

Mendengar pemaparan Lintar, Alvin langsung tersenyum. Alvin tahu kalau Lintar sebenarnya bukan anak biasa. Dia  genius dan daya ingatnya begitu kuat. “Ya udah, Lin. Satu gelas ya? Jangan pake es dan gula.”

Lintar tersenyum dan mengangguk semangat. Ia kenal betul dengan Alvin. Termasuk penyakit yang bersarang dalam tubuhnya. Kejadian pingsannya Alvin yang saat itu masih menjadi peserta MOS, membuat semua orang yang ada di Albider ini mengetahui penyakit yang diderita Alvin, termasuk dirinya. Alvin juga termasuk orang yang baik dan mengasyikan, tak heran jika semua orang begitu menyukainya.

“Hidrogen Sulfat itu selain menimbulkan bau yang tidak sedap, juga dapat menyebabkan nervus olfactory. Dan sumber polutan H2O itu, berasal dari kawah gunung berapi yang masih aktif. Tadi jawaban aku bener kan, Vin?” tanya Ify selang beberapa menit Lintar meninggalkan mereka berdua. Ia membuka buku kimianya.

Alvin mengangguk.

“Terus maksud Pak Dave salah itu bagian mananya, Vin?” tanya Ify bingung.

“Hidrogen Sulfat itu H2S, bukan H2O.” Alvin menjawab bersamaan saat Lintar kembali dengan jus apelnya.

“H2O, kan air Mbak Ify,” sambung Lintar sembari menyimpan jus apel milik Alvin di meja. Ia tersenyum lantas segera berlalu meninggalkan kedua sahabat yang selalu ia kira sepasang kekasih itu.

“Bego!” dumel Ify kesal. “Penjaga kantin bahkan lebih tau dari gue.”

“Gak usah kayak gitu. Sebenarnya, kesalahan yang terjadi dalam hidup kita itu bukan karena kita bodoh atau bego kayak yang lo bilang. Tapi, itu karena kitanya aja kurang memperhatikan,” kata Alvin barengan saat Cakka berhenti di samping meja mereka.

Baik Ify mau pun Alvin, sontak memandang Cakka yang tampak sibuk mengatur nafasnya yang naik turun tidak jelas. Tangannya tertumpu di atas lututnya yang bergetar. Keringat bercucuran di sekitar dahinya. Rambutnya yang agak panjang, terlihat basah oleh keringat.

“Kenapa lo, Kka? Habis keliling lapangan?” tanya Ify menarik lengan Cakka agar duduk di sampingnya. Tidak tega juga melihat sahabatnya seperti itu.

“Ah, gila, Fy. Temen lo tuh, si Nona Minta Dansa, ngejar-ngejar gue dari lantai tiga.” Masih sambil mencoba menstabilkan paru-parunya agar kembali berkerja normal, Cakka menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya kepada kedua sahabatnya itu. Ia membenarkan posisi sebentar, melepas tas hitam merahnya yang agak berat dan menyimpannya di antara ia dan Ify.

“Agni?” tebak Ify. Hanya Agni yang Cakka panggil Nona Minta Dansa.

Cakka mengangguk. Tangannya sibuk meraih jus Ify dan langsung meneguknya habis tanpa sisa. Sekilas Ify menatap Cakka dengan heran, lantas tanpa berpikir panjang langsung saja tangan dengan jari-jari lancip itu mendarat di kepala Cakka. Tanpa perasaan ia menjitak kepala Cakka yang langsung meringis. “Minta izin dulu, lo. Main neguk aja…” cemberut Ify.

“Sori, gue dehidrasi hebat, Fy. Lagian sama sahabat sendiri juga pelit-pelitan gitu. Kayak Alvin, dong…” Dengan inisiatif sendiri, Cakka mengambil jus apel Alvin yang bahkan belum sempat Alvin minum. Alvin diam saja, tidak berniat memprotes Cakka. Justru Cakka yang langsung memprotes minuman itu, “Kok rasanya hambar gini sih, Vin? Gak enak.”

Alvin terkekeh pelan melihat ekspresi Cakka. Begitu pun dengan Ify.

“Oh, di sini rupanya Tuan Cicak-cicak di dinding berada.” Agni berdiri di samping Cakka. “Ayo tanggung jawab!” Gadis tomboy yang sama kusutnya dengan Cakka itu menarik lengan Cakka dengan kasar. Cakka berusaha mempertahankan posisinya. Alvin dan Ify yang melihat adegan kedua sahabatnya itu hanya geleng-geleng kepala heran. Kedua sahabatnya yang sering dipanggil dengan sebutan Song’s Childrens couple itu memang tidak pernah akur.

“Tanggung jawab apa?! Gue tuh masih waras dan gak mungkin mau ngehamilin cewek model lo.”  Celetuk Cakka cuek.

 Agni menggeram kesal. Kata-kata Cakka tidak sopan sekali. Ia mengambil buku kimia Ify, menggulungnya, dan dalam satu gerakan langsung memukul kepala Cakka dengan keras. Cakka mengaduh. “Ya ampuuunn, amit-amit jabang orok ya, gue dihamilin cowok yang tingkat kewarasaannya itu masih tanda tanya. Lagian cowok waras mana yang naruh seragam olahraga cewek di toilet cowok?” Agni berkacak pinggang.

“Lo nyimpen baju Agni di toilet cowok, Kka?” tanya Alvin.

“Iya, Vin. Tuan Cicak-cicak di dinding ini tuh emang rada-rada tau gak?” sebal Agni nyerocos. Takut Cakka menjawab pertanyaan Alvin lebih dulu. Karena jawabannya pasti bohong.

“Aduh, nih Song’s Childrens Couple ribuuutt terus kerjaannya. Lagian lo, Kka. Gak ada kerjaan tuh bukan malah ngerjain orang jadinya. Ambilin, gih…” Ify mendorong-dorong tubuh Cakka.

“Gak mau ah, Fy… lagian kenapa gak si Nona Minta Dansa sendiri aja yang ngambil. Orang anak-anak udah pada pulang. Gak mungkin juga kali ada yang nyiram dia.”

“Vin…” Merasa bujukan Ify tidak mempan sama Cakka, langsung saja Agni memanggil Alvin manja. Memelas lebih tepat. Biasanya Cakka paling anti nolak permintaan Alvin.

“Iya, Vin, iya… gue ambilin. Lo gak usah habisin banyak energi cuma buat bujuk gue.  Ujung-ujungnya juga gue gak bisa nolak.” Tuh, kan, belum aja Alvin mengeluarkan satu kata pun, Cakka udah ngeloyor sembari menarik tangan Agni menjauh dari Ify dan Alvin. Bagaimana pun juga, Alvin itu sahabat yang paling ia sayangi.

Alvin dan Ify hanya saling pandang melihat kedua sahabat mereka itu. Meski pun begitu, kehadiran Cakka dan Agni itu cukup menghibur.

---------------------

“Lo jadi cewek ribet banget sih. Kenapa gak ambil sendiri? Udah sepi gini juga.”

“Ye, jadi orang tuh berani berbuat yang berani bertanggung jawab kali. Jangan lempar batu sembunyi tangan!”

“Siapa juga yang ngelempar batu?”

“Ikh, lo jadi cowok bego banget sih? Ambilin sekarang gak? Kalau ngga, gue bilangin nih sama Alvin.”

“Iya… iya… tukang ngadu lo!”

Setelah lelah berdebat, akhirnya Cakka mengalah dan segera masuk ke dalam. Agni menyeringai puas, setelah itu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kunci kamar mandi yang tadi ia ambil di pos penjaga sekolah sebelum berhasil menemukan Cakka. Segera  saja ia mengunci kamar mandi itu dari luar dan tertawa sekeras-kerasnya.

“Woiii!!!” teriak Cakka menggedor-gedor pintu begitu sadar pintu sulit di buka. “Dasar Nona Minta Dansa! Bukain gak? Kalo nggak, gue rusak nih seragam olahraga lo.”

“Rusakin ajaaa… gue punya dua juga. Gue pulang duluan yaa… Selamat bermalam di sini, Tuan Cicak-cicak di Dinding. Bye…” Masih dengan tawa puasnya, Agni berlari meninggalkan toilet.

“Agni, woii!! Buka!!” Cakka terus berteriak. Ia menggedor-gedor pintu dengan keras selama beberapa saat. Sampai ia sadar, kalau sudah tidak ada suara yang tedengar dari arah luar, ia mulai mengunci mulutnya. Percuma. Lebih baik sekarang berpikir bagaimana caranya keluar sementara handphonenya ia tinggal di dalam tasnya. Dan mirisnya, tasnya tertinggal di kantin.

-----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan sedikit pujian juga boleh…
Terimakasih


0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea