Senin, 09 Maret 2015

Separation -Empat-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 06.53


SEPARATION

-Empat-

-----------------------
Tubuh itu masih betah bergulung dengan selimut tebalnya. Tidak peduli dengan kilauan matahari pagi yang mengintip dari celah-celah gorden merah jambunya. Ia terus asyik bermain-main dengan bunga tidurnya. Suara teriakan Mama dari bawah kamarnya pun tidak sampai hingga telinganya yang tersumpal oleh lagu All of Me-nya Jhon Legend.

“Dea, lo mau bangun jam berapa sih?” Alvin menarik selimut Dea dan melepaskan earphone yang menempel di telinga adiknya itu. Ia tidak mengerti kenapa Dea masih bisa tidur dengan nyenyak dan sama sekali tidak terganggu dengan suara berisik dari balik earphonenya.

Dea menarik selimutnya kembali. “Ngapain sih, lo? Ganggu orang aja!” protes Dea tanpa berminat membuka matanya. Suaranya masih terdengar serak. “ Sekarang kan, hari minggu. Bukan jadwal gue bangun pagi.”

Alvin menarik nafas panjang . “Mama manggil lo tuh dari tadi.”

Mendengar cerocosan Alvin, Dea segera membuka matanya dan mendudukan dirinya. Ia menatap Alvin dengan tatapan antipati seperti biasanya. “Gue gak peduli! Mama juga gak pernah peduli sama gue. Secara, dia kan pedulinya sama lo doang.” Dea bersungut sebal. Ia menunjuk dada Alvin. “Mendingan sekarang lo keluar dari kamar gue, atau gue lakuin tindakan anarkis sama lo!”

“Tindakan anarkis apa, De? Coba tunjukin di hadapan Papa.” Dengan kalem Papa berdiri di ambang pintu kamar Dea. Dea dan Alvin sama-sama menoleh ke arahnya.

“Emang kapan Papa peduli sama apa yang Dea lakuin?” Dea cemberut. Membuang muka kesal.

“Ye, kalo lakuin tindakan anarkis apalagi sama kakak kamu sendiri, jelaslah Papa peduli.”

Mendengar kata-kata papanya, kekesalan Dea semakin berkembang biak saja. Ujung-ujungnya yang dipeduliin itu Alvin. Semua orang memang selalu mempedulikan Alvin, Alvin, Alvin dan Alvin. Kakaknya yang paling lemah dan sok cari perhatian.

“Udahlah, kamu jadi anak gadis susah banget dibangunin. Mama sama Papa mau ngajak kamu jalan-jalan. Mau ikut gak?”

“Ng…” Dea ragu.

“Gue gak ikut, kok.” Buru-buru Alvin memotong ucapan Dea. Ia tahu keraguan Dea bersumber darinya.

“Udah, ah. Ayo cepet mandi!” Papa menarik tubuh Dea, lantas mendorong-dorong tubuh itu memasuki kamar mandi.

Alvin yang melihat hal itu hanya tersenyum penuh arti dan segera meninggalkan kamar Dea.

“Papa tunggu di bawah ya, De!” teriak Papa ikut keluar bersama Alvin. “Kamu yakin gak ikut, Vin?” tanya Papa memastikan. Heran. Semalam Alvin meminta Mama dan papanya untuk jalan-jalan minggu ini. Tapi ia sendiri memutuskan untuk tidak ikut.

Alvin tersenyum dan mengangguk pasti. “Mau ada Cakka ke rumah, Pa. Lagian sekarang waktunya Mama sama Papa buat Dea,” kata Alvin sembari menghampiri Mama yang sedang mempersiapkan bekal.

“Kamu hati-hati di rumah, ya? Kalau ada apa-apa, telpon Mama sama Papa segera.” Nasihat Mama menepuk-nepuk pipi Alvin. Alvin tertawa pelan. Tingkah mamanya selalu membuat ia seperti anak SD.

“Iya, Ma…,” jawab Alvin malas. Ia meninggalkan Mama dan papanya yang heran dengan sikap Alvin pagi ini.

-----------------------

Gesekan daun yang beradu meramaikan kesunyian di sekitar halaman belakang rumah bercat biru muda itu.Tapi tak cukup berhasil meramaikan kesunyian hati gadis yang jadi satu-satunya orang yang ada di sana. Jangankan meramaikan, mengusik pun tidak sama sekali. Ify—gadis itu—sejauh ini memang lebih senang membiarkan kesunyian dan kehampaan bermain-main dalam hatinya.  Dan halaman rumahnya yang selalu terlihat bersih itu adalah satu-satunya tempat yang cukup nyaman untuk dijadikan tempat merenung.

Seperti pagi ini. Ia sandarkan punggungnya di balik dinding rumah yang dingin. Kakinya yang ia selanjarkan, memangku laptop hitam polos yang masih tertutup. Sambil menutup kedua bola matanya, ia memikirkan banyak hal. Dan banyak hal itu tentu segala hal tentang Rio. Laki-laki pendiam yang dua tahun lalu ia temui. Yang dua tahun ini hadir di tengan ia dan sahabat-sahabatnya. Yang dua tahun ini menemani hari-harinya. Dan dalam dua tahun itu, ada enam bulan di antaranya, laki-laki penggemar cerita bergambar itu menjadi pemilik hatinya.

Ia tidak tahu kenapa harus ada enam bulan itu. Entah kenapa enam bulan Rio harus memiliki hatinya, atau kenapa hanya enam bulan Rio menjadi pemilik hatinya. Ia tidak tahu jawaban mana yang sesuai dengan keadaannya sekarang. Yang pasti, seperti apa pun itu, ia tetaplah merasa menjadi satu-satunya orang  paling menyedihkan yang harus terlarut dalam kenangan dan penyesalan.

“Ify, lo harus move on!” Ify mendesah pelan. Ia menyemangati dirinya sendiri. Gadis yang—menurut Cakka—sedikit lebay itu segera membuka laptopnya yang sedari tadi diacuhkannya. Mungkin bermain-main sedikit di dunia maya bisa membuat kegundahan dalam hatinya mencair. Ify memilih untuk Chatting dengan miRC. Setelah memasukan berbagai persyaratan, Ify mulai mencari beberapa nama yang layak diajak Chatting. Biasalah, kebanyakan orang yang chatting di miRC itu orang-orang berhidung belang. Ify tidak mau salah mencari teman. Tapi, sebelum Ify menemukan nama yang ia cari, tulisan merah terpampang di samping kiri layar komputernya. Segera ia mengklik nama itu.

<org_galau>     Hello, Ify. Salam kenal… :D
<Ify_cari_tmn>  Salam kenal juga…
<org_galau>     Cari temen kayak gimana emang, Fy?
<Ify_cari_tmn>  Yang mau temenan sama gue sih yang pasti.
<org_galau>     Gue mau.
<Ify_cari_tmn>  Thanks. Nama lo?
<org_galau>     Ouji.
<Ify_cari_tmn>  Oh, ozy?
<org_galau>     Bukan. Orang Galau, disingkat OG kan.
<Ify_cari_tmn>  haha… Orang yang sering galau biasanya jelek.
<org_galau>     Wow.. hahaha… emang bener sih.
<Ify_cari_tmn>  Jaskiding, bro. Hehehe… galau kenapa?
<org_galau>     Mikirin anak orang.

Sama sama gue. Batin Ify.

<org_galau>     Lagi apa, Fy?
<Ify_cari_tmn>  Banyak. Gue lagi, bernafas, berkedip, menyendiri, mikirin banyak hal,
chattingan deh sama lo.
<org_galau>     wow, multy prosecing juga, lo. Btw, aktifitasnya kayak
orang galau juga nih.
<Ify_cari_tmn>  Hahaha… emang sih.
<org_galau>     Orang yang sering galau biasanya jelek.
<Ify_cari_tmn>  Ish, di balik.

Ify tertawa. Temannya ini cukup menyenangkan juga.

    
<org_galau>     Hahaa… ada ym gak, Fy? Biar entar lebih gampang kontek lagi.
<Ify_cari_tmn>  Ada, Ifu2me@yahoo.com
<org_galau>     Sory, kalau boleh… nopenya bisa gak?
<Ify_cari_tmn>  Boleh. Bentar, ya?




Ify menyimpan sebentar laptopnya dan beranjak ke dalam rumahnya. Ia harus mengambil handphonenya terlebih dahulu mengingat ia tidak hafal nomor ponselnya sendiri. Lagipula dari kemarin ia mengacuhkan handphonenya terus.

Begitu ia menemukan benda mungil yang terabaikan itu di atas meja belajarnya, segera Ify meraihnya. Baru ia  akan membuka kontak, ia melihat ada pesan masuk. Dari Mas Elang, kakak Cakka. Pukul 23:44. Ngapain  Mas Elang sms gue malem-malem? Mungkin pesan itu dari Cakka dan nanyain tasnya. Batin Ify melirik sekilas tas Cakka yang masih nangkring di sisi tempat tidurnya sebelum membuka pesan itu. Dan belum sempat Ia membuka pesan Cakka, ia merasa handphonenya bergetar. Panggilan dari Shilla.

“Hallo, Shil…”

“Fy, kok lo belum ke sini?” tanya Shilla dari balik telepon.

Ify mengernyit. “Ke sini ke mana?” tanyanya bingung.

“Ke rumah Alvin.”

“Ke rumah Alvin? Emang Alvin kenapa? Perasaan kemarin dia baik-baik aja. Dia bahkan sempet nganterin gue pulang, kok.” Belum sempat Shilla menjelaskan, Ify sudah panik duluan. Sebenarnya ia memang paling takut saat tiba-tiba ada telepon dan menyuruhnya ke rumah Alvin. Biasanya, kalau seperti itu, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Alvin.

“Ngga. Alvin baik-baik aja, kok. Emang lo gak dapet sms dari Cakka?”

“Dapet sih, tapi belum dibuka.”

“Oh, yaudah… lo ke sini deh, kita lagi kumpul.”

“Oh, oke.”

Shilla memutuskan pembicaraan. Langsung saja Ify berlari ke luar kamar begitu ingat kalau laptopnya masih menunggunya di teras belakang. Ia mendesah panjang begitu melihat layar laptopnya dan tahu orang galau, teman barunya itu sudah off. Padahal, ia belum sempat memberikan nomor handphonenya dan juga belum menanyakan nama asli orang itu. Tapi ya sudahlah… nanti pasti ada kesempatan buat ngobrol bareng lagi. Lagian ym-nya sudah ia berikan. Sekarang dia harus bersiap-siap ke rumah Alvin. Kalau Shilla bilang sedang kumpul, itu berarti ada Rio juga di sana.

----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…
Terimakasih

3 komentar:

  1. Aku suka ceritanya kak... aku jg suka kalau cowonya yg menderita :D
    tapi kurang panjang, next-nya panjangin ya kak... ^ ^

    BalasHapus
  2. Kak,separation part 10 ditunggu. Jangan lama-lama ya, gak sabar nunggu kelanjutannya

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea